Cerpen | Mengharap Bintang Kejora (3)

Meteor

Sebelum meninggal akibat kecelakaan dua hari setelah pernikahannya, istri Arya  memberikan cincin ini kepadanya, dan berwasiat.”Jika kau menikah lagi, berikan cincin ini kepadanya, aku akan menjelma menjadi dirinya, dan aku yakin dia akan setia seperti maumu, sebaliknya diapun akan begitu, percayalah” ucapnya mengenang kepada Nanar. 

Rasa penasaran Nanar-pun semakin menyala nyala. “Aku juga pernah mengenal cicin ini, Ar,” ujarnya. Ini seperti cincin Satrio yang kukembalikan kepadanya dulu. 

“Siapa Satrio,” Tanya Arya. 

“Dia adalah kekasihku dulu Ar,” jawabnya pendek sambil melihat terus cincin di jari manisnya. 

Lalu, Arya menceritakan hal sesuatu kepada Nanar bahwa sebelum menikah dengan Istrinya itu. Istri Arya sebelumnya juga pernah menikah lagi dengan seorang lelaki. Namun berselang seminggu saja menikah, 

Lelaki itu meninggal akibat komplikasi bekas operasi ginjal. Namun dirinya tidak mengenal lelaki itu siapa. Istrinya tidak pernah menceritakan mengenai suami pertamannya kepadanya. Hal tersebut dirinya tau, sesaat sebelum dia meninggal. Ya, dialah Puri, Istri pertama Arya. 

Puri lantas hanya meninggalkan sebuah amplop merah muda dan cincin berlian kepada Arya. Ia meminta amplop itu jangan dibuka dan dikirimkan kepada sesorang bernama Ainurmaryam, dan itulah Nanar, Arya tak pernah manyangka hal itu. Ini  sebenarnya adalah surat suami Puri, Satrio, sebelum meninggalkan Puri untuk dikirimkan ke sesorang ketika sewaktu ia akan meninggal, 

karena Satrio tahu bahwa dirinya akan meninggalkan dunia ini, dan kini Puri memesankannya kembali kepada Arya Suaminya. Karena belum sempat melaksanakan amanah terakir Satrio kala itu.  

Rasa dikhianati memang sakit bagi Arya kala itu, karena merasa dibohongin oleh Puri yang mengaku belum menikah sebelumnya. Namun Arya adalah mahluk setengah sempurna, dan hampir sempurna. Dia amatlah sayang terhadap wanita. Terlebih wanita yang dicintainya, yakni Puri kala itu.

Mendengar cerita itu, Air mata Nanar mulai mengalir tipis di pipinya. “Siapa nama Istrimu,” Tanyanya kepada Arya. 

“Puri,” jawab Arya singkat. 

Dalam hati Nanar hanya bisa menebak nebak megenai asal usul cincin ini. 

“Aku juga telah mengirim amplop, ya surat terakhir suaminya itu sesuai alamat yang ada di amplopnya, ya amplop merah muda itu persis seperti yang pernah aku lihat bersamamu kemarin, dirumahmu,” lanjut Arya. 

“Ya, aku yakin Amplop merah muda itu adalah amplop yang kukirimkan itu,” lanjutnya lagi.

Wajah Nanar terperangah, diambilnya kembali surat merah muda itu dari dalam tasnya. 

“Yang ini maksudmu,” menunjukkannya kepada Arya. 

“Ya ini, amplop pemberian Puri itu untuk dikirimkan segera pada hari yang dimintanya, ya hari berdekatan dengan hari ulang tahunmu itu, aku yang mengirimkan, Nar,” ceritanya lagi kepada Nanar.

Air mata Nanar deras mengalir dari pipinya. “Itu adalah surat Satrio, dia telah meninggal,” ucapnya. 

Nanar langsung menyandarkan badannya ke kursi. Hari ulang tahunnya ke-27 itu dihiasi dengan meledaknya rahasia yang terpendam hampir 5 tahun lamanya.

Tubuh Nanar lemas, dia menyangka Satrio bakal menjemputnya dan mengajaknya menikah, sesuai janjinya di surat itu. Kini Satrio telah tiada, 

Bintang Kejora telah mengirimkan pria baik, yakni Arya kepada Nanar. Kesabaran Arya, Kesetiaan Arya, Rasa sayang Arya terhadap Wanita memilihkan Nanar kepada Arya. Keduanya dipertemukan sang Bintang Kejora. 

Satrio hanya masa kelam Nanar, jiwanya telah bersemayang di jiwa Arya. Arya pantas memilki Nanar, bukan Puri yang coba menghianati Bintang kejora dengan menanggalkan kesetiaannya pada Satrio. 

Dimana sebelumnya Puri telah berjanji, tidak akan mendua sepeninggal Satrio. Puri mendapatkan hukuman akibat ketidaksetiaanya itu apalagi membohongi pria sebaik Arya. Lagi lagi Bintang Kejora tidaklah pernah bohong kepada pinta setiap insan yang menjumpainnya.

Sapu tangan Arya tak bisa membendung tangis Nanar. Pipi Nanar memerah menahan emosi di kepalanya. Didekapnya tubuhnya erat-erat oleh Arya, lalu Arya membisik lirih kepada Nanar.

pexels.com

”Sudahlah Nar, aku tahu itu menyakitkan, tapi percayalah aku akan seperti apa yang kamu inginkan. Kamu mau menerima aku kan,” Tanya Arya.

Nanar langsung melepaskan dekapan Arya, dan menatap wajah Arya dalam dalam. 

“Arya, maafkan aku, kamulah selama ini yang aku cari,” ujarnya serius. Keduanya bersimbah pilu, mereka merasakan keadilan cinta. 

Ya, keadilan mencintai dan dicintai. Kejora tidaklah berbohong, dia akan jujur. Sejujur insan yang menjumpainya di malam hari. Sinar ekor kejora akan memotret .

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan