Mandai Crispy Yang Menantang Pasar MEA

Dokumentasi Pribadi

Eh, Enaknya Usaha Apaan Sih! –serius nah–

Pertanyaan itu sering menggantung di benak kita. Tak jarang, angan kita melayang menuju istilah UKM atau Start-up. Tapi berani gak ya memulai usaha itu sekarang?

Kedua jenis usaha tadi memang sedang hits, ditengah atensi Pemerintah yang getol menargetkan  2% UKM dari jumlah penduduk dan juga 1000 start-up di tahun 2020.

Jika ditilik, kedua jenis usaha itu memiliki persamaan, karena berangkat dari usaha rintisan yang berasal dari ide brilian seseorang yang mampu melihat jeli peluang usaha. Persamaan lainnya, terletak pada modal yang kecil bahkan tidak memiliki modal sama sekali dan bisa dikerjakan sendiri, atau dengan sedikit orang terdekat.

Bedanya hanya jika UKM menghasilkan produk, Start-up berupa jasa, seperti aplikasi dan software.  Nah, dari keduanya mana yang sesuai dengna passion kita nih?

World Bank, mengatakan jika di Indonesia sumber penghidupannya sangat bergantung pada sektor UKM. Dan kebanyakan usaha kecil itu terkonsentrasi pada sektor perdagangan, pangan, olahan pangan, tekstil dan garmen, kayu dan produk kayu, serta produksi non-logam. Dan sektor UKM diperkirakan menyumbang sekitar lebih dari 50% PDB dan sekitar 10% dari ekspor.

Di sisi lain, Bank Pembangunan Asia dan Institute Studi Asia Tenggara (2015) menemukan fakta bahwa kurang dari seperlima bisnis kawasan ASEAN yang baru siap menghadapi persaingan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Itu pertanda ada peluang yang sangat terbuka, untuk menantang pasar MEA?

Baca Juga : Ini 6 Masalah Dan Solusi Golput Millenial di Setiap Pemilu

Berangkat dari teori World-Bank tadi,  tentu kita akan menunjuk sebuah fakta dengan mudah, jika usaha kuliner bisa menjadi salah satu alternatif untuk berwirausaha. Lihat saja, menjamurnya usaha kuliner yang kita bisa temukan ini dimana-mana dan pastinya semua orang akan butuhkan sehari-hari.

Nah, dalam tulisan ini, saya akan mengajak kita semua melihat perkembangan salah satu usaha kuliner UKM MandaiNoor di Balikpapan, Kalimantan Timur yang telah melalui proses ‘from zero to hero’ itu. Dan mencoba mengupas apa-apa sisi menariknya dari produk yang dinamakan Mandai-Crispy. Dan semuanya bisa layak dijadikan inspirasi, untuk membantu menjawab pertanyaan tadi. Yuk dibaca terus ya!

Mandai Crispy Yang Pasti Beda!

Ide brilian memang sangat mahal dan segera harus diwujudkan. Adalah Mandai-Crispy olahan UKM kuliner yang dikembangkan Muhammad Noor, pengusaha Kuliner asal Balikpapan, Kaltim. Beruntung saya berkesempatan berbincang dengan yang empunya usaha secara langsung buat tanya-tanya.

Oia, adakah orang Kalimantan belum mengenal Mandai? Mandai adalah olahan panganan yang berasal dari kulit buah Cempedak khas Kalimantan. Mandai yang telah digoreng dapat dikonsumsi sebagai lalapan berdampingan dengan sambal korek.

Nah, karakter khas dari Mandai itu, akhirnya dieksploitasi Muhammad Noor menjadi produk kuliner yang makin berkarakter. Selain buah Cempedak yang melimpah serta relatif murah dijangkau masyarakat.

Mandai yang merupakan panganan turunan buah Cempedak berubah wujud menjadi Mandai-Crispy. Olahan kuliner tersebut lalu menjadi viral sebagai produk kuliner oleh-oleh khas Kalimantan di Balikpapan. Dan dipajang di toko miliknya di kawasan Sepinggan, Balikpapan.

