Memotret Indahnya Pluralisme Makau!

Makau pusat destinasi dengan kekayaan perbedaan hingga saat ini. Hemm..

Memang masih ada wisata dengan nuansa-kedamaian saat ini? Impossibble untuk dijawab-kan? karena perdamaian sepertinya memang masih menjadi pekerjaan rumah. Sehingga, tak salah jika istilah kedamaian masih saja menjadi cita-cita yang ‘mungkin’ terwujud entah kapan.

Memadukan perbedaan memang pekerjaan rumit dilakukan. Seperti, istilah barat dan timur menjadi hal yang terus-menerus dipertentangkan.

Begitupun juga istilah asing dan pribumi juga masih tabu untuk bersatu-padu. Perbedaan bisa jadi juga berbicara soal kebudayaan, yang tentu bisa berisikan tentang keyakinan apa-saja dalam menjalani keseharian hidup.

Perbedaan kebudayaan adalah juga keniscayaan-kan? Sehingga kebudayaan yang begitu melimpah di muka bumi ini menarik untuk dinikmati sebagai menu wisata. Karena di setiap wilayah di muka bumi ini, pasti melahirkan kebudayaan lokal sebagai anak kandung mereka.

Namun, beberapa wilayah di dunia ini ternyata juga pernah membuktikan jika hasil bentuk kolonialisme pada masa dahulu oleh bangsa barat, juga tak lantas meleburkan kebudayaan lokal setempat.

Malah bisa juga memperkaya dan menjadi kebudayaan baru, yang bisa dikapitalisasikan menjadi industri dan malah dapat mewujudkan cita-cita manusia ‘pribumi’ yakni kesejahteraan.

Jika dihitung memang tak banyak wilayah yang notabene merupakan wilayah kolonial yang dapat mewujudkan itu semua.

Makau misalnya, kota yang berada di negara Tiongkok ini, telah memotret keindahan pluralisme kebudayaan di wilayahnya masaa-lampau dengan mengadopsi kebudayaan asing eropa seperti anak kandung mereka sendiri.

Sehingga potret pluralisme itu tetap ada dan terawat dan dapat dinikmati hingga kini. Kebudayaan Eropa yang membungkus bahasa, agama dan juga seni arsitektur bangunan telah mewarnai dan mempercantik kebudayaan cina dan hidup rukun berdampingan di Makau.

Dan kesemuanya menciptakan persis seperti lukisan kedamaian yang kita idamkan itu. Nah jadi penasaran-kan tentang Makau?

Makau, Macau, atau Macao, pernah dengar?

Wilayah kecil Makau, tergabung dalam wilayah Tiongkok dengan status Daerah Administrasi Khusus Macau pada tahun 1999. Luasnya 30.5 KM2 . Terdiri atas semenanjung Makau dan terhubung ke daratan Tiogkok, Taipa dan Colone, ditambah area reklamasinya yakni Cotai.

Berada di Makau, aroma perpaduan barat dan timur terasa kental. Dari segi bahasa, penduduknya menggunakan bahasa Cina dan Portugis dalam kesehariannya. Meskipun 90% penduduknya adalah etnis cina.

Konon, pribumi Makau adalah para nelayan dari Fujian dan petani dari Guangdong. Mereka menempati lokasi yang bernama Ou-Mun DI Makau. Di tahun 1550-an datanglah bangsa Portugis untuk mengkoloni daerah ini sebagai pusat perdagangan dan akhirnya menyebut daerah ini menjadi Makau.

Dalam perjalanan waktu, Makau terus menjadi tempat pertemuan budaya barat dan timur. Dimana banyak sekali pembangunan phisik yang berbau Eropa, seperti Gereja dan juga benteng-benteng.

Makau menjadi tempat menikmati keanekaragaman nuansa multikultural, penggunaan bangunan bersejarahnya, sehingga dalam prosesnya menjadi tempat perhentian wisatawan, penulis dan seniman sejak dahulu.

Dengan peradaban bangsa Portugis sejak abad ke-16 itu, meninggalkan bekas arsitektur kota, seni, agama, tradisi, makanan dan plurasime barat dan timur. Kesemuanya lantas menjadi berkah bagi masyarakat pribumi, dengan masuknya beberapa objek wisata Makau ke dalam daftar warisan dunia UNESCO, sebagai hasil dari lanskap yang unik sejarah dan budaya, di tahun 2005.

