Kodok Dan Semut Saja Bersahabat, Nah Gimana Cebong dan Kampret?

Cebong dan Kampret apaan sih!

……. kodok dan semut sahabat lama semut bilang dok.. kodok bagi telurmuuu, kodok dan semut sahabat lama, kodok bilang … mut.. semut owek..oweek …

Aha, itu tadi secuil lirik lagu kak Ria enes dan boneka lucu Susan, yang sudah tua’ berumur 30-an keatas pasti inget lagunya yak?

Lagu sang kodok itu akan mencoba membuka rahasia yang terjadi antara sang kodok dan semut. Meskipun hidup mereka di media berbeda, eh ternyata mereka sahabat lama kok! Coba dengerin lagunya sampaii habis!

Lalu, bagaimana kisah cebong dan kampret, yang keduanya juga sama-sama binantang kesayangan Tuhan yang diciptakan untuk saling mengisi, dan mencontohkan kedamaian seperti kodok dan semut dalam lagu tadi.

Ah, mungkin saja, lagunya dan ceritanya masih dibuat untuk menceritakan misteri selanjutnya tentang cebong dan kampret, oleh kak Ria! Tungguin saja!

Dan bertanya mengapa mesti cebong dan kempret yang harus mengganti peran kodok dan semut  di dalam lagu tadi sih?

Ya suka-suka saya saja dong! Anu, kebetulan saja karena tahun ini adalah tahun politik selalu saja mempertentangkan keduanya.

Iya, semenjak Pilpres 2014 lalu hingga Pilpres 2019 dalam waktu dekat, rasa-rasanya kata-kata Cebong dan Kampret seperti bukan sahabat, terus sahabat bukan. Padahal salah apa sih Cebong dan Kampret itu!

Yang kita pahami, sang Cebong selalu diistilahkan pendukung Paslon nolsatu sedangkan Kampret pendukung Paslon noldua. Nah banyak penafsiran kan mengapa keduanya saling bertentangan, apalagi di dunia mayah? Apa benar mereka membela kebenaran yang relatif tadi!

Sudah harfiah kali setiap kompetisi selalu saja beradu untuk menjadi pemenang , lihat saja kompetisi bola. Dan kompetisi juga selalu saja luput dari acara dukung mendukung.

Gak akan ramai kalau tidak ada fans yang selalu riuh di saat pertandingan. Saya hanya menilainya dnegan analogi ini. Seterusnya tentang politik ya, ora urush!

Pertanyaannya, dalam konteks Pilpres saat ini mengapa  keduanya, Cebong dan Kampret sangat ramai bersaut-sautan komentar di dunia maya untuk merebut kebenaran yang relatif di mata mereka saja.

Tapi, anehnya bertemu di dunia nyata keduanya malah senyam-senyum saja! Dan diem-dieman memandang HP saja sambil ngopi-ngopi.

Ilustrasi Photo Pexels

Tuh lihat, Media sosial yang sudah menjadi sasaran keduanya menumpahkan semua perbedaan yang terus aja dilatar belakangi oleh fanatisme politik yang berlebih.

Itu tentu saja, mengganggu silent reader atau pengguna Medsos yang tidak tertarik oleh perkelahian politik di Medsos itu tau!

Cebong dan Kampret ada apa sih?

Ya menurut saya, masalah perbedaan itu terjadi karena adanya komunikasi yang tidak langsung face-to-face yang doelo pernah kita lakukan ketika belum lahir si Medsos.

Kita doelo bisa duduk bareng sambil minum kopi, berbicara terus menatap bola mata masing-masing yang pasati akan memahami konteks-konteks dan gestur tubuh lawan bicara kita.

Coba saja jika tidak percaya, semua akan berbeda ketika kita berkomunikasi dengan mulut ketimbang pakai jari, palagi kaki.

Sadar tidak, jika melakukan komunikasi yang tidak langsung dari mata ke mata memang sering kali memancing banyak masalah mulai dari kehadiran telpon, surat dan terlebih Medsos yang bayak kita gunakan saat ini.

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Hal tersebut bisa kita rasakan mulai dari menurunnya kemampuan kita untuk dapat paham gestur non-verbal, nada bicara hingga konteks, yang gampang kita dapatkan jika bertemu dan berbincang secara langsung. Sehingga hal tadi bisa saja menjurus pada kegiatan impersonal dan praduga saja.

Ilustrasi Photo Pexels

Apalagi, negara kita memanjakan kebebasan berpendapat yang menjadi pintu masuk dalam merasakan kesalahan pemahaman dalam konteks-konteks, dan pasti akan terus berpotensi menuai perbedaan yang terus saja meruncing bersaut-sautan terus menerus.

Medsos-lah sudah menjadi alat pemanja itu, ya untuk menumpahkan ‘sampah’ kita di sana.

Resikonya, warganet secara terbuka bisa saja menimpali semua komentar yang tidak dia pahami dengan mudahnya.

