Menyalurkan Tanggung Jawab Kita Terhadap Sampah Itu Mudah!

Layanan Waste4change menghadirkan kemudahan menyalurkan tanggung jawab  terhadap sampah kita, menjadi manfaat nyata!


Legaa, akhirnya awal tahun 2021 lalu, saya bisa jua dipertemukan Randi, sahabat saya, setelah belasan tahun tidak bersua. Aku sampai tak mengenalinya lagi. Habis, hidungnya yang mancung itu, tak lagi nampak karena selalu tertutup rapat dengan maskernya sih.

Kami janjian bertemu di salah satu rumah makan sederhana di kota Balikpapan. Namun sayang, dia harus balik pulang ke Bandung, sesaat setelah makan siang itu.

Untung saja, mudah sekali menunjuk satu dari sekian banyak rumah makan yang berjejer rapi di kota Balikpapan, untuk berleha-leha sejenak, meski masih dalam kondisi Pandemi begini.

“Hey gimana kabar?” tanyanya, sambil memastikan maskernya yang terus melekat di hidungnya.

“Baik,” sahutku pelan, sambil duduk tenang, mengambil jarak aman di dekat meja makan.

Dia masih saja terlihat sibuk mengeringkan tangannya dengan tissunya, dan menyemprotkan hand-sanitizer berkali-kali ke kedua belah tangannya.

“Nah.. kamu juga harus pakai nih,” ujarnya lagi kepadaku, dan melemparkan botolan hand-sanitizer itu kearahku manja.

Aku mah ikut saja, kusemprotkan sedikit saja, lalu kuusapkan pelan ke dua tanganku. Karena di awal masuk rumah makan tadi, aku juga sudah cuci tangan pakai sabun kok.

Lantas dalam hatiku mbatin, dahulu Randi tidak serajin ini, tingkahnya kini terlalu sempurna saja, untuk selalu menjaga kebersihan. Ada apa ya? Padahal dahulu, ketika kuliah, dia itu rajin menebar puntung rokok ke mana saja, setelah menghisapnya puas.

Apakah benar dia sudah mendapat hidayah di masa Pandemi ini? Dan seakan ia ingin membuktikan jika kebersihan –memang- adalah pangkal kesehatan? Hiks..

Atau mungkinkah dia tersadar, dan harus menunjukkan kepadaku, jika kebersihan adalah sebuah tanggung jawab, dan bukan lagi sekedar niatan mau sehat saja ya?

Ilustrasi tempat sampah terpilah I Dokumentasi pribadi
Ilustrasi tempat sampah terpilah I Dokumentasi pribadi

 

Kebersihan tanggung jawab siapa?

Ya sudah kami memesan makanan, ya menu biasa-lah nasi lalapan beserta lauknya ikan nila, dan teh hangat. Maklum umur kami juga sudah menua, jadi tak perlu neko-neko memilah menu.

Sambil menunggu pesanan, kami berbincang dan sekilas mengamati sekitar rumah makan tadi, yang sebegitu ramainya ini.

Randi lantas menanya soal kesibukanku sekarang ini. Tapi sayang, tidak kujawab, aku malah menembaknya dengan pertanyaan yang sama padanya.

Dan jawaban kita sama, kita masih sedang meramu bisnis apa yang nyaman di masa depan, terlebih masih dalam masa pandemi ini. Akhirnya jawaban itu sudah membuat deadlock perbincangan kami sesaat.

Dia lantas mulai meraih tisu basahnya lagi, dan mengelap kedua telapak tangannya itu. Maklum, dia terlihat teryakinkan dengan menu 3M Pemerintah yang harus dilakukan selama Pandemi ini sih. Tapi menurutku ya baguslah!

Sekilas, kulihat seorang petugas kebersihan rumah makan yang tak jauh dariku sedang fokus mengamati kami. Dengan menggengam sapu dan tempat sampahnya, nampaknya dia menunggu tissu Randi itu jatuh ke lantai agar dia lekas bisa mengeksekusinya.

Randi-pun merasakan hal yang sama, dia merasa diperhatikan juga. Namun, namanya Randi, dia selalu saja bertanggung jawab untuk segera membuang tissunya di pembuangan sampah yang tak jauh juga dari meja kami ini.