Yuk Mengoleksi Potret Pluralisme Barat-Timur Makau!

Seiring berjalannya waktu, istilah Pluralisme itu menjadi menu wisata yang sedap untuk disantap. Menjelajahi Makau akan banyak menemukan potret masa silam tersebut yang masih terpajang rapi.

Jika berada di Makau, Saksi sejarah berupa bangunan berdiri kokoh, dan terhampar bangunan yang mencerminkan Pluralisme masa lalu yang damai. Terdapat 17 bangunan gereja kuno, 8 kuil bersejarah, bahkan Masjid yang merupakan kebudayaan bersejarah lainnya. Dan jumlah itu belum seberapa, jika mau meyisir di semua tempat di Makau.

Beberapa diantaranya masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia, UNESCO karena keunikan lanskap dan juga seni hasil perpaduan kebudayaan barat dan timur.

Potret yang paling indah dan terkenal tentu saja Ruin’s Of St Paul’s berupa reruntuhan gereja yang menyisakan fasad halaman depan dan dibangun antara tahun 1602 hingga 1640. Reruntuhan itu kini menjadi simbol altar kota.

Tak kalah populernya dengan, Gereja St Dominic yang dibangun pada 1587 oleh tiga pendeta Dominika Spanyol. Disnilah surat-kabar Portugis diterbitkan ke tanah Cina. Uniknya menara loncengnya telah disulap menjadi museum yang memamerkan 300 artefak kuno.

Selain itu, yang sering luput adalah Bangunan Teater Dom Pedro V, teater bergaya eropa yang dibangun 1860 dengan kapasitas 300 orang. Tempat ini menjadi tempat penting dalam berbagai perayaan kebudayaan lokal Makau. Jika sempat, mampirlah juga ke Taman Cassa, dibangun tahun 1770. Tempat ini dulunya adalah kediaman seorang-kaya portugis, Manuel-Pairera.

Makau identik dengan kuil, Kuil Kuan-Tai merupakan potret pluralisme selanjutnya, dimana kuil ini ber-arsitektur Eropa dan melambangkan persaudaraan dua-budaya. Kuil ini dibangun, tahun 1888 lokasinya dekat sekali dengan Ruins- St Pauls, menyajikan dialektika cita-cita bersama barat dan cina dan melambnagkan kebebasan beragama di sana.

Ada lagi, Kuil A-MA merupakan bagian terpenting dalam sejarah Makau, terdiri dari berbagai Paviliun untuk menyembah dewa-dewa yang berbeda, dimana terinspirasi konfusianisme, Taoisme, Budhisme,  dan keyakinan lainnya.

Benteng Guia, dibangun pada  1638, didalamnya terdapat Guia-Chapel. Lukisan rumit kapel menggambarkan pluralisme barat-timur. Terdapat guia lighthouse yakni mercusuar modern pertama di cina. Keduanya melambangkan lambang misonaris dan militer Portugis skala itu.

Tak lengkap pula jika tak ke Senado Square, pusat kota Makau berabad-abad, alun-alunnya dikelilingi oleh pastel neo-klasik bagunan berwarna, beraroma medeterania dan harmonis.

Dan yang populer juga ada, Leal Senado, dibangun pada tahun 1974, bangunan ini memiliki gaya arsitektur neo-klasik yang masih asli. Didalamnya juga terdapat ruang pertemuan upacara dan juga perpustakaan yang bergaya mirip seperti perpustakaan di Biara Mafra Portugal.

Akan banyak lagi potret yang lain seperti, Tembok kota tua, Benteng Gunung, Gereja-St.Jospeh, Gereja St.Anthony, Gereja St Agustine, Gereja St-Lawrence, Holy HouseofMercy, Katedral, Liliau Square, Lou-Kau-Mansion, Mandarin’s House, Moorish Barack, Pemakaman Protestan, Perpustakaan Hong-Tung, dan juga Agustine Square. Kesemuanya merupakan simbol Pluralisme dunia yang sayang dilewatkan jika berkunjung ke Makau ya!

Oleh-oleh Kuliner Makau!

