Gegara Buang Sampah, Kini Bisa Jadi Seleb Samarinda Wal!

Sudah lama sampah menjadi masalah klasik kota Samarinda. Berbagai cara sudah dilakukan, tapi tak membuat warga jeraaaah! Ini mungkin cara terbaik yang bisa dilakukan Pemkot Samarinda!

Behh… sosok lelaki tetiba menjadi viral di dunia maya. Pasalnya, sepele, dia membuang sampah ke kali krukut, Tanah Abang, Jakarta Pusat yang diduga dilakukan beberapa pekan lalu, Rabu (30/1).

Kebetulan sih, dekat dengan kejadian, Petugas Penanganan Prasaran dan Sarana Umum (PPSU) sedang membersihkan saluran air. Spontan, petugas mendokumentasikan perbuatan lelaki itu.

Selang sehari setelahnya, sosok wajah yang disebar oleh akun Medsos Instagram resmi Dinas Lingkungan hidup DKI Jakarta, lantas menemukan keberadaan domisili lelaki itu dengan mudah.

tirto.id

Akhirnya, setelah bertemu lelaki tadi, Pemerintah memberi hukuman denda Rp 300 ribu, dan dia diminta membuat perjanjian tidak akan mengulangi perbuatannya itu lagi, iya untuk tidak membuang sampah ke dalam kali lagi.

Kali krukut itu adalah salah satu sungai yang melewati Jakarta. Jika kalian pernah tahu, sungai ini memang terlihat kurang bersih.

Penyebabnya ya tadi, banyaknya warga yang membuang sampah ke aliran Kali krukut. Padahal sederet regulasi berupa denda bagi pembuang sampah ke sungai, tapi tidak selalu efektif, menggugah kesadaran warga.

Nah, lain di Jakarta, lain pula di kota Medan. Muhammad Husni, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Medan malah langsung turun tangan menciduk warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan.

Videonya menjadi viral juga, hasilnya warga yang membuang sampah langsung mengaku salah dan minta maaf kepada Husni dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Eh, Ngomongin kota lain, apa kota kita sendiri sudah bener bin bersih ya?

Ya, sampah memang menjadi masalah kota seluruh kota besar di Indonesia, termasuk Samarinda-kan? Meski sederet regulasi sudah dibuat dengan susah payah, dari denda hingga hukuman kurungan bagi sang pelanggar, tapi tak jua mengejutkan kesadaran warga untuk mematuhinya.

Salah siapa yok? Salah Pemerintahnya atau warganya? Jika menunjuk warga yang salah, pasti sang warga akan menunjuk kembali ke Pemerintah yang didaulat sebagai pelayan masyarakat.  

Iya maksudnya, pelayan masyarakat itu ya harusmelayani masyarakat, termasuk pelayanan penanganan sampah, nah jika sistem penaganan sampahnya tidak jelas, ya percuma saja ada kesadaran membuang sampah pada tempatnya.

Contohnya saja, apakah pemerintah sudah menyediakan tempat sampah yang mudah dijangkau warga dengan mudah? Jika jawabanya belum, ya pantas saja sih! Jika sudah ya berarti ada yang salah dari budaya kita tentang kebersihan.

Lelah dengan perputaran masalah itu, wajar menjadikan pembiaran. Dan menjadikan Perda Samarinda Nomor 2 tahun 2011 menjadi beku. Padahal lho, Perda itu sudah mengatur pembuangan sampah harus dilakukan pada jam 18.00 sampai jam 06.00.

Coba kita baca juga, pasal 47 ayat 1-3 dalam Perda tadi, yang mengatakan pelanggar akan dikenakan denda Rp 50juta dan pidana kurungan tiga bulan. Apa kamu nggak takut? Kok gak takut sii ?

Coba, yuk jalan-jalan di sekeliling kita, ternyata masih banyak sampah rumah tangga yang dibungkus plastik parkir menumpuk di jalan-jalan besar ibukota Kaltim ini.

