Kisah Sang Mantan, Amartha, Dan Masa Depan Kita

Ahh mengingat kisah sang mantan, serta mengenal sosok Amartha pasti akan menyisakan banyak pengalaman dalam hidup kita deh.

Namun kisah mantan, yang saya maksudkan ini, akan berbicara pada banyak hal, terutama upaya terbaik yang pernah kita lakukan dahulu hingga kini, dan belum jua sukses dijalankan.

Utamanya ya dalam mendapati arti kebahagian dan kesejahteraan hidup yang bersama kita impikan!

Nah, coba saja, di antara kita, ada sajakan yang pernah merasakan menjadi mantan karyawan? Dimana kita  bisa saja merasa terhempas –gitu- oleh gelombang PHK Perusahaan dengan bermacam alasan.

Terlebih alasannya adanya ketidakcocokan gaji dari sisi kita, yang selalu dirasa kecil. Dan –parahnya- kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh saja, dan menjadikannya keterpaksaan selama bekerja.

Terus, adakah juga diantara kita yang –malah- sudah merasakan menjadi mantan pengusaha, yang terbebas dari tuntutan pekerjaan, alias ya hanya berleyeh-leyeh saja di rumah. Tentu ya dengan mengandalkan kekuatan passive-incomenya untuk melayani keinginan-kebutuhan harian apa saja.

Mungkin bisa saja kita lekas berfikir sekarang, untuk mau mencoba melakoni predikat Sang mantan sedini mungkin. Tanpa harus menunggu suratan-takdir PHK di perusahaan tempat kita bekerja saat ini?

Agar kita bisa lekas jua memfokuskan diri menggarap minimal satu dari berjuta jenis usaha UMKM, yang diharapkan bisa mengalirkan keuntungan yang tak-terbatas pada diri kita, kapan saja dimana saja?

Founder & CEO PT Amartha Mikro Finance (Tengah)  I Tribunews.com
Founder & CEO PT Amartha Mikro Finance (Tengah) I Tribunews.com

Atau  malah, kita ingin langsung memilih untuk mendapatkan aliran  passive-income saja, atas kerjasama yang kita jalani lewat usaha project pendanaan UMKM yang bisnisnya dijalankan orang lain, sembari kita tetap masih bisa bekerja atau di rumah saja?

Jika kita berani katakan siap, mengambil langkah itu sekarang. Tentu saja kita harus berkenalan dengan sebuah nama, yakni Amartha. Dimana dia akan menjadi pelengkap kebahagiaan kita di masa depan. Nah, mau kenal Amartha? Mari saya kenalkan!

Pandemi yang seharusnya mengasah kemandirian kita!

Jujur saja, di usia saya yang semakin menanjak ini, sudah berhasil menjejali diri saya dengan kekayaan pengalaman sebagai seorang mantan juga. Ya mungkin samalah dengan kalian, saya dahulu pernah jua merasakan peliknya mencari kerja,–bahkan- terbiasa berpindah-pindah ladang pekerjaan.

Saya juga pernah menjalani hubungan tanpa-status alias hubungan pekerjaan dengan sistem kontrak yang suram. Harapannya, jika kontrak diperpanjang syukur, jika tidak, tentu perih hati.

Akhirnya, apes! Kontrak pekerjaan dahulu pernah ada yang tidak dilanjutkan. Satu evaluasi dalam diri sendiri saja sih, mungkin kinerja saya kurang memuaskan Perusahaan.

Selanjutnya,–terpaksa- saya harus mencari pekerjaan lagi, jatuh lagi pada hubungan kontrak jua-kan? Dan takdir-lah yang membawa saya bekerja di perusahaan lainnya sebagai pegawai tetap.

Hubungan kami, -saya dan perusahaan- pada saat itu bisa bertahan bertahun-tahun. Dan ketika project-nya selesai, saya-pun harus mengemban predikat sang mantan lagi di 2015-an.

