Menjadi Gila Yang Ternyata Tak Melulu Soal Cintah

Menjadi Gila Yang Ternyata Tak Melulu Soal Cintah

Ena’ kali ya menjadi orang gila, nyanyi-nyanyi sendiri, ketawa-ketiwi, terus joget-joget kaya’ gak ada beban gitu.

Dasar gilak! Di Thailand, seorang ibu merasa stress berat, karena berhutang Rp 1.6 Miliar kepada Weeding Orginizer. Pas acara perkawinan, sang mantu malah pergi entah kemana.

Padahal sang mantu yang berinisial Nut hanya meninggalkan cek sebagai biaya pernikahan mereka sebanyak Rp 744 juta saja. Upacara pernikahannya (2/10/2019) minggu lalu, sebenarnya sudah menelan biaya besar 3.5 juta Bhat atau Rp 1.6 Miliar.

Wah, pas ditelusuri, sang mantu ternyata modus berpura-pura menjadi orang kaya untuk bisa menikahi putrinya yang berinisial Da. Terus siapa yang mau menaggung dan membayar semua utang tadi? Anu-kan!

Dasar gegara cinta, mertua, sang istri dan diri sendiri bisa jadi gila semua kan? Masih penasaran? Baca saja di sini.

Gila bisa jadi menjadi penyakit lazim zaman sekarang nih. Namun jika ditelusuri tidak ada yang salah sih dengan cinta-nya.

Namun terkadang faktor ikutan, seperti faktor ekonomi itu loh yang bisa membuat gila benaran. Ya gila dong! Masa’ nikah saja kok mahal-mahal padahal lho diri sendiri tidak mampu! Cinta mah berat kang!

Gila : Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah

Di kehidupan sehari-hari pastilah kita pernah melihat banyak orang mengidap gangguan jiwa, ketika berpapasan di tengah jalan. Takut? Sudah pastilah.

Lihatlah mereka, tertawa sendiri, nyanyi-nyanyi dan berjoget riang, serasa dunia ini milik mereka. Meski saja perut tidak kenyang, happy aja dulu. Duh enaknya!

Mereka tidak akan mau memikirkan orang lain, fly gitu-lah. Penyebabnya bisa jadi macam-macam, salah satunya ya seperti kasus di atas, gegara mewujudkan arti kata cinta. Atau malah lain hal.

Tapi selain gila sungguhan kita juga bisa mendapati, teman atau kerabat di kantor atau tetangga sekitar yang pura-pura gila ketika mendapati masalah. Misalkan masalah hutang-piutang, jurus pura-pura gila bisa jadi dimainkan manakala memasuki masa pembayaran.

BACA JUGA : BUZZER SEBUAH PROFESI ATAU PERJUANGAN IDEOLOGI SIH?

Ah, dasar gila kan! kehidupan memang ya begitu itu. Datang menagih kepada debitur eh akhirnya malah meladeni orang gila, ya sama saja gila, wah jadi gila semua. Asiik!

Cara Mudah Jadi Gila!

Meskipun berpura-pura gila bisa menjadi salah satu kebutuhan hidup dalam menyelesaikan masalah sesaat –soal ekonomi terutama- tidak ada satu-pun dari kita yang mau jadi gila sungguhan kan?

Namun, lambat laun kita pasti akan menjadi gila dengan bermacam-macam permasalahan di kehidupan kita ini.

Faktor tekanan lingkungan sehari-hari misalnya, yang bisa saja menjadi cara mudah menjadi gila.

Dan telak, hal tadi akan menaggalkan jika masalah cinta bukan satu-satunya penyebab gangguan kejiwaan-kan? Jika belum sanggup bercintah atau gagal bercinta ya anggap saja belum jodoh, gampang! –meski dibilang LGBT, jika ga lekas nikah, ora urus-

Nah, faktanya –tau gak- semua orang, baik orang kota dan desa ternyata rentan menjadi gila atau berperilaku kelainan jiwa akibat tuntuan kehidupanya sehari-hari. Selain melulu masalah cinta lagi ya!

Masyarakat kota misalnya, tentu akan berjibaku dengan masalah kecemasan dan stress. Kota dengan permasalahan  lahan yang terbatas, lalu tekanan ekonomi, polusi udara serta kemacetan lalulintas bisa saja menjadi stressor penyebab gangguan jiwa. Merasa gak sih?

Di desa-pun demikian tuntutan ekonomi dan akses pengobatan dan informasi yang terbatas, menjadi faktor utama gangguan jiwa.

Masih belum Percaya?

