Lewat Hobby, Harga Sembako Bisa Suka-suka Guwe!

Harga Sembako yang naik turun setiap saat selalu menjadi komoditas Politik


Apa ada yang pernah meramalkan negara Indonesia yang kaya raya akan SDA ini bisa bubar karena kenaikan harga sayuran dan buah-buahan, terutama harga cabai?

Eh, memang ada hubungan apa harga cabai dengan politik, kak?

Setidaknya meroketnya harga cabai saja akan mempengaruhi tingkat inflasi, yang menjadi indikator perekonomian suatu wilayah.

Dan isu ekonomi semacam itu, tentu akan sedap digoreng menjadi santapan renyah pada isu-isu politik, yang melahirkan berbagai macam demonstrasi masyarakat yang terbakar kecewa terhadap pemerintah.

Penting sekali kestabilan harga Sembako ini untuk dipelihara. Terutama ketika memasuki hari raya dimana kebutuhan akan sembako cenderung meroket.

Dan hal itu biasanya cenderung berulang saja setiap tahunnya, dan ramai juga ketika masuk musim penghujan dengan curah tinggi dan juga musim kemarau yang berkepanjangan tanpa prediksi. Maklum bisa jadi faktor pemanasan global?

Masih ingat, kesembilan bahan pokok (Sembako) yang penting itu adalah beras ( termasuk sagu dan jagung), gula pasir, sayur-sayuran termasuk buah-buahan, daging meliputi sapi, ayam dan ikan, minyak goreng,s usu, telur, minyak tanah (gas elpiji) dan garam ber-iodium.

Tapi, di tahun 2017 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada saat bulan puasa berada di 0.86% dan pada saat lebaran 0.69%.

katadata.co.id

Angka itu lumayan menekan harga Sembako, dan merupakan tingkat inflasi terendah dalam enam tahun terakhir yang dilakukan Pemerintah saat ini. Namun pertanyaannya, apakah ada jaminan, angka itu akan bertahan terus Bro?

Inflasi saat ini dan problematikanya!

BPS mencatat tingkat inflasi pada Maret 2018 mencapai 0.2% secara bulanan atau 3.4% secara tahunan. Inflasi itu ternyata disebabkan oleh kenaikan harga beberapa sayur-mayur dan bensin non-subsidi, pertalite dan pertamax baru-baru ini.

Komoditas sayuran itu meliputi cabai merah 0.07%, bawang merah dan putih 0.04% cabai rawit 0.02% dan sayur bayam, kangkung dan sawi hijau sebeasar 0.01%. Sehingga totalnya inflasi akibat sayur-mayur mencapai 0.14% dari angka inflasi 0.2% keseluruhan.

Artinya dari kesembilan bahan pokok, sayur mayur dan buah-buahan selalu menjadi item penting dan dominan dalam fluktuasi inflasi.

Itu belum lagi gejolak harga beras lho, yang bisa mencuat kapan saja, maklum Indonesia memiliki ketergantungan tinggi terhadap beras. Itu dibuktikan dengan daya konsumsi beras per-kapita di Indonesia tercatat hampir 150 kilogram beras, per-orang, per-tahun, yang tercatat di tahun 2017. Apalagi sekarang?

Nah, ada dua fakta menarik menurut saya, atas permasalahan pemenuhan Sembako ini untuk didiskusikan. Dalam upaya sama-sama menstabilkan harganya di tengah-tengah Petani dan Masyarakat, agar keduanya merasakan keuntungan. Apa saja itu?

Pertama, Harus diakui Produktivitas komoditas pertanian yang belum stabil. Hal tersebut bisa dikarenakan produksi beras di Indonesia didominasi oleh para petani kecil, bukan oleh perusahaan besar yang dimiliki swasta atau negara.

Para petani kecil itu malah mengkontribusikan sekitar 90% dari produksi total beras di Indonesia. Dan setiap petani itu memiliki lahan rata-rata kurang dari 0,8 hektar.

Lanjut baca klik nomor halaman!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!