Cerpen | Kangen Senja Itu

Aku dihadapkan pada posisi sulit sebagai pemadu wisata yang masih hijau di lapangan. Dalam perjalanan pulang kami senja itu, bus tua yang kami tumpangi kok jadi mogok. Alamaak, saya jadi bingung bagaimana melayani ketuju orang termasuk sopir di dalamnya.

Apa iya, kita bermalam di hutan, ahh ngerik ah..!

Ada Fred, umurnya tua, wisatawan asing yang terbiasa keluar-masuk hutan. Keluarga Lukman, Istrinya Prita dan Kevin anaknya yang kecil yang sering kambuh asmanya. Kanaya dan Anggi, dua mahasisiwa yang berlawanan karakter, satu pemberani yang satu penakut. Pak Her si supir, juga sering kumatan jantungnya.

Kami semua membawa smartphone, tapi masalahnya lowbatt semua, terlebih senter. Hanya Prita yang smartphonenya bisa terkonesksi internet. Bagaimana dan apa yang harus aku lakukan sebagai sang pemandu wisata? Terus, bagaimana sih senja itu, jadi kangen sih kalau diingat-ingat!

Teringat lagi cerita-cerita mistis tempat wisata yang kami kunjungi. Katanya-katanya, di sepanjang jalan menuju hutan-wisata itu, pernah terjadi pembunuhan dan mutilasi keji satu keluarga.

Potongan tubuhnya dibuang di dekat kali di belakang pohon bengkirai tua. Arwahnya, terkadang muncul meminta tolong, jika senja.

Benar atau tidak. Cerita tadi, mungkin bisa menjawab, mengapa Minibus tua ini berjalan lamban pulang. Bulu-kudu-ku berdiri, tatkala Minibus itu berhenti di senja itu.

“Ada apa pak Her ?” tanyaku pada sopir

“Ga tau napa mogok,” sahutnya pelan.

 “Ahhh,  berasap mesinnya,”sahutnya.

Aku bergegas keluar, mencari dari mana arah asap itu muncul dan membuka kap mobilnya.

Aww, Radiatornya bocor, over-heaaattt,” sahutku.

Ilustrasi | pexels.com

Pikiranku tambah tak-keruan, kupaksakan bibirku mengembang, melengok kearah rombongan yang berjumlah 7 orang besertaku, dalam Minibus.

Jam sudah pukul 17.15 WIT, senja mulai menyapa. Gesekan ranting pe-pohonan mulai terdengar keras tergoda angin. Tanggung-jawabku sebagai pemandu wisata di-uji.

Dibelakangku, terdengar rintihan orang kesakitan.

Astaga! Seorang tua berambut putih berjalan membungkuk dengan tongkat. Tangan kanannya memegang perut, tangan kirinya menunjuk ke arah belakang.

“Mr Fred, are you Ok,?” tanyaku.

Dia mengangguk dan segera berlari ke arah pohon besar di belakangku. Rasa kebelet untuk BAB memang sukar ditunda. Mr Fred, satu-satunya wisatawan asing, sudah terbiasa keluar-masuk hutan.

Kubiarkan angin meniup mesin tua itu. Perlahan kupegang bagian Radiator, merasakan seberapa panasnya. Mengamati wadah cadangan air, di atas radiator.

“Airnya kurang dari 75%,” batinku

Jika ada air dingin, gampangnya tinggal dituangkan saja hingga penuh, biar dinginnya cepat.

“Tapi dimana ada airnya? Hah, di kali itu?,” teringat cerita mistis lagi.

“Gimana, Mas” tanya Lukman,  melongok dari jendela mobil.

Aku kaget, aku menghampiri rombongan, dan meyakinkan semuanya aman. Kulihat Istrinya, Prita masih bersabar mendekap Kevin, anaknya.

Dua wanita lainnya, Kanaya mulai serius, sangat khawatir. Sedangkan Anggi sibuk menikmati hasil jepretannya seharian, melalui layar kameranya sambil mengunyah coklat.

“Wah, jepretan keren sekali,” candaku kepadanya, dibalasnya dengan tiga batang coklat.

“Nih, mas saya kasi coklat, buat pujian-nya,” sahutnya ketus.

Kuraih coklat tadi, dan lekas kuberikan kepada Kevin, Prita dan Kanaya.

