Membayangkan, Sehat Walafiat Bersamamu Hingga Larut Tua, Tanpa Rokok!

Ilustrasi

Senyum Alesha terbenam bersama mentari sore itu. Sesampai di rumah seketika turun dari motor, dia hanya menatap wajah Satria kekasihnya.  

Dan kayaknya dia masih memburu jawaban dari Satria lho. Iya, Alesha masih menanti jawaban Satria soal status kelanjutan hubungan mereka, apakah lanjut atau sampai di sini saja alias putus. Ini nampaknya serius gaes!

Sangat beralasan sih, jika Alesha memintanya, karena hubungan mereka berdua sudah terjalin sangat lama. Bayangin saja, sudah 5 tahun ey! Dan kejelasan hubungan itu juga menjadi pertanyaan orang tua Alesha untuk jua dijawab!

Namun, di sisi lain, sangat beralasan pula, alasan Satria menggantung Alesha. Klise, dikarenakan masa Pandemi sudah menjadi saksi sulit mewujudkan pinta Alesha.

Terlebih masalah keuangan yang membelit Satria, dimana dana tabungan Satria dipersiapkannya untuk biaya pengobatan ayahnya.

Eh ayahnya itu Seorang perokok aktiv yang kini sedang terbaring di rumah sakit, mengidap kanker paru-paru, sejak lama.

Hal tersulit lainnya, dia jua telah menelan pil pahit di saat yang sama, yakni mendapatkan PHK dari tempat perusahaannya bekerja akibat gejolak ekonomi Pandemi, sebulan lalu.

Padahal lho settingan pernikahan mereka dahulu rencananya dilangsungkan di masa Covid-19 ini, iya di tahun 2020. Ah Ini masa yang sangat sulit bagi Satria kan?

Terus, sesampai di rumah Alesha, dan menyempatkan membalas tatapannya. Satria segera saja mengajaknya untuk duduk sebentar di halaman teras rumah.

Sambil mengeluarkan bungkus rokok dari kantungnya, dan mengambil satu batang Rokok. Satria lantas membakar dan menghisapnya perlahan, seraya berfikir sejenak dan berkata.

“Sabar saja dahulu ya aku masih mencoba menabung nih, buat biaya ini-itu kita nanti,” Ujar Satria berulang kepada Alesha lagi, seraya meyakinkannya.

“Wah aku ga minta ini-itu yang seperti yang kamu maksudkan kok, cuman keseriusan dari diri kamu saja. Untuk berani mengambil keputusan kelanjutan kita plus resiko masa depan yang bersama kita hadapi nanti,” sahut Alesha, serius lagi.

Ilustrasi I gambar diolah pexels.com
Ilustrasi I gambar diolah pexels.com

Sambil menghela nafas, dia menghisap rokok lebih dalam lagi. Mulut Satria terdiam sebentar beberapa detik, lalu akhirnya tak menahan menyemburkan asap putih tebal ke udara.

Bara api belum habis membakar tubuh rokok yang terjepit di jemarinya. Namun seketika jua, Satria lekas mematikannya tergesa, membuangnya ke lantai dan menginjak dengan sepatunya dengan sekuat tenaga. Apa ya maksudnya sih?

Ah mungkin saja dia sudah mendapatkan jawabannya tadi, dan akan mengatakan itu kepada Alesha.

Ya apalagi lah, soal jawaban antara putus atau malah lanjut mengesahkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Tapi ini masih mungkin lho ya!

Ada apa dengan Satria sih?

Eh jangan serius ah! Satria dan Alesha beserta cerita di atas adalah cerita fiksi saja kok. Namun jika ternyata ada yang jua mengalami hal serupa soal cerita tadi, bisa jadi ya hanya kebetulan.

Dalam konteks cerita itu, terlihat tuntutan prioritas untuk menentukan masa depan dan ‘kebahagian’ harus dipilih segera. Dan tentu saja kata kebahagian tadi, term-nya sangat luas ditafisrkan.

Terus bagaimana ya, seorang Satria yang seorang perokok bisa memberikan jalan keluar buat masalah percintaanya itu? Apakah  –rokok- bisa memberikan jawaban tadi?

Ya mungkin! Bisa saja, jatuh cinta Alesha kepada Satria dahulu, diawali dengen sisi kejantanan yang terpancar dari wajah seorang Satria, ketika menghisap rokoknya?