Saya pikir, jikapun harus mencari pekerjaan lagi, ceritanya ya bakal sama, terus-terusan dikecewakan menjadi sang mantan.

Dan semenjak itu, saya memutuskan untuk berusaha dengan membuka jasa property, yang modalnya dari hasil tabungan selama bekerja.

Mencecap predikat baru menjadi  wiraswasta, tidaklah buruk jua, ternyata saya bisa menjalaninya dengan segenap passion saya, dan merasakan banyak keuntungan.

Dan hingga akhirnya lagi, Pandemi di tahun 2020 ini sudah berhasil membuat arus cash-flow bisnis property tersendat. Dan saya anggap sebagai force the majeur alias resiko yang harus dimaklumi!

Melayani hari di rumah saja, sembari melakukan aktivitas baru menjalani hobby I Dokumentasi Pribadi
Melayani hari di rumah saja, sembari melakukan aktivitas baru menjalani hobby I Dokumentasi Pribadi

Pikiran saya lalu melayang lagi, untuk bagaimana mengakhiri status ini, menjadi mantan pengusaha dini sajalah, yang mampu mengalirkan passive-income, daripada terus capek bekerja!

Saya lantas mencari banyak jasa lembaga keuangan/Perbankan yang bisa mengalirkan pasive-income dari penanaman modal, yang akhirnya dialirkan kembali pada modal usaha orang lain.

Dan ternyata di jaman now, tawaran dari banyak lembaga keuangan semacam itu, dan sangat terbuka sekali untuk dipilih. Dan asiknya juga dengan mudah bisa kita lakukan dan memulainya hanya lewat Gadget kita. Sungguh!

Passive-income selama Pandemi, hanya didapat dari menabung saja?

Saya yakin, saya tidaklah sendiri meghadapi kesulitan itu kok. Dimana di masa Pandemi ini, sebanyak 2.1 juta orang terkena imbas PHK dan 1.4 juta orang status pekerjaannya dirumahkan. Belum lagi, jika ditotal ada 13.3 juta orang yang kini jua sedang berlomba mencari pekerjaan baru. Data ini bukan Hoax, coba baca saja beritanya!

Menelan fakta itu, saya dan banyak dari kita pasti akan memilih berdiam diri, dan terus memaksimalkan kinerja passive-income lewat jasa perbankan, yakni aktivitas menabung, dan minimal mencicip jasa layanan Deposito-lah di Perbankan.

Wajarlah, apa yang saya dan orang lain lakukan tadi bukan rahasia umum ah! Karena Pola aktivitas ekonomi masyarakat kebanyakan selama Pandemi ini juga terpotret dalam Survei Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) per 25 Juni 2020 lalu.

Survei itu menyebutkan jika orang Indonesia memang sangat rajin menabung selama Pandemi ini. Ada presentasi dimana 99.7% orang dewasa Indonesia adalah penabung aktif di Bank. Ternyata Presentase itu, jauh lebih tinggi dari rerata capaian aktivitas menabung warga di seluruh negara –bahkan- yang hanya 70.45% saja.

Dan terpenting adalah, sebanyak 98.2% pemilik rekening di Bank memiliki simpanan di bawah Rp 100 juta. Dan hanya 0.03 % saja, yang memiliki simpanan jumbo di atas Rp 5 Miliar. Mungkin dari data itu, termasuk golongan kita ya?

Artinya, Survey ini juga ingin mengatakan jika aktivitas ekonomi yang saya lakukan kini, dan banyak orang Indonesia, masih dikatakan tradisional.

Karena ya masih mengandalkan layanan jasa Perbankan saja, yakni masih dengan beraktivitas menabung serta berdeposito saja, diantara banyak pilihan tawaran  layanan lembaga keuangan lainnya.