Semenjak 2016 ketika berhenti bekerja, karena terimbas gejolak PHK. Usaha UKM MandaiNoor yang dirintisnya, terus memanen omset puluhan juta dari modal awal ratusan ribu rupiah saja.

Dimulai bekerja mandiri bersama istrinya saja, eh kini malah sudah memperkerjakan 3 orang dalam memproduksi 150 kantong Mandai Crispy setiap harinya.

Soal permintaan produk, Mandai Crispy telah banyak tersebar di kota besar lainnya. Termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Tentu akan banyak rahasia, mengapa produk yang bisa dianggap ‘remeh-temeh’ tersebut akhirnya terus dapat survive dan berkembang pesat. Mungkin ada bumbu rahasia dari yang empu-nya usaha selain karakter produk yang kuat tadi.

Nah biar tidak penasaran, kita akan icip sedikit Mandai-Crispy itu ya. Tapi, biarkan saya wakilkan merasakannya, boleh?

Namanya Crispy tentu selalu berkaitan dengan tepung berbumbu. Cabikan dari kulit-Mandai itulah yang akan dilumurkan ke dalam adonan tepung berbumbu ala Muhammad Noor tadi. Digoreng dan ditiriskan. Simple!

Kresshh.. kress..kresh  bunyi itu terasa ketika gigi-gigi mulai mengoyak Crispy-Mandai di dalam mulut saya. Rasanya ya seperti Mandai, tapi ini terasa kering dan berbumbu. Nah kalau kamu coba yang versi pedas, sensasinya akan terasa lebih. Bisa-bisa mulut kita akan mengeluarkan api menahan pedasnya. Haah..!

Mandai-Crispy tersedia dalam dua versi ada yang berbumbu dan pedas. Harganya terjangkau kok berkisar Rp20-30 ribuan per kantongnya. Nah, dari hasil kreasi dan ide brilian inilah, yang benar-benar membuat produk MandaiNoor bersinar hingga kini.

Terus Berinovasi!

Bermula memulai usahanya dengan tehnik manual. Dimana istri yang mengolahnya sendiri sedangkan Muhammad Noor sendiri yang memasarkannya, proses keras itu memberikan pelajaran dan ujian bagi kesuksesan produk ini hingga akhirnya melambung.

Dahulu kemasan Mandai-Crispy ini hanya ditaruh di dalam toples dan terlihat sederhana. Namun lihatlah, kantung-kantung mandai crispy kini terjaja manis di etalase toko miliknya di kawasan Sepinggan Balikpapan dan toko-toko Reseller yang tersebar di banyak kota.

Bagi Muhammad Noor, kemasan dan rasa itu adalah dua hal yang penting. Konsumen tentu akan melihat kemasan yang cantik akan menarik untuk membelinya. Dan ketika merasakan produknya, tentu lebih akan meyakinkannya lagi dalam memilihnya. Itulah jawaban mengapa produk Mandai-Crispy pantas menjadi viral bagi orang lainnya.

Pemasaran Yang Jelas!

Nah, faktor pemasaran ini adalah tahap yang menentukkan bagi sukses atau tidaknya usaha kita. Menurut Muhammad Noor, kita harus memiliki segmentasi pasar yang jelas. Dan beliau sudah menetapkan pangsa pasar dari produk Mandai-nya untuk segmen menengah ke atas.

Tentu, dengan segmentasi itu tehnik penjualannya pun harus sedemikian intens. Media-sosial salah satu skill pengetahuan dasar yang harus dimiliki dan  bisa digunakan untuk menggaet konsumen. Dengan massive-nya gempuran Mandai Crispy di lini massa Media-Sosial, dirasakan berpengaruh pada tingkat penjualan Mandai Crispy miliknya. Nah, terus apakah itu saja cukup?

Sudah Saatnya Kolaborasi UKM Dan Start-Up Di Jaman Digital!

Kata orang yang saya dengar, kesuksesan itu bisa diraih, jika kegiatan hulu hingga hilirnya, berjalan dengan baik. Muhammad Noor pun menyadari hal itu, hingga akhirnya di awal tahun 2018 dia bergabung di pesonanusantara.co.id sebagai salah satu vendornya.