Tempat sampahnya yang disediakan juga menarik, terdapat bagian yang memisahkan mana yang organik dan anorganik, sehingga kita mudah tersadar untuk memilih ke bagian mana harus membuangnya.

“Wah padahal tempat makannya biasa saja, tapi kebersihannya TOP banget,” selorohnya kepadaku.

Dari sinilah, hal baru dan menjadi pembuka keseruan perbincangan kami selanjutnya. Ya apalagi kalau bukan bicara soal sampah dan industri sampah di masa depan.

Dan setelah ngobrol asik, terbesit jika masalah sampah –ternyata- bisa juga menjadi peluang sekaligus menunjukkan sikap nyata kita atas kepedulian terhadap bumi ini lho.

 

 

Ini akhirnya seperti menghantarkan paket menu  tri in one saja, ketika kami menyantap makanan di rumah makan itu? Kenyang iya, sehat iya sekaligus membuat bumi mampu tertawa, karena kita spontan, mampu menjaga kebersihan sampah-sampah kita di sana.

Jujur, dari santapan nasi lalapan ikan nila, dan jamuan minuman teh hangat di rumah makan itu, sudah menulari banyak virus-ide baru.

Terutama mampu memecut kesadaran pelanggan rumah makan –termasuk saya- akan manfaat kebersihan, lewat tersedianya fasilitas kebersihan yang sangat layak dan menarik secara komersil.

Hemm, saya yakin sekali pastilah kita akan mudah meraba semua suasana yang kami rasakan pada saat itu kan? Dan syukur-syukur mampu meresapinya pula.

 

Bisnis sampah, mau?

Randi sebenarnya memang sudah lama ingin menggarap bisnis sampah di kota-kota yang ada di Kalimantan. Karena jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Pulau Jawa, permasalahan sampah sudah menjadi masalah besar, sekaligus peluang besar pula untuk dijadikan bisnis.

Namun di Kalimantan sendiri semua peluang itu belum tersalurkan dengan makasimal. Padahal tingkat keseriusan masalah sampah ya sama saja besarnya untuk dihadapi semua Pemerintah daerah.

Dia lantas bercerita lagi, di Bandung misalnya, gerakan peduli memilah sampah –malah- sudah digerakkan dalam skala RT/RW di kawasan Cimahi.

Dengan kesadaran penuh warga RT/RW yang sudah menjadikan sampah masalah bersama, dan berhasil membuat menjaga kebersihan menjadi budaya dan berdaya guna.

Ah, mungkin hal itulah yang bisa menguak rahasia mengapa Randi serajin ini sekarang, iyalah dia sudah mampu menjaga kebersihan sedetail mungkin. Mungkin ya faktor budaya lingkungannya tadi itu.

Lanjutnya, hal yang paling sederhana yang mudah dilakukan di skala komunitas lingkungan mereka, yakni membuat kompos dan budidaya ulat magoot, larva Black Soldier Fly (BSF) dari sampah organik warga. Hasilnya ya akan bisa dimanfaatkan kembali bagi seluruh warga setempat juga.

Aku lantas membandingkannya dengan daerah domisiliku di Samarinda  yang -memang- aku rasa belum maksimal mengelola sampahnya. Terlebih menjadikannya budaya baru, dan juga sebuah peluang bisnis untuk anak mudanya!

Mungkin memang kesadaran warga Samarinda belum naik kelas? Meski berderat peraturan daerah siap menjeratnya atas keacuhan soal sampah. Misalnya hadirnya sanksi tegas buang sampah sembarangan, atau membuang sampah yang bukan waktunya di TPS.

Nah, dan pastilah muara rasa kepedulian kita soal sampah tentu saja akan merambat pada sisi-sisi ekonomi lainnya, dan hal itu pastilah akan menjadi hal yang penting jua dilakukan.

Randi menambahkan, dengan kita sadar dan mampu memilah sampah. Para pemulung atau petugas sampah akan sangat berterimakasih karena terasa mendapatkan dampak ekonominya jua.

Sampah organiknya bisa dibisniskan, sampah anorganiknya bisa juga dibisniskan, jadi tinggal milih yang mana?

 

Namun memang sih dalam praktiknya, jika kita sudah berhasil membiasakan menjaga kebersihan, yang -tidak hanya- membuang sampah terpilahnya saja, namun lebih dari itu, kita mampu memanfaatkan sampah organiknya jua.

