Cerpen | Kangen Senja Itu

Apa iya, kita bermalam di hutan? ahh ngerik ah..!


Aku dihadapkan pada posisi sulit sebagai pemadu wisata yang masih hijau di lapangan. Dalam perjalanan pulang kami senja itu, bus tua yang kami tumpangi kok jadi mogok. Alamaak, saya jadi bingung bagaimana melayani ketuju orang termasuk sopir di dalamnya.

Ada Fred, umurnya tua, wisatawan asing yang terbiasa keluar-masuk hutan. Keluarga Lukman, Istrinya Prita dan Kevin anaknya yang kecil yang sering kambuh asmanya. Kanaya dan Anggi, dua mahasisiwa yang berlawanan karakter, satu pemberani yang satu penakut. Pak Her si supir, juga sering kumatan jantungnya.

Kami semua membawa smartphone, tapi masalahnya lowbatt semua, terlebih senter. Hanya Prita yang smartphonenya bisa terkonesksi internet. Bagaimana dan apa yang harus aku lakukan sebagai sang pemandu wisata? Terus, bagaimana sih senja itu, jadi kangen sih kalau diingat-ingat!

*

Teringat lagi cerita-cerita mistis tempat wisata yang kami kunjungi. Katanya-katanya, di sepanjang jalan menuju hutan-wisata itu, pernah terjadi pembunuhan dan mutilasi keji satu keluarga.

Potongan tubuhnya dibuang di dekat kali di belakang pohon bengkirai tua. Arwahnya, terkadang muncul meminta tolong, jika senja.

Benar atau tidak. Cerita tadi, mungkin bisa menjawab, mengapa Minibus tua ini berjalan lamban pulang. Bulu-kudu-ku berdiri, tatkala Minibus itu berhenti di senja itu.

“Ada apa pak Her ?” tanyaku pada sopir

“Ga tau napa mogok,” sahutnya pelan.

 “Ahhh,  berasap mesinnya,”sahutnya.

Aku bergegas keluar, mencari dari mana arah asap itu muncul dan membuka kap mobilnya.

Aww, Radiatornya bocor, over-heaaattt,” sahutku.

Ilustrasi | pexels.com

Pikiranku tambah tak-keruan, kupaksakan bibirku mengembang, melengok kearah rombongan yang berjumlah 7 orang besertaku, dalam Minibus.

Jam sudah pukul 17.15 WIT, senja mulai menyapa. Gesekan ranting pe-pohonan mulai terdengar keras tergoda angin. Tanggung-jawabku sebagai pemandu wisata di-uji.

Dibelakangku, terdengar rintihan orang kesakitan.

Astaga! Seorang tua berambut putih berjalan membungkuk dengan tongkat. Tangan kanannya memegang perut, tangan kirinya menunjuk ke arah belakang.

“Mr Fred, are you Ok,?” tanyaku.

Dia mengangguk dan segera berlari ke arah pohon besar di belakangku. Rasa kebelet untuk BAB memang sukar ditunda. Mr Fred, satu-satunya wisatawan asing, sudah terbiasa keluar-masuk hutan.

Kubiarkan angin meniup mesin tua itu. Perlahan kupegang bagian Radiator, merasakan seberapa panasnya. Mengamati wadah cadangan air, di atas radiator.

“Airnya kurang dari 75%,” batinku

Jika ada air dingin, gampangnya tinggal dituangkan saja hingga penuh, biar dinginnya cepat.

“Tapi dimana ada airnya? Hah, di kali itu?,” teringat cerita mistis lagi.

“Gimana, Mas” tanya Lukman,  melongok dari jendela mobil.

Aku kaget, aku menghampiri rombongan, dan meyakinkan semuanya aman. Kulihat Istrinya, Prita masih bersabar mendekap Kevin, anaknya.

Dua wanita lainnya, Kanaya mulai serius, sangat khawatir. Sedangkan Anggi sibuk menikmati hasil jepretannya seharian, melalui layar kameranya sambil mengunyah coklat.

“Wah, jepretan keren sekali,” candaku kepadanya, dibalasnya dengan tiga batang coklat.

“Nih, mas saya kasi coklat, buat pujian-nya,” sahutnya ketus.

Kuraih coklat tadi, dan lekas kuberikan kepada Kevin, Prita dan Kanaya.

“Eh, ada coklat enak, sambil menunggu mobil ready, asik nih makan coklat,” candaku kepada mereka.

Baca selanjutnya, klik nomor halaman!

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!