Bagaimana Paper Upcycling, Sempurnakan Sustainable Living RGE di Kehidupan Kita?

Paper Upcycling, Sempurnakan Sustainable Living RGE


Jemariku gemulai mengumpulkan remahan kertas sisa, yang kugunting kecil sekali. Lantas kurendam ke dalam air semalaman.

Nah, sembari menunggunya menjadi bubur, aku harus menyiapkan lem perekatnya jua, yang kubuat dari tepung kanji yang dikentalkan dengan air.

Bubur kertas yang terendam air tadi juga harus kupastikan bertekstur lembut lewat proses pemblenderan sekali lagi.

Hasilnya kemudian disaring dengan kain, dan dicampurkan dengan lem yang kubuat dari tepung kanji barusan.

Lantas ku aduk perlahan saja, dan dikondisikan kekenyalan adonan buburnya, agar dapat membentuk bahan kerajinan tiga dimensi, seperti patung, topeng, peta timbul dan lainnya.

Nah, terakhir tinggal memberikan pewarna agar terlihat menarik hati bagi mata yang memandangnya, dan aku berharap seseorang tertarik dan mau membelinya.


Aku sadar sekali, aplikasi tutorial paper upcycling itu menjadikan rendezvous pada kisah masa kecilku, di bangku Taman kanak-kanak, yang mengajarkan tutorial serupa, mengolah bubur kertas buatan, menjadi ragam mainan yang menyenangkan dan aman.

Selain membentuk ragam kerajinan tiga dimensi. Tutorial paper upcycling itu juga berhasil mengajarkanku, bagaimana sisa kertas itu bisa menjadi kertas warna, untuk keperluan pembuatan Goody bag, pembungkus barang/makanan, hingga kado lucu buat orang tersayang.

Jujur saja, diriku sebenarnya sudah terlanjur lihai mengaplikasikan turorial tadi, ya mungkin saja terlalu gampang sih.

Namun hal terpentingnya adalah, lewat tutorial paper upcycling, aku baru sadar atas esensi paper upcycling, akan menekankan pada sebuah solusi permasalahan bumi hari ini.

Paper Upcycling yang membuat Goddy , menghidupkan harapan atas sustainable living bersama
Paper Upcycling yang membuat Goddy bag menghidupkan harapan atas sustainable living bersama I Dokpri

Dimana, tutorial paper upcycling memampukanku ikut jua ambil bagian menciptakan peluang baru menjemput kehadiran sustainable living,  yang akan menjadikan mental semua orang, untuk mau dan mampu, mengontrol jejak karbon hariannya seminim mungkin.

Terutama merasa mudah sensitif dan peduli terhadap kekayaan hutan, yang harus tergerus oleh tuntutan bahan baku kertas yang kian masif yang tega menjadikan limbah kertas, menumpuk bersama plastik.

Ahhh…., melihat dan merasakan fenomena atas merebaknya polutan padat yang sulit terurai itu, pantaskah membiarkan hati kita terus bertanya, “Apakah benar sustainable living  itu antara ada dan tiada?”

Apa itu paper upcycling?

Istilah Upcycling merupakan sebuah proses daur ulang yang memampukan kita dalam mengubah barang asli, menjadi barang yang memiliki bentuk dan kemanfaatan baru.

Misalkan saja botol plastik, yang dibersihkan dan dipotong menjadi bagian tertentu sesuai kerangka yang direncanakan, kemudian dirangkai menjadi bentuk aksesoris.

Nah, dari penjelasan barusan, jelas mudah membedakannya dengan istilah Recycling, bukan? Dimana, Recycling merupakan proses daur ulang sebuah benda, dan membentuknya lagi dengan sifat bentuk, fungsi yang sama.

Paeper Upcycling yang membuat Kado lucu, menghidupkan harapan atas sustainable living bersama I Dokpri
Paper Upcycling yang membuat Kado lucu, menghidupkan harapan atas sustainable living bersama I Dokpri

Singkatnya, perbedaan antara Recycle dan Upcycle adalah pada proses perubahan bentuk dari barang asli menjadi barang yang dihasilkan.

