Sekali-sekali Bercita-cita Wasit Bola Saja! Minta Ampun Susahnya!

Bagi yang menonton pertandingan Liga Shopee antara Persela Versus Borneo Fc, Senin (29/07) lalu, pasti merasa gemes kali-kan?

Laga yang memakan waktu hampir 120 menit akibat tarik ulur keputusan itu, dibumbui oleh drama pertandingan dengan tensi yang tinggi.

Ya ujungnya ricuh! Penonton berhamburan mengejar wasit, ketika peluit menyatakan pertandingan berakhir dengan skor kacamata 2-2.

Biasalah namanya main bola, siapa juga mau kalah? Meski berakhir imbang, namun keadaan itu masih membuat tanda tanya besar tentang keputusan wasit Wawan Rapiko yang menjadi pengadil pertandingan. Dengan presepsi ketidakadilan menjadi sumir.

Di masa injury time 90+2, sang wasit mengeluarkan kartu merah. Masing-masing kepada Wahyudi Hamisi pemain Borneo FC dan kiper Persela Dwi Kuswanto yang terlibat adu fisik, di kotak penalti Persela. Padahal sang Kiper telah memetik bola dan memeluknya erat di dadanya.

Tetiba sang kiper menanduk kepala Wahyudi Hamisi yang lewat di depannya, sambil memeluk bola tadi. Entah ter-provokasi oleh perkataan Wahyudi Hamisi atau gestur-nya di lapangan?

indosport.com

Padahal lho Persela sudah unggul dengan skor 2-1 atas Borneo FC di ujung laga.

Ujung dramanya, setelah melepaskan kartu merah bagi keduanya. Lau mengapa wasit memberikan tendangan pinalti kepada Borneo akibat adu-fisik kedua pemain tadi. Why, Sit?

Akibatnya Lerby Eliandri pemain Borneo berhasil menceploskan bola lewat hadiah penalti itu.

Skor jadi imbang 2-2. Skor ini tentu tidak mengenakaan Persela yang berjuang untuk beranjak dari zona degradasi. Sebaliknya Borneo tetap melenggang ke papan tengah Klasemen sementara di posisi ke-6.

Pendukung dan pemain Persela pun bertanya. Apakah wasit Wawan Rumpiko seorang mafia yang menggadaikan keadilan dnegan menghadiahkan penalti kepada Borneo FC? Meski mereka tahu wasit punya alasan kuat membuat keputusan tadi.

Indonesia demokrasi bung! Ya gitu, jika sudah marah ya pokoknya! Demo aja dulu-lah, urusan lain terakhiran!

Padahal lho biasanya di liga Indonesia, tim tuan rumah selalu saja mendapat kentungan dari wasit. Dan kecenderungan tim tamulah yang dirugikan.

Parahnya lagi kejadian itu sudah di ujung laga. Tiup saja peluit buat tim tuan rumah Persela, selesai sudah!

Sampai di sini ada presepsi ganda lagi nih, jika dunia Perwasitan Indonesia sebenarnya sudah berbenah atau jalan di tempat ya?

Bola masih Play On kok?

Banyak yang masih mengira, jika hadiah pinalti oleh wasit karena bola-nya masih play-on. Karena bola tidak berada di luar lapangan atau wasit tidak meniupkan peliut play-off. Sehingga aksi pelanggaran Dwi Kuswanto wajar mendapat hukuman penalti.

Ada juga yang mengatakan, harusnya wasit memberikan kartu merah saja dan tidak menghadiahkan penalti kepada tim tamu –kita yang malah ngatur yaak-

Sampai disini presepsi keadilan yang kita idamkan menjadi-jadi. Bagi tim yang menang tentu hasil itu adil, bagi pihak yang kalah itu semua tidak adil.

Terlebih pendukung tuan rumah di lapangan atau penonton yang hanya melihat di layar teve. Pasti mereka akan tersulut emosi, entah ada yang bahagia ataupun marah.

Lagi-lagi tergantung dimana mereka berpihak. Jika berpihak ke Borneo ya puas, dan sebaliknya Persela ya marah.

Hah, keadilan ya memang akan selalu pro dan kontra, karena manusia pada dasarnya ingin menyaingi Tuhan saja, yang selalu saja pasti  benar saja kan? Suka suka kita saja!

Dasar nih, kita dzalim berjamaah!

Keadilan versi manusia adalah sistem yang dibuatnya sendiri!

Jika kita melihat peraturan pertandingannya sendiri yang dikeluarkan oleh Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) 2018/2018. Kejadian itu bisa terjawab kok!

Pasal 4 regulasi “Fouls and Misconduct” Law of The Game IFAB mengatakan wasit bisa membarikan hadiah pinalti, jika ada pemain yang melakukan kekerasan berlebihan “violent conduct”

“Jika bola dalam permainan dan pemain melakukan pelanggaran di dalam bidang permainan terhadap lawan, permainan akan dilanjutkan dengan tendangan bebas tidak langsung atau langsung atau tendangan penalti,” tulis law of the game IFAB 2018/2019 pada halaman 109.

Nah, Dwi Kuswanto sendiri melakukan violent conduct yang dalam peraturan IFAB disebut sebagai: “Ketika pemain menggunakan atau berusaha menggunakan kekuatan berlebihan atau kebrutalan terhadap lawan bukan untuk tujuan merebut bola.”