Mungkin ya faktor tidak ingin mengambil resiko besar atas modal yang kita miliki. Dan memaksa kita memilihkan aktivitas tadi-kan? Ya mungkin saja itu benar, hanya menurut kita.

Omnibus Law dan tantangan ekonomi kita selanjutnya!

Selanjutnya, kita jadi teringat Omnibus Law yang sudah berhembus kencang pada pekan-pekan menjelang Oktober 2020 lalu, serta menuai tantangan-tantangan ekonomi baru.

Dimana substansi Undang-undang ini kabarnya bisa membawa banyak hal positif sekaligus negatif bagi dunia pekerjaan.

Terutama menyangkut isu-isu sentral seputar kemudahan penciptaan lapangan kerja baru bagi UMKM. Dan sekaligus juga kontroversi seputar gaji/pembayaran pegawai yang terikat sistem Perusahaan baru.

Ini seakan membuktikan lagi, jika siapa saja diantara kita, baik para pekerja ataupun calon pekerja baru pasti akan memiliki, menuliskan, serta menceritakan kisah mantan dirinya sendiri, itu kelak!

Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com
Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com

Menelaahnya pelan-pelan, kemudian kita bisa saja bertanya lagi pada diri kita. Apakah kini kita benar-benar berani dan siap, untuk memanfaatkan peluang sekaligus tantangan selama Pandemi ini? Dengan menyipta banyak kesempatan untuk mengatur hidup kita sendiri.

Ya dengan apa? Ya dengan mencoba menggarap bisnis UMKM sendiri yang semakin mudah, lewat inisiasi yang datang dari dalam diri kita? Nah jika kita mengatakan siap. Nah yuk kita lanjutkan saja membacanya ya?

Penting : Bunga Acuan BI Turun, inilah potensi-potensi yang bisa digarap!

Nah Referensi Survei di atas tentu sudah bisa dijadikan tuntunan baru. Dimana banyak orang sudah menganggap jika menabung dan juga ber-Deposito adalah langkah tepat untuk mengalirkan passive-income kita dengan mudahnya tanpa resiko, selama Pandemi di rumah sajakan?

Padahal –penting- ada banyak layanan lembaga keuangan dan juga lembaga Fintech –misalnya- yang bisa membuat potensi dana yang terendap dalam tabungan itu, dapat dimaksimalkan lagi. Guna mendukung kebijakan Pemerintah membangkitkan ekonomi di masa Pandemi ini.

Salah satunya adalah, kebijakan Pemerintah di masa Pandemi ini yang menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 Bps menjadi 4% saja, sejak Juli 2020 lalu.

Artinya jika mau dibedah, ya akan banyak dampak positif atas aktivitas ekonomi yang bisa dimaksimalkan dari kebijakan ini! Nah apa saja sih?

Pertama, Suku bunga kredit juga akan ikut menurun

Bunga acuan BI memang akan menjadi faktor tunggal dalam menghitung besaran bunga kredit. Hal ini akan membuat Bank menurunkan cost of fund, yakni menurunkan bunga pinjaman dam selanjutnya bisa meringankan para Debitur.

Artinya juga, ya pihak Bank dan lembaga keuangan akan memberikan bunga kredit yang rendah, menyusul bunga acuan BI yang rendah tadi.

Jadi jika ada keinginan untuk memiliki properti seperti rumah, ini kesempatan untuk mendapatkannya. Namun pertanyaannya adalah, bagaimana  memastikan pembayaran atas kredit  jika kepastian pendapatan kita dari perusahaan melemah, dan terancam akibat Pandemi ini?

Mungkin jawabannya ya kita bisa memulai usaha sendiri, dan bisa membuat pendapatan sesuai keinginan kita kan? Gampangnya sih begitu!

Kedua, membuat geliat lapangan bisnis baru

Nah selanjutnya, Bunga acuan BI yang rendah, tentu diharapkan menjadi stimulus kuat bagi pelaku bisnis yang berani, mau dan mencoba memulai usahanya yakni bisnis UMKM, dengan berbagai alasan. Ya seperti keinginan membeli property tadi.

