Mendamba Citayam Fashion Week Tanpa Rokok

“Mimpi dibalik terselenggaranya Citayam Fashion Week (CFW) tanpa rokok tentu akan menjadi sebuah indikator penting, sebagai buah manis kolaborasi revisi PP 109 tahun 2012, efektifnya aksi rehabilitasi pecandu rokok, penguatan Perda KTR di banyak daerah, serta dukungan orang-tua dan keluarga Indonesia meredam darurat perokok anak.”


Lenggak-lenggok para Remaja di atas lintasan zebra cross CSBD, Dukuh Atas Jakarta,  menjadi sebuah fenomena terkini ya? Terlihat banyak para Remaja berumur belasan tahun berkumpul, beraksi, berlomba tampil se-keren mungkin di sana. Mereka menjaja  tampilan  out-fit untuk memanen konten menarik di media sosial.

Lantas, nama-nama beken seperti Bonge’ dan Jeje’ seketika menjadi ikon penting Citayam Fashion Week (CFW), menjadikan kiblat mode terkini anak muda ‘daerah’ yang harus ditiru?

Sekelebat, Potret CFW juga sudah memberikan sebuah fakta penting generasi muda, mengena kecenderungan para remaja tadi, untuk mudah menggenggam batang rokok/rokok elektrik (Vape) sebagai pelengkap dalam menemukan makna keren mode masa kini itu.

Lantas, sampai di titik ini, apakah kita melihat hal yang serupa?

 Citayam Fashion Week
Screen shoot Youtube I Citayam Fashion Week

Nah, oleh karena itu fenomena CFW yang menjamur di berbagai daerah –memang—sudah menjadikan Pekerjaan Rumah yang tak pernah usai bagi Pemerintah, guna meracik serta mengawasi regulasi penggunaan fasilitas umum sesuai peruntukkannya.

Sekaligus –terpenting– memampukan Pemerintah jua tampil lebih konsisten menetapkan peruntukan semua fasilitas umum tadi sebagai Kawasan Tanpa Rokok (RTR) bagi anak dengan layak.

Citayam Fashion Week
Screen shoot Youtube I Citayam Fashion Week
Screen shoot Youtube I Citayam Fashion Week
Citayam Fashion Week I Viva news
Citayam Fashion Week I Viva news

Ah.. narasi itu akan menjadi teramat penting bukan? Dimana #DaruratPerokokAnak sudah menjadi tagar massif yang bergema sejak dahulu, dan tanpa disadari, terus saja merambat naik kini.

Membuka lagi Data Global Youth Tobacco Survey, menyebut ternyata tiga dari empat orang yang merokok di usia kurang dari 20 tahun lho. Angka prevelensi perokok anak terus merangkak saja, tahun 2013 mencapai 7.2%, di tahun 2016 mencapai 8.80%, tahun 2018 mencapai 9.10%, di tahun 2019 malah mencapai 10.70%, lantas bisa ditebak berapa tren prevelensi perokok anak di 2022 ini ya? BPOM, juga pernah menyebut di tahun 2030 nanti, jumlah prevelensi perokok anak anak akan meningkat lagi menjadi 16%, jika saja tidak mendapati keseriusan menyelesaikannya.

Nah, jika melihat fenomena CFW lebih dalam lagi, juga memudahkan untuk menjadikannya sebuah kesimpulan penting? Apa itu? Dimana ekspresi para remaja jika diwadahi dengan layak, semestinya harus mampu menepikan ancaman Darurat Perokok Anak itu, bukan?

Karena terdapat sebuah keyakinan bersama, sekaligus kebenaran yang tak terbantahkan, jika aktivitas merokok itu telah banyak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, dan mampu menentang hadirnya sebuah kreativitas yang positif.

Nah harus kita akui saja jika fenomena ‘Endemi Citayam Fashion Week’, bisa saja  menjadi sebuah sebuah ancaman baru, setelah Pandemi Covid-19 ini berlalu kan?

Dimana pengaruh buruk generasi muda menjaja kebanggaan merokok melengkapi out-fit mereka, akan menjadikan perjuangan Pemerintah semakin berat lagi. Terutama misi wujudkan anak terlindungi dari bahaya rokok, guna menjadikan Indonesia maju, sesuai tema Hari Anak Indonesia.

