Membayangkan, Sehat Walafiat Bersamamu Hingga Larut Tua, Tanpa Rokok!

Senyum Alesha terbenam bersama mentari sore itu. Sesampai di rumah seketika turun dari motor, dia hanya menatap wajah Satria kekasihnya.  

Dan kayaknya dia masih memburu jawaban dari Satria lho. Iya, Alesha masih menanti jawaban Satria soal status kelanjutan hubungan mereka, apakah lanjut atau sampai di sini saja alias putus. Ini nampaknya serius gaes!

Sangat beralasan sih, jika Alesha memintanya, karena hubungan mereka berdua sudah terjalin sangat lama. Bayangin saja, sudah 5 tahun ey! Dan kejelasan hubungan itu juga menjadi pertanyaan orang tua Alesha untuk jua dijawab!

Namun, di sisi lain, sangat beralasan pula, alasan Satria menggantung Alesha. Klise, dikarenakan masa Pandemi sudah menjadi saksi sulit mewujudkan pinta Alesha.

Terlebih masalah keuangan yang membelit Satria, dimana dana tabungan Satria dipersiapkannya untuk biaya pengobatan ayahnya.

Eh ayahnya itu Seorang perokok aktiv yang kini sedang terbaring di rumah sakit, mengidap kanker paru-paru, sejak lama.

Hal tersulit lainnya, dia jua telah menelan pil pahit di saat yang sama, yakni mendapatkan PHK dari tempat perusahaannya bekerja akibat gejolak ekonomi Pandemi, sebulan lalu.

Padahal lho settingan pernikahan mereka dahulu rencananya dilangsungkan di masa Covid-19 ini, iya di tahun 2020. Ah Ini masa yang sangat sulit bagi Satria kan?

Terus, sesampai di rumah Alesha, dan menyempatkan membalas tatapannya. Satria segera saja mengajaknya untuk duduk sebentar di halaman teras rumah.

Sambil mengeluarkan bungkus rokok dari kantungnya, dan mengambil satu batang Rokok. Satria lantas membakar dan menghisapnya perlahan, seraya berfikir sejenak dan berkata.

“Sabar saja dahulu ya aku masih mencoba menabung nih, buat biaya ini-itu kita nanti,” Ujar Satria berulang kepada Alesha lagi, seraya meyakinkannya.

“Wah aku ga minta ini-itu yang seperti yang kamu maksudkan kok, cuman keseriusan dari diri kamu saja. Untuk berani mengambil keputusan kelanjutan kita plus resiko masa depan yang bersama kita hadapi nanti,” sahut Alesha, serius lagi.

Ilustrasi I gambar diolah pexels.com
Ilustrasi I gambar diolah pexels.com

Sambil menghela nafas, dia menghisap rokok lebih dalam lagi. Mulut Satria terdiam sebentar beberapa detik, lalu akhirnya tak menahan menyemburkan asap putih tebal ke udara.

Bara api belum habis membakar tubuh rokok yang terjepit di jemarinya. Namun seketika jua, Satria lekas mematikannya tergesa, membuangnya ke lantai dan menginjak dengan sepatunya dengan sekuat tenaga. Apa ya maksudnya sih?

Ah mungkin saja dia sudah mendapatkan jawabannya tadi, dan akan mengatakan itu kepada Alesha.

Ya apalagi lah, soal jawaban antara putus atau malah lanjut mengesahkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Tapi ini masih mungkin lho ya!

Ada apa dengan Satria sih?

Eh jangan serius ah! Satria dan Alesha beserta cerita di atas adalah cerita fiksi saja kok. Namun jika ternyata ada yang jua mengalami hal serupa soal cerita tadi, bisa jadi ya hanya kebetulan.

Dalam konteks cerita itu, terlihat tuntutan prioritas untuk menentukan masa depan dan ‘kebahagian’ harus dipilih segera. Dan tentu saja kata kebahagian tadi, term-nya sangat luas ditafisrkan.

Terus bagaimana ya, seorang Satria yang seorang perokok bisa memberikan jalan keluar buat masalah percintaanya itu? Apakah  –rokok- bisa memberikan jawaban tadi?

Ya mungkin! Bisa saja, jatuh cinta Alesha kepada Satria dahulu, diawali dengen sisi kejantanan yang terpancar dari wajah seorang Satria, ketika menghisap rokoknya?

Terus, apakah endingnya bisa sama seperti di awalnya? Bisa saja sih, atau juga malah tidak bisa sama sekali!

Ya harapan umumnya, minimal Satria mau merubah kebiasaannya sehari-hari yang sangat fundamental.

Salah-satunya ya menjadikan hal –terpenting- yakni kesehatan menjadi modal utama mewujudkan harapan kebahagiannya kini dan masa depan. Eh tapi apakah ada hubungannya sih?

Tentulah ada, hubungannya tadi tentu akan mengajak untuk menguji bagaimana respon kita menanggapi dinamika sosial yang diakibatkan oleh rokok, yang –mungkin- juga bisa membantu mewujudkan cita-cita kita. Atau malah bisa memburamkan hidup kita.

Terutama ya jika dinamika sosial, yang disebabkan oleh rokok tadi lantas dibenturkan lagi dengan masa sulit di tengah Pandemi ini.

Selanjutnya, klik nomor halaman ya!

Sudah baca artikel ini, belum?

error: Content is protected !!