Selain itu, barang yang dibentuk dari proses upcycle, akan menjadikannya barang itu harus bernilai ekonomis lebih tinggi.

Jadi, paper upcycling merupakan sebuah proses daur ulang bahan kertas sisa, untuk menjadikannya bentuk baru, serta kegunaan baru, yang tidak lagi –hanya– untuk berguna menulis saja, seperti fungsi kertas pada umumnya.

Memang sih, istilah, upcycling masihlah asing terdengar, ketimbang istilah recycling tadi, bukan?

Namun, keduanya masihlah sama-sama merupakan istilah yang bisa menjadikan aksi nyata kepedulian kita, dalam meredam masifnya polutan sampah, yang makin menggurita di muka bumi ini.

Bisakah Paper upcycling, pengganti bahan Plastik di masa depan?

Pernah mendengar sebuah berita yang hits di November 2018 lalu? Seekor Paus yang ditemukan mati di Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan perutnya ditemukan ogokan plastik seberat 6 kilogram. Kondisi ini tentu memberikan sinyal, jika sampah Plastik sudah kian membumi, bukan?

Oleh sebab itu, fenomena tadi wajar menjadi alasan Pemerintah, lekas menerbitkan peraturan pengetatan pemakaian plastik di kehidupan kita pada saat itu.

Tapi, disisi lain, pembatasan plastik tadi, malah turut membuat permintaan bahan kertas, kotak kertas dan tas kertas melonjak drastis.

Hal itu makin terlihat jelas, kala kita menjalani kehidupan Pandemi lalu? Dimana sudah berhasil memanja aktivitas pesan-antar makanan, yang mulai dominan menggunakan bahan kertas sebagai media pembungkus makanan nya.

Dan akhirnya, aktivitas di rumah saja, malah tega menjadikan sampah Kertas bertebaran massif jua, menyaingi tumpukan sampah plastik yang rumit terurai di mana-mana.

Namun, bersyukurlah, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) terkini, mudah pula membukakan sebuah jawaban, atas pertanyaan tadi, bukan?

Dimana, jika produk pembungkus belanjaan, ternyata sudah mampu juga diusahakan dari produk-produk nanoselulosa atau cellulose nanopaper (CNP). Produk Cellulose nanopaper merupakan produk yang memiliki kekuatan, sifat optis, stabilitas termalnya. koefisien ekspansi termal, penghalangan oksigen hingga biodegradabilitas yang baik. 

Dan produk CNP, ini hanya bisa dihasilkan dari sebuah teknologi suspensi nanoselulosa, yang diambil bahan organik yakni kayu.

Nah, kemajuan Iptek ini, tentu mudah menguatkan jua ikhtiar bersama, jika Paper upcycling pastilah akan mampu jua menyempurnakan dan melengkapi proses transisi pergantian peran plastik oleh bahan kertas, di masa depan?

Sekaligus menjadikan aksi-aksi upcycling paper itu, sebuah peluang usaha baru, memanjakan lagi sustainable living yang hadir di kehidupan modern kini dan nanti.

Saatnya mengembalikan sustainable living lampau, ke kehidupan modern kini!

Harus diakui sajalah, jika bahan kertas memang sedari dahulu menjadi barang yang teramat penting di kehidupan manusia ya?

Membayangkan saja, atas ketiadaan kertas, mungkin saja kita tidak pernah mengenal bagaimana cara alam menyediakan ragam jenis pohon, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dulu.

Dimana masyarakat adat/lokal dahulu, mampu jua merasakan nikmatnya sustainable living kala hidup berkelindan dengan kekayaan sumber daya hutan Indonesia.

Parameter esensi sustainable living masyarakat dahulu, selalu mengajarkan Proporsionalitas penggunaan komoditas kayu di alam, untuk mencukupi –hanya— kebutuhan kehidupan mereka. Sehingga alam akan selalu siap  memberikan apa yang manusia butuhkan dari alam, pada saat itu.