Litbang Kompas (2012) pernah punya kajian terhadap penduduk di Jakarta, dimana setiap individu yang tingga di Jakarta hanya mendapati ruang gerak dengan ukuran 64 meter persegi. Saling berjarak hanya delapan meter antar individunya.

Artinya keterbatasan ruang gerak, akan memunculkan perubahan perilaku individu untuk berperilaku agresif dan tertekan.

Terus, catatan Global Health (2017) menyatakan jika sekitar 999.592 penduduk di Jakarta menderita gangguan mental, dimana 32% menderita Ansietas dan 24% depresi.

Jika masih penasaran tentang penyakit kejiwaan, ada sembilan penyakit itu, ya mungkin kita bisa kenalan dulu. Ada Schizophrenia, Deppressive Disorder, Bipolar Disorder, Anxiety Disorder, Autism Spectrum Disorder, Attention Defisit, Conduct Disorder dan Idiophatic Developmental Intelectual Disability.

BACA JUGA : JANGAN GANTUNG NASIB ABANG OJOL DONG

Anxiety disorder itu adalah perasaan takut, yang berasal dari eksternal dan internal, sehingga membuat respon perilaku, emosional, kognotif dan fisik.

Nah kalau, depresi berupa gangguan suasana hati yang bisa kita rasakan dari perasaan sedih dan rasa tidak peduli.

Dua penyakit tadi menyebar pada individu perkotaan yang selalu dirundung permasalahan sosial dan ekonomi. Penyakit yang lain, cari saja sendiri ya artinya. Bila terkena selain dua tadi, ya bisa jadi kegilaanmu parah kali, kawan!

Ya Tuhan semoga kita tidak mengidap satu diantara kesembilannya ya! Amin.

Membebaskan Penyakit Gila!

Sebagai masyarakat urban yang sering  tertekan dengan masalah kehiudpan. Entah cekikan ekonomi, lahan sempit, polusi udara dan kemacetan, serta akses informasi dan pengobatan yang terbatas.

Kita pasti punya cara tersendiri membebesakan stressor penyakit jiwa tadi kan?

Jika ditanya saya yang bukan dokter jiwa dan bukan –pernah- penderita sakit jiwa, tidak bisa berkata lebh jauh, dan menjelaskan secara akademis gitu.  

Namun jika masih memaksa ya mari, saya ajak mengikutinya, siapa tahu berhasil. Iya cara mudah membebaskan kegilaan dari diri kita itu ya.

Pertama, mencoba menjadi pribadi yang ramah lingkungan. Dengan ikutnya kita menjaga kebersihan dan bersifat ramah lingkungan bisa jadi kita menjadi pengurang polusi yang menjadi stressor penyakit jiwa tadi.

Caranya ya gampang, jika tempat aktivitas harian kita dekat ya jalan kaki atau naik sepeda sajalah. Terus jangan buang sampah sembarang terlebih kecanduan produk kemasan plastik.

Dengan begitu, kita bisa membebaskan diri dari tekanan kemacetan dan juga polusi yang semakin memburuk. Kalau diikuti seribu atau sejuta seperti kita kan bisa jadi lumayan hasilnya.

Kedua, menjadi pribadi yang baik hati dan gampang senyum. Ah dengan senyuman paling tidak kita bisa membagi cinta kepada semua jomblo yang melihatnya.

Sehingga para jomblo merasa terobati atas luka hatih dari senyuman tadi, dan tidak jadi gila karena stressor patah hati.

Senyuman juga bisa memberikan suasana hati yang santai, dan melepaskan ketegangan yang juga menjadi stressor gangguan jiwa.

Ketiga, mulai menabung berhemat dan tidak pelit. Menabung harusnya menjadi prioritas untuk melepaskan cekikan ekonomi saat ini dan akan datang kan? Berhemat bisa membantu kita diet lebih serius lagi. Dan tidak pelit, akan membuat kita rajin bersedekah dan membatu orang banyak.

BACA JUGA : MENGELOLA TABUNGAN BCA MENJADI SIMPLE

Keempat, selalu belajar dan sabar saja! Jika mendapat masalah selesaikan dengan sabar, karena waktu pasti akan membantu masalah kita. Jangan malah pura-pura gila menjadi solusi permasalahan, yang tentu akan menjadi stressor kuat untuk bersikap gila sungguhan.

Nah, keempat tadi bisa jdi cara mudah untuk menagkal stressor gangguan kejiwaan yang tanpa sadar kita jumpai dalam kehidupan kita ya!

Hemm, gampangkan! Siap untuk tidak gila mulai sekarang? Yuk marii..

Sumber bacaan : Kompas

ARTIKEL TERBARU WADAI

Tinggalkan Balasan