Bagaimana Cara Melangkah Maju, Menghadirkan Kemandiran Itu Ya?

Tugu

Langkah bersama kita untuk mandiri berasuransi lewat Tugu Insurance, tentu akan bermuara pada proses kesejahteraan yang kita impikan.


Kapan Pandemi ini berakhir? Jawaban itulah yang kita nantikan bersama. Namun minimal, kini kita sudah mampu meresapi pelajaran berharga atas Pandemi ini kan? Yakni menyadari benar, jika kemandirian itu –memang- menjadi kunci untuk bangkit dari keterpurukan kita.

Lihatlah kini,  dimana jurang Resesi  sudah menginfeksi roda ekonomi, dan menularinya kembali ke banyak aktivitas sosial masyarakat. Dan –malah- berhasil mengajarkan, duh betapa perihnya arti merugi itu kan?

Lebih mendalam lagi, Pandemi juga memberikan bukti, jika faktor resiko itu memang benar-benar nyata-adanya. Akhirnya, sisi ekonomi dan kesehatan menjadi pertaruhan seru saat ini. Perusahaan besar hingga UMKM luput terhempas badai Pandemi, dan akhirnya gulung tikar, dimana hampir 50% dari jumlah UMKM kita sudah merasakannya.

Dan hal yang –pasti- menjadi attensi kita, adalah masih tingginya angka resiko kematian akibat komplikasi penyakit masyarakat yang  terpapar Covid-19. Lalu, jika sudah begini, dan kita terpaksa mendapatinya, kemanakah kita harus mengadu?

Hal di atas menjadi kode keras, jika di masa Pandemi ini, kita ya harus benar-benar bersiap-siap berfikir, untuk bisa melangkah maju. Meski ya –sementara- kita hanya berada di rumah saja.

Salah satu caranya yakni dengan mengawalinya, lewat pengelolaan segala resiko tadi, yang bersangkut-paut atas aktivitas ekonomi kita, serta diri –jiwa/kesehatan- kini dan di masa depan. Guna membentuk mental kemandirian dalam diri kita.

Nah semangat mewujudkan kemandirian bersama, dengan bersiap berani lebih baik di masa new-normal ini, memang seharusnya terus menyala kan? Namun apakah kita yakin bisa mewujudkannya ya?

Patutkah resiko menjadi masalah kehidupan?

Hiruk-pikuk alam demokrasi yang sedang kita hirup kini, tanpa sadar, sudah memanja kehidupan kita kan? Salah satunya, lewat perhatian Pemerintah, yang memperjuangkan arti kesejahteraan.

Program subsidi, -misalnya- biasa menjadi bancakan dalam setiap pesta demokrasi. Tujuannya tentu saja mulia, menalangi kerugian sosial yang terjadi, yang menjadi beban hidup masyarakat.

Meski kita merasakan jua semakin kemari, terdapat batasan status sosial, dimana masyarakat miskin menjadi prioritas penerimannya. Dan pastilah kita, berusaha untuk tidak ingin masuk dalam golongan itu kan?

Nah, saya jadi teringat –dahulu- Pemerintah daerah di domisili saya–Samarinda- juga banyak menawarkan program program sejenis. Sebut saja, akses kesehatan, tentu akan memanja satu dari banyak resiko kehidupan masyarakat.

Namun semakin kemari, menjelang, dan bertepatan di masa Pandemi. Pemerintah dan masyarakat semakin menjadi sadar, jika ongkos memanja resiko itu mahal harganya.

Realitanya, Pemerintah mau-tidak-mau perlahan meninggalkan zona nyaman atas program bersubsidi tadi kan? Dan mulai mengajarkan arti kemandirian, -meski pahit- lewat tawaran pembayaran akses kesehatan yang terjangkau.

Artinya, tak mudah –lagi- menemukan program gratisan, meski satus sosial keluarga miskin masih menjadi batasan penerimanya. Satu kata kunci, jika kemandirian kita sudah sedang diuji.

Sebenarnya kita bisa saja mengambil kesimpulan, betapa menganganya potensi resiko kerugian itu, kapan saja, terjadi tetiba dan tanpa sengaja. Termasuk hal sentimentil harian kita, misalkan resiko diri –kesehatan/jiwa- beserta aset kita, kala melakukan aktivitas di jalan raya. Sadarkah kita?

Korlantas Polri 2019 saja menyebut ada 12 kecelakaan lalu lintas, 3-4 orang meninggal dunia setiap jamnya. Satu orang meninggal setiap 2 kasus kecelakaan. Kemudian satu dari lima orang korban kecelakaan meninggal dunia.