“Eh, ada coklat enak, sambil menunggu mobil ready, asik nih makan coklat,” candaku kepada mereka.

“Braaakkk”

Lukman keluar, dan menutup pintu Minibus dengan keras. Dia bergegas ke sisi jalanan.

“Pemerintah di sini kerjanya apa ya? kok jalanan tidak diurus kayak gini. Kalau-pun ada yang bisa menjemput kita, pasti datang-nya malam, karena jalanan jelek begini, mana sinyal susah lagi,” ujarnya.

HP-ku bergetar. SMS-ku terbalas, sinyal satu-bar malu-malu muncul menghantarkan pesan baik. Temanku segera datang dalam waktu 2 jam-an, namun sedan-nya hanya berkapasitas 4 orang.

Aku mencoba kembali menghubungi petugas di kawasan wisata, sapa-tau berhasil.

“Ok pak, segera ya. Jangan lupa bawa senter, kalau ada juga jeriken yang berisi air,” pintaku mengakhiri sambungan telpon.

Tiga-puluh menit berlalu, hanya menunggu. Serangga malam, mengintip dibalik pohon besar, bersiap menyayikan suara merdunya, memanggil binatang-binatang bersantap malam.

“Priiiit, Priitt, Priitt………”

Ahh, suara peluit sayup terdengar di balik pohon. Gelap menyapa, menahan kaki-ku mendekat ke arah suara di balik pohon besar.

Kanaya menjadi gelisah, dan terus menyalakan senter HP-nya, terus melawan gelap. Dia melihat ada Sinar memancar, seperti mata yang menyala yang mulai membesar, mendekat ke arah kami.

Ternyata pak Amat, petugas hutan, yang datang dengan motornya.

“Syukurlah,” batinku.

 “Ini jeriken, masih berisi bensin sedikit, bekas menyimpan bensin cadangan untuk motor-kami, sayang dibuang,” ujarnya.

Ah, harapku, jeriken tadi berisi air. Ya sudahlah, kuminta Her dibantu Lukman mencari ranting-kering, membuat api unggun kecil dengan bensin, sebagai penerangan sementara.

Suara peluit itu, terdengar lagi dari arah pohon besar di belakang kami. Cerita mistis itu, menebalkan rasa takutku.

Kanaya kembali gelisah. Kevin takut melihat api dan meringis. Nyamuk mulai genit menempel di kulit. Suara tepukan ke kulit, berkali-kali terdengar menggema.

“Semua pakai lotion anti-nyamuk dulu, banyak Nyamuk hutan, bisa demam nanti,” ujar Lukman, merogoh isi tasnya.

“Peluit itu, pertanda ada yang minta tolong,” ucap Amat, ketika mendengarnya.

Astaga, jangan-jangan hantu? Oh iya, aku baru ingat Fred, dan segera menengok ke arah pohon besar itu. Lalu kuhubungin HP-nya tak terangkat.

“Di balik pohon itu, pasti ada sungai kecil,?” tebak-ku.

“Adaaa,” sahut Amat.

Alamak, rasa takutku menebal.

“Ayo kita ke sana mas,”ajak Amat.

“Biar saya dan pak Her di sini, berjaga-jaga” ajak Lukman.

Akhirnya, dengan rasa takut, aku mengikuti langkah Amat, ke arah pohon besar itu yang terdapat sungai kecil di bawahnya.

Aku melihat botol air berukuran 2 liter, berserak di tas Kanaya, dan  memintanya. Berharap, bisa membawa air yang cukup untuk mendinginkan radiator minibus ini, ketika menemukan Fred di Kali.

Melihat ke bawah, dari balik pohon, sosok putih menyerupai potongan kain kafaan terlihat. Aku hanya teringat rambut putihnya.

“Astaga, itu Fred”

Kami menemukan Fred tergeletak, kakinya terkilir, ketika menaiki bukit, usai BAB.

Pak Amat, segera membopong badan Fred yang ringkih dalam kegelapan. Aku mendorongnya untuk mendaki ke atas, ke arah pohon besar. Untungnya, Pak Amat, hapal sekali medan ini.

“Ahh, semoga arwah-arwah mereka tidak muncul,” doaku.

Setiba di rombongan. Aku segera membalut kaki Fred, berutung tas Fred menyisakan obat-obatan penahan rasa nyeri dan perban.