Dengan fenomena menurunnya suku bunga acuan ini, pelaku bisnis apa saja, -terlebih UMKM- berkesempatan untuk meningkatkan produksinya, dan membuat perkembangan bisnisnya secara signifikan.

Tak perlu diperdebatkan lagi sih, jika kekuatan bisnis selalu menggantungkan pada sumber pembiayaan atau permodalan apa saja, dari Perbankan dan lembaga keuangan  sebagai modal produksi.

Artinya, dengan suku bunga kredit yang rendah, -akibat suku bunga acuan BI tadi- membuat pelaku usaha tidak berat menaggung biaya operasional produksinya.

Ketiga, pengurangan jumlah pengangguran lewat banyak UMKM

Ada teori yang mengatakan jika peningkatan pertumbuhan bisnis akan selalu berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah lapangan pekerjaan. Nah, sudah disinggung di atas jika terdapat 13 jutaan pengangguran baru yang akan menjadi beban ekonomi di masa depan.

Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com
Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com

Nah diharapkan efek pertumbuhan bisnis bisa membuka kembali akses lapangan kerja seluas-luasnya. Poinnya lagi menurut saya satu, produktivitas masyarakat harus segera meningkat.

Keempat, biaya kegiatan ekspor-impor menjadi terjangkau

Kesempatan memenuhi permintaan barang apa saja dan dimana saja, akan menjadi menganga, terbuka lebar, terlebih bunga acuan BI ini akan mengoreksi biaya pinjaman perusahaan ekspor-impor.

Artinya, permintaan Kredit pelaku usaha akan meningkat dan memaksimalkan tabungan masyarakat yang sengaja diendapkan masyarakat selama pandemi ini.

Nah dengan memanfaatkan peluang ini, tentu saja akan mengundang investasi baru dan mendorong pergerakan ekonomi yang lebih signifikan. Dan secara umum menjadikan usaha untuk menjauhkan Indonesia ke dalam jruang Resesi lebih dalam lagi kan?

Kelima, menurunkan suku bunga Investasi kita di Bank!

Terakhir, hal yang perlu dicatat, bagi kita yang hanya mengendapkan dana kita di Bank. Jika suku bunga acuan BI ternyata berpengaruh drastis juga pada passive-income yang kita andalakan hanya dari  bunga tabungan  dan deposito serta Giro kita semata di Bank.

Nah tidak ada cara lain, saat ini untuk kita bisa menyebar dana tabungan yang terdap milik kita itu, untuk hal yang lebih produktif pada layanan lembaga keuangan lainnya.

Gunanya ya untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin dalam berusaha mandiri dengan mencoba menjadi investor permodalan untuk membangkitkan usaha UMKM impian orang lain. Jika kita memang tidak mau mengambil resiko besar dalam berusaha. Tapi, apa bisa ya?

Inklusi keuangan, awal semangat baru menggarap tantangan ekonomi selama Pandemi!

Nah apa yang sudah diurai di atas pastilah memberikan pemahaman jika banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan dibalik semua kesulitan selama Pandemi ini kan?

Dan lagi, semua kekuatan permodalan dari Perbankan atas jasa keuangan sudah jelas-jelas hadir dengan mudah di tengah-tengah kita dan semua lapisan masyarakat untuk segera dimanfaatkan.

Menengok hasil survei di atas tadi, yang sudah membuktikan jika warga kita sudah mengenal baik dan memanfaatkan jasa Perbankan dengan mudahnya. Buktinya ya lewat indikator keaktifannya menabung secara aktif di Bank.

Dan kemudahan mengakses layanan Perbankan ternyata memang sengaja dihadirkan sebagai strategi ekonomi berupa Inklusi Keuangan.