Nah, ingat Daluang? Kertas tradisional yang dibuat dari kayu Saeh, lewat langkah rumit, oleh masyarakat tradisonal yang berhasil memberikan sebuah produk kertas tradisional yang tahan lama dan ramah lingkungan.

Dan dalam perjalanannya dari dulu, kertas Daluang berhasil menjadi media penyimpan tulisan-tulisan naskah kuno, Al-Quran, naskah khutbah Idul fitri. 

Meski berumur tua, ada pula dari beberapa dari lembaran Daluang masih terpajang di Museum Cangkuang, yang mudah menjadi saksi sebuah kisah sustainable living masyarakat dahulu, yang mudah hidup berdampingan dengan alam, tanpa beban sampah.

Nah, akhirnya produk Paper upcycling dari kertas Daluang yang langka dikerjakan –salah satunya– masyarakat tradisonal di Garut, berhasil dibentuk dan dipergunakan sebagai kertas menu di Restoran-restoran ala Jepang, karena sifatnya yang tahan lama, kuat dan ramah lingkungan.

Bagaimana menempa kertas ramah lingkungan, Daluang?

Kertas Daluang yang menceritakan kisah sustainable living  di kehdiupan tradisional
Kertas Daluang yang menceritakan kisah sustainable living di kehdiupan tradisional

Nah, jika diamati, pembuatan kertas Daluang ini memang memerlukan proses yang lama nan rumit.

Proses itu dimulai dari pemilihan kayu Saeh yang boleh berumur 1-2 tahunan, lalu memotong batangnya yang jumlahnya harus disesuaikan dengan kebutuhan lembaran kertas yang ingin dihasilkan saja.

Lantas dilanjutkan dengan aktivitas menguliti kulit kayunya hingga pangkal, dan membuang arinya.

Tidak sampai disitu, prosesnya berlanjut ke perendaman selama tiga harian, agar menjadi lunak.

Lantas kulit kayu ditumbuk hingga melar melebar, dan diperam dengan cara menumpuknya dalam wadah.

Proses akhirnya, adalah, penjemuran dengan cara ditempelkan ke pohon pisang. Lantas, ketika sudah kering, bahan tadi tingal sesuai ukuran kertas yang diperlukan.

Wah jika ditotal perlu waktu seminggu, untuk membuat lembaran-lembaran kertas Daluang itu. Jika Daluang masih memaksa melayani kebutuhan kertas masyarakat modern kini, tentu tidaklah mungkin ya? Berapa banyak pohon Saeh yang akan ditebang?

Namun harus disadari jika dahulu memang bukanlah sekarang. Kebutuhan kertas global kian deras saja, dan otomatis menjadikan tuntutan bahan kayu dari alam, menjadi tidak proporsional lagi.

Hal itu sudah terbukti mampu mengganggu fungsi ekologis hutan kini, lewat ancaman global warming, atas kerusakan fungsi hutan.

Nah, bila kita berhitung-hitung dalam sebuah tren saja, dimana satu pohon penghasil kertas –dahulu— idealnya membutuhkan waktu sekitar 50-100 tahun untuk layak menjadi ukuran kayu yang bermanfaat.

Setelah ditebang hanya menghasilkan 17 bundel kertas, dengan rincian 500 lembar per bundelnya. Sehingga satu pohon idealnya memproduksi 8.500 lembar kertas dalam berbagai ukuran..

Artinya, dalam menjalani sustainable living, tentu kita harus sanggup melakukan perhitungan serius bagi diri pribadi, atas penggunaan kertas harian kita itu, bukan?

Misalkan saja, jika diriku –siapa saja– menggunakan 10 ribu lembar kertas setahun untuk keperluan pekerjaan apa saja per tahunnya di kantor.

Aku harus pula tahu, dengan cara apa diriku harus mau dan mampu bertanggung jawab, atas 1 pohon yang digunakan atas kertas itu?

Nah mental atau pertanggung jawaban inilah yang akan menjadi tuntutan dalam penciptaan kesempurnaan sustainable living itu di masa depan. Tapi sanggupkah aku menjawabnya ya?