Sampah Yang Masih Ditemukan Di Jalan Ahmad Yani | Dokumentasi Wadai

Di bak sampah juga sering kita temukan, sampah berceceran dari plastiknya akibat kedahuluan pemulung yang tengah mencabik-cabik kotoran sampah untuk memungut plastiknya, jika ada keterlambatan truk sampah untuk menjemputnya.

Ahh, semuanya menjadi masalah klasik di Samarinda!

Nah, membayangkan kali krukut bisa jadi membayangkan kondisi sungai karang mumus saat ini. lihat saja, ketika hujan deras, sungai akan meluap. Ketika kemarau tiba, sungai menjadi terlihat hitam, bau dan juga kodisi pendangkalan sungai yang amat parah. Ini sudah lama kita saksikan.

Bisa dibayangkan, jika kesadaran warga belum tergugah jua, membuang sampah ke dalam sungai karang mumus yang terus berlangsung hingga kini, tentu akan memperparah kondisi itu sungai sebagai jalan air menuju sungai Mahakam.

Terus bagaimana?

Tulisan ini sebenarnya hanya tulisan pendahuluan nan remeh, hanya untuk menggelitik kesadaran warga samarinda untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan terlebih di sungai.

Nah secara teknis bisa saja akan ada tulisan lain yang lebih menarik, yang menyampaikan data dan fakta plus keseriusan tentang solusi persampahan kota ini, tunggu saja!

Poinnya adalah, saya hanya ingin katakan apakah bisa kita bersama melakukan hal yang gampang namun efektive membangun kesadaran itu. Iya untuk tidak menjadi pelanggar Perda Samarinda yang mengatur tentang kebersihan di kota kita.

Nah, saya kok mulai membayangkan jika petugas kita dari dinas terkait berani menjemput bola, menemukan pelaku pelanggar itu, dan mengganjar dengan hukuman yang berlaku seperti di Jakarta tadi secara konsisiten.

Terus, saya juga membayangkan jika pejabat kita, seperti kepala dinas atau walikotanya langsung sidak ke kantung-kantung masyarakat yang berpotensi melakukan pelanggaran.

Kita bisa dapatkan, bayangan pertama mungkin bisa dilakukan, tapi pasti sulit, karena akan terjadi clash antara petugas dengan warga, ya karena menurut saya pembiaran selama ini tadi sudah menjadikan membuang sampah sembarangan menjadi budaya kita.

Bayangan kedua, tentang menantang ketegasan aparat pemerintahan kita untuk bisa mara-mara pada para pelanggar menjadikan efek jera seperti yang ada di kota Medan.

Ya bayangan kedua itupun sepertinya mustahil, karena ya tadi saya menilai pemimpin kita masih terlalu sayang dengan warganya dan masih berhitung hitung resiko ‘politis’nya kedapan. Maklum sekarang juga musim Pemilu eh.

Tetapi jika Pemerintah Samarinda tidak melakukan gebrakan dari sekarang, eh mau kapan lagi menyelesaikan hal itu ya?

Nah, namun bayangan saya yang pertama tadi bisa saja terwujud sih, karena ibu  Nurrahmani sang Kepala DLH Samarinda, dalam wawancara dengan televisi lokal Samarinda, sudah mulai melirik apa yang dilakukan DLH Jakarta dalam kasus diatas.

Yakni untuk melakukan publikasi kepada pelanggar yang membuang sampah sembarangan sejak sekarang. Biar menjadi viral kepada warga Samarinda. Meski akhirnya akan timbul pro dan kontra warga menyikapinya.

Menurut saya, cara ini memang sulit di awal, tapi lama-kelamaan pasti terbiasa kok. Tapi apakah petugas di lapangan berani meng-eksekusi? Atau warga yang sadar juga berani melapor untuk memperkuat program publikasi itu?

Seru ini, untuk menyaksikan para seleb Samarinda yang akan muncul dan terketuk hatinya  oleh Dinas Lingkungan Hidup Samarinda, atas tindakannya membuang sampah sembarangan.

Tobe continued nanti ya!

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan