Fiksikah Pasukan Buzzer?

Novel Pasukan Buzzer karya Chang Kang n Myoung mampu merangsang nalar dan pikiran kita mensiasati potensi karakter pasukan buzzer yang jua ada dalam diri kita, agar bisa lebih tampil proposional di tengah kehidupan


Buku Pasukan Buzzer karya Chang Khang n Myoung

Tiba-tiba seseorang mengirimkan Direct-message di akun Instagramku. Dia ingin berkenalan sekaligus meyematkan kata selamat, atas raihan kemenangan lomba blog beberapa waktu lalu.

“Selamat mas, salam kenal, oh ya bagi resepnya mas, gimana cara menangin lomba ngeblog terus mas?” Begitu pertanyaannya.

“Aduh, kebetulan saja si mas, banyakan kalahnya ketimbang menangnya kok,” Balasku.

Dua hari berselang, dia kembali mengadu chatt denganku.

“Mas, kenapa gak ikut lomba blog ****x? Apa mungkin karena hadiahnya kecil?”

Pertanyaan ini menurutku candaan, tapi jujur berhasil mengejekku. Dan pertanyaan itu sulit dijawab terbuka, karena ya sensitif saja, mengait-ngaitkan besar-kecil hadiah lombanya agar mau berpartisipasi. Seolah aku ini materialisitis sekali ya?

Doktrin seorang Blogger wajar berkeyakinan, jika momen meraih juara adalah kebanggaan luar biasa, dan ‘bisa’ mengenyampingkan besaran lomba hadiahnya.

Namun semakin kemari, aku mengganggap, jika proses penciptaan sebuah konten menarik –apa saja- tentu memerlukan sebuah proses ‘mahal’

Ya harapannya akan hadir kompensasi nyata jua, berwujud materi? Logis kah?

Nah wajarlah jika setiap peserta yang mengikuti sebuah kompetisi –apa saja- wajar akan menyelipkan target juara?

Di titik ini, hadir kesimpulan dalam diri, jika kompetisi apapun –selain lomba blog– yang bertujuan meraih ‘kepentingan’ –apa pun, seharusnya memiliki strategi besar untuk bersaing dan menang.

Jujur saja, setiap kali mengikuti sebuah kompetisi blog, aku selalu mengukur kemampuan diri, hal itu bagian dari strategiku.

Hal itu dilakukan, biar diriku tak terlalu sakit hati, bila kalah nanti. Kalah tentu membuat perih hati, bila belum siap menerimanya?

“Wah, aku tuh paling ga bisa melawan emak-emak Blogger, kulihat pesertanya banyak dari mereka ikutan ey, jadi aku gak ikutan deh” Alasanku polos.

Jawaban ini seolah menggelikan, bukan? Dimana-mana, penilaian kompetisi Blog –misalnya- selalu menuntut quality of konten, yang kaya pesan penting, menarik, serta hadirnya impact besar yang bisa disemburkan kepada penikmatnya? Apa strategiku ini salah?

Emak-emak Blogger itu Pasukan Buzzer?

Bagiku, emak-emak Blogger adalah pejuang lomba Blog yang sangat tangguh! Bagaimana loyalitas dan komitmennya meracik konten keseharian apa –saja dalam blognya betul-betul teruji!

Terlebih, konten yang dibuatnya mengandung kekentalan khas aroma digital-marketing, yang haus memamerkan keunggulan suatu produk tertentu.

Wah pokoknya kontennya dibuat dengan kemampuan total deh. Endorsenya benar-benar ala-la aktris saja.

Jujur dan salut, jika emak-emak Blogger juga pandai menjaring, dan tergabung dalam wadah komunitas Blogger.

Sehingga akun media sosial mereka, wajar ramai follower, atau pertemanan. Hal inilah yang bisa memantik strategi mereka mudah mendulang engagement, atas konten-konten Blog.

Dan hal itulah, –menurut saya–  menjadikan poin penting, yang –terkadang- membuat silau mata-hati para juri lomba, untuk memberikan nilai lebih.

Lihat saja, berhamburnya komentar-komenetar yang membanjiri artikel-artikel Bloger emak-emak, lewat komen unyu-unyu’ ya terkait apa saja. Dominasinya biasanya berupa pujaan positif, atas produk dalam konten tadi.

Nah, menurutmu? Apakah hal itu bisa “sengaja” disetting, dan disemburkan oleh kelompok komunitas mereka?

Menurutku iya. Dengan menganut paham respirokal, alias timbal balik saling mengomen, akan mampu menggiring opini positif pembaca lainnya atas hal produk, yang dihantarkan dalam kreasi konten?

Terlebih, produk yang mensponsori lomba itu juga sengaja menciptakan event itu sebagai wujud propaganda produk, agar engagement produk banjir di kanal-kanal media sosial.

Eh, tapi apakah itu salah? Jelas tidak, hal itu sudah umum menjadi bagian strategi dalam menggapai kepentingan siapa saja, dan apa saja di dunia maya,  dan menularkannya dalam kehidupan nyata kita terkini.

Nah dalam konteks berstrategi, mengikuti kompetisi apapun –misalnya- bisa saja sengaja setiap peserta membuat kesepakatan dengan peserta lainnya –orang lain– dalam satu komunitasnya menjadi pasukan buzzer?

Pasukan Buzzer kerjanya hanya merespon komentar positif produk dalam konten lomba. Atau malah berbalik menjatuhkannya, dengan akun bising, akun-akun fake atau un-fake.

Dan yang paling spesial, buzzing/dengungan tadi mampu dibuat oleh peserta sendiri, lewat keahliannya booting akun di medsos.

Guna memukau penilaian juri, atas engagement yang sangat masssif atas konten tadi di media sosial.

Novel pasukan Buzzer karya Chang Kang n Myoung
ilustrasi

Nah, saya mau katakan, Pasukan Buzzer sedari dulu selalu menjadi bagian marketing produk, yang sengaja dibuat memantik partisipasi ‘semu’ mengundang partisipasi ‘nyata’ atas produk apa saja, di tengah kehidupan nyata kita.

Dalam konteks itulah, bisa saja membuat kita rela-rela saja disebut BuzzerRp, demi menggapai tujuan –positif- tadi kan? Yakni menjadi juara dan mendapatkan materi/fee?

Terlebih hadir, optimisme jika konten kita tampil lebih menarik, dan memantaskan tawaran untuk dibayar mahal, atas tujuan publisihing klien  produk apa saja.

Artinya apa? Ya masing-masing kita sebenarnya berpotensi sekali menjadi pasukan buzzer, atau halusnya — skala kecil— menjadi jaringan siber dalam komunitas Buzzer, dunia maya kan? Baik mengenakan identitas yang jelas, dan tidak sekalipun!

Mengawang aksi pasukan Buzzer masa depan?

Aku lantas berfikir, bagaimana suatu hari nanti, aku ditawarkan bayaran 90 juta won untuk mau menjadi pasukan Buzzer?

Mungkin, aku tidak  bisa tidur semalaman, untuk berhitung, besaran bayarannya itu, jika dikurskan ke dalam Rupiah ya?

Padahal kerjanya relatif gampang, Pasukan Buzzer hanya diminta untuk menghancurkan citra sebuah situs, dalam rentang waktu sebulan. Sanggup? Aku sih tidak!

Namun, suatu ketika hadir tim Aleph menjawab tantangan itu, ketika diserahin tugas menjadi pasukan Buzzer, dengan misi penghancuran situs kafe Jumda.

Aku pikir ya logis sih! Tim Aleph memiliki SDM mumpuni, mengerjakan misi siber itu. Disana ada sosok, Saam-goong, dia itu cakap kali menyusun strategi marketing.

Lantas ada Chatatkat yang sangat jago nulis, meracik kata-kata memikat. Dan lagi ada 01810 yang jago banget IT dan jaringan komputer.

Oh iya, 01810 ini sebuah nama? Aku juga belum tahu mengapa namanya gak wajar begitu, seperti akun fake saja kan?

Namun sebutan nama tadui, sudah menjajikan kemampuannya dalam memanipulasi kehadiran banyak orang-orang, melalui jaringan internet, di balik meja.

Ketiga nama ini, kusebut sebagi orang-orang yang merdeka? Mereka seakan tidak takut, pada resiko yang akan terjadi pada mereka terlebih pada keluarga mereka. Karena memang loyalitas dan totalitasnya mereka sangat teruji di dunia hacker/buzzer politik.

Entah, apakah mereka tidak memiliki pilihan Parpol, dan seolah hanya mengincar hal materi semata? Meski, ya materi akan menjadi produk akhir dari aktivitas politik berkonteks luas kan? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi misteri dalam anganku.

Aksi pasukan Buzzer ala tim Aleph ini sangat halus, untuk merusak sebuah nama atau perusahaan yang dimaksud tadi, sekaligus komunitas yang berada di dalamnya.

Cara kerja mereka, sederhana menaruh postingan yang dititipkan pada influencer, guna menghancurkan reputasi seseorang. Bahkan membuat film-film propaganda, yang sangat esensinya membahayakan, beberapa pihak.

Menuju angan di halaman terakhir, kerja-kerja pasukan Buzzer ini, semakin seru saja, dan akhirnya mereka berhasil cuci tangan.

Setelah meraih kesuksesaan menggarap pekerjaan mereka tadi, yang terinspirasi atas keberhasilan, manipulasi opini publik  oleh BIN Korsel di tahun 2012. Dicatat, hal itu tak terlepas dari kelihaian 01810 yang hanya duduk di balik layar.

Meski media, sudah berhasil mengendus sosok Chatatkat terlibat dalam aksi itu, sebagai pasukan Buzzer itu.

Novel pasukan buzzer karya Chang-kang dan myoung, setebal 288 halaman itu, memberikan fiksi dan imajinasi baru pasukan buzzer yang berpotensi, dilakukan dan dikreasikan pasukan buzzer di masa depan?