Lantas, demam CFW kini dan nanti, apakah mampu menjadi peredam Darurat Perokok Anak. atau malah sebaliknya sih?

Delapan koma tujuh persen, cukup realistiskah target prevelensi Darurat Perokok Anak 2024?

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), negara ternyata sudah memiliki ambisi kuat, menekan prevelensi perokok anak mencapai 8.7% di 2024 mendatang.

Lantas jika saja target itu tepat sasaran, asumsinya  akan terdapat 67.136 anak di usia 10-18 mendapati upaya rehabilitasi atas candu rokok, di 2025. Jika dicerna, pekerjaan meredam Darurat Perokok Anak itu pastilah teramat sulit diurai? Terlebih jabaran atas kesulitan itu mudah diresapi, yang tergambar dalam acara webinar Zoom, Yayasan Lentera Anak, Kamis 28 Juli 2022 lalu.

Dimana, webinar itu sudah mengupas akar permasalahan Darurat Perokok Anak terkini, sekaligus membuka spill aksi-aksi Pemerintah merespon permasalahan massifnya darurat perokok anak kini dan nanti.

Nah, membayangkan pengalaman yang dialami Ulfa –misalnya—yang mendapati adiknya yang masih kelas 5 SD sudah aktif menghisap rokok elektrik menjadikan sebuah hal serius fenomena darurat perokok anak itu kan?

Ulfa lantas menyadari, jika mudahnya akses anak-anak menjangkau alat hisap rokok elektrik lewat media sosial adalah celah lebar massifnya Darurat Perokok Anak.

Dimana dengan akses Medsos,  adiknya menemukan jalan lebar melakukan aktivitas pembelian Vape plus fasilitas pengantaran  sampai dengan selamat di depan rumah mereka.

Infografis Vape/ Rokok Elektrik I Kompas
Infografis Vape/ Rokok Elektrik I Kompas

Dan, fakta yang mencengangkan lainnya adalah, akses mendapatkan Vape/rokok elektrik ternyata tidak terhalang oleh harga Vape yang melejit seperti harga rokok.

Karena dengan level kecanduan rokok yang tinggi, mahal-murahnya vape tidak menjadikan sebuah masalah siapapun untuk memilikinya.

Hal tersebut dipertegas pula oleh “M” sebuah nama samaran, M adalah seorang remaja perokok aktif berusia 17 tahun yang hadir jua dalam webinar itu, dan membuktikan, jika akses rokok memang masih mudah dijangkau. Terlebih kini rokok dapat dijual dengan harga ketengan Rp 5000 per 3 batang.

Lain halnya oleh Rien, narasumber lainnya, yang jua adalah remaja perokok aktif. Di dalam webinar itu malah meyakini jika rokok elektrik/Vape merupakan jalan tengah dirinya untuk segera berhenti merokok. Dimana kala menghisap vape, dia merasa akan mampu menjadi terapi ampuh menjauhi dampak buruk menghisap rokok yang sebenarnya.

Nah, menyerabut akar permasalahan Darurat Perokok Anak terkini itu, tentu mampu menjadikan referensi penting terhadap regulasi yang sudah dibuat Pemerintah, bukan? Terutama mengena mudahnyaa akses rokok yang menjangkau  anak-anak berusia muda, lewat massifnya iklan dan aneka penawaran yang hadir dalam tayangan Over The Top (OTT) di Gadget mereka.

Dan masih dalam webinar itu, Oktavian Denta, dari YCTC-pun sudah membuktikan setidaknya terdapat 9 kota dalam penelitiannya ternyata masih mudah menemukan kelonggaran distribusi rokok/Vape ke segmen anak-anak muda. Dan jelas, kelonggaran itu –malah—mudah meyakinkan perokok muda, jika Vape atau rokok elektrik itu merupakan produk rokok murah, simple, irit dan tidak berbahaya.

Denta
Oktavian Denta

Padahal, dalam studi yang dilakukan YCTC, –sebelumnya– konsumsi Vape juga berpotensi sama dengan rokok untuk menghadirkan penyakit kanker.

Karena di dalam Vape juga menghasilkan zat bercun yang sama pula seperti rokok salah satunya Nikotin dan Formalin. Nah disadari atau ttidak, tiga narasumber sudah menjadi sebuah saksi dan bukti atas fenomena Darurat Perokok Anak tadi, bukan?

