WADAI ajak Jalan-jalan Ke-lima Negara Yang Telah Menerapkan Pemilu E-Voting, Ayook ikut!

E-Voting apaan ya? E-Voting adalah Electronic Voting yang digunakan dalam perhitungan suara. Dengan sistem ini dipercaya akan memangkas biaya waktu dan tenaga. Mau Tau?

Pemilu 2019 menjadi tragedi dimana petugas KPPS berguguran dan diduga akibat kelelahan dalam proses penghitungan suara. Dan yang Wadai terima Per-Jumat (26/4), KPU merilis ada sekitar 230 jiwa meninggal ditambah 1.900-an orang jatuh sakit.

Wah tentu ini menjadikan pekerjaan rumah yang sulit untuk hajatan Pemilu kedepan ya? Apakah E-Voting salah satu solusi membantu KPU mengerjakan PR-nya?

Electronic-Voting alias E-voting akan menjadi mimpi Indonesia memudahkan sistem Pemilu, baik Pemilihan Presiden dan juga Pemilihan Legeslatif.

Sistem ini –katanya– dirasa mudah dalam proses penghitungan suara pemilih, bayangan kita mungkin mudahnya seperti klak-klik di layar HP untuk membagi berita-berita yang kita sukai itu di media sosial.

E-Voting yang digunakan dalam Pemilu, memiliki 3 sistem kerja yang berfungsi sama untuk memudahkan penyelenggaraan Pemilu. Mungkin kita bisa intip sebentar cara kerja ketiga sisteim E-Voting itu ya!

Baca Juga : Media Sosial Penghambat Atau Suksesor Demokrasi?

Dalam penerapan yang pertama yakni, Optical Scan Voting, sistem ini menggunakan ballot kertas yang telah diberikan data berupa tanda tangan oleh pemilihnya.

Lalu kertas tadi dimasukka ke mesin scan tadi untuk mulai dilakukan perhitungan secara digital.

Ya sebenarnya prinsipnya sama seperti cara manual seperi Pemilu kita, bedanya penghitungan suara dilakukan di mesin itu, sehingga angka akhir suaranya lebih cepat diketahui.

Sistem direct recording dan internet voting sudah tidak lagi menggunakan kertas suara. Semua proses pemilihan dilakukan secara digital, mulai dari perekaman suara, penyimpanan, dan penghitungan

Nah, nanti Wadai akan membahasnya lebih dalam soal E-Voting ini deh.

Baca Juga : Dua Hal Ini Yang Kita Harus Ketahui Dalam Perhitungan Dan kecuranagn Pemilu

Namun sebelum ke sana. Kita akan jalan-jalan dahulu melihat, negera-negara mana sih yang telah menerapkan sistem E-Voting yang bisa sama mudahnya memanjakan jemari Millenial seperti kitah, menari-nari di layar HP. Yuk berangkat!

1. Belanda

Dahulu di tahun 1990-an, Belanda berhasil melakukan Pemilu E-Voting di negaranya, dan tercatat sistem itu bertahan hingga di Pemilu 2007.

Lalu,  kemudahan e-Voting menjadi boomerang, dan membuat Pemerintah menghentikannya.

Hal tersebut karena ada aksi dari sekelompok massa yang tidak percaya akan penerapan E-Voting itu. Aksi itu menggunakan tagline “We do not Trust voting computers”

Ya aksi tadi titpis-tipis-lah  dengan aksi tagar #2019gantipresiden yang pernah marak sebelum Pemilu lalu. Menurut kelompok itu, penerapan E-Voting sangat beresiko.

Dengan memberikan  bukti yang kuat dan dapat dipercaya mengenai resiko itu, akhirnya penerapan E-Voting di Belanda dicabut kembali, dan akhirnya kembali dan  digantikan dengan sistem manual lagi pada Pemilu 2017.

2. Kanada

Canada juga pernah menerapkannya di Pemilu tahun 1990-an gitu. Mereka menggunakan sistem E-Voting yakni dengan tehnology optical scan voting dan internet voting.

Dengan sistem Optical Scan Voting mereka percaya dapat mempermudah penghitungan suara di tingkat wilayah provinsi dengan jumlah penduduk yang banyak dan juga permasalahan yang rumit.

Dan satunya, internet voting dilaksanakan di daerah pinggiran kota yang terpencil.

Tragedi muncul, pada Pemilu 2012, sistem E-Voting mereka berhasil diretas oleh Hecker.

Namun namanya juga yakin mereka terus saja menggunakan E-Voting sampai Pemilu mereka di tahun 2017-an gitu.

Dan sesudah tahun 2017, akhirnya Canada menyerah juga untuk penerapan sistem E-Voting itu. Dan kembali lagi ke sistem manual.

3. Estonia

Ada yang pernah kemari? Sama deh! Negara kecil di benua Eropa ini menggunakan internet voting semenjak Pemilu 2005.

Untuk melakukannya para penduuknya sudah dilengkapi dengan Smart ID yang berfungsi mencegah memilih ganda pada saat pencoblosan.

Tapi hal itu tak lantas menghapuskan masalah, tentu saja maslah hadir pada masalah sekuritas dan kurangnya pengawasan dalam hal privasi.

Ya bisa saja dikatakan sistem E-Voting, di negara ini berhasil. Di dalam kelebihan dan kekurangannya Pemerintah terus saja menyempurnakan sistem ini untuk digunakan dalam setiap Pemilu.

Hingga saat ini Estonia, masih saja menggunakan sitem itu dalam pemungutan suaranya.

Ya bisa saja, mungkin semua kalangan di sana telah mapan dalam hal wawasan berdemokrasi dan juga penduduknya relatif sedikit sehingga sangat mudah dikontrol dalam sistemnya.

4. Jerman

Pada tahun 2005 Jerman juga memulai pnerapan E-Voting. Dalam perjalanananya akhirnya pengadilan tinggi Jerman memutuskan untuk menghentikannya. Alasannya sistem E-Voting tidak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Akhirnya tahun 2009, Jerman kembali lagi pada sistem manual. Banyak yang beranggapan dalam perjalanannya sistem E-Voting sangat rentan dengan manipulasi dan penipuan yang sulit diketahui dini.

Akibatnya ada sebuah petisi di tahun 2005, dimana ada 45 ribu massa yang menolak sistem E-Voting di negara Jerman.

5. Filipina

Tidak usah jauh-jauh ke negera Eropah. Mungkin kita harus belajar dengan Filipina, dalam membuat sistem Pemilu Indonesia, terlepas soal efektivitasnya juga belum terbukti jika dilakukan di sini.

Sejak 2010 Filipina sudah menerapkan E-Voting, alasannya mereka yakin sistem ini dapat menghapus kecurangan dalam Pemilu mereka.

Tehnology yang dipakai yakni Automated Election System (AES). Kurang lebih sama dengan Optical Scan Voting cara kerjanya dalam penghitungan suara sih.

Dengan sistem ini, Filipinan mencatat angka keterlibatan pemilih dalam Pemilu menembus angka 80% di tahun 2016.

Photo Cover Pexels

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai Ya!

Sudah baca artikel ini, belum?