Massifnya penebangan pohon dalam pemanfaatan komoditas kayu salah satunya sebagai bahan baku kertas
Massifnya penebangan pohon dalam pemanfaatan komoditas kayu salah satunya sebagai bahan baku kertas I Dokpri

Dan sebagai jalan tengah, menjawab kesanggupan itu, memang sudah selayaknya kita semua harus memahami dua faktor penting di bawah ini, mempertimbangkan pemlihan produk kertas, mendukung hadirnya sustainable living di kehidupan modern mendampingi aksi-aksi Paper upcycling massif kita.

Nah mau tahu apa saja dua faktor itu?

1. Memastikan ilmu Pengetahuan dan Teknologi, sebagai rujukan pemanfaatan Sumber Daya Alam

Maka nikmat mana lagi yang kita dustakan atas kayu? Hal itu bisa menjadi ungkapan takjub bagi siapa saja kala kita mengetahui ragam manfaat kayu yang disiarkan lewat riset ilmu pengetahuan terkini.

Jika dahulu, pohon hanya ditebang lantas diambil kayu dan kulitnya, untuk bahan bangunan hingga pakaian, dan beberapa jenis kayu dapat digunakan untuk bahan kertas.

Maka hasil penelitian Iptek terkini sudah mampu menemukan manfaat komponen primer dan sekunder dari kayu yang dapat membentuk sebuah produk baru dan bermanfaat.

Nah, kayu yang merupakan bahan organik, sejatinya memiliki sebuah komponen zat penyusun kayunya yang salah-satunya bernama Selulosa.

Dari satu item zat Selulosa ini saja, ternyata juga sudah mampu memproduksi ragam produk derivat berguna lainnya, yang bisa digunakan ragam produk baru.

Selulosa dari kayu, bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pulp untuk bahan baku papan serat dan juga kertas.

Pengembangan IPTEK untuk memanfaakan komoditas kayu menciptakan Sustainable living masa depan
Pengembangan IPTEK untuk memanfaakan komoditas kayu menciptakan Sustainable living masa depan

Selain itu bisa menghasilkan benang rayon atau rayon viskosa yang digunakan untuk bahan kain viscose dan juga benang, yang pasti akan memanja aksi sustainable fashion global selain upcycling paper, mendukung kepedulian bumi.

Lantas produk turunan dari Selulosa yang lain,juga tengah dikembangkan menjadi Bioetanol pengganti BBM Fosil. Dan produk penting yang juga sedang diusahakan dari produk Selulosa kayu, yakni bahan nanoselulosa.

Dimana lembaran nanoselulosa yang tipis dan transparan tengah dikembangan menjadi kertas nanopaper. Nah, produk bahan nanoselulosa inilah yang digadang-gadang akan mampu menggantikan peran plastik di masa depan, yang sifatnya juga mudah terdegradasi ke alam. Kita tunggu saja!

2. Memastikan Industri hulu kertas dalam negeri, mengusung konsep berkeberlanjutan

Nah di Indonesia, memang pemanfaatan selulosa masih dominan digunakan untuk memproduksi pulp dan kertas.

Dan untuk mendukung kebutuhan bahan kertas dari kayu hutan yang lestari. Pemerintah juga sudah mengadopsi konsep ekonomi sirkular, di dalam visi Indonesia 2045.

Hal itulah yang menjadikan penegasan bagi industri hulu kertas, dalam masa transisi ini untuk mampu menjadikan Iptek sebagai rujukan dalam memproduksi bahan baku kertas dalam negeri, agar produktivitasnya lebih efektif dan efisien.

Nah, dalam prakteknya, pemanfaatan jenis kayu sebagai bahan baku kertas itu, kini sudah mengandalkan jenis spesialisasi pohon tertentu saja, dengan keunggulannya yang cepat tumbuh dan mudah dipanen, seperti Acacia spp serta Eucalyptus spp.

