Merajut Hijau Mangrove Balikpapan, Menjalani Kehidupan Bersama Alam

Mangrove

Jika dipikir-pikir, kurang apalagi baiknya Tuhan meng-anugrahkan kekayaan yang berlimpah kepada bangsa Indonesia. Seperti ya Mangrove Balikpapan ini. Tujuannya satu, agar kekayaan itu dapat mensejahterakan umat manusia.

Dan sudah hukum alam, jika berbicara eksploitasi juga tentu akan berbicara degradasi. Nah nampaknya pekerjaan rumah itu pula yang ingin Tuhan titipkan kepada manusia untuk dikerjakan dalam mengelola keduanya secara adil dan bermanfaat.

Hutan Mangrove adalah kekayaan yang terkandung dalam bumi Indonesia dan itu baru satu dari banyak barang titipan-Nya.

Baca juga : BPJS Riwayatmu kini!

Disinilah mata rantai utama yang berperan sebagai produsen dalam jaring makanan bagi ekosistem pantai. Sekitar 3 juta hektar hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95 ribu kilometer pesisir Indonesia. Jumlah ini mewakili 23% dari ekosistem mangrove dunia (Giri et al., 2011).

Namun sampai hari ini, meski dilindungi lintas sektoral, dimanja banyak payung hukum yang ditelurkan kementrian lingkungan hidup/kehutanan maupun kementrian perikanan dan kelautan.

Eksistensi ekosistem hutan Mangrove masih juga terancam. Hamparan tanaman di tepian pantai dengan fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial, bahkan kedaulatan negara ini masih rentan menjadi tambak dan kebun.

Data pada tahun 2013, Direktorat Reboisasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat jika hutan Mangrove Indonesia yang tersisa sekitar 3.7 juta hektare. Terbanyak berada di Jawa, Papua dan Kalimantan. Sekitar 2.5 juta  hectare dalam kondisi baik. Selebihnya rusak.

Menyadari Hutan Mangrove merupakan sumber daya penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang berfungsi sebagai ruang berkembangbiaknya sumber daya ikan, “Sabuk hijau” ketika bencana, pencegah laju abrasi pantai hingga bahan bakar kayu. Namun urgensi perlindungan kawasan mangrove tidak optimal. Ada apa?

Target pemerintah dalam upaya menggenjot ketahanan pangan dalam negeri, terutama sektor kelautan menjadi alasan kuat dalam pengeksplotasian hutan Mangrove yang banyak disulap menjadi tambak udang dan bandeng.

Karena secara teknis budidaya, ekspansi usaha pertambakan sangat cocok dikembangkan di daerah kawasan Mangrove.

Baca juga : Ujian Nasional dihapus? Guru atau murid yang senang?

Itu terjadi saat Revolusi Biru dicanangkan, yang telah mengkonversi wilayah Mangrove manjadi area budidaya perikanan, pemukiman, dan pariwisata, dimana telah memulai masalah degradasi ekosistem Mangrove di indonesia (FA0 2007).

Sudahkah kita mencoba mendamaikan keduanya, mengajak alam dan manusia untuk berkompromi bagi kelanjutan kehidupan keduanya bersama-sama dimulai hari ini?

Pekerjaan rumah yang diberikan Tuhan tersebut masih terasa sulit sepertinya untuk dikerjakan. Karena manusia tidak mencoba memperlakukan hutan Mangrove sebagai kesatuan ekologis yang dapat memberikan fungsi dalam hal mitigasi bencana dan bahkan dukungan terhadap upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

>>>>> Selanjutnya klik pages ya!

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.