Sepanjang 2019 ada 166.847 orang korban kecelakaan. Sebanyak 8.80% berusia di bawah 15 tahun dan 37.69% berusia produktif 15-40 tahun.

Nah realitas tadi, menjadi cermin, untuk kita segera bersikap, jika kemandirian tadi harusnya juga bisa memanja resiko pada hal terkecil-pun. Dan sangatlah penting dilakukan sejak dini.

Memanja resiko lewat asuransi, wujud serius mengawali kemandirian kita?

Nah, jelaslah kini, jika sisi ekonomi dan kesehatan, sudah menjadi korban utama resiko Pandemi kini kan? Dan rasanya dampak negatifnya sudah membuat kepedulian dan nilai kemandirian kita untuk memproteksi segala resiko aktivitas seharusnya menjadi mantap.

Dan harapan itu nampaknya selaras dengan Survei Inventure Indonesia bersama Alvara Research Center, yang menyebutkan, Pandemi sudah membuat masyarakat sadar pentingnya berasuransi jiwa dan kesehatan. Dalam survei itu, mengatakan sebanyak 78.75% responden semakin sadar untuk lekas memiliki asuransi jiwa dan kesehatan di masa Pandemi ini. Apakah itu termasuk kita ya?

Nah saya mencoba menarik sekali-lagi, hal menyoal ongkos kesehatan yang mahal dan sudah negara berikan akibat massifnya pasien Covid-19, beserta penyakit komplikasi menahun pasiennya.

Dimana setiap pasien rata-rata membutuhkan ongkos pengobatan Rp 184 juta. Kita lantas bisa mudah membayangkan apakah kita sanggup menanggung sendiri ongkos itu, jika terjadi kepada kita di masa depan? Dan apakah kita yakin rela mengeluarkan biaya tadi dengan ikhlas?

Kemungkinan itu bisa saja terjadi, bila saja keuangan negara tidak mencukupi dalam pertanggungannya! Kecuali -berutung- bila kita sudah berasuransi sendiri kan?

Seketika bisa saja, Filosofi “mencegah lebih baik dari mengobati” lekas merasuk di pikiran kita. Di mana kita tidak akan mau merugi, jika telah terproteksi asuransi.

Istilah Asuransi, tentu saja berbicara soal hak dan kewajiban yang kita penuhi sesuai konteks niatan awal berasuransi. Namun ya soal besar-kecil ongkos ber-asuransi tentu saja akan kembali kepada besar-kecil pula resiko apa saja yang kita ingin manjakan.

Apakah kita ingin mengelola resiko diri –jiwa/kesehatan- atau juga proteksi –kerugian- asset kita, serta juga asset lainnya yang kita ingin dilidungi dari peristiwa ‘kecelakaan’ yang tak terduga?

Bagi kita yang sudah berhasil mandiri –berasuransi- saya percaya pastilah bisa menjadikannya sebuah prestasi besar yang telah kita gapai kan?

Tugu Insurance, langkah mudah memulai kemandirian itu sekarang!

Pada rentang Maret-juni 2020 selama Pandemi, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat jumlah klaim perusahaan asuransi mencapai Rp 216.03 miliar untuk 1.642 polis. Padahal Pemerintah sudah menegaskan akan menanggung klaim RS  pasien Covid-19, dan bisa saja menalangi ongkos RS, pada pasien berpolis asuransi swasta.

Fenomena ini lantas membuat mudah untuk mengartikan jika kehadiran asuransi masyarakat benar-benar membantu finansial Pemerintah kan?

Dan dari dana yang diselamatkan atas klaim pasien asuransi, Pemerintah bisa menyalurkannya kembali kepada hal bermanfaat lainnya. Di sinilah wujud kemandirian yang sudah kita bahas akan bernilai tinggi.

Mendapatinya, semestinya kita jadi sadar total, dan sudah bisa menjadikan berasuransi budaya baru yang harus diterapkan di kehidupan kita.

Eh, namun bertanya-tanya lagi nih, apakah –memang- ada biaya asuransi yang terjangkau, dengan jaminan hak yang pasti terpenuhi penyelanggara asuransinya? Dan bukan slogan jualan semata?

Hal ini, bisa saja menjadi pendorong kita mewujudkan kemandirian tadi kan? Satu kata kunci adalah adakah biaya yang terjangkau.