Dan semua hal yang terakit kemudahan itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang strategi Nasional Keuangan Inklusif.

Poinnya adalah Pemerintah berharap semua lapisan masyarakat bisa memanfaatkan layanan perbankan dengan aman dan nyaman.

Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com
Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com

Di Indonesia sendiri, Strategi itu sudah meyasar pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (MBR atau keluarga pra-sejahtera), pelaku UMKM, pekerja migran, wanita, disabilitas, anak terlantar, Lansia, penduduk daerah tertingga, serta pelajar dan pemuda.

Data Global Findex menyebut pada 2014 lalu, hanya sekitar 36% penduduk dewasa di Indonesia yang hanya bisa mengakses layanan Perbankan. Namun 2017, tingkat inklusi keuangan di Indonesia melompat menjadi 48,9%.

Nah diharapkan juga hadirnya inklusi keuangan tentu saja sudah memberikan nyawa bagi pelaku usaha UMKM. Hasilnya, di tahun 2018 lalu, sebanyak 64.2 juta unit UMKM sudah bergotong-royong mencatatkan kontribusinya sebesar 60.3% dari PDB Indoensia.

Dan juga menyerap 97% tenaga total tenaga kerja  dan 99% dari total lapangan kerja. Mungkin di masa pandemi ini, jumlah UMKM-nya juga sudah melompat tinggi lagi ya?

Nah selanjutnya, yang harus kita pahami, adalah semua kemudahan akan akses keuangan tentu saja kita bisa buktikan sendiri lewat Gawai kita. Seraya kita terbiasa berselancar online mendapatkan dan sekaligus memberikan pelayanan permodalan kepada pelaku UMKM lewat lembaga keuangan dengan aman dan nyaman.

Salah satunya mengenal, mencoba dan membuktikan layanan Amartha Mikro Fintek, yakni wadah layanan fintech peer to peer lending, yang menghubungkan pendana urban seperti kita, dengan pengusaha mikro dan kecil di wilayah pedesaan secara online.

Amartha Mikro Fintek, wadah investasi UMKM Millenial!

Nah mencerna dari awal sampai titik ini, kita pasti jadi sadar jika urgensi percepatan invasi penciptaan UMKM secara massif sangat penting berdiri kokok di tengah ketidakpastian lapangan kerja kini kan?

Sumber photo : Katadata.co.id

Terlebih, banyak sisi negatif dari hasil pencapaian ekonomi kita yang berada di jurang Resesi.

Nah untuk bangkit kembali tentu saja, pelaku bisnis mikro yang terpukul akibat kebijakan Pemerintah selama Pandemi memerlukan permodalan. Dan selama ini yang menjadi hambatannya yakni keterbatasan jaminan untuk mencairkan permodalan tadi.

Amartha memudahkannya, dimana Agunan tadi dapat berupa rekomendasi kelompok yang dikenal lewat sistem tanggung renteng. Dimana Koperasi atau pembina bisa berperan sebagai penjamin, pastinya dengan melihat track record aktivitas perbankannya yang bisa menjadi parameternya.

Namun dengan kemajuan teknologi yang sangat massif saat ini. Amartha sebagai wadah Fintek sudah membuat suatu rekayasa teknologi, yang bisa lebih memudahkan untuk menghubungkan Debitur dan Kreditur, dengan prinsip saling menguntungkan bagi keduanya.

Dan sudah semenjak 2010 lalu, dengan sistem teknologi Fintech terkini, Amartha sebagai Microfinance sudah berhasil menjodohkan keduanya, baik peminjam dana yang sudah diverifikasi Amartha dan pemodal dana –termasuk kita- yang bertebaran di ruang maya.

Nah diharapkan dengan kemudahan yang sangat terjangkau, bisa menjalin kerjasama yang dimulai dari wadah online Amartha, dan menjadi turunan penerapan inklusi keuangan yang saat ini terus didorong oleh Pemerintah.

