Dan… Siapakah Yang Sudah Tergoda Rayuan Gombal 01 dan 02 ?

Dengarlah sayangku, tiada yang lain saat ini, engkaulah yanga ada di hati, engkau yang ada di hatii…”

Bait lagu rayuan gombal ala-ala Judika di atas bisa jadi membuat hati kita tersayat-sayat gitu deh mendengarnya. Namanya juga rayuan gombal, bisa bo’ong bisa bener, pastilah si dia ada maunya! Ah, apalagi kalau bukan cintah darimu.

Tapi gimana ya jika si dia yang ngebet ama kita, lebih dari satu orang dan ngerayu-ngerayu gombal terus di depan kita, jadi bingung pilih siapa? Semuanya aja bole? Ah, masak mau jadi poligami atau poliandri ! Pilih salah satu dong.

Jika kamu sudah lulus rayuan soal percintaan. Nah saatnya kamu harus mencoba  menahan  rayuan dahsyat para politisi di musim politik saat ini.

Sangking dahsyatnya puisinya bisa mengajak kita terbang dan berimajinasi tentang masa depan –menembus surga dan neraka– yang mereka akan perbuat lewat tangan-tangan yang memegang erat kekuasaan nanti.

Rayuan mautnya mungkin bisa saja, memecah belah hati kamu, antar cinta dan benci dan bisa saja menggiring kamu ke dalam fanatisme buta soal politik. Ya seperti memuja-muji dia dan sharing semua tingkah laku dia di media sosial. Ayo ngaku!

Nah, jika memang sudah bulat, terpapar puisi dan rayuan ala politisi untuk meyerahkan suaramu di bilik suaranya di hari pencoblosan. Ya selamat, itu berarti kamu sudah bisa memilih satu dari dua, dan dapat menyaring satu keputusan dari banyak pertimbangan rayuan lainnya.

Jujur saja, dari sisi Politisi sebenarnya berat juga kali menyusun rayuan gombal yang tepat ditembakkan untuk para pemilihnya seperti kita. Apalagi seiring dengan waktu, masyarakat semakin berakal untuk menentukan suaranya.

Eits, terus bagaimana nasib Millenial yang baru mengirup udara demokrasi saat ini? Pasti klepek-klepek deh dibuatnya! Dengan janji dan harapan dalam setiap slogan dan tagline perjuangan para kandididat yang terpampang nanti dalam kertas suara itu.

Hey, rayuan gombal ala Politisi itu sebenarnya buat Swing Voters Millenial!

Kalau menurut saya, pesta politik dalam ajang Pilpres di tahun 2019 ini, adalah pengulangan Pilpres 2014 lalu, karena kontestan tetap saja berhadapan antara Pak Jokowi vs Pak Prabowo.

Artinya kecenderungan pemilih yang mendukung agenda Pilpres 01 dan 02 relatif bisa jadi sama dengan Pilpres 2014 lalu, terlebih hasil akhirnya.

Lain hal jika kandidat penantang petahana berbeda. Coba lihat saja, bagi kamu yang Pilpres 2014 mencoblos  Pak Jokowi bisa jadi fix coblos ke 01 dan juga Pak Prabowo pasti ke 02 pada pencoblosan nanti.

Sehingga pekerjaan rumahnya para politisi adalah bangaimana merayu habis-habisan para swing-voters yang masih malu-malu kucing memilih 01 atau 02 plus-plus wakil legeslator mereka via Partai Politik.

Penampakan swing-voter itu memang nyata, yang tergambar dalam bermacam hasil survey elektabilitas banyak Surveyor politik.

Hasil Survey Poltracking terbaru misalnya mencatat ada 7 % Swing-voters yang direbutkan kedua pasang calon dan koalisi partainya. Ini adalah satu contoh saja, bisa saja angka Swing-voters itu membesar dan mengecil di survey lainnya.

Rayuan Gombal, Ujian buat Millenial?

Ada sekitar 23% dari DPT 2019 adalah Millenial, dan 5 juta DPT dalam kelompok itu itu adalah pemilih pemula yang baru merasakan berada di bilik suara. Dan selama ini, banyak kali kita lihat rayuan ala-ala Politisi menyisir segmen Millineal untuk menyerahkan suara mereka yang berharga itu.

Kita mulai saja membuka apa saja sih jenis rayuan gombal yang sering dilancarkan penggombal politik di tahun politik seperti.

1. Kampanye

Tahun politik ya memang waktunya berkampanye. Kampanye sendiri awamnya adalah kegiatan berjualan dalam menyebarkan program kerjanya jika terpilih nanti, lewat macam kegiatan.

Ada banyak rayuan sih, misalkan program populis untuk Millineal, pajak kendaraan dan biaya SIM yang terjangkau. Program pelatihan dan akses pekerjaan yang mudah. Lalu ada juga pelatihan untuk menjadi pengusaha sukses.

https://wadahkata.id/ulang-tahun-btn-yang-ke-69/

Hingga kemudahan dalam menjalani ujian di sekolah dengan menghapuskan kebijakan UAN misalkan. Hal tadi bisa jadi rayuan maut  yang dilontarkan oleh agenda kerja 01 maupun 02.