Tunjuk saja, Perusahaan Asuransi PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia, yang terbukti dapat memanja resiko aktivitas terkecil harian kita. Nah, poinnya menurut saya, terdapat dua hal penting, mengapa Tugu Insurance ini, bisa menjadi referensi berasuransi masyarakat yang paling utama itu. Apa saja ya?

1. Tugu Insurance mendapatkan rating long-term issuer credit A

AM Best, penganugrah rating ini adalah lembaga rating kredit Amerika Serikat, yang fokus pada industri asuransi di seluruh dunia. Rating ini akan menilai kelayakan usaha asuransi dengan acuan kemampuannya membayar semua klaim nasabahnya.

Jadi hal ini, tidak menjadi kekhawatiran yang menyoal soal hak klaim nasabah di suatu hari, ketika mendapati kerugian.

Lalu, Penilaian atau penghargaan ini sendiri, juga mencerminkan Perusahaan Tugu Insurance memiliki dukungan operasional bisnis, manajemen bisnis, dan implementasi Enterprise Risk Managemenet (ERM) yang sama baiknya. Dan telah teruji sudah melayani para nasabahnya selama masa pendemi dengan baik.

Nilai itu juga selaras dengan aspek peningkatan profitabilitas Perusahaan serta penyelarasan atas fokus strategis yang lebih baik. Hal itu ditinjau dari berbagai usaha yang dijalankan serta pendekatan kehati-hatian dalam menjalankanya.

2. Tugu Insurance, perusahaan Asuransi terbaik 2020

ThinknovateCom dan Pikiran Rakyat, memberikan apresiasi ini lewat Indonesian Insurance Innovation Award 2020 kepada Tugu Insurance. Dimana dalam event itu, penganugrah sudah menyeleksi 45 perusahan asuransi jiwa dan 50 perusahan asuransi kerugian, berdasarkan kinerja dan inovasi yang dilakukan sepanjang 2019.

Penilaian ini, mencerminkan jika Tugu Insurance dapat melakukan inovasi bisnis asuransi yang efektif, lewat beragam pilihan asuransi. Dimana pilihan tadi, bisa disesuaikan dengan kebutuhan nasabah, yang memajang jenis asuransi terbaik dengan perlindungan lengkap dan biaya terjangkau yang terselip layanan asuransi tdrive, tride dan juga tfracture.

Nah dari dua hal ini,  bisa saja membuat kepercayaan nasabah Asuransi, untuk membedah dan merasakan sendiri jenis asuransi yang ditawarkan. Guna ya mencoba mengawali kemandirian kita yang sebenarnya itu.

Nah apakah kita berani lebih baik dengan mencoba ragam layanan Tugu Insurance, yakni asuransi Koorporasi, Asuransi Retail dan juga asuransi Syariah itu kini?

Membuktikan hadirnya kesejahteraan, lewat kemandirian berasuransi!

Dalam menjalani kehidupan tentu saja kita terus memburu arti sebuah kesejahteraan itu hadir di tengah kita kan?

Analogi yang ada di pikiran kita lekas melayang pada hal keinginan apa saja yang selalu saja bisa terpenuhi. Mau ini, dan itu semua mudah didapat, dan tidak ada lagi kendala biaya yang menghalanginya.

Ilusi kesejahteraan itu bisa saja menjadi hiasan khayalan kita setiap saat. Namun dengan tekad bersama melangkah untuk lebih baik, setidaknya kemandirian lewat berasuransi sudah memberikan bukti dan langkah nyata, jika kita bisa mewujudkan kesejahteraan tadi?

Ya tentu dalam konteks, kita bisa mandiri dapat memenuhi, hal yang kecil yang masih bisa kita tangani, dan kita bisa penuhi, segera.

Langkah bersama kita untuk berasuransi lewat Tugu Insurance, tentu akan bermuara pada pengurangan beban kebijakan bersubsidi negara yang tidak tepat sasaran lagi. Serta mengurangi beban kerugian usaha/masyarakat yang terdampak dalam kecelakaan hingga bencana alam yang tak disengaja terjadi di masa depan.

Semua baban resiko negara yang berkurang atas kemandirian berasuransi kita, tentu saja bisa tersalurkan kembali mewujudkan bentuk kesejahteraan lainnya. Dengan mempermudah banyak akses, seperti pendidikan, permodalan UMKM, Lapangan kerja, pembangunan jalan dan lainnya.

Nah apakah kita siap berani lebih baik sekarang, lewat kemandirian berasuransi kini, demi kesejahteraan yang kita impikan itu?

Koleksi photo : Tugu Insurance (Tugu.com)

Sudah baca artikel ini, belum?

error: Content is protected !!