Yuk Menakar Hedonisme Diri ala IndiHome HSI PrePaid!

Apakah akhirnya aktivitas maya yang berasal dari akses IndiHome Telkom Indonesia, internetnya Indonesia, mampu mengalirkan manfaat internet, wujudkan setiap khayalan menjadi kenyataan?


Andai a.. a.. a.. a.. kujadi orang kaya.., Andai a.. a.. a.. a.. ga usah pake kerja….”

— Oppie Andarieta, Cuma Khayalan

Penggalan lagu ‘cuman khayalan’ milik Oppie Andarista di atas memang asik kulantunkan kala itu, iyes kala aku masih muda dulu. Terutama menyanyikannya, untuk menggemakan ragam khayalan yang ingin segera kupetik.

Namun semakin kemari, menginventaris ragam keinginan, sebagai Milenial rasanya semakin tak berbatas saja ya, dan terkadang berasa illogical?

Ambilah salah satu contoh sederhana, kala Milenial menghayalkan memiliki rumah idaman sendiri, bepergian ena’-ena’  berwisata, lantas juga berkhayal menempuh pendidikan ke lima benua sekaligus.

Memang sih untuk urusan berwisata, belanja-belanja online apa saja dan -bahkan– bersekolah ke luar negeri, Milenial mah pasti juaranya.

Namun jika dibandingkan memampukannya memiliki rumah sendiri sebagai kebutuhan utama, khayalan itu rasanya semakin sulit saja deh, karena harga rumah yang terus melambung tinggi saat ini.

Realitas atas fenomena itu, sudah terekam dalam riset Katadata Insight Center (KIC) dan Zigi, yang menyebut hanya 40% respondennya dari kalangan Milenial dan Gen Z yang mampu menabung.

Dan ternyata dominasi tabungan mereka itu hanya mencukupi kebutuhan harian dalam waktu kurang dari 3 bulan saja. Duh itu kamu?

Hal lainnya yang menarik adalah kegemaran belanja Online Milenial yang diriset oleh Kredivo dan KIC, mencatatkan jika Milenial yang berumur rentang 26-35 tahun adalah raja bertransaksi online di 2021.

Meski terdapat tren semua kelompok umur, ternyata juga doyan belanja-belanja online apa saja.

Dari keduanya, mana sih yang identik dengan kita? Aku sih identik yang pertama dan kedua, hikss.

Nah, merenung dalam-dalam, kita bisa saja menemukan sifat hedonisme dalam diri, yang bisa saja dipersalahkan?

Lantas perenungan itu harusnya berhasil menanyakan pada hati sendiri, apakah aku terlalu boros, ataukah aku harus mulai menjadi pelit, menunaikan ragam khayalan itu sih?

Hedonisme apa itu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menyebut jika hedonisme adalah pandangan yang beranggapan jika kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama. Singkatnya hedonisme selalu identik dengan aktivitas foya-foya saja.

Dan, orang yang biasanya bergaya hidup hedon itu, akan selalu mengkosumsi barang yang dia ingini saja, meski bukan hal yang pokok.

Terlebih gaya hidup hedon itu dilakukan, untuk berkamulflase, menutupi status ekonomi sebenarnya,, demi ingin disebut sang “‘Sultan’ di mata sekitarnya.

Nah, mensesapi makna sifat hedon tadi, pastilah kita bisa menakar dalam-dalam, apakah hedonisme  itu hadir dalam diri kita ya?

Dan akhirnya kita mampu memetik sendiri contoh atas perilaku-perilaku itu, yang terselip di antara aktivitas harian kita?

Modem IndiHome 2P di rumah I Dokpri
Modem IndiHome 2P di rumah I Dokpri

Lantas, bagaimana jika kita mulai merenungkan kembali pemakaian kuota internet kita dahulu, kini dan nanti? Iya  soal pemakaian kuota internet untuk aktivitas tanpa batas kita,  yang –mungkin– tidak produktif, atau sia-sia saja kala menggunakannya?