Ulfa, Rien dan M, bak menarikkan sebuah benang merah, atas fenomena yang sama, dan sedang terjadi pada fenomena CFW yang turut  menyajikan vape/rokok menjadi sebuah gaya hidup anak muda zaman now?

Dan akhirnya, realitas, aspirasi dari tiga narasumber itu,  bisa saja menjadi alasan, desakan untuk lekas merevisi regulasi Pemerintah, yang masih menyajikan celah lebar atas keberlangsungan Darurat Perokok Anak di Indonesia.

Lantas, mampukah Pemerintah dan kita bersama meraih ambisi 8.7 % prevelensi perokok anak di 2024 nanti ya?

Revisi PP 109 2012 adalah kunci Darurat Perokok Anak?

Nah, hadirnya fenomena Darurat Perokok Anak yang kasat mata mudah kita lihat di permukaan kehidupan remaja. Salah-satunya lewat fenomena CFW tentu mampu melontarkan opini kita, yang menggemakan pesimistis, mengena kemampuan Pemerintah menuntaskan target prevelensi 8.7% perokok anak di 2024 memang masih sumir? Atau malah sebaliknya?

Jika kita mau mengoleksi hal teknis atas hambatan pencapaian target itu –disadari atau tidak– memang masih disebabkan oleh lemahnya regulasi yang memungkinkan celah bagi industri rokok menjamah segmentasi para perokok muda yang melimpah ruah di Indonesia.  

Hal tersebut sudah pula dikemukakan oleh lima perwakilan, dari lima Kementrian yang bersinggungan langsung dalam pencapaian target 8.7% prevelensi perokok muda 2024 mendatang.

Lima Kementrian itu yang jua turut hadir –masih– dalam webinar itu, yakni Kementrian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementrian Perdagangan, Kementrian Komunikasi dan Informatika, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Kementrian Kesehatan.

Mereka bersepakat, jika satu hal penitng yang menjadi masalah besar Darurat Perokok Anak yakni belum adanya regulasi tegas yang mampu menghambat massifnya penawaran produk tembakau/Vape –terutama– di media sosial.

Terlebih produsen rokok kini juga sangat aktiv menggaet affiliator di media sosial untuk menjaja produk rokok ke perokok muda.

Oleh karena itu, Agus Suprapto, Deputi Kesehatan Kementrian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), sudah pula meyakinkan akan hadirnya revisi PP No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, yang akan menegaskan materi penting atas regulasi peredaran bahaya rokok.  Apa saja itu?

  1. Pesan bergambar dalam kemasan rokok harus  diperbesar saja.
  2. Aturan penjualan rokok elektrik di kanal maya dipertegas.
  3. Sponsorship yang berkaitan dengan produk rokok dipetegas dan diperketat.
  4. Penjualan rokok ketengan/batangan dilarang.
  5. Pengawasan pengendalian konsumsi tembakau harus dimassifkan lagi.

Antonius Malau, yang mewakili Kementrian Komunikasi dan Informatika, menyatakan siap pula mentake-down konten yang hadir di dunia maya, yang berbau materi rokok yang ditujukan bagi para remaja, jika revisi PP 109 itu benar-benar telah dihadirkan.

— Webiar Lentera anak

Purwandoko Sutopo, dari Kementrian perdagangan juga akan menjadi Balancing bagi dunia industri, dengan terus memberikan perlindungan konsumen dari pengaruh bahaya produk rokok, dengan tetap pula memperhatikan aspek iklim industri.

— Webinar Lentera Anak

Anggit, dari Kementrian PPPA, juga siap dan terus mendorong Pemerintah daerah menelurkan lebih banyak lagi Perda menetapkan kawasan tanpa Rokok, kota layak anak agar terus massif hadir di daerah-daerah. Serta pihaknya juga terus mengahdirkan edukasi atas bahaya rokok, hingga ke lingkar keluarga terkecil

— Webinar Lentera Anak

Benget Turnip, perwakilan Kemenkes, dalam paparannya juga mendorong Pemerintah agar tidak lagi mengandalkan cukai/pajak rokok sebagai pendapatan utama negara. Dan mendorong, serta menjabarkan sebuah narasi besar Presiden, agar produk tembakau harus menjadi sebuah produk ekspor saja, dengan pertimbangan menjaga sisi ekonomi petani tembakau yang jua menggeliat di Indonesia.

