Apa Salahnya Unfriend Di Dunia Maya, Coba?

Media sosial tentu saja memberikan banyak hal, tak terkecuali hal negatif. Permusuhan seringkali tercipta, bagiamana menyikapinya sih?

Tahun politik Pemilihan Presiden di depan mata, macam rupa perdebatan tersaji di kolom komentar dari satu postingan politik. Pro dan kontra mengalir deras, jika tak terbendung ya ujungnya emosi dan dendam buat teman sendiri.

Tapi tidak semua sih begitu, anggap saja itu mungkin hanya oknum sajah. Perdebatan ya memang begitu, tidak ada yang menang dan kalah. Klaim saja terus jika opinimu selalu menang, yang kontra-pun ya sama, menag juga, terus dapat apa?

Sebenarnya di dunia maya, kita ini benar kawan atau lawan sih? Jika bertemu di dunia nyata, kita mah tetap saja bisa akur aja, ketawa -ketiwi. Tapi jika di medsos kadang kok kita jadi galak benar ya..!

Cuplikan argumen Aristoteles di atas, bisa jadi pengingat terhadap dinamika kehidupan sosial kita dewasa ini terutama di dunai maya.

Utamanya bagaimana membangun persahabatan yang menjadi tumpuan dari berbagai kesusuksesan yang kita raih selama ini –seehh–

Dinamika untuk bisa memanjakan dan mengelola sisi perbedaan terkadang bisa berjalan ke dua arah,  bisa mendorong kita ke arah yang positif, bahkan negatif. Keduanya bisa kita sebut cinta dan benci!

Ilustrasi | pexels.com

Dua elemen ini bisa saja mencerabut  akar persabahan sebagai energi posiitf dalam kehidupan ini, jika takarannya tidak pas.

Kini, siap tidak siap, setiap manusia harus melakoni peran multitasking, dalam menjalani kehidupannya dua alam sekaligus, nyata dan maya. Lalu banyak hal yang kontraproduktif yang sadar atau tidak, dilakukan selama menjelajahi kedua alam tadi kan?

Sadar tidak, jika selama bercengkrama di dunia maya, ber-media sosial misalnya, setidaknya saat ini sudah menjadi pintu penghambat aliran energi kebaikan pada diri yang akan kita bisa tularkan kepada orang lain?

Apalagi soal riuh masalah dinamika sosial politik Pilpres 2019 yang menggema keras dalam kehidupan maya kita, malah sering mengenyampingkan arti persahabatan oleh macam perbedaan.

Sehingga polah dalam dunia maya, seringkali berimbas pada rusaknya pondasi persahabtan di dunia nyata. Teman memang tidak harus dipaksa “mirip’.

Persahabatan ya bisa saja diartikan perbedaan, sekaligus mengartikannya pada aktivitas berbagi kehidupan dengan cara yang baik. Dengan kata lain, kemiripan yang dimaksud bisa saja tindakan-tindakan yang  berbudi.

Kata ‘berbudi” yakni tentu saja sifat orang baik, karakter seperti keberanian dan kebaikan hati yang membantu orang berbuat baik kepada sesama, diri sendiri dan menjalani kehidupan yang baik. Sifat seperti itu membantu manusia berkembang sebagai mahluk sosial dan rasional.

Mungkin itu, maksud Aristoteles dalam mengupas makna persahabatan dalam cuplikan penghantar diatas.

Energi Kebaikan Itu Adalah Memperkokoh Nilai ?

Nah, terkadang  ada anggapan jika karakteristik setiap manusia ini tampak sama. Kita akan menjadi khawatir akan hal ini, sebab artinya persahabatan menuntut kemiripan dan kesamaan.

Soal karakter atau sifat keberanian dianatara kita saja, misalnya, adalah jalan tengah untuk bisa menilai kelebihan dan kekurangan menanggapi rasa takut. Terlalu takut akan membuat orang tidak membela apa yang mereka hargai, sedangkan terlalu berani akan mengundang cedera yang tidak perlu.

Sehingga sifat keberanian saja bisa sangat berbeda bagi masing-masing orang. Setiap kita bisa memiliki gaya moralnya sendiri.

Ini memberi ruang untuk menghargai perbedaan teman di media sosial. Sekaligus menjadi alasan untuk berhati-hati dalam mengeklik “unfriend” dan merusak pondasi persahabatan di media sosial dan akhirnya berimbas pada hubungan nyata dunia nyata.

Menemukan Energi Kebaikan Nan Positif Di Dunia Maya

Dalam hal ini kta pasti akan sepakat, jika  kita tidak boleh menganggap perbedaan dengan teman menimbulkan masalah bagi persahabatan dengan alasan apapun kan?

Namun pada saat yang bersamaan, karakter itu penting. Interaksi berulang kali, bahkan pada media sosial, bisa membentuk karakter kita dari waktu ke waktu.

Jadi, haruskah kita menghapus koneksi dengan teman di media sosial atas dasar perbedaan tadi?