Atau juga, kita sudah/sedang menggunakan layanan sebuah provider akses internet yang kita sadari tidak layak, berbiaya mahal, layanannya kurang berkenan? Namun kita terus saja menggunakan jasanya? Hal kecil itu bisa saja memantik aksi hedonisme diri kita lho.

Nah, yuk baca saja sampai habis, bagaimana mengelola hedon itu dengan mudah via IndiHome, yang sudah kupraktikkan!

Siapa tahu cara itu akan menular ke kita semua, menjadi sebuah wabah Pandemi baru, yes Pandemi IndiHome – internetnya Indonesia, memanja aktivitas tanpa batas kita.

Pandemi, Endemi, dan Resesi sebuah tantangan mengelola Hedonisme Diri?

Jauh sebelum Pandemi melanda, kebutuhan internet pastilah sudah menjadi andalan sebagai pendukung mobilitas penunjang kehidupan  kita.

Dan jujur seperti kamu jua,  aku pun juga sudah mereguk kenikmatan akses internet, baik via mobile Bradband, sekaligus layanan fixed Bradband di rumah saja.

Jujur, pancaran sinar wifi fixed Broadbandnya, selalu memanja akses internet yang mampu menemani kebutuhan hiburan bermedia sosial keluarga dengan mudah dan murahnya.  Mulai beryutub ria sampai mabuk mainkan game hingga larut malam.

Lantas, aku ingat sekali di tahun 2013, paket akses internet yang kupilih itu semula bernama layanan Speedy, dari Telkom indonesia. Pilihan paket internetnya juga  kupilih paling dasar nan terjangkau, berkecepatan hanya 10 MBps saja, dan biaya berlangganan sekitar Rp 300 ribuan perbulan.

Fasilitas layanan Speedy itu, mencakup fasilitas 2P, yakni bisa berinternetan dan bertelponan rumah PTSN.

Namun, dalam perjalanannya di tahun 2015 fasilitas 2P itu tergantikan dengan fasilitas 3P secara otomatis, dengan tambahan fasilitas Usee TV, menghadirkan layanan TV Digital HD via kabel fiber optik (FO).

Semenjak itulah,  aku sudah akrab dengan akses internet IndiHome yang fleksibel dalam memenuhi aktivitas tanpa batas di rumah saja.

Pandemi lantas datang di 2020, dan kami harus beraktivitas di rumah saja!

Dan jujur, rasanya layanan IndiHome 3P tadi, berhasil memparipurnakan kolaborasi atas manfaat internet, telpon rumah dan layanan usee TV,  melengkapi aktivitas 24 jam non stop di rumah saja.

Namun ya kompensasinya adalah, aku harus menyesuaikan kebutuhan paket akses internet IndiHome bak kebutuhan pokok lainnya.

Bayangkan bekerja, melakukan aktivitas pembelajaran jarak jauh, dan memetik hiburan over the top (OTT)  hanya di rumah saja., dengan  kecepatan 10 MBps saja, mana cukup kan?

Tega tak tega, alasan Pandemi memutuskanku memangkas  budjet akses internet mobile broadband di perangkat Smartphone, dan hanya mengandalkan pancaran sinar Wife IndiHome saja,

Ya itung-itung untuk memaksimalkan kuota internet IndiHome yang melimpah, dan tak terbatas itu. Jadi rasanya sungguh eman kalau tidak digunakan semaksimal mungkin?

Dan hasil pangkasan budget moble internet itulah, aku gunakan untuk menaikan limit kecepatan 50 Mbps dengan harga langganan yang –wajar– lebih tinggi.

Alhasil, pengelolaan kebutuhan kuota internet ala IndiHome pun berhasil, guna menjaga kondisi keuangan, di saat-saat genting Pandemi yang sulit itu.

Lantas, Masa Endemi yang mulai kita cicipi, di 2022 ini, juga sudah menjadikan peringatan baru, bahwa kita harus bergerak lagi!

Iya beraktivitas normal keluar, bermobilitas lagi! Dimana anak-anak harus belajar di sekolah, istri dan saya sendiri juga harus bekerja lagi di kantor.