Dan semua semua jenis pohon tadi  juga harus ditumbuhkan di sebuah kawasan khusus yang bernama Hutan Tanaman Industri (HTI).

Oleh sebab itu, konsep keberlanjutan atau Sustainability dalam bisnis SDA yang tergambar di atas, akan menjadi isu sentral, dalam menggerakkan industri hulu kertas dalam negeri.

Konsep keberlanjutan adalah sebuah upaya memperhatikan penggunaan sumber daya yang tidak bisa diperbaharui. Sehingga nantinya sumber daya itu tidak habis dan bisa terus dipakai secara berkelanjutan.

Dan konsep itu sudah menjadi bukti, oleh banyak sekali perusahaan global yang sudah mampu menerapkan bisnis keberlanjutan.

Dan menjadikan bisnis mereka lebih profesional dan mempunyai kontrol yang kuat serta kepemimpinan bisnis yang visioner.

Dan terpenting konsep keberlanjutan ini akan menekankan efek masa depan dari setiap kebijakan, atau praktik bisnis pada manusia, ekosistem dan ekonomi yang lebih luas lagi.

Sustainable Living with Royal Golden Eagle

Nah, tahukan jika di Indonesia sendiri, tepatnya di kawasan Pangkalan Kerinci, Riau, sudah hadir Asia Pacific Resource International Limited atau APRIL?

APRIL Group, merupakan jaringan global Royal Golden Eagle (RGE) yang telah lama mengaplikasikan teknologi mutakhir yang bersumber pada Iptek dalam memanfaatkan sumber daya alam, termasuk komoditas kayu di banyak negara dunia.

Nah, PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), merupakan unit bisnis APRIL Group, yang berhasil menggerakkan roda ekonomi kawasan Pangkalan Kerinci, Riau atas operasional pabrik Pulp dan Kertasnya di sana.

APRIL Group, menggarap lahan konsesi 1 Juta Ha, yang diperuntukan untuk memasok kebutuhan bahan baku Pulp dan kertas, lewat pengelolaan hutan tanaman terbaiknya.

Dan dalam prakteknya, dari lahan seluas  1 Juta Ha lahan konsesi, hanya sekitar 480 ribu Ha saja yang dikelola sebagai perkebunan berkelanjutan, yang sengaja ditumbuhi jenis pohon bahan baku kertas/pulp terbarukan generasi ketiga, dan keempat yang pertama kali ditanam pada 1993.

Nah sisa lahannya, sudah dimanfaatkan sebagai infrastruktur publik masyarakat sekitar, area konservasi dan juga restorasi ekosistem.

APRIL Group produsen Pulp dan Kertas terbaik

APRIL Group kini tumbuh menjadi produsen Pulp terpandang di Asia, karena berhasil mengoperasionalkan teknologi pengolahan hasil hutan mutakhir, dalam menyediakan produk pulp dan kertas berkelas premium, lewat prinsip-prinsip efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan energi dan air dan kontrol emisi udara.

Dan, Grade produk Pulp sudah bersertifikasi PEFC, yang menjaminkan jika bahan baku Pulp asli berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan, dan bernilai ekologi, ekonomi dan juga sosial.

Nah, produk Pulp sendiri adalah bahan dasar membentuk produk berbahan dasar kertas.

Dengan sumber daya yang dimiliki, APRIL Group, berhasil memproduksi hingga 2,8 juta ton pulp dan 1,15 juta ton kertas per tahunnya.

Dan, APRIL Group kini terus berfokus, untuk terus meningkatkan jumlah konsumen pengguna produk berbahan dasar, kertas dan papan global, dalam ikut menciptakan Sustainable Living with Royal Golden Eagle (RGE) di penjuru dunia.

Mampukan Upcycling paper, mendaur-ulang mental peduli lingkungan generasi muda demi sustainable living ?

Nah, setelah membaca tulisan hingga titik ini, pastilah akan mudah ya, memahami makna atas proses kreativitas upcycling itu?