Dan terpenting lagi adalah, kemudahan itu bisa dengan mudah dijamah oleh siapapun. Dan tak terkecuali, para Millenial yang akan disibukkan dengan lapangan pekerjaan barunya. Dan akhirnya menemukan bisnis barunya sendiri bersama Amartha ini.

Peer to peer lending (P2P) sistem kerja yang diterapkan Amartha, apa itu?

Nah investasi P2P adalah semacam platform pinjam-meminjam secara online, yang akan menghubungkan si debitur Amartha dan kreditur dalam kerjasama menjalankan UMKM apa saja yang diprioritaskan di wilayah pelayanan Amartha.

Dana investasi yang bisa dikembangkan, bisa dimulai dengan besaran Rp 1,5 juta. Dimana untuk selanjutnya akan disalurkan untuk usaha produktif yang sangat dibutuhkan di daerah pedesaan wilayah Jawa, Sumatra dan sebagian Pulau Sulawesi.

Memulai menjadi Investor/kreditur di Amartha Yuk!

Nah Platform Amartha, sengaja dirancang mudah dan diprioritaskan mengundang kita menjadi investor/kreditor yang berkeinginan mendapatkan passive-income dengan resiko rendah serta menguntungkan. Selain hanya menanamkan dananya di Bank saja!

Kita juga bisa lekas mendaftarkan diri kita, pada laman Amartha, secara online. Coba kita klik ini!

Setelahnya, kita hanya menyerahkan informasi pribadi kita, seperti KTP dan rekening Bank. Setelah lengkap dan terverifikasi Amartha. Nah kita sudah bisa mulai mendanai calon Boss UMKM yang kita bisa pilih nantinya, ketika sudah sukses log-in.

Namun sebelum memutuskan siapa calon boss UMKM tadi, akan ada informasi dari sosok Debitur Amartha tadi. Terutama soal kelayakan usaha yang bisa memastikan kelancaran usahanya kelak. Seperti informasi prediksi pembayaran pokok dan margin keuntungan secara mingguan yang bisa didapatkan.

Ilustrasi carakerja investasi amarta I amartha.com

Secara detail, sudah disiapkan pilihan lokasi para calon Debiturnya, dan jenis usahanya, serta plafon dana yang dibutuhkan Debitur. Tinggal lihat, pahami mereka, plus margin dari permodalan lalu klak-klik saja, beres.

Selanjutnya, ketika sudah deal, kita ya hanya menunggu passive-income dari angsuran mingguan atau skema pembayarann yang telah disetujui bersama. Lalu, asiknya dana yang sudah ditarik bisa digunakan lagi untuk, mendanai projek UMKM lainnya.

Semua hal yang terakit dengan administrasi jauh lebih efisien dan automatisasi/paperless, membuat sistem P2P semakin ringkas diaplikasikan

Membayangkan sepintas saja, aktivitas ini bisa menjadi bisnis yang menarik bukan? Bisa dijalankan dengan mudah di mana saja, oleh siapa saja dan mudah mengawasinya hanya lewat Gawai kita.

Dan yang perlu dicatat, Amartha ini, juga bekerjasama dengan Perusahaan Penjaminan Kredit Jamkrindo dan Asuransi Jiwa untuk mitra untuk meredam resiko pendanaan.

Dan yang terpenting lagi adalah, Amartha telah terdaftar dan diawasi Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi aman!

Debitur Amartha, apakah bisa dipercaya?

Amartha sudah menyiapkan debitur prospek yang tersebar di area pelayanan mereka di Pulau Jawa, Sumatra dan sebagaina Pulau Sulawesi, terutama meningkatkan peran perempuan di balik layar usaha UMKM pedesaan.

Mereka para Debitur adalah pelaku UMKM di daerah pedesaan yang mengajukan rencana usaha secara per-kelompok yang terdiri 10-20 orang..