Hal tersebut sudah menjadi modal dasar untuk meraih peluang dari industri sampah, yang akan berdampak pada sisi ekonomi sekaligus sisi lingkungannya.

Namun lagi-lagi ya mungkin satu hal yang luput menjadi alasan kita enggan sampai sekarang melakukan hal itu adalah waktu kita yang terbatas dan juga keterampilan kita untuk mengolah sampah masih minim.

Hal tersebut pastilah menyoal juga, tentang sarana dan prasarana untuk memampukan kita mengolah sampah sendirikan? Dan ujungnya –malah- bisa membenturkannya lagi kepada penyiapan pembiayaan yang besar dalam mewujudkannya.

Namun apakah pantas semuanya tadi menjadi ganjalan atas penyaluran tanggung jawab kita menjaga kebersihan tadi ya?

Nah sampai disitu saja, hal ini bisa menjadi pembuka peluang kita bersama. Dan menjadikan sampah ya seharusnya bisa menjadi pelengkap kehidupan kita, di mana saja, dan kapan saja!

Yakni,  memampukan sampah kita juga mendukung rongga-rongga dimensi kehidupan ekonomi dan lingkungan manusia yang selama ini saling bersebrangan. Dan akhirnya memampukan kita mengharmoniskannya kembali keduanya.

Ah keliatannya mudah ya? Mari kita coba saja!

Masalah sampah, bisnis kita semua!

Dalam acara talkshow di radio KBR, tersaji data jika pada September 2020 lalu, KLHK menyebut sedikitnya terdapat timbulan sampah di Indonesia yakni sebesar 175 ribu ton per hari atau setara 64 juta ton per tahunmya.

Bisa dikatakan ya semua itu gara-gara Pandemi! Dimana kita semua kepingin rumah kita dan lingkungan kita bersih dan sehat dengan cara mengenyahkan dan  membuang semua sampah kita jauh-jauh di TPA.

Niatnya bagus, namun caranya bisa saja menjadi kurang bijaksana dan berpotensi menimbulkan masalah.

Karena, jika dipilah-pilah ternyata sampah yang terakumulasi di kebanyakan TPA tadi,  setengahnya adalah sisa makanan dan sisa tumbuhan.

Nah yang menjadi problematika adalah, jika massifnya perusahaan, gedung perkantoran dan juga UMKM rumah makan tidak memiliki pengolahan sampah sendiri pastilah akan menimbulkan masalah sangat serius.

 

Ilustrasi pemandangan TPS yang penuh sesak di sudut kota Samarinda I Dokuementasi pribadi
Ilustrasi pemandangan TPS yang penuh sesak di sudut kota Samarinda I Dokuementasi pribadi

 

Utamanya sampah mereka ya pastilah menambah beban TPA yang sudah sesak dengan sampah rumah tangga masyarakat. Makanan buangan atau food-waste akan tertumpuk di landfill atau TPA.

Selanjutnya, akumulasi sampah di sana akan mengeluarkan gas metana, yang ternyata 23 kali beracun dari karbondioksida, dan muaranya akan berkontribusi pada perubahan iklim tadi.

Dan data yang ditunjukkannya mengatakan, 14% dari seluruh green house emission datangnya dari sisa makanan kita tadi.

Jika kita berkaca pada negara maju seperti Perancis saja, dimana food-wastenya paling rendah sedunia. Disana terdapat kebijakan untuk melarang semua retailer, supermarket, toko dan lain-lain membuang sisa makanan organik mereka. Artinya, ya harus ada bank sampah khusus sebagi tempat berdonasi sampah yang selanjutnya bisa diolah kembali.

Di Amerika juga terdapat kebijakan lainnya, yakni bagi perusaahaan yang mau mendonasikan food-wastenya, Pemerintah akan memberikan reward potongan pajak Perusahaan atau badan usaha.

Artinya kebijakan Pemerintah itu memang –sangat- perlu, dan bisa menjadi trigger dalam memacu kesadaran kita untuk peduli terhadap sampah kita semua.

Dan akhirnya sekaligus mampu menjadikan contoh nyata, yang bisa diterapkan terutama memaksimalkan peluangnya secara ekonomi, meski ya dalam skup kecil sekalipun.