Dimana dengan dasar kemajuan Iptek, akhirnya mudah saja menjadikan komoditas kayu menyediakan banyak produk yang bermanfaat bagi kehidupan kita,  ditambah nilai keberlanjutan, dan ramah lingkungan.

Dan, pada akhirnya kertas  akan menjadikan sebuah pemahaman atas proses upcycling dari bahan organik kayu, yang sangat mudah kita rasakan manfaatnya.

Dan untuk membuktikan hal itu, ternyata sangatlah gampang! Cobalah menggunakan kertas dengan brand PaperOne™ yakni produk kertas yang dihasilkan dari pabrikan APRIL Group itu sekarang!

Kertas Paper One, produksi APRIL Group menjadikan Sustainable Living kian nyata
Kertas Paper One, produksi APRIL Group menjadikan Sustainable Living kian nyata I Dokpri

Melihat saja fisik dari kertas PaperOne™ lebih seksama, pasti akan mudah merasakan penilaian atas kualitas premiumnya yang berbahan 100% serat perkebunan terbarukan.

Lewat sentuhan teknologi HD Print Teknologi juga akan nyata andil menghasilkan kualitas yang lebih unggul, menyesuaikan keperluan percetakan kertas, dengan teknologi inkjet dan xerographic.

Karena Kertas PaperOne™ memang sengaja diciptakan 3 kali lebih halus dan 33% lebih kuat, dikarenakan materialnya yang 100% elemental chlorine free (ECF) pulp.

Nah, artinya  PaperOne™ yang tersedia dalam dua bobot yakni yakni 8,5g/m2 dan 100g/m2 ini akan selalu siap menjadi penunjang dalam menjalani aktivitas apapun di mana saja.

Benarkah sustainable living RGE antara ada dan tiada sih?

Kertas Paper One sudah tesedia di mana saja untuk dapat dimanfaatkan menunjan Sustainable masa depan
Kertas Paper One sudah tesedia di mana saja untuk dapat dimanfaatkan menunjan Sustainable masa depan I Dokpri

Keberadaan kertas yang bernilai sustainability, tentu akan menjadikan sebuah realita terciptanya sustainable living  itu, bukan?

Dengan menggunakan kertas PaperOne™ kita akan mudah menyanggupi ragam tanggung jawab dalam diri kita atas bahan baku pohon yang digunakan. Misalnya :

  1. Kita tidak perlu ragu lagi, jika produksi kertas PaperOne™ akan mengancam kelestarian hutan, terlebih fungsi ekologisnya, bukan? Karena mekanisme pengelolaan perkebunan berkelanjutan APRIL Group telah menjadikan sebuah solusi pemanfaatan sumber daya alam secara bijak..
  2. Proses Upcycling dari komoditas kayu ke produk kertas PaperOne™, berhasil pula memberikan banyak manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat dan pekerja di industri hulu dan hilir kertas APRIL Group, di pangkalan Kerinci Riau. Dan operasionalnya mampu menjadikan pondasi ekonomi negara lebih baik, lewat aktivitas ekspor-impor produknya.
  3. Lantas, nilai-nilai keberlanjutan, lewat ekonomi sirkular kertas PaperOne™, akan memungkinkan juga hadirnya proses recycle yang juga mudah dilakukan, lewat teknologi Recycle untuk mengurai limbah kertas sebagai konsekuensi produksi kertas.
  4. Terakhir, dan yang penting sekali,  dengan skill Upcycling paper yang kita miliki, tentu akan lebih meyakinkan lagi, kebermanfaatan limbah kertas menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai guna. Sekaligus skill Upcycling paper mudah memastikan dan menyempurnakan keteruraian limbah kertas di alam, selain proses recycle yang juga akan terus dimasifkan.

Nah, itu tandanya, kala memahami dan berhasil menjalani keempat tahapan ini, tentu saja kita akan mampu menemukan jawaban realitas , jika sustainable living  benar ada dan menyapa kehidupan modern kita, sekarang!

Tiga Artikel Wadai paling Populer, Yuk Klik-in!

1 comment

error: Content is protected !!