Menurut saya, tergantung. Media sosial macam Facebook memang membuat orang terhubung, tapi menciptakan jarak psikologis dan fisik. Sekarang orang jadi lebih mudah berbagi pemikiran yang orang lain suka bahkan tidak suka.

Selain itu, orang juga bisa memutuskan hubungan dari orang lain dengan segala polah-pemikiran kita di media sosial, bahkan ketika ini sulit dilakukan saat berhadapan langsung, akibat tekanan sosial.

Untuk mencari tahu kapan saatnya berbagi, atau memutuskan diri, mungkin orang perlu melatih kebajikan. Namun seperti yang telah saya jelaskan, kebajikan tidak memberi panduan seragam dalam bertindak. Yang dianggap sebagai kebajikan tergantung dari rincian keadaan.

Faktor yang tampak relevan yang kita bisa timang, yakni media sosal membuat orang lebih bahagia jika mereka menggunakannya untuk berinteraksi, ketimbang jadi pengamat pasif.

Koneksi dan percakapan yang berbeda-beda bisa memperkaya kehidupan seseoarang. Di Facebook, misalnya kita memiliki sebuah kesempatan untuk menikmati berita dan opini yang berbeda secara ideologis.

Nah, terkadang perbedaan tadi bisa saja membuat kita gegabah untuk menghapus pertemanan atau meng-unfriend seorang rekan kerja atau kerabat, kita anggap bisa membantu memelihara perdamaian.

Tapi bukankah ini adalah sikap pengecut? Dan berdebat dengan seseorang di internet hanya memperkuat sikap agresif kita sendiri, membuat kita lebih buruk dalam jangka panjang.

Yang ingin kita lakukan adalah memiliki percakapan yang baik, yang memperkuat koneksi yang bagus. Namun di sini pun kita perlu tetap peka pada detail konteks. Ada percakapan lebih baik terjadi dengan terpisah jarak sementara yang lainnya tanpa terpisah jarak.

Pada akhirnya, alasan-alasan untuk berhubungan atau tidak berhubungan berakar dari perhatian akan karakter kita sendiri, dan beberapa lagi terkait karakter orang lain.

Kita punya alasan untuk memupuk kemauan yang berani untuk mempertimbangkan pandangan orang lain, serta mewaspadai kecenderungan kita untuk menghina postingan yang kita tidak setuju.

Namun kita juga harus memiliki keinginan jika teman kita menjadi orang baik pula. Yang perlu kita ingat adalah, detail itu penting.

Saya pikir masalah ini jadi pelik karena tidak ada jawaban yang mudah atau seragam. Namun kita bisa menemukan cara untuk terhubung yang membuat kita lebih baik, baik secara perorangan maupun bersama.

Lepaskan Energi Negatif Itu ,Iya  Kebencianmu Itu Kawan!

Nah, benci satu hal yang kadang luput dalam aktivitas bermedia sosial kita. Namun saya pikir, selama kita membiarkan diri membenci, selama itu pula kita tidak bebas dari rasa kebencian.

Untuk membuang jauh, energi negatif itu, bisa saja kita harus menjauhkan pikiran  secara dualisme.

Dimana kita selalu beranggapan jika kita tidak membenci berarti kita menyukai. Atau, bisa saja jika kita tidak punya perasaan yang kuat, seperti membenci atau menyukai berarti kita tidak peduli.

Berpikir dalam dualisme bisa diartikan melihat hanya ada dua kemungkinan yang tak ada pilihan lain. Misalnya, Kita boleh marah. Marah itu baik adanya. Ia adalah lapisan pertama, emosi dan penilaian spontan. Tapi kebencian adalah lapisan berikutnya.

Bukan lagi cetusan rasa, kebencian adalah sikap mental yang cukup permanen. Jadi, marah bukanlah kebencian, sekalipun ia salah satu bahan dasar kebencian. Marahlah sesaat saja.

Dan kemarahan yang tak diolah justru bisa mengkristal tanpa kita sadar sebagai kebencian. Tapi, kemarahan jelas memberi kita energi. Jadi, setelah mengakui dan menyelidiki kemarahan kita, gunakan energinya untuk hal yang positif dan konstruktif.

Jangan gunakan energi marahmu untuk hal yang negatif dan destruktif. Setiap kali kita memilih yang negatif dan destruktif kita memberi makan pada kebencian.

Seperti melawan sel-sel kanker, cara terbaik melawan kebencian adalah membiarkan bibit-bibitnya sirna sendiri karena tak dapat makanan.

Jangan membenci musuhmu. Jika musuhmu adalah kebencian, jangan membencinya juga. Petuah etis-religius ini betul sekali, bahkan dalam aspek pragmatis.

Tanpa harus menjadi orang beriman bermoral, kita bisa mengusahakan sikap ini demi kepraktisan dan keindahan hidup di dunia. Jika terlalu sulit untuk mencintai musuhmu, maka setidaknya selidikilah musuhmu dengan kepala dingin dan hati terbuka.

Baca Juga Artikel Terbaru

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!