Semua calon pelau UMKM tadi akan terlebih dahulu di-skoring lewat algoritma score kredit di sistem Amartha, guna menilai kelayakan atau analisa usaha dan juga kepribadian para Debitur.

Nilai A hingga E akan mewakili kemungkinana dan analisiS keberhasilan bayar dan potensi resiko atas rencana usaha debitir kelak.

Nah setelah disetujui, pengajuan dana akan dipromosikan di Marketplace Amartha, untuk dipilih oleh kita , yang terlebih dahulu memiliki akun Amartha. Dan selanjutnya Akad perjanjian kerjasama dengan kita calon investor akan jua difasilitasi Amartha.

Dan angsuran para Debitur ke kita -para Kreditur- akan dibayarkan mingguan yang akan dirancang bisa terjangkau dan disesuaikan dengan kondisi penerima pinjaman/debitur.

Ilustrasi I amartha.com

Dan terpenting, Amartha akan terus mengawasi tanggung jawab pada Debitur kepada kita yang menjadi Kreditur.

Dengan banyak pertemuan dari pendampingan mingguan kepada para Debitur, dan meyebarkan banyak pengetahuan pada hal pengelolaan keuangan yang baik selama msa peminjaman/tenor. Upaya ini bisa menjadi peyakin kita sebagai Kreditur terhadap dana operasional pelaku UMKM .

Bergotong royong lewat inklusi keuangan menguatkan UMKM itu ternyata mudah kok!

Masa Pandemi ini dan paska Pandemi nanti mau tidak mau adalah masa depan kita kan?

Dan jelas inilah waktu yang tepat untuk memaksimalkan semua modal yang kita miliki. Baik berupa skill, materil dan utama adalah kemauan untuk segera bermetamorfosis menjadi sosok mantan terindah.

Dengan semangat gotong-royong menjalin kerjasama melalui Amartha Mikro Fintech, tentu saja sudah memudahkankan niat Pemerintah, dan juga dukungan pada diri kita untuk bisa lepas dari Resesi yang semakin menganga oleh Pandemi.

Jika di tahun 2019 lalu PT Amarta Mikro Fintech sudah bisa menargetkan pengucuran modal usaha Rp 1.7 Triliun, berkembang dua kali lipat pada tahun sebelumnya. Harapannya, di tahun Pandemi ini, kemudahan berusaha UMKM bisa lebih massif lagi, di pedesaan ya dengan dana yang lebih besar lagi ya?

Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com
Salahsatu mitra pendanaan I amartha.com

Dan diharapkan juga dengan hadirnya UMKM yang menyebar di pedesaaan, bisa ikut memutar kembali roda ekonomi kita seperti semula. Dan akhirnya bisa membawa kita bersama mengecap rasa kesejahteraan yang sesungguhnya di masa depan, tentunya bersama Amartha.

Daftar bacaan

  1. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/05/20/berapa-sumbangan-umkm-terhadap-perekonomian-indonesia
  2. https://blog.amartha.com/inklusi-keuangan-apa-dan-bagaimana/
  3. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200930111322-4-190534/naik-rp-100-t-tabungan-warga–62-di-kala-pandemi-rp-1744-t/2
  4. https://www.merdeka.com/uang/deposito-perbankan-tumbuh-85-persen-di-masa-pandemi.html
  5. https://koinworks.com/blog/dampak-bunga-acuan-bi/
  6. https://lokadata.id/artikel/survei-oecd-tabungan-orang-indonesia-cuma-tahan-buat-hidup-seminggu
  7. https://www.tribunnews.com/bisnis/2018/12/13/solusi-pengelolaan-dana-yang-aman-dan-menguntungkan-bagi-pengembangan-umkm-di-indonesia
  8. https://kumparan.com/kumparanbisnis/akibat-corona-13-3-juta-orang-di-indonesia-butuh-pekerjaan-saat-ini-1uQ8A5pjnA6?

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!