Terus, apakah endingnya bisa sama seperti di awalnya? Bisa saja sih, atau juga malah tidak bisa sama sekali!

Ya harapan umumnya, minimal Satria mau merubah kebiasaannya sehari-hari yang sangat fundamental.

Salah-satunya ya menjadikan hal –terpenting- yakni kesehatan menjadi modal utama mewujudkan harapan kebahagiannya kini dan masa depan. Eh tapi apakah ada hubungannya sih?

Tentulah ada, hubungannya tadi tentu akan mengajak untuk menguji bagaimana respon kita menanggapi dinamika sosial yang diakibatkan oleh rokok, yang –mungkin- juga bisa membantu mewujudkan cita-cita kita. Atau malah bisa memburamkan hidup kita.

Terutama ya jika dinamika sosial, yang disebabkan oleh rokok tadi lantas dibenturkan lagi dengan masa sulit di tengah Pandemi ini.

Dimana, Pandemi selalu saja berkelindan dengan masalah isi kantong, modal penting untuk menyabung hidup di masa depan.

Ilustrasi I Sumber data katadat.co.id
Sumber data katadat.co.id

Tapi, saya yakin sekali, jika Satria tidak sendirian galau kok, pasti adalah sebagian kita yang jua sedang menikmati pergolakan batin, sama seperti Satria, dalam memilih prioritas kebutuhan rokok vs kebutuhan pokok tadi.

Nah, jika belum yakin dengan terkaan ending cerita Satria dan Alesha barusan di atas. Plis jangan coba-coba menerkannya dahulu ya, sebelum membaca utuh tulisan ini?

Karena tulisan ini –mungkin- bisa menjadi petunjuk untuk memudahkan kita menerka ending ceritanya itu seperti apa? Tentu ya harus memasukkan pertimbangan-pertimbangan logis di dalamnya.

Deflesi, mengalahkan prevelensi perokok?

Nah, sepakat. Satu hal yang membekas di saat ini, jika Demam covid-19, sudah menulari kita banyak hal ya? Salah satunya, ya itu kita diajak berbuat hal positif yakni selalu bisa bergaya hidup sehat titik.

Dan itu tentu –harapannya- minimal akan berpengaruh pada pola konsumsi yang didasarkan atas pertimbangan sisi-sisi ekonomi.

Salah satunya bisa segera menjauhkan aktivitas merokok guna menjauhkan dampak yang ditimbulkannya buat tubuh dan jua pengaruh sekitar kita?

Terlebih lagi, ya dalam rangka penghematan pengeluaran rumah tangga yang semakin membengkak, akibat minimnya pemasukkan.

Lalu, dalam skup luas, Pandemi ini juga –tanpa sadar- sudah mengundang Resesi ekonomi, yang menyebabkan banyak dari kita kehilangan pekerjaan. Akibat –keterpaksaan- kebijakan Pemerintah yang membuat kita berada di rumah saja.

Salah satu indikator faktualnya adalah, munculnya angka deflesi yang mencerminkan daya beli masyarakat lesu dan menyebabkan penurunan harga barang karena stoknya melimpah, saat ini.

Dan itu warning kepada kita agar bisa fasih –pelit- menjaga pengeluaran harian kita, untuk kebutuhan yang benar-benar pokok.

Lihat saja, Indeks Harga Konsumen bulan Agustus 2020 terjadi deflasi 0.05%. BPS lewat data itu, menyelipkan data, jika kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi 0.86% dengan andil 0.22% atas deflasi IHK tadi.

Nah, hal menariknya adalah Deflasi pada komoditas tembakau ini kan? Yang sudah bisa menjadi cermin jika produk turunan Tembakau yakni rokok –sudah- juga dianggap tidak menjadi kebutuhan pokok di masyarakat kita di masa Pandemi.

Dan itu bisa saja menjadi kabar baik di masa Pandemi ini kan?

Terlebih, merunut Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia, yang memprediksi jika produksi rokok sudah menurun sekitar 30-40% di tahun ini.

Pandemi dituding sebagai aktor, yang berkontribusi sebanyak 19% atas pengurangan produksi industri rokok ini.

“7 dari 10 lelaki itu adalah perokok.”

— Nurul Nadia Luntungan, Peneliti CISDI

Padahal dahulu, Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang berjudul The Tobacco Control Atlas Asean Region juga pernah menyebut jika Indoensia adalah ‘raja’ rokok di Asean.