Terkait protes pihak Persela yang menganggap kondisi bola sedang tidak aktif ketika pelanggaran terjadi, law of the game IFAB Artikel 9 Pasal 1 menyebut bola tidak aktif adalah ketika: “Bola telah sepenuhnya melewati garis gawang atau garis lapangan di tanah atau di udara atau permainan telah dihentikan oleh wasit.”

Dengan demikian kondisi bola masih aktif ketika Dwi Kuswanto melakukan pelanggaran. Pasalnya, bola sedang dalam pelukan Dwi Kuswanto dan wasit Wawan tidak menghentikan pertandingan hingga pelanggaran terjadi.

Sampai disitu kita bakal ngeh! Dan mengajarkan kita, jika presepsi keadilan yang benar juga harus berdasar fakta di lapangan bukan hanya soal keyakinan, aku benar dan kamu salah!

Apalagi parahnya bersumber pada ketidaktahuan kita yang kita tidak cari tahu –itu bodoh sekali-

Para Pengadil itu utusan Tuhan!

Nah, dalam konteks yang lebih luas, masalah keadilan memang sudah menjadi konsumsi harian kita ya! Baik yang jua terjadi di pengadilan yang menangani kasus Pidana dan perdata.

Dalam kejadian pertandingan itu saja contohnya, kita –para manusia- selalu saja gemar mendebat keadilan  dalam presepektive semu, terlebih untuk mendapatkan keuntungan sendiri.

Terlebih dalam momen-momen proses persidangan pengadilan yang lebih luas lagi.

Dan memang juga banyak fakta sih, yang juga membuktikan jika banyak para pengadil di negeri ini, seperi para Hakim, polisi, sampai Jaksa juga terlibat permainan keadilan dengan memutarbalikan fakta keadilan.

Dan ujungnya malah mereka yang diadili. Ya masih enak sih, mereka hanya divonis hukuman penjara saja. Dan belum merasakan terbirit birit di kejar massa seperi wasit, atas segala keputusannya.

Dan masih hangat pada Pemilu lalu, pengadil hajatan politik –KPU- untuk memilih Presiden 2019-2024 juga menjadi bulan-bulanan, akibat tuduhan curang oleh pihak yang kalah.

Dan endingnya ya sama saja seperi kasus bola ini. Ketika merujuk kembali pada fakta atas buktinya, semuanya hanya presepsi atas dasar emosi ingin menang untuk melakukan tekanan semu.

Percayalah keadilan sempurna pasti akan terjadi di akhirat bukan di dunia!

Berbicara soal keadilan bisa meluas kemana mana ya! Karena hal ini menjadi dasar dalam harian kita sih! Terutama balik lagi pada konteks agama yang kita yakini.

Sebagai orang yang beragama pastilah kita selalu disirami dengan nasehat untuk menjadi adil dalam lingkup yang kecil.

Dan ketika kita sudah meyakini itu, bisa saja kita menjadi orang yang merasa benar dan adil dalam bertindak tanduk. Terlebih berkomentar atas tindak tanduk orang lain atas nama keadilan tadi, tanpa kita sadari.

Yang pasti, kita tahu bertindak tidak adil itu dosa yang akan kita rasakan azabnya di akhirat kelak.

Meski kita sudah belajar soal keadilan dalam konteks agama, tentu saja sebagai manusia dalam memperagakan keadilan akan selalu bersinggungan dengan kepentingan pribadi dan soal ‘rasa’.

Nah dalam konteks itu, kita pasti juga bisa memposisikan diri kita sebagai para pengadil, seperti Polisi, Jaksa hakim KPK dan KPU sampai para Wasit untuk bekerja menciptakan rasa keadilan itu kan?

Jika memang kita masih kecewa dan belum puas atas kinerja mereka sampai saat ini. Artinya, kita masih bisa berharap keadilan Tuhan tadi atas dasar keyakinan kita. Yakin jika Tuhan bisa melakukannya di akhirat kelak.

Dan jangan lupa sambil belajar memahami dan berinstropeksi diri apa yang salah dari keputusan tadi sesuai konteks-konteks!

Jadi intinya keadilan itu akan tercipta jika ada keyakinan. Yakin jika keadilan itu memang bisa ditegakkan oleh pengadil di negeri ini.

Dengan cara, yamulai saat ini juga, selalu mencermati dan mengunyah baik-baik keputusan keadilan yang para pengadil buat tanpa rasa emosi yang anarkis kan? Karena kita pasti tahu, jika mereka juga akan takut dengan Tuhan mereka, di akhirat kelak –kayak khotbah jumatan aja-

Menjadi seorang yang adil, baik hati, suka menabung dan tidak sombong tentu menjadi impian kita kan? Terlebih bagi kita yang masih bercita-cita menjadi Hakim, Polisi, Jaksa, anggota KPK sampai Komisoner KPU.

Nah untuk itu, bagi pencinta bola, tidak ada salahnya kita mulai dulu memahami posisi atau langsung berpraktek menjadi wasit bola saja, sebagai ajang latihan –lho kak-  

Wawan Rupiko berlari terbirit dikejar pendukung Persela | Jawapos

Dengan itu kita akan mengerti betapa susahnya meneggakkan rasa adil itu, dan juga yakin jika tindakan itu tidak gratis.

Karena kita tidak akan tahu besaran bonus yang akan berikan Tuhan kepada seorang wasit bola, yang sudah bertindak adil di lapangan. Bisa jadi lebih besar dari Hakim-kan?

Wallahu a’lam bish-shawabi

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!