Dan terdapat hal menarik juga yang disampaikan Banget Turnip, dan menjadi catatan penting, jika melejitnya harga rokok per 2022 lalu ternyata belum berdampak signifikan bagi para perokok mengonsumsinya. Bahkan rokok sudah menjadi bahan pokok kedua setelah beras.

Menurutnya –lagi– dampak rokok ternyata tidak sebanding dengan pendapatan cukai yang diterima oleh negara.

Dimana jika menilik Data BPJS Kesehatan, jumlah kasus yang terkait rokok dan tembakau baik rawat jalan/rawat inap mencapai 5.159.627 kasus. Dan kasus penyakit yang disebabkan oleh rokok, menelan dana Rp 5.9 triliun di 2017 lalu, diantaranya kasus Jantung, Stroke, Kanker Paru-paru, penyakit Paru Obstruktif (PPOK) dan gagal ginjal.

Dan Kemenkes juga terus mendorong hadirnya revisi PP 109 itu agar meyakinkan target prevelensi perokok muda sebanyak 8.7% akan tercapai.

Akankah momen Citayam Fashion Week, momen dimana anak Indonesia terlindungi dari bahaya rokok, membuat Indonesia Maju

Rokok tentu sudah menyibak tabir rahasia umum atas bahaya yang ditimbulkannya terutama dampak kematian. Di Indonesia sendiri kasus kematian disebabkan oleh 33 penyakit yang berkaitan langsung dengan perilaku merokok, yang pada 2015 sudah menembus angka 230.862 kasus, menelan kerugian makro Rp 596.61 triliun.

Lantas, jika mengingat bahaya produk tembakau, juga menyisakan duka kelam atas musabab kematian 290 ribu orang setiap tahunnya di Indonesia. Fakta itu tentu jelas mampu menguatkan dan meyakinkan kita bersama, jika bahaya rokok menjadi penyebab kematian terbesar akibat penyakit tidak menular.

Ilustrasi pemakaian Vape I Kompas
Ilustrasi pemakaian Vape I Kompas

Nah, renungan itu tentu sangat berarti bagi generasi mendatang, yakni bagi jiwa muda, untuk tetap mampu sehat dan berkarya menuangkan  segala kreatifitas positifnya kepada publik, bukan?

Sosok Bonge’ dan Jeje’, atau siapa saja, bisalah menjadi aset penting dalam menularkan edukasi positif menjauhkan generasi muda dari bahaya rokok, dan berpotensi memantik Darurat Perokok Anak Indonesia kapan saja!

Oleh karena itu, penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang menjadi fasilitas umum anak muda berkreasi bak harga mati yang harus disediakan Pemerintah daerah dalam ikut menunjang ambisi 8.7% prevelensi perokok muda, bukan?

Benget Turnip, Kemenkes Darurat Perokok Anak

“Ternyata masih ada 76 Kab/Kota yang masih belum memiliki Perda Kawasan Tanpa Rokok.”

Benget Turnip, perwakilan Kemenkes, Tukilan Webinar Lentera Anak

Dan hadirnya perhatian dan ketegasan Pemerintah daerah, atas penggunaan fasilitas umum sesuai peruntukkannya di dalam sebuah Perda, tentu akan menjadi pemantik utama, memfokuskan kreativitas anak muda benar-benar tanpa rokok.

Nah, lantas dalam benak kita, hadir pertanyaan lain, bagaimana dengan anak muda yang terlanjur candu atau menjadi penikmat rokok kini ya?

Apakah mereka masih memiliki mimpi yang sama untuk menyemarakkanCFW yang terus bergema di berbagai daerah. Dan membuat mereka berkesempatan menjadi icon penting meredam Darurat Perokok Anak di masa kini dan masa depan nanti?

Harapan kita, jika saja revisi PP 109 2012 benar terwujud, sebagai upaya pencegahan darurat perokok anak. Seharusnya Program rehabilitasi bagi anak muda pecandu rokok juga harus lebih dimasifkan, dalam meredam atas keyakinan mereka jika rokok elektrik/Vape itu adalah ‘obat’ efektif bagi mereka untuk mampu berhenti merokok konvensional.

Dan harus ingat, ternyata memang benar, jika Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 juga mengamanatkan harus tersedianya  akses penting berupa layanan berhenti merokok itu. Dimana layanan itu juga sudah menjadi strategi kebijakan pengendalian Tembakau.