Itu artinya, pengelolaan kebutuhan kuota internet juga ya harus disetting ulang. Pertimbangannya ya sayang sekali kan, jika kuota internet yang tanpa batas di rumah ala IndiHome, itu tidak dimanfaatkan dengan optimal, kala kami sekeluarga berada di luar?

Sedangkan biaya kuota internet akses mobile bradband untuk Smartphone yang relatif mahal, menganga dan harus dipenuhi.

Itu artinya, aku harus mensetting kebutuhan berinternet secara proposional! Ya balik lagi, aku harus meminta bantuan layanan Telkom Indonesia 147, mengembalikan paket internet IndiHome ku, seperti dulu lagi?

Dan, inginnya sih, aku memilih paket IndiHome dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, menghilangkan akses  usee Tv yang jarang digunakan lagi. Karena kini kan sudah ada TV digital, dengan gambar, informasi, dan sajian hiburan yang sudah cukup, dan gratis lagi.

Aku lantas  berhasil berpindah lagi ke paket 2P, berinternet dengan akses perangkat yang terbatas dan  ditambah akses telpon PSTN. Namun, lain dulu dan sekarang, harga berlangganannya pun menyesuaikan, dan relatif “mahal”

Dan bukan karena pelit, namun terdapat pertimbangan faktor lain yakni “Resesi” yang hadir di depan mata?

Ah istilah Resesi memang terlanjur mencuat dewasa ini di pemberitaan Teve, dan terkesan didramatisir saja untuk dijadikan alasan tidak berlangganan IndiHome?

Tapi menurutku, meski Resesi memang berkonteks luas, faktanya fenomena imbas Resesi dunia, juga tengah kita rasakan. Salah satunya hadirnya Inflasi harga barang dan jasa .

Lihat saja kenaikan BBM, kenaikan harga barang dan jasa, kebutuhan makanan pokok, semua  hal itu membuat keputusanku mengencangkan ikat pinggang, menjadi realistis kan?

Ujungnya, ya alasan-alasan itulah yang berhasil melejitkan sebuah pikiran extreem untuk berhenti berlangganan IndiHome saja.

Ya mau bagaimana lagi kan? Mungkin membayangkan akibat Resesi itu, suatu ketika akses internet IndiHome akan menjadi kebutuhan paling pokok, yang sulit terjangkau bak BBM yang harganya melejit kini?

Akses IndiHome, sebuah proses healing Hedonisme diri?

Kita harus akui saja, jika hadirnya fleksibilitas atas ragam pilihan sebuah harga jasa –apa saja– kepada konsumennya, akan mudah  menjadikan sebuah pertimbangan konsumen bersikap loyal, bukan?

Nah, dalam konteks pelayanan jasa telekomunikasi –misalnya– hal itu pun sudah lumrah kita jumpai, dalam dinamika penawaran produk paket internet ragam provider telekomunikasi, yang akan memanja hadirnya manfaat internet, dalam kehidupan kita.

Lantas, jika membedah Jasa layanan IndiHome Telkom Indonesia secara  mendalam, ternyata –memang– juga memberikan range ragam pilihan jasa layanan yang luas kepada konsumen, yang pula didasarkan atas pertimbangan efektifitas dan efisiensi.

Karena, tidak dipungkiri, di dalam perjalanannya, terutama  di masa Pandemi melanda, keampuhan layanan internet IndiHome sudah teruji memanja aktivitas tanpa batas masyarakat, dengan mudah, hanya di rumah saja.

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di 2022, menyebut terdapat 24.63% Responden yang mengandalkan akeses internetnya via koneksi fixed bradband. Dan sebanyak 67.54% Responden tadi mengandalkam jasa provider IndiHome Telkom Indonesia.

Dan sepanjang Januari-Juni 2021, pelanggan IndiHome bertambah 285ribu pelanggan, sehingga pelanggan IndiHome dalam rentang waktu itu sudah mencapai 8.3 juta pelanggan, dan tersebar di 496 Kabupaten/Kota di Indonesia.

Nah massifnya masyarakat yang memilih IndiHome, tentu menuai tanya, mengena alasan pilihannya? Lantas, apakah sisi efektivitas dan efisensi berlangganan internet Indihome sudah terpenuhi?