Dimana, sebanyak 65.19 juta orang Indonesia tercatat adalah perokok aktiv. Angka ini setara dengan 34% dari total penduduk Indonesai di tahun 2016 lalu.

Dalam konteks kesehatan, fenomena deflasi tembakau tadi, bisa saja dikarenakan masyarakat –mungkin- sudah sadar 100% jika merokok adalah faktor terbesar penyebab penyakit kanker paru-paru. Dan itu bagus saya kira, jika mereka benar sadar!

Kan, sudah rahasia umum jika Kanker Paru menjadi penyebab kematian nomor satu pada laki-laki di Indonesia. Hal itu pernah ditegaskan oleh Ketua bidang hubungan luar negeri Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Sita Laksmi Andriani.

Bansos, mampukah menjadi candu energi positif kita?

Jumat (11/9) lalu, Handphone saya berdering, memberitahu ada SMS, dana masuk sebesar Rp 1.2 juta di rekening Bank saya. Kebetulan istri saya juga bekerja di sektor swasta, sehingga HP nya pun berdering pulak.

Kami mendapat bantuan langsung tunai (BLT) gaji bersubsidi dari kebijakan Pemerintah terkait pandemi. Asiik, Lumayanlah!

Artinya, Pemerintah sudah menilai Pandemi sudah merusak sisi ekonomi kita. Sehingga Pemerintah lekas menelurkan kebijakan BLT yang diperuntukan kepada hampir 15 juta orang yang bekerja di sektor swasta, yang bergaji di bawah Rp 5 juta.

Jika ditotal nanti, serangkaian kebijakan populis ini akan mengalokasikan dana hampir sebesar Rp 420 triliun pada anggaran 2021 mendatang. Besar sekali kan, usaha dalam memulihkan sisi ekonomi akibat Pandemi saat ini?

Namun, saya yakin, pastinya bukan kami berdua saja yang gembira, jutaan orang yang mendapat BLT ini-pun pasti bahagia.

Kita bisa berbelanja apa saja untuk menghabiskan uang itu atau malah menabungnya kembali. Sekali lagi, ya terserah aje’!

Minimal, ya kita bisa memulai menggunakannya untuk hal positif, utamanya dalam  menikmati pola menu makanan baru, sehat sarat gizi, untuk membangun daya tahan tubuh kita selama Pandemi.

Contohnya, yang biasa mengkonsumsi mie rebus doang, bisa lah dengan dana BLT tadi, mencoba menambakan telur ayam ceplok atau sayuran sebagai topping menu mie gorengnya. Kan jadi nikmat!

Atau bisa juga –sekali-kali- mengkonsumsi ikan salmon kek, Tuna, daging sapi dan suplemen gizi yang jarang dimanja untuk tubuh ini.

Ini bisa menjadi ide solutif merespon masa pandemi yang yang sudah merusak sisi ekonomi, dan bisa menjalar pada sisi-sisi kesehatan kita.

Atau ya ‘terserah saja’, bisa juga untuk keperluan lain, bayar hutang, atau modal usaha. Bisalah jua menambal biaya mahar perkawinan? Boleh.

Nah, namun dari batasan kata terserah, tentu saja istilah BLT -kebijakan populis apapun- dimana Pemerintah yang awalnya ingin mendongkrak sisi ekonomi dan kesehatan, bisa menjadi multitafsir dalam hal tujuan penggunaannya.

Dan malah bisa menjadi candu baru lho, yang bisa memantik keterjangkauan harga rokok kembali bagi perokok, di masa bergulirnya kebijakan populis apapun saat ini.

Ketakutan tadi bisa saja beralasan jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut jika pengeluaran non-konsumsi per kapita masyarakat kita dalam sebulan bisa sebesar lebih dari 50 persen.

Salah satunya, jumlah uang yang dikeluarkannya malah untuk rokok. Dalam sebulan angkanya mencapai lebih dari 6% Nasional.

Pengeluaran uang untuk membeli rokok ini lebih besar dibanding uang yang dipakai untuk membeli beras, hanya sekitar lima persenan saja sebulan.

BPS mencatat lagi, jika angka kontribusi rokok sebesar 11-an% di perkotaan dan 10-an% di pedesaan. Tak hanya itu, di masa pandemi ini, -malah- Komnas Pengendalian Tembakau merinci terjadi peningkatan jumlah perokok sekitar 13 persen.

