Cerpen|Mengharap Bintang Kejora (1)

Meteor

Arya mulai meraih HP-nya, untuk menelpon Nanar pagi ini. Mulutnya ingin mengatakan bahwa dia rindu sekali dan ingin segera bertemu. 

Namun hanya suara kereta api, yang terdengar dari HP Arya. “Sayang, dimana si kamu,” sahutnya dalam hati.

Nanar tak jua mengangkat panggilan telpon darinya. Mungkin saja Nanar masih terbuai mimpi saat ini, atau entahlah.

Kecemasan Arya, semakin meraja. Ingin saja dia lekas, ke rumah Nanar untuk menumpahkan rasa kangennya itu. Namun hati kecilnya menahan untuk bertemu dengan Nanar hingga esok hari.

Air mata Nanar masih menggantung di langit-langit matanya. Dirinya masih lunglai di pembaringan. Amplop merah muda itu, tak jua beranjak dari dekapannya pagi itu. Suara langkah kaki mulai terdengar menyusur arah pintu. Nanar tetap saja terjaga dari tidurnya.

**

Tok..tok..tok,” seseorang mengetuk pintu rumahnya. Nanar langsung bangun berharap itu adalah Satrio, meskipun dalam surat itu, sebenarnya Satrio tidak pernah mengabarkan kapan kedatanganya kepada Nanar. Tentu saja harapan Nanar yakni kedatangan Satrio  di hari ini, ya di hari ulang tahunnya saat ini. 

Terkejut ketika membuka pintu menyambut seseorang di balik pintu. Namun sayang, itu bukanlah Satrio.

“Happy birthday,” ucap lelaki itu. Kakinya mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Tangannya di sembunyikan dibelakang tubuhnya. “Happy birthday,” ucapnya kembali, sambil langsung menyorongkan kotak kecil yang berisi cincin berlian untuk Nanar.

Itu adalah Arya bukan Satrio. Bibir Nanar sedikit saja terbuka. Pelan-pelan dia menyambut kotak itu. Namun tanpa sadar amplop merah muda Satrio, masihlah di tangan kanannya. Telak, Arya melihat amplop itu. Tersadar-pun, Nanar langsung gagap. Langsung saja tangan Nanar diletakan di belakang pinggang.

“Maaf Ar, surat dari temen, baru mau kukasiin ke dia,” kilah Nanar.

“Thanks ya say,” sambungnya lagi.

Rasa sayang Arya terhadap Nanar membuang rasa kecurigaannya kepada surat itu.

Diberikannya kotak itu kepada Nanar dan berkata,” maaf hanya ini hadiah ultahnya ya”.

“Aku tunggu jam 10 pagi ini, ada yang mau kuomongin,” pintanya kepada Nanar.

Wajah Nanar mengangguk tanda setuju. Arya-pun kemudian pergi, diiringi senyuman Nanar pagi itu. Lantas Nanar segera duduk, dibukanya kotak kecil tadi. 

 “Mirip sekali dengan cincin yang diberikan Satrio dulu,” ujarnya pelan sambil mengamati cincin pemberiannya itu.

Ya, cincin itu memang mirip sekali dengan cincin yang diberikan Satrio. Nanar mengembalikan cincin itu kepada satrio ketika memutuskan cintanya  dulu.
Kala itu Nanar ingin meminta Satrio untuk segera menikahi Nanar. 

Namun Satrio belum siap dan terpaksa menolaknya. Nanar marah karena merasa dipermainkan Satrio.

Ilustrasi | pexels.com

Sebenernya Satrio tidaklah seperti itu. Satrio mempunyai alasan kuat untuk menunda keinginan Nanar itu.

Tetapi Satrio belum jua menceritakan hal itu. Dia takut Nanar meninggalkannya jika tau hal yang sebenarnya, terlebih bersedih.

Bersambung ya……

By Aal Arbie Soekiman

Photo Cover Pexels

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan