Cerpen | Mengharap Bintang Kejora (3)

Meteor

Dan akhirnya terkuaklah darimana surat Satrio dan semua misteri tentangnya! Dan bintang kejora menepati janjinya!

Yuk.. ikuti cerita pertama dan kedua dahulu!

Jam dinding menunjukkan pukul 09.35 pagi. Waktu terus saja merapat ke pukul 10.00 pagi itu. Langkah Nanar bergegas saja bersiap siap untuk menemui Arya sebagai pintanya di pagi buta barusan. 

Penasarannya semakin menjadi-jadi, dan membuat 1001 pertanyaan di kepalanya. Kedua bola matanya terlihat kosong saja.

Bibirnya kering, tanpa lipstik seperti biasanya. Namun Nanar tetaplah cantik, tak berubah sedikitpun. 

Rambut pendeknya diurainya.lesung pipit di pipi-nya tetaplah mempesona. Mengenakan jeans dan juga kaos oblong merah yang tertutup jaket jeans abu-abu, dirinya lantas pergi ke Plasa Mulia Samarinda, hendak menemui Arya.

Sementara itu Arya juga sedari tadi, telah menunggunya di Solaria, Plasa Mulia, Samarinda. Arya, selalu saja mengembangkan senyumnya, ketika berhadapan dengan setiap wanita yang berambut pendek yang berada di depannya, berharap itu adalah Nanar kekasihnya. 

Tentu saja di balik senyumnya nanti akan ada kata yang terucap. Yakni, keinginan besar Arya untuk mengulangi hidupnya yang kandas waktu itu, ya kisah hidup bersama mantan istrinya, dahulu. Namun Arya mestilah bersabar sejenak untuk mewujudkan itu. 

Berkemeja warna biru, kerahnya dihiasi dengan dasi berwarana hitam. 

Mengenakan celana panjang berwarna hitam, Arya terlihat tampan sekali. Memang sih Arya ingin membuat hari yang teramat special. Semuanya dilakukan untuk Nanar semata. 

Tepat pukul 10.00, Nanar telah berada tepat di hadapan Arya. Arya pun bergegas berdiri dari kursinya dan menggapai tangan Nanar. “Ah, Nanar, kemarilah,” sambutnya. 

Sambil memegang jemari Nanar yang gemulai itu. Nanar duduk tepat disebelah kanan Arya. Tangan Arya pun belum lepas dari jemari Nanar. 

Dua gelas jus jeruk tersedia di meja, Arya pun lantas mempersilahkan Nanar untuk meneguknya,”Ayo, Nar barusan aku pesan tadi, aku tau ini adalah minuman favoritmu, kamu pasti hauskan,”ujar Arya. 

‘Terima kasih,” timpal Nanar dingin. 

Diteguknya Jus Jeruk itu sekali, lalu mengembalikannya ke tempatnya semula di atas meja. Betapa senangnya, Arya melihat cincin berlian itu telah berada di jemari manis Nanar. 

“Kamu suka cincin itu, pas sekali,” ujar Arya. 

“Aku suka sekali Ar,’’ ujar Nanar menjawab.

Kedua tangan Arya langsung mendekap jemari Nanar yang berhiaskan Cincin berlian tadi. Dengan lantang Arya langsung mengatakan hasrat hatinya kepada Nanar.

”Waktu yang kita lalui kayaknya sudah cukup, cukup untuk melanjutkan  hidup kita kedepan,” Ujar Arya. Nanar hanya diam saja, seolah mengerti maksud hati Arya. Mata Nanar terus mengikuti gerak mulut Arya. 

“Maukah kau menikahi dengan-ku,” pinta Arya. Nanar sedikit terkejut saja. Namun hatinya mengiyakan tawaran Arya. Memang inilah keinginan Nanar dari dulu, menginginkan kejelasan menikah. Tidaklah diambung tinggi dengan kata cinta. Nanar suka cara Arya. 

“Iya,” jawabnya segera.

Lega hati Nanar, Genggaman tangan Arya-pun dibalasnya, dengan genggaman erat pula. Cincin itu terlihat berkilau, seindah cahaya kejora di malam hari. Bibir Nanar lalu berbisik lirih, hatinya penasaran ingin menanyakan cincin itu. 

pexels.com

“Jujur Ar, aku seperti mengenal cincin ini, maaf,” bisiknya. Arya terperanjat kaget. 

“Benarkah,” tanyanya lagi. 

Arya kaget, karena cincin ini memang akan cocok buat wanita yang dipilihnya. Karena itu adalah kata kata dari seorang wanita yang dicintainya. Cincin itu didapatnya dari istrinya dulu. 

>>lanjut baca? klik nomor halaman ya!

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.