Lagi-lagi menurut saya, Kehadiran BLT bisa bermata dua, bisa saja menjadi starter memulai niat baru dan modal baru untuk mendahulukan prioritas, dan harapannya bisa dibiasakan di masa selanjutnya.

Atau malah bisa membuat terlena kita, membelanjakannya pada hal pelampiasan nafsu merokok kembali bagi perokok, dan menularkannya kepada yang lain.

Nah dari sini, peperangan antara kebutuhan rokok versus kebutuhan pokok itu sudah hadir dan berlangsung sengit, di kehidupan kita, tanpa disadari –malah- Terutama para perokok seperti Satria ini ya?

Pandemi harapan menurunkan prevelensi merokok?

Nah, menggeliatnya dinamika sosial akibat rokok di saat Pandemi, sudah menjadi salah satu tema ruang publik KBR yakni Pandemi, kebutuhan pokok vs kebutuhan rokok.

Dan sama’ sih, perbincangannya bakal menyambung dari apa perbincangan kita di atas. Dalam menguatkan dan memantapkan pilihan antara kebutuhan pokok vs kebutuhan rokok saat Pandemi ini.

Nurul Nadia Luntungan, salah seorang peneliti CISDI yang hadir dalam perbicangan itu sempat mengingatkan jika dampak Pandemi tidak hanya mengancam sisi kesehatan semata. Namun juga akan menghantam sisi ekonomi.

Dia mengatakan, menurut Bapennas akan ada 4-5,5 juta pengangguran baru akibat pendemi ini. Dari sinilah dia mulai, menuntun kita untuk segera kesimpulan jika rokok memang bukan kebutuhan pokok.

Dimana budget yang menipis gegara Pandemi, seharusnya bisa dimanfaatkan pada sisi yang produktif lagi. Selain merokok yang sudah menjadi rahasia umum akan dampak negatifnya.

Setidaknya, menurutnya ada tiga poin yang perlu diupayakan dalam mewujudkan harapan itu.

Intinya ingin mengajak kita berusaha sekuat mungkin untuk mencoret budget rokok dan menggantinya dengan item kebutuhan pokok bulanan itu, mulai sekarang. Apa saja sih poin-poin itu?

Pertama, menjauhkan lingkungan kita dari aktivitas merokok apapun. Tentu saja bisa kita harus selektif mencari tempat atau bergaul  dengan komunitas yang sehat tanpa kegiatan merokok, agar tidak terpapar bahaya adiktifnya.

Termasuk –malah- bisa menjauhkan pengaruh aktivitas merokok dari kerabat, teman dan keluarga terdekat sekalipun.

Kedua, menyempitkan kesempatan untuk berkenalan dengan aktivitas merokok. Utamanya menjauhkan anggapan jika rokok adalah sarana aduan untuk bisa memecahkan masalah ringan hingga berat sekalipun, di dalam keseharian kita.

Karena potensi berkenalan dengan rokok sangat terbuka, dan rokok banyak ditemui di banyak tempat di sekitar kita, untuk dicoba.

Ketiga, ikut membunuh keterjangkauan harga rokok, tentu saja dengan jalan tidak meng-list item rokok masuk ke dalam kebutuhan harian/bulanan dibelanjakan setelah gajian.

Ilustrasi rokok I Gambar diolah pexels.com
Ilustrasi rokok I Gambar diolah pexels.com

Nah, bisa saja kita beranggapan, jika ketiga hal ini pasti juga berujung pada keterikatan kebijakan Pemerintah yang digulirkan.

Terutama soal hadirnya kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang akan ikut melambungkan harga rokok sih. Dan akhirnya bisa membunuh keterjangkaun rokok di masyarakat.

Dan juga kebijakan Pemerintah lainnya, dalam upaya bisa terus mengedukasi warga untuk meninggalkan rokok yang terbukti merusak kesehatan.

Sembari juga terus memfasilitasi terbangunnya ruang sehat untuk non-perokok sebagai model kebijakan memerangi prevelensi perokok Indonesia yang bisa menularkan efek baik ke perokok aktiv untuk jua bisa berhenti segera.

Dengan apa? Ya harusnya adanya Ketegasan sanksi yang proposional dan tegas atas kebijakan tadi.

