Menjadi Beyond-Blogger Ala Kompasiana, Siapa Takut!

Beyond Blogger Kompasiana

Ehh Kompasiana, iya kamu! Dahulu di tahun 90-an ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku –rasanya- memiliki sebuah buku kecil, ya seperti buku saku. Tapi entah dimana ya sekarang?

Buku itu menjadi catatan apa saja yang dikerjakan setiap waktu. Pelajaran sekolah yang rumit-lah, kesalahan harian, pertemanan baru, termasuk serial cintah-cintah monyet gitu.

Lega rasanya, menuliskan ceritanya, di setiap lembarannya. Selesai menulis, kusegerakan menutupnya dan menyimpannya di lemari, dan tak lupa mengunci lemari tadi. Rasanya tidak mau ah ada yang membaca –maluk-

Setelah terpendam lama, dan sesekali membacanya, membuat jiwa terbahak-bahak, sambil melebarkan senyuman manja. Seraya bertanya, setan apa yang merasukiku pada saat itu ya, sehingga mengilhami tulisannya?

Jaman berubah, tetiba di tahun 2000-an dunia maya (Dumay) memperkenalkan aku pada fitur layanan buat curhat-curhatan yang dikenal Blogspot.

Beranjak usia di bangku SMU, aku makin mahir ber-blogging ria lewat banyak akun ber-domain Blogspot dengan bermacam Genre tulisan, utamanya Fiksi Cerita-pendek.

Anuu, biar makin terkenal, tak lupa juga aku selalu menyelipkan nama akun-Blogspot tadi, di bawah tulisanku yang ditempel di mading sekolah –maklum belum ada Medsos-

Meski lebay, hasilnya, aku berasa seperti selebriti lokal yang memproduksi rasa puas dalam batin. Ah dibilang ‘tulisanmu bagus kali’ senengnya minta ampun!

Ah it was beyond of myself! Nge-blog selalu ingin membuat diri ini melampaui batas-kan? Menjadi diri yang dahulu pemaluh dan culun sekarang berubah menjadi Riyah!

Tapi sekarang mungkin lebih lagi, riya plus materialistis! Aih, namanya juga Beyond-Blogger!

Diary-ku, kau ada dimana?

Secuil Prolog di atas bisa membawa ingatan saya, kembali kepada hakikat ber-blogging. Bagi saya, ya cuman buat berceloteh-ria apa saja di Dumay, tanpa pamrih, titik!

Eh, namun kok semakin kemari, seiring bergulirnya waktu, tanpa disadari ber-blogging sudah berpindah haluan, ke arah yang berbau komersil. Bukan pujian lagi yang diinginkan dari tulisan, ya lebih dari itu!

Beyod Blogger Kompasian
Ah menjadi Beyond-Blogger itu tak terkendala tempat di mana saja mah lanjut! I Dokumen Wadai

Parahnya lagi, tidak cukup hanya akun Blogspot gratisan, saya malah berselingkung dengan membuat TLD (Top-Level-Domain) berbayar, seperti www.wadahkata.id yang kalian baca ini!

Sebenarnya apa sih candu ber-blogging? Sampai nekat para Blogger berselingkuh, dengan banyak akun domain Blog? Biar kelihatan keyen gitu? Ngurus satu akun Domain Blog saja rasanya sulit!

Jika boleh ngeless menjawab, perbuatan tadi adalah –mungkin- satu dari sekian banyak interpretasi dalam mewujudkan titel Beyond-Blogger pada diri kita?

Biar kerasa eksistensinya? Tapi apa kita yakin bisa terus eksis buat nulis, meski ga ada duitnya? Bayar sewa hosting dan domain-nya dari mana?

Nah, sisi komersil itu ternyata sudah menjawab pertanyaan itu sendiri. Salah satunya, dengan TLD bisa membawa iklan dan kerjasama apa saja, untuk turut menghiasai Blog kita.

Cara tradisonal ini, bisa kita lihat dibanyak Blog, dengan jurus Goo*leAdsense? Tapi, peramban Website pinter-pinter, mereka menambahkan syarat dan ketentuan berlaku kepada para Blogger untuk bisa memetik hasil –rupiah- dari semua ide mereka yang ditumpahkan di Blog-nya.

Dan sayangnya, tidak semua Blogger mampu melaluinya. Termasuk sayah sih! Atau mungkin kamu juga? –ngaku-

Jadi ya, akhirnya kebanyakan para Blogger menjadi sukarelawan yang menebar amal kebajikan atas informasi atau ide kreatif yang dilahap lezat oleh pembaca di Dumay.

Ya kalau aku menganggapnya sih hasil tadi sebagai tabungan di hari tua saja, biar menjadi pahala jariyah, dan berharap Tuhan mau mengabulkannya.

>>>> Selanjutnya, klik saja Pages ya!

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!