Sekilas tentang pesonanusantara.co.id merupakan produk Start-up yang dibentuk oleh perusahan pengiriman barang JNE, untuk memudahkan pelayanan pesan-antar  produk kuliner oleh-oleh di berbagai kota di Indonesia secara online.

Dengan menjadi vendor pada aplikasi daring tersebut, proses pengantaran produk UKM utamanya kuliner bisa langsung sampai ke tangan konsumen dengan aman dimana saja.

Nah, sayapun sudah merasakan sendiri kenyamanan dari pelayanan situs-online JNE itu dengan berbelanja daring langsung. Mudahnya itu, saya hanya klik produk oleh-oleh di setiap daerah apa saja dari seluruh Indonesia yang kita inginkan di menu pencarian.

Nah ketika mengetik Mandai-Crispy dan muncul tampilannya, lalu kita pesan dan mengisi form dengan data yang diperlukan. Selesai dan bayar via transfer Bank. Satu hari, produk Mandai-Crispy sudah bisa kita nikmati di rumah tanpa harus ke toko yang empunya usaha. Cukup sederhanakan dan hemat di ongkos, karena tidak perlu ke kotanya.

Kemudahan dan peningkatan permintaan produk Mandai-Crispy ini jua dirasakan pula olah Muhammad Noor. Dengan begitu, marketing penjualan bisa lebih massive lagi di hadapan konsumen di manapun berada. Mengikuti selera gaya hidup konsumen terebut, bisa dirasa pas dalam menggaet segmentasi menengah ke atas bagi produk Mandai-Crispy miliknya.

Siap Menantang MEA?

Mandai-Crispy olahan Muhammad Noor paling tidak membarikan pelajaran, mengenai tiga tantangan bagi kita untuk menyulap ide brilian kita menjadi produk yang melambung.  Karakter, Inovasi, dan Pemasaran menjadi tahapan proses untuk menantang peluang pasar MEA yang menganga itu.

Survei yang dilakukan Kementrian Perdagangan terhadap seribu industri UMKM mengatakan lebih dari 50% tidak mengetahui MEA. Bahkan ada sekitar 60% UKM mengetahui peluang MEA atau tidak menyadari peluang yang tersedia di negara-negera ASEAN padahal peluang usahanya amat besar.

Nah oleh sebab itu kita harus pula mengorek peluang MEA sedalm-dalamnya, sehingga produk UMK yang kita telurkan, bisa melebar menjangkau pasar bebas yang lebih lebar lagi di Asia Tenggara ini.

Dan itu menjadi semakin sederahan dan gampang, karena JNE akan selalu siap dengan semua fasilitas yang memanjakan pelanggannya untuk tujuan tersebut dan mengantarkan paket, logistik dan dokumen bisnis penting kemana saja dengan aman dan harga yang kompetitive.

Sudah tahu belum? Jalur Nugraha Ekakurir yang dikenal JNE, merupakan perusahaan pelayanan pengiriman barang. Di usianya ke-28, tentu banyak produk dari jasa pengiriman barang telah dirasakan oleh masyarakat, terutama UKM baik dalam dan luar negeri.

Dokumentasi Pribadi

Lihat saja semua produknya, ada JNE Express yang melayani kiriman paket dan dokumen peka waktu, terus ada JNE Logistic melayani pengiriman logistic dengan dukungan armada darat dan laut, serta memiliki sistem pergudangan barang yang aman. Dan  ada juga JNE Freight juga siap mendukung pengiriman produk bisnis skala yang lebih besar lagi.

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Semua layanan ini tentu saja akan memanjakan semua produk UKM yang terus massive di masyarakat.

Dan di usianya ke-28 dengan slogan barunya ‘menghantarkan kebahagian’ tentu saja menjadi tekad memanjakan pelaku UKM dan juga para penikmat produk UKM untuk merasakan kebahagian mereka, utamanya memberikan dan menggunakan produk UKM tadi.

Tinggalkan Balasan