Satu masukan dari saya, tentu saja, obral BLT dari kebijakan populis Pemerintah dengan tema Pandemi juga harusnya menyampaikan syarat dan ketentuan berlaku (SKB) pada semua penerimanaya, agar bisa digunakan untuk hal prioritas.

Ilustrasi tabung elpiji 3 Kg I Sumber gambar finace.detik
Ilustrasi tabung elpiji 3 Kg I Sumber gambar finace.detik

Terutama adanya label ‘haram’ untuk memenuhi keperluan membeli rokok, bagi penerima manfaat Bansos apapun. Seperti menuliskan persamaan redaksi yang terdapat pada tabung gas elpiji 3 Kg.

Mari wujudkan hal itu!

Nah Menjawab hal itu, M Nur Kasim, sang ketua RT1 /RW 3 Cililitan Jakarta yang hadir dalam perbicangan ruang publik KBR, mengaminkan hal tadi.

Dimana dia bisa menunjukkan dan membuktikan untuk mewujudkan ketiga hal tadi. Dan akhirnya berhasil menciptakan kawasan bebas rokok, yang berada di kampungnya itu.

Kini kampungnya di Cililitan itu sudah bergelar kampung bebas asap rokok dan Covid 19, sejak Agustus 2020 lalu.

Kuncinya untuk mewujudkan hal tadi, selain tiga hal di atas  adalah kesadaraan masyarakatnya sendiri dan kepatuhan terhadap aturan yang sudah dibuat oleh skup-kecil warga kampungnya.

“Warga tidak boleh merokok di dalam rumah.”

— Nur Kasim, Ketua RT 01/RW 03, Cililitan, Jakarta

Di kampungnya, tambahnya, ada salah satu peraturan yang sudah berahasil dan harus dijalankan yakni, larangan merokok di area kampung tersebut, di dalam rumah sekalipun.

Jika dilanggar, ya sanksi sudah siap menanti dan berlaku untuk warga di dalamnya.

Nah jika pak Nur Kasim, sudah bisa mengelola masalah sosial yang ditimbulkan dari rokok.

Pengalaman ini bisa menjadi virus baru untuk menjangkiti komunitas lainnya, dalam skup luas untuk bersama membebaskan rokok dan covid-19 dari kehidupan kita kan?

Nah Ending Cerita Satria gimana?

Wajah Satria seketika  berubah saat itu, dia lantas segera meninggalkan Alesha.

Eh ternyata, dia baru ingat, dia harus ke rumah sakit, untuk membayar semua kebutuhan ayahnya selama dirawat, karena mendapat surat pemberitahuan dari Rumah Sakit.

“Aduh, maaf aku harus ke rumah sakit dahulu ya, penting ini,” Ujar Satria, langsung meninggalkan Alesha.

Sesampai di rumah sakit, ternyata Satria mendapati berita buruk jika ayahnya sudah pergi untuk selamanya, akibat penyakit kronis kanker parunya itu.

Dia kalut, dan mencoba menahan rasa sedih ditinggal orangtua satu-satunya kini, dan meninggalkannya hidup sendiri.

Tangannya lalu merogok ke arah kantongnya, dia semakin bingung ketika tidak mendapati bungkus rokok yang biasa terselip di kantungnya. Dia berharap dengan hisapan demi hisapan rokoknya itu, bisa menenangkan hatinya.

Ternyata, Alesha pelakunya, yang sengaja mengambil dan menyembunyikan bungkusan rokok Satria, ketika dia bergegas pergi ke Rumah Sakit.

Duh Alesha pasti sayang dengan Satria atas perlakuannya itu kan? Dia terpaksa diam-diam ikut mnejauhkan rokok dari kehidupan Satria.

Tetiba, HP Satria berbunyi, itu panggilan dari Alesha untuk menanyakan kabar terkini.

Larutlah kesedihan Satria dan tumpah kepada Alesha lewat udara. Air mata Satria membasahi kedua matanya, ketika bercerita kabar dukanya itu.

Di saat bersamaan ketika Satria bergegas melakukan pembayaran adminsitrasi pelunasan atas biaya pengobatan Ayahnya. Dia mendapati info terbaru dari dokter, jika ayahnya ternyata, juga terinfeksi covid-19 yang membuat penyakit Kanker parunya menjadi parah.

Dengan ketegaran hati Satria kembali menerima pil pahit itu, karena tidak jua bisa menemani ayahnya hingga ke liang lahat, akibat terbentur prosedur pemakaman positiv Covid-19.

Dan dia berusaha rela dan menahan sedih medalam, meski –lagi- tanpa ditemani sebatang rokok yang seharusnya ada di sisinya. Dan ternyata dia berhasil juga melampauinya!

Kakinya lalu membawanya ke ruang kasir Rumah Sakit, untuk menuntaskan kewajiban pembayaran pengobatan ayahnya tadi, dan berharap dana di tabungannya cukup.

Ketika membuka dompetnya, mengeluarkan kartu ATM ke arah petugas rumah sakit. Matanya tak berkedip melihat kolom angka biaya pengobatan ayahnya tadi, seakan tak percaya dengan jumlahnya.

“Ini tidak salah mbak, totalan biayanya?” tanya Satria ke petugas RS

“Tidak Mas, pasien covid-19 dibebaskan pembayaran apapun, ditanggung Pemerintah, bapaknya masih terdaftar di BPJS, meski ruangannya beda kelas,” Jawab petugas itu.

Kekalutan Satria semakin membuncah, dan bercampur dengan rasa haru. Dimana dia sadar, ada saja pihak yang masih memperhatikan hidup seseorang.

Meskipun orang tadi, sengaja membuat dirinya sendiri menjadi susah. Iya dia sadar dan menunjuk dirinya sediri sendiri, atas pengaruh kesalahan merokok yang ayahnya dan dirinya sendiri sudah lakukan selama ini.

Dengan bantuan Pemerintah itu, dia sadar jika dia lemah, dan sekaligus membuatnya menjadi kuat kembali untuk segera sadar dan bangkit mulai dari titik enol di masa pandemi ini.

Endingnya adalah!

Alesha terlihat tergepoh-gepoh menghampiri Satria di rumah sakit, serta lekas menguatkan hati Satrio, untuk berdiri di sisinyah.

Dan di saat itu juga, Satria lantas mantap langsung mengumumkan keputusannya untuk mencoba sekuat tenaga berhenti merokok, dan mengiyakan kelanjutan hubungannya ke pernikahan.

Ilustrasi I Gambar diolah pexels.com
Ilustrasi I Gambar diolah pexels.com

Tabungan yang seharusnya membayar biaya rumah sakit, akhirnya bisa menolongnya untuk melaksankan acara pernikahan dan sekaligus bisa menjadi modal awal berusaha ketika menikah nanti.

Nah Happy-ending belum, cerita Satria yang berkelindan kuat dengan Pandemi, Rokok, dan kebutuhan pokok ini?

Dan saya yakin, argumen tulisan dan inspirasi Cerpen tadi sudah bisa menunjukkan siapakah pemenang antara kebutuhan rokok vs kebutuhan pokok, di masa Pandemi ini sebenarnya kan?

“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini”

Daftar bacaan

  1. https://www.youtube.com/watch?v=jvBOXJhHMQY
  2. https://www.kbrprime.id/listen.html?type=story-telling&cat=ruang-publik&title=pandemi-kebutuhan-pokok-vs-kebutuhan-rokok
  3. https://kbr.id/
  4. https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/5f4dcd9fe6c92/daya-beli-masih-lesu-indeks-harga-konsumen-agustus-deflasi-lagi-0-05?
  5. https://money.kompas.com/read/2020/09/08/082107426/daftar-4-blt-yang-masih-cair-hingga-tahun-depan-termasuk-subsidi-gaji?page=all
  6. https://gaya.tempo.co/read/1379747/awas-kanker-paru-penyebab-kematian-nomor-1-pria-indonesia
  7. https://katadata.co.id/sortatobing/indepth/5f4ef5c229f88/nasib-industri-rokok-di-tengah-hantaman-pandemi-dan-kenaikan-cukai?
  8. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/08/26/konsumen-memangkas-sejumlah-barang-selama-pandemi?
  9. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/05/31/indonesia-negara-dengan-jumlah-perokok-terbanyak-di-asean
  10. https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/5f4dcd9fe6c92/daya-beli-masih-lesu-indeks-harga-konsumen-agustus-deflasi-lagi-0-05?
  11. https://gaya.tempo.co/read/1379747/awas-kanker-paru-penyebab-kematian-nomor-1-pria-indonesia/full&view=ok
  12. https://finance.detik.com/energi/d-4861731/kenapa-harga-elpiji-3-kg-harus-naik-jadi-rp-35000

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!