Jika mengintip, Survei KIC dan kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan, jika sebanyak 62% pengeluaran internet masyarakat Indonesia secara individu itu ternyata hanya berkisar Rp50.001 – Rp 100.000 perbulan di 2021.

Itu artinya, pantaslah pilihan jasa akses internet itu jatuh pada pilihan jasa akses internet yang benar-benar harus terjangkau kan?

Oleh sebab itu, sebenarnya banyak pilihan jasa akses internet IndiHome yang bisa kita pilih, dan menghadirkan fleksibilitas dalam penggunaannya, yang bisa kita atur hanya via bantuan 147, costumer servis Telkom Indoneisa.

Apa saja paket IndiHome, internetnya Indonesia  yang memanjakan aktivitas tanapa batas itu sih


  • Paket IndiHome Terbaru Paket IndiHome 1P (Internet Only)
    Kecepatan hingga 20 Mbps
    Kecepatan hingga 50 Mbps
    Kecepatan hingga 100 Mbps’
  • Paket IndiHome 2P (Internet+TV)
    Kecepatan hingga 20 Mbps
    Kecepatan hingga 30 Mbps
    Kecepatan hingga 40 Mbps
    Kecepatan hingga 50 Mbps
    Kecepatan hingga 100 Mbps
  • Paket Gamer
  • Kecepatan hingga 20 Mbps
  • Kecepatan hingga 50 Mbps
  • Kecepatan hingga 100 Mbps
  • Paket IndiHome 2P (Internet+Phone)
    Kecepatan hingga 20 Mbps
    Kecepatan hingga 30 Mbps
    Kecepatan hingga 40 Mbps
    Kecepatan hingga 50 Mbps
    Kecepatan hingga 100 Mbps
  • Paket IndiHome 3P (Internet+TV+Phone)
    Kecepatan hingga 20 Mbps
    Kecepatan hingga 30 Mbps
    Kecepatan hingga 40 Mbps
    Kecepatan hingga 50 Mbps
    Kecepatan hingga 100 Mbps

Lantas, berapa jua sih biaya berlangganannya? Yuk cek aja di sini!

Nah, fakta atas ragam pilihan tadi, membuktikan jika faktor pengeluaran biaya atas akses internet memang benar-benar menjadi penentu pilihan konsumen atas jasa internet itu kan?

Terlebih kini kita sudah terbiasa melakukan berbagai aktivutas online, bak candu saja.

Akhirnya, ragam pilihan akses internet tanpa batas itu, sejatinya  memberikan proses awal pada kita semua untuk mampu menakar hedonisme dalam diri. Dan memulakan langkah, memilah dan menyingkirkan aktivitas hedon pada aktivitas-aktivitas lainnya?

Membuktikan IndiHome HSI PrePaid, menakarkan Hedonisme diri secara proporsional, bisa?

Lantas apakah salah dengan keputusanku untuk berhenti berlangganan IndiHome sih? Karena ada beberapa faktor pendorong yang merestuinya?


  1. Sebagian besar waktu keluargaku berada di luar rumah.
  2. Aku dan keluargaku, sudah memiliki paket internet mobile broadband yang cukup dalam Smartphone kami.
  3. Rasanya eman saja, jika biaya abonemen berlangganan IndiHome atas fasilitas, 3P, 2P bahkan 1P yang tidak maksimal terpakai.
  4. Jika lebih rigid lagi, biaya arus listrik untuk menghidupkan modem router IndiHome akan berasa sia-sia saja mengalir, selama kami tidak dirumah, bukan?

Nah keempat hal itulah, yang akhirnya membuatku menghubungi 147 Telkom Indonesia, untuk segera memutuskan hubungan berlangganannya.

Meski ada harapan, suatu saat jika diperlukan aku akan berencana memasang fasilitas jasa internet IndiHome sesuai kebutuhan  kembali.

Sebenarnya pihak IndiHome siap saja dengan keputusan pemutusan hubungan itu, tapi pertimbangannya adalah jika ingin memasang kembali, akan ada sarat dan ketentuan berlaku yang akan diterapkan sebagai pelanggan baru.