Dalam teknisnya, sudah disepakati jika akan terdapat fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di 350 kabupaten/kota, atau setidaknya terdapat 4.066 FKTP yang harus mampu  menyelenggarakan layanan berhenti merokok itu. Namun faktanya, -memang- capaian atas layanan dan sosialisasi akses itu masih jua belum dirasakan masyarakat, terutama kemudahan jangkauan bagi pecandu rokok, bukan?

Oleh sebab itu, –bagi saya–, harusnya jua hadir tiga hal penting, dalam segera merealisasikan program rehabilitasi pecandu rokok, sebagai pelengkap aksi revisi PP 109 2012 itu. Apa saja itu?


  1. Hadirnya komitmen Pemerintah daerah, melakukan prioritas pembentukan program ini, serta meramu tarif acuan layanan. Serta fasilitas yang harus jua disediakan agar memudahkan kerja sama antar sektor.
  2. Hadirnya penyediaan Sumber Daya Manusia, seperti konselor berhenti rokok. Prasarana dan sarana lain, seperti bahan habis pakai. Alat deteksi gas karbon monoksida (CO) dan audiovisual. Dan terpenting lagi adalah pengayaan intervensi konseling, Hipnoterapi dan terapi Farmakologi
  3. Terjalinnya sinergi program layanan berhenti merokok dengan program skrining kesehatan pada anak sekolah, program penyelesaian Stunting, atau program Indonesia Sehat, dengan pendekatan-pendekatan keluarga.

Lantas, kita bisa menjadi mudah untuk meyakini, jika kolaborasi aksi Rehabilitasi dan penegasan revisi PP 109 2012 itu tentu saja menjadi sebuah ‘obat’ mujarab meredam fenomema Darurat Perokok Anak, yang sudah tercium dalam banyak aksi generasi muda.

Terlebih kini aksi generasi muda yang meyakini aktivitas merokok, sudah menjadi sebuah ritual mendatangkan inspirasi untuk berkreasi.

Infografis perbedaan rokok elektrik dan non elektrik I Detik.com
Infografis perbedaan rokok elektrik dan non elektrik I Detik.com

Nah jika saja Medsos mampu  menularkan hal negatif atas bahaya rokok, tentu saja  Medsos pulalah yang harusnya mampu menularkan hal positif untuk meredam darurat perokok anak kini dan nanti, bukan?

Perhelatan ajang kretifitas ala CFW yang sedang berlangsung di berbagai daerah kini ternyata sudah pula memberikan inspirasi Pemerintah daerah, untuk mampu menyediakan ruang khusus yang bebas dari rokok  bagi generasi muda untuk  berkreatifitas.

Lantas  dari titik itu, dari treatment Pemda tadi, pastilah akan mudah melahirkan sosok Bonge’ dan Jeje’ ala-ala daerah mampu jua memanen ragam konten terbaik dan positif. Sekaligus mampu menjadi Afilliator Pemerintah bersama generasi muda lainnya, untuk lantang katakan ‘TIDAK’ mengonsumsi produk Tembakau, terlebih produk rokok listrik/Vape.

Ah, bayangan dan mimpi terselenggaranya CFW tanpa rokok tentu akan menjadi sebuah indikator penting, sebagai buah manis kolaborasi revisi PP 109 tahun 2012, Efektifnya aksi rehabilitasi pecandu rokok, Penguatan Perda KTR di banyak daerah, serta dukungan Orang-tua dan keluarga Indonesia meredam Darurat Perokok Anak.

Jadi, pesimis atau masih optimis di angka prevelensi 8.7% Darurat Perokok Anak nih? Kalau bagi saya pribadi, angka, 0% pun pastilah masih optimis, jika saja kolaborasi di atas memang benar-benar terjalin!

Photo Cover : Viva News

Sumber bacaan :

  1. https://www.kemenkopmk.go.id/uji-publik-revisi-pp-nomor-109-tahun-2012-dilakukan-demi-masa-depan-anak-bangsa
  2. https://www.kemenkopmk.go.id/urgensi-perluasan-layanan-berhenti-merokok
  3. kemenkes-penyakit-akibat-rokok-bebani-bpjs-kesehatan-rp-59-triliun
  4. miris-jumlah-perokok-anak-di-bawah-18-tahun-terus-meningkat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!