“Fred langsung ikut dengan pak Amat ke Pintu masuk depan, sementara lainnya menunggu saja di sini,”ujarku.

 “Pak her, itu ada air di botol, coba tuangkan ke wadah air radiatornya ya,” pintaku, sambil membantu mengangkat Fred ke motor dibantu Lukman.

Aku menuliskan nomor kontak teman, yang sedang kemari di secarik kertas. Dan meminjam Smart-phone Prita yang masih terhubung internet, membagikan posisi lokasi kami via Whatsapp kepada temanku tadi.

“Pak, kalau sudah sampai dan mendapat sinyal, di pintu, telpon nomer ini, tunggu sampai datang, biar Fred diantar ke rumah sakit. Aku khawatir kesehatannya, karena sudah tua. Lalu telpon kami,”pintaku

“Ini uang, siapa tahu di dekat pintu ada warung membeli beberapa botol air mineral,” timpal Prita, merogoh Rp 100.000 dari kantong jaket Kevin.

Aku meminta rombongan bersabar. Kondisi tidak memungkinkan, jika rombongan di-evakuasi satu persatu menggunakan motor yang berdurasi 30 menit pulang-pergi ke pondok pintu hutan. Terlebih suasana gelap.

Menunggu selama 2 jam hingga pukul 19.00 WIT, ternyata membuahkan hasil. Mesin mobil dingin, membuat Minibus bisa berjalan lagi. Her nampak lelah, kuharap penyakit jantungnya tidak kambuh.

“Biar saja dia tidur, saya biasa ikutan off-road” Lukman menyahut.

Ilustrasi | pexels.com

Malam itu perut kami mulai lapar. Ada sisa dua pax nasi bungkus, lekas kuberikan Her dan juga Kevin yang menggerang lapar.

“Pak Her dan kevin makan dulu ya,” Pintaku.

Anggi yang jua terserang lapar, lekas mengeluarkan koleksi coklat yang memenuhi tasnya. Tapi, Kanaya masih terdiam tegang.

“Ini  masih ada Coklatnya, buat nge-nyangin perut,” Ujar Anggi dengan senyuman kepada kami.

Ajaib, Minibus tua mulai berjalan maju. Dalam kondisi radiator yang bocor, tentu saja mesin mudah panas lagi. Padahal jarak tempuh masih 35 Km menuju Penginapan.

“Nanti setiap 8 Km kita berhenti dulu ya, kita cek lagi airnya, dan isi,” Ujarku.

Petualangan dimulai gelap malam di sepanjang jalan menawarkan sejuta keindahan. Aneka binatang malam, lukisan pekatnya malam menyapa kami.

“Ya ampun, kuskus lucu,” Celetuk Anggi, dan meminta mobil berhenti sejenak lalu keluar menjepret objek itu. Tak sadar, kakinya terjerembab di lubang tepi jalan.

Aku bergegas keluar, dan menuntunnya kembali ke dalam mobil.

“Kakiku,” jeritnya

Salep pereda nyeri milik Fred masih tersisa dan kugunakan pada bagian kaki Anggi yang sakit.

Pengalaman sepertinya menjadi bonus, menambah segudang cerita buat rombongan di mobil.

“Ini bakal jadi tulisan bagus di Kompasiana, begitu buruknya akses jalan, di daerah wisata ini, biar bisa di-tindaklaunjuti Pemda-nya” ujar Lukman

Senyum Kanaya sudah bisa mengembang. Ah, Anggi, masih sibuk menjepret objek malam dari balik jendela. Kevin terlelap di pangkuan Ibunya, setelah makan dan meminum obat asma-nya barusan. Begitu jua Her yang terbaring lelah di kursi belakang.

Lega hatiku, aku berharap bisa kembali ke penginapan pukul 20.00. Tanpa halangan apapun, apalagi menjumpai hal mistis itu di perjalanan.

Kutengok lagi di spion. Cahaya putih dan suara mengikuti mobil kami, rasa takutku kambuh. Hp-ku bunyi mengejutkanku dan kuangkat.

Hallo, sudah melihat wujud arwah-arwah itu pak,” ucapnya, bercanda di HP.

Itu telpon dari pak Amat, sengaja mengawal kami dari arah belakang dengan motornya, dan Fred sudah dalam perjalanan ke RS terdekat. Duuh leganya hatiku.

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.