Apa itu? Hadirnya verifikasi ulang, dan biaya pemasangan akses internetnya. Ups jika sudah begitu, kita berencana mau untung malah bisa buntung kan?

Akhirnya, fleksibilitas pamungkas itu melahirkan solusi yang tepat, yakni hadirnya penawaran paket IndiHome HSI Prepaid segmen home oleh 147.

Dimana kuota internet akan mengalir, jika kewajiban paketnya sudah dibayar.

Paket HSI Prepaid ini persis seperti membeli token listrik?

Dimana paketnya akan menyediakan kecepatan yang beragam 10Mbps, 20 Mbps hingga 100 Mbps, dengan varian tiga paket kuota, ada yang 10 Gigabyte, 30 GigaByta dan 50 Gigabyte, dan kuota itu berlaku selama sebulan.

Jika habis sebelum sebulan? Ya top-up saja kembali, untuk memaksimalkan akses internetnya genap sebulan.

Untuk selanjutnya, kita dengan mudah membeli paketnya di landing page khusus, membayarnya lewat virtual account atau kartu kredit.

Dan jika sukses, akses internet segera siap dan mulai mengaliri aktivitas tanpa batas kita di rumah.

Nah, mengalirkan fasilitas ini tetap menggunakan modem router IndiHome kita lho, dan tetap menggunakan kabel fiber optik, layaknya paket lainnya. Untuk mengecek sisa pulsa tersisa juga mudah!

Top Up Kuota sangat mudah via IndiHome Prepaid I Dokpri
Top Up Kuota sangat mudah via IndiHome Prepaid I Dokpri

Cek sisa kuota juga mudah via HSI IndiHome Prepaid I Dokpri
Cek sisa kuota juga mudah via HSI IndiHome Prepaid I Dokpri

Dan jujur dari awal tahun 2022 hingga kini, layanan akses internet ini sudah menjawab alasan rencana pemberhentian akses IndiHome di atas barusan. Apa saja itu?


  1. Kita tidak terbebani lagi oleh biaya abonemen bulanan lagi.
  2. Jika ada rencana ke luar kota dengan jangka waktu lama, isi paket kuota sewajarnya, atau ya jangan diisi dulu kuotanya –top up–
  3. Pemakaian jadi lebih proporsional, artinya kita bisa menarget berapa jumlah kuota sewajarnya yang harus kita gunakan, dalam sebulan. Tidak kurang apalagi lebih!
  4. Harga bulanannya, menjadi lebih murah! Sebagai perbandingan, memilih paket 50 Giga byte kecepatan 20MBps, dalam rentang sebulan hanya Rp 127.650, sudah termasuk pajak. Jika memilih paket kuota kurang dari 50 GB ya jadi lebih murah dong.
  5. Apakah kuota cukup? Nah disitulah tantangannya kan? Hiks, bagaimana diri kita bisa mengelola hedonisme diri kita untuk memanfaatkan akses internet semaksimal mungkin

Nah, kita pastilah sepakat jika perjalanan ke masa depan nanti, kita akan dihadapkan dengan dinamika, yang memperjuangkan kebutuhan kita daripada keinginan semata.

Dan akhirnya perjuangan yang akan mengalahkan aksi hedonisme itu, dan membuahkan hasil maksimal memanen semua khayalan untuk diwujudkan.

Terlebih lagi, banyak sekali aktivitas maya yang berasal dari akses internet IndiHome, yang mampu menjamu manfaat internet, mengalirkan aktivitas tanpa batas dan memanenkan cuan berlimpah.

Dan akhirnya terbukti, jika aktivitas konten kreator dan pekerja WFH lainnya, mampu membantah makna penggalan lagu Oppie andaresta di atas ternyata bukan cuma khayalan saja.?

Dimana menjadi kaya memang tidak harus bekerja, kita bahkan hanya beraktivitas di rumah saja?

Nah sekarang perteguh hati, apakah benar kita ingin beli rumah sendiri gak? Atau cuman hanya mau berkhayal saja, melestarikan sifat hedonisme dalam diri kita? Hiks..

Photo cover : Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!