Jika Jadi Presiden, Saya Akan Ganti Susu Sapi Dengan Susu Kecoa? Ngacooo!

“Kalau sapi pastilah punya susu, besar lagi. Lha kalau kecoa, kayak apa susunya?”

Aih belum apa-apa sudah nyinyir nih, kan saya belum jadi Presiden. Ya suka-suka saja, saya mulai mencoba menelurkan ide yang out-of-thebox –alaah—

Sebagai pemilik suara yang melimpah di Pemilu nanti, sayadari sekarang memang sudah mulai aktive mendengarkan keluhan emak-emak yang menjerit akibat mahalnya harga susu sapi di pasaran.

Selain itu, saya juga juga miris dan prihatin –aihh—melihat anak sapi yang harus berbagi susu induk mereka untuk dijadikan susu para balita emak-emak. Walau saya juga kadang kepo’ bertanya buat apa dan siapa susu orangtua mereka selama ini? –upss—

Malah, dewasa soal masalah susu sudah menjadi bancakan politik oleh salah satu Capres/Cawapres dengan usul revolusi putih, yang bermaksud membagikan susu kepada seluruh anak-anak Indonesia.

Susu itu diharapkan membuat generasi muda kita tumbuh sehat dan kuat. Luar biasa !

Tapi mungkin kita baru sadar, jika produksi susu sapi merupakan kontributor pada efek rumah kaca, yang saat ini banyak mendapat sorotan aktivis lingkungan.

Sehingga ya produksi susu sapi harusnya juga bisa aga-aga paham gitu tentang perubahan lingkungan saat ini.

Berbicara susu, saya kok kepikiran dengan susu kecoa. Saya mengetahui ketika tidak sengaja membaca jurnal penilitian dari IUCrJ yang teksnya berbahasa Inggris –seeeeh—

Nah dikatakan semenjak tahun 2016, ketika ada satu tim penelitian menemukan  kristal protein yang ditemukan pada usus tengah kecoak.

Dan itu mereka yakini sebagai susu kecoa. Nah setelah diteliti, mereka menemukan data jika protein pada kecoak itu empat kali lebih bergizi dari susu sapi.

Hal itu yang menjadi ide mengawang bagaimana di masa yang akan datang, penemuan ini bisa menjadi alternative pengganti susu sapi yang lezat namun mahal itu.

Tapi jangan salah, tidak semua kecoa yang mempunyai susu lho? Kecoa dari jenis Diploptera Punctate saja yang bisa menghasilkan makanan bagi anak meraka yang mereka lahirkan bukan telurkan.

Nah kecoa jenis ini mengeluarkan cairan yang memiliki kandungan lemak, gula dan protein ya seperti yang terkadnung dalam cucu sapi.

Dan ketika anak-anak kecoa konsumsi cairan tubuh tadi, di dalam tubuh mereka cairan itu akan mengkristal berwarna putih yang terletak dalam usus mereka.

Nutrisi yang dikandungnya itulah yang akan membuat anak-anak kecoa terliaht sehat selama masa pertumbuhan yang amat pesat.

Ilustrasi Kecoa | pexels.com

Sebenaranya cairan itu sudah menjadi perbincangan para ahli serangga, namun mereka belum mengetahui jika cairan itu mengandung protein yang lebih daripada susu sapi. Eh, setelah diteliti, protein susu kecoa memang numero uno.

Nah, selanjutnya tim peneliti dari dari Institute of stem Biology and Regenerative Medicine di India itu saat ini kabarnya sedang mengurutkan gen-gen yang bertanggungjawab dalam proses produksi kristal putih itu.

Siapa tahu bisa mereplika protein itu di laboratorium. Termasuk mencoba mengetahui apakah protein itu aman jika dikonsumsi manusia?

Eh ternyata bukan hanya itu, kristal putih ajaib yang dikira susu tadi, ternyata bersifat time release. Apaan itu? bisa melepaskan zat aktive secara bertahap.

Nah, doa-kan ai, jika nanti suatu saat saya bersedia menjadi Capres di Republik ini, saya tentu akan dorong penelitian ini agar berjalan dan tentu saja hasilnya bisa membantu emak-emak menekan pengeluaran berbelanja akibat harga susu yang mahal.

Ini solusi lho, buka retorika terlebih hoak!

Karena, saya yakin, jika saya selalu hanya mengatakan untuk berjanji dan berjanji menekan harga susu dan membuat harganya murah, tentu para emak-emak banyak yang tertawa.

Hah, saya akan malu ah, karena ucapan itu  mah kampanye standart.. Anak kecil juga bisah!

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Tinggalkan Balasan