Sebenarnya memang  rayuan tadi adalah impian kita bersama sih! Namun apakah Millineal yakin dan menyaring dimana letak kemudahan dari perwujudan janji janji mereka itu ditepati nantinya? Dan apakah mereka malah mau menelan mentah-mentah. Dan itu pilihan sih!

Nah, oleh sebab itu, alat canggih di genggaman tangan berupa smartphone tentu diharapkan membuat para Millenial bisa ikutan smart –dikit– dalam menyaring kebenaran rayuan gombal politisi.

Caranya, ya browsing saja, cek dan ricek apa saja yang menjadi kebenaran dari rayuan gombal yang masuk dalam otak kita.

Dan menurut saya, jenis rayuan semcam ini juga masih fifty-fifty untuk bisa meyakinkan swing-voters terutama Millenial.

Rayuan kampanye berupa pamplet, poster dan aneka kampanye verbal perdebatan akan menjadi suasana yang menyebalkan buat Millineal untuk memilih.

Ya mungkin ada saja juga yang menyukai perdebatan dalam melambungkan program kerja masing-masing kandidat.

Sehingga akhirnya, mereka memilih kandidat dari hal kesukaannya saja bukan benar atau tidaknya. Apa yang disuka oleh komunitasnya ya cenderung itulah pilihannya. Apalagi, keluarganya ada juga yang mencalonkan menjadi Caleg, bisa jadi itu langsung terasosiasi deh dengan lingkaran kandidat Capres.

2. Endorsement tokoh

Lagi ramai, tokoh mulai dari artis hingga tokoh agama meng-endorse masing-masing kandidat. Upaya sih, ingin menarik millenial yang suka dengan figur tokoh tadi. Sukur-sukur upaya ini bisa menjaring swing-voter. Tapi kebanyakan sih, fungsinya tetap hanya menebalkan dan memantapkan keyakinan pemilih yang sudah menentukan pilihan.

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Jika referensinya soal endorsment tokoh untuk  memilih kandidiat, bisa jadi alternatif yang efektif. Dimana keduanya juga sama-sama memiliki tokoh yang central, terlebih tokoh agama.

Jika dikaitkan dengan halal-haram dalam memilih kandidat atas dasar penafsiran tokoh agama tadi dalam memilih, ini bakal jadi seru lagi. Tapi sekali lagi, kedua kubu baik 01 dan 02 punya tokoh agama yang bisa diikuti menjadi rekomendasi memilihnya.

Hah, ini soal keyakinan saja sih. Tapi jika para Swing-voters para millineal belum memiliki keyakinan yang kuat, ya jadi kurang efektif lagi sih, rayuannya ini mas bro!

3. Serangan fajar

Ini rayuan keras, yang dirasa sangat efektif merangkul swing-voters untuk memilih salah satu kandidiat. Iya amplop. Rayuan ini bisa menembus semua kalangan, termasuk Millenial.

Siapa yang tidak suka uang kan? karena tanpa dipungkiri ada saja para pemilih yang menunggu momen ini untuk menentukan pilihan.

Tapi cara menggombal seperti ini, harus berhadapan dengan hukum lho. Karena bagi siapa saja yang melakukan money-politik bisa terjerat pasal 523 ayat 3 UU no 7 Tahun 2016 tentang Pemilu. Lumayan hukumannya 3 tahun dan denda Rp 36 juta. Inget guys!

Meski hadangannya hukum, gombalan macam ini, tentu masih masif dilakukan oleh masing-masing kandidat. Itu terlihat dari banyak penangkapan oknum yang terlibat serangan fajar untuk pembagian amplop pemilih oleh Bawaslu dan aparat.

Nah ketiga rayuan di atas tentu saja bisa meluluh-latantahkan hatimu dan akhirnya rela menyerahkan suaramu kepada kandidat calon penguasa dalam lembaran kertas suara nanti kan? Namanya juga usaha-kan?

Karena pada hakikatnya, semua calon yang maju dalam perhelatan Pemilu ini, baik anggota legeslator dari tingkat kota hingga pusat, termasuk Presiden sekalipun.

Mereka memiliki tekad yang satu, apalagi kalau bukan untuk berbuat terbaik untuk negara Indonesia. Ini Klise, tapi pasti akan dipercaya oleh masing-masing pemilihnya nanti.

Kira-kira mana sih rayuan gombal yang kena di hati kamu? Satu, dua atau tiga. Jika sudah tergoda oleh rayuan itu, ya lekas saja coblos di TPS nanti ya! Karena Demokrasi hanya berurusan soal angka. Siapa terbanyak, dialah sang pemenang!

Photo Pexels

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Tiga Artikel Wadai paling Populer, Yuk Klik-in!

error: Content is protected !!