Yang melengkapi menu-wisata bersejarah di Makau adalah Kuliner yang merupakan hasil ‘kawin-silang’ Barat dan timur. Ada apa saja? Roti daging, dua roti yang tengahnya diselipkan sepotong daging. Rotinya telah diberi bumbu rahasia menjadikannya lembut, bisa membayangkan kelembutannya menyatu dengan olahan daging di tengahnya?

Kalau kuliner dengan menu Minchi, dari penampakannya sudah bisa ditebak yakni adanya elur ceplok yang menjadi topping di atas potongan kentang, yang bercampur daging halus dan bumbu nenek-moyang bangsa Portugis.

Lalu ada ada Bakkwa, makanan ini sama menggunakan daging, lalu dikeringkan dan diberi bumbu ajaib orang Macao. Sepertinya enak-kan? suatu saat nanti bisa tidak kita modif yuk, dagingnya kita ganti dengan daging sapi? Bagaimana?

Bakwa

Heheh, karena daging yang digunakan ketiga kuliner diatas dinilai pas dengan resepnya adalah daging Babi. Jika suka silahkan, jika tidak suka tinggalkan. Gampang!

Tidak usah khawatir, masih kuliner bubur kepiting, bubur hangat yang pasti berisi daging kepiting nan lembut plus gurih, yang berasal dari daging Kepiting air tawar. Sangking lembutnya, setiap suapannya menempel di lidah, dan tidak akan hilang enaknya tiga hari tiga malam.

Kalau mau nambah? Ada Serradura artinya bubuk gergaji, namun bahan pembuatnya sendiri terbuat dari remah-remah biskuit yang dilapisi dengan puding dari susu. Ada juga Bacalhau, cemilan yang terbuat dari asinan ikan kod, terus digiling dan dicampur dengan bumbu dan tepung, digoreng dengan tekstur lonjong.

Dan tidak lengkap jika tidak mencoba kue Egg Tart. Dibuat dari pastry berbentuk mangkuk yang tengahnya ada custrad telur manis dan ditopping dengan caramel. Disantap pas lagi hangat.

eggtart

Pembuatannya mirip-mirip dengan pie susu, perbedaannya ada pada cangkangnya lebih lembut karena terbuat dari puff pastry.

Menghadirkan Makau Di Sekitar Kita!

Beberapa kuliner Makau bisa jadi dapat disajikan dirumah untuk dinikmati bersama, selain mudah resep Sup Lacassa yang telah populer di Makau bisa menjadi santap malam keluarga malam ini.

sup lacassa

Dulu konon, sajian ini disajikan pada saat malam natal bagi umat katolik.  Tapi tenang bahannya tidak memakai bahan daging kok. Jadi aman bagi kaum Muslimin untuk mencobanya, nah jika penasaran bisa dicoba deh. Sederhana saja kok pembuatannya.

Pertama siapkan saja, 500gr udang, 50gr pasta-udang, 1 pak bihun, 400 gr bawang dicincang, 1 siung bawang bombay. Lalu 60ml minyak Zaitun, 2 lembar daun salam, selanjutnya lombok dan garam, merica secukupnya.

Membuatnya, cuci dan kupas udang, lalu direbus degan 5 liter air. Masukkan bumbunya garam dan merica. Tiriskan kaldu udang saat direbus. Siapkan bihun dengan air panas. Sementara itu aduk bawang, daun salam dan pasta udang dalam minyak zaitun dan tambahkan udang, dan kaldunya. Masukkan bihun sedikit demi sedikit. Lalu rebus selama setengah jam saja. Lalu masukkan lagi daun salam dan bawang cincang goreng sebelum disantap. Mudahkan?

Nah, meerasakan sup Lacassa bisa saja membunuh rasa penasaran kita ke Makau. Dan bisa mewakili diri kita untuk berkunjung ke sana. Namun jika ada waktu tidak ada salahnya untuk bersiap langsung memotret semua menu-wisata kedamaian di Makau.

Dengan oleh-oleh resep sup Lacassa paling tidak, nikmatnya itu dapat mengingat terus potret Makau dengan Pluralisme-nya kan?

Dan selanjutnya resep ini akan bisa menebarkan keindahan pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan dalam konteks yang lebih luas di mana saja kita berada. Sehingga cita cita manusia akan hal kedamaian bisa saja terwujud. Amiin.

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Tinggalkan Balasan