Termasuk ya kekacaun di dunia maya, menularkannya ke dunia nyata

Banyak sekali hikmah, yang tersembur atas karya novel ini sih, meski fiksi! Dimana terlihat di masa depan, kecanggihan dan kelihaian pasukan buzzer, akan terus terupgrade guna meraih tujuan, yang paling ekstreem sekalipun.  Yang pasti Pasukan Buzzer akan menjadi profesi baru yang menarik kan?

Tersadar, jika dunia maya bisa dengan mudahnya, lewat doxing,  hoax via web palsu, untuk menggiring menggiring opini publik menjadi negatif.

Minimal melalui komen-komen negatif atau positif, yang terselip, dalam konten atau isu terkini, dan bahkan isu-isu lama sekalipun, untuk diungkit

Dan saya catat dalam novel itu, sepertinya menjadi pasukan Buzzer, haruslah dilakukan secara total, seperti tidak memiliki beban apapun, terlebih hadirnya keluarga. Meskipun rasanya getah atas ulah kita menjadi pendengung, atau pasukan Buzzer yang berlawanan arah di mata orang lain, akan otomatis dirasakan pula negatifnya oleh keluarga kita.

Dicatat lagi, Pasukkan buzzer dari sisi positifnya, tentu akan mampu mencipta ragam kreasi dalam menjaja kepentingan apa saja, dan berimpact di dunia nyata. Profesi yang sangat menarik kan?

Kita semua adalah Pasukan Buzzer?

Tak dipungkiri, jika alam Demokrasi menjadi tempat tinggal yang asri bagi para pasukan buzzer ya? Terlebih, dunia maya sudah banyak mencipta kanal-kanal bersuara menjaja keterbukaan yang haqiqi.

Hal itulah yang menjadi pesan novel Pasukan Buzzer karya chang kang n myoung, dimana kehancuran atas peperangan para Pasukan buzzer yang berlawanan kepentingan, akan lebih dahsyat impactnya daripada dahsyatnya perang dunia sekalipun.

Sematan predikat negatif terkait pasukan kehadiran pasukan Buzzer wajar makin mengental ketika menengok kembali kehadiarannya yang dibancakan untuk kepentingan politik.

Hal itu mudah lihat pada dinamika pro-dan kontra kebijakan UU Cipta Kerja dan Revisi UU KPK bebrapa waktu lalu.

Menukil penelitian yang diungkap Wijayanto, Direktur Center for Media and Democracy, jika pasukan Siber di Indonesia dilakukan entitas Kapitalis dan Penguasa, yang bekerja membela untuk kepentingan mereka.

Tujuannya pasukan siber tadi sangat terang, bagaimana memanipulasi opini publik di medsos dan target mereka jelas, adalah individu-individu yang minim sekali literasi.

Terdapat kolaborasi pasukan siber, yang terdiri dari jaringan buzzer, Influencer dan pembuat konten.


  1. Buzzer, hanyalah elemen dasar dari pasaukan siber, yang bertugas menyebarkan konten seluas mungkin, terkadang dominasinya hanya mengomentari unggahan influencer. Bahkan menyerang orang lain, yang menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan tujuan klien. Karakter Buzzer mengelola akun palsu atau anonim yang meyakinkan bak akun aslinya saja.,
  2. Pembuat konten, menyiapkan materi, meme dan tanda pagar (tagar) yang disebarluaskan para Buzzer.
  3. Kordinator bertugas merekrut dan mengkordinasikan kegiatan buzzer. Mereka menyiapkan konten oleh pembuat konten. Mereka bertanggung jawab penuh atas strategi dan berhubungan dengan klien.
  4. Influencer, mereka adalah individu populer dengan jumlah pengikut medsos banyak, dan digunakan untuk mendengungkan isu yang akan dilempar.

Menkopulhukam, Mahfud MD pernah menyebut jika Buzzer itu adalah hama, tapi konsekuensi Demokrasi, ada benarnya ya?

Dimana satu sisi, kehadiran pasukan Buzzer bisa berdapak positif, dan malah negatif, yang dinilai dari kacamata masing-masing individu saja.

Memberangus pasukan Buzzer apakah menjadikan solusi, di tengah kenikmatannya menjalani profesi baru ini?

Namun jika dalam konteks mengikuti kontestasi tentu saja kehadiran pasukan buzzer akan menjadi penting, dan dinanti dalam memberikan akses positif tujuan kita, meramaikan kompetisi itu kan?

Oleh sebab itu, Novel Pasukan Buzzer karya Chang Kang n Myoung sudah merangsang nalar dan pikiran kita semua, untuk bagaimana potensi menjadikan kita pasukan buzzer, bisa diterapkan pada hal proposional di kehidupan kita.

Masih sanggup bermedia sosial, setelah membaca novel pasukan buzzer ini?

#saksipasukanbuzzer

1 comment

  1. Contoh kecil pasukan buzzer ternyata ada dalam lingkaran sekitar kita ya?

error: Content is protected !!