Apalagi ada saja, para netizen yang tampil dengan komentar pedas dan tidak menyebutkan jati dirinya alias anonim. Netizen yang begini ini, yang kadang buat rusuh!

Arthur Santana, Profesor ilmu komunikasi Universitar  of Houston memiliki kesimpulan setelah meneliti terhadap sembilan ribu komentar di kolom pemberitaan media soal imigrasi. Dan dituangkan dalam Journalism Practice.

Hasilnya adalah 29% komentator non-anonim yang terpengaruh dan berpendapat “secara tidak beradab” sementara golongan anonim sebanyak 52%.

Dalam publikaisnya itu, Internet kemungkinan pengaruh terhdap para netizen terutama komentar mereka tadi. Komentar yang agresive dan negative bisa mengubah presepsi penggunan atau netizen terhadap suatu masalah.

Netizen anonim yang mendukung nol satu atau nol dua bisa saja mempengaruhi komentar yang menjadi pedas kepada netizen lain, sesuai analisis pak prof diatas tadi.

Journal of Computer-Mediated Communication mengeluarkan kesimpulan jika semakin agresif suatu komentar akan menjadikan sikap pembaca terhadap isi bacaan menjadi terbelah atau terpolarisasi.

Tidak heran jika, Popular Megazine pada 2013 pernah menutup kolom komentar di laman mereka. Alasan mereka adalah jika para komentator, terutama netizen anonim akan muncul dan akan hanya merusak integritas ilmu pengetahuan saja, yang dijadikan konten bacaan.

Tapi sebenarnya komentator sepedas apapun di medsos tidak jua akan mengubah pandangan warganet yang lain kok.

Psikolog John Suler, dalam Irish Times, pernah bilang komentar negative netizen untuk show-off di hadapan silent-reader  yang sebenarnya  jumlahnya lebih besar daripada netizen yang suka menebar komentar miring dan menyukai keributan dalam berkomentar tidak akan berpengaruh significant.

Ya artinya, komentar yang agresive dari dua kubu yang berkompetisi di dunia maya dalam debat komentar hanya akan terkait dengan level ego dan narsisime warganya.

Kubu yang punya ego paling besar biasanya akan selalu merasa yang paling benar. Mereka gembira ketika bisa membenarkan dan menyalahkan orang lain.

Namun yang sering kita lihat antara cebong dan kampret, ada juga terkadang komennya salah, hoax dan fitnah namun tetap saja mereka melakukan pembenaran dan tidak akan pernah kalah.

Guardian yang menyelipkan pendapat Lousia Leontiades tentang hal itu, apa? Mengatakan di fase inilah medsos menunjukkan pengaruh buruknya.

Dia bilang,” menjadi benar adalah jalan untuk bertahan hidup. Di dunia maya, melindungi reputasi dan opini adalah cara bertahan hidup.

Jika seseorang membuat kesalahan di publik lalu terbukti salah, 9 dari 10 kemungkinan mereka akan meninggalkan forum lalu memilih menghapus eksistensinya.”

Baginya, seseorang yang membuat kesalahan dalam berkomentar tadi tidak akan bisa melepaskan kesalahan yang akan terus melekat pada dirinya itu.

Artinya setiap komentar yang dilepaskan sesorang baik Cebong atau Kampret akan menjadi brand baru yang terus disanjungnya ketika berada pada forum perdebatan yag berbeda. Ya jadi berhati hati saja jika berkomentar.

Mungkin itu kali ya yang bisa diceritakan tentang fenomena cebong dan kampret yang selalu garang di Medsos.

Ternyata ada mahluk ketiga yang bernama anonim yang bertujuan memancing keributan sesama mahluk tuhan ini.

Ilustrasi Photo pexels

Nah, poinnya adalah, selama komentar itu tidak fitnah, benar dan non-hoax selayaknya perdebatan cebong dan kampret akan selalu bernilai positive saja kok.

Namun jika terjadi komentar yang salah, di situlah masalahnya yang membuat reputasi cebong dan kampret akan rusak dan selalu dibilang musuhan lah!

Dan jangan ge-er dulu, dominasi komentar bagi cebong atau kampret di kolom komentar bukan lah pertanda kalian buanyak.

Karena yakinlah jumlah silent-reader yang menginginkan kedamaian dan kegembiraan di Medsos jumlahnya jauh lebih banyak dari kumpulan Cebong atau Kampret sekalipun.

Terakhir, Jika kita declare cebong dan kampret sejati, ya semestinya kita hadirkan komentar yang bermutu di setiap isu apapun pada kolom media sosial.

Komentar No Hoax, No Fitnah , tetap aja diperlukan biar tetap ramai Pileg dan Pilpres 2019 nanti, ya seperti kompetisi liga sepakbola bola di luar negeri sana tulo! –bukan liga indonesiah–

Yok, Tos dulu bong ma pret!

Ilustrasi Photo Pexels

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Tinggalkan Balasan