Jika dipikir, pertanyaanya sekarang, apa sih susahnya hal tadi dilakukan sekarang juga? Padahal kita –sepertinya-  hanya tinggal copy-paste apa yang sudah dikerjakan oleh negara lain yang terbukti berhasil mengelola sampah mereka dengan baik? Yuk kita coba!

Waste4change sebuah solusi melampiaskan tanggung jawab kita

TPA Leuwigajah di Cimahi, sudah menjadi saksi bisu, betapa timbunan sampah mampu menjadi tragedi kemanusiaan di tahun 2005 lalu.

Longsornya timbunan sampah yang menggunung, telah berhasil meratakan dua kampung di sekitarnya yakni kampung Cilimus dan Kampung Gunung Aki. Alhasil, sebanyak 143 warga tewas dalam tragedi itu, tertimbun sampah.

Artinya, dengan dominasi peran pemerintah dalam upaya pengelolaan sampah tentu tidaklah cukup dan maksimal dalam menalangi dampak yang ditimbukan oleh sampah.

Karena pengelolaan sampahnya yang kita lihat, hanya berkutat pada manajemen penjemputan sampah masyarakat di TPS dan selanjutnya diletakkan kembali ke TPA. Selanjutnya ya dienyahkan dengan cara apa saja, salah satunya ya dibakar.

TPA Samarinda yang sudah penuh sesak dan harus dipindahka ke are lain di pinggir kota I Dokumentasi pribadi
TPA Samarinda yang sudah penuh sesak dan harus dipindahka ke are lain di pinggir kota I Dokumentasi pribadi

 

Dan ketika masalah sampah menggunung, dan memakan korban seperti tragedi leuwigajah, kita lantas dihadapkan pada masalah pembiayaan yang besar untuk menalangi dampak sosial dan lingkungannya kan?

Nah oleh sebab itu, di beberapa kota besar seperti Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Medan, Depok, Bogor Bandung, Semarang Sidoharjo dan Surabaya, telah hadir Bank-Sampah yang membantu mengurai akumulasi sampah di TPA.

Bank Sampah itu dikenal dengan waste4change, sebuah sistem manajemen sampah yang mampu mengurangi akumulasi sampah di TPA daerah, dan mampu mengurainya ke dalam produk yang bermanfaat lagi.

Nah waste4change sendiri merupakan badan usaha, yang menawarkan jasa layanan, yang akhirnya bisa memberikan 3 jawaban atas layanannya mengurai memuncaknya permasalahan sampah di masa kini dan –terlebih- di masa depan. Apa saja itu?

1. Responsible Waste Management

Nah waste4change sudah memiliki sistem manajemen yang terbukti sejak 2014, lalu melayani pihak koorporasi hingga UMKM, dan juga masyarakat umum, agar bisa melampiaskan tanggung jawabnya, dalam pengolahan sampah mereka dengan tepat dan cepat.

Salah satu  Waste management Indonesia ini akan menyilahkan waste4change mudah menjemput sekaligus memilah produk sampah yang kita hasilkan dari tempat kita berada. Sehingga kita terbiasa selalu mampu berpikir positif, atas dampak sampah yang kita hasilkan itu baik-baik saja terhadap lingkungan kita.

Tentu saja, semua proses penjemputan dan pemilahan akan pula didukung oleh sarana dam prasarana, serta SDM waste4change yang layak dalam menuntaskan tanggung jawab kita soal sampah ini.

 

Vida Bekasi

Jl. Tirta Utama No. 1, Bumiwedari, Bantar Gebang, Kota Bekasi

Penandatanganan MoU:
2014

Jadwal Pengangkutan:
3 Hari Per Minggu

Kemasan terkumpul dan terdaur ulang:
112.000 kg/ bulan

 

l-vida

2. Event Waste Management

waste4change juga mampu melayani penjaminan kebutuhan kebersihan di sebuah acara/event yang berpotensi menghasilkan sampah, minimal ya sampah konsumsi peserta acaranya.

Biasanya banyak Koorporasi ataupun usaha UMKM kerap menyajikan acara untuk kegiatan komersil atau promosi apa saja. Dimana faktor kebersihan sebelum dan sesudah acara –memang- haruslah menjadi rencana penting jua untuk diwujudkan.

Milo Jakarta International Run 10K 2018

Kemasan terkumpul dan terdaur ulang:
626 kg

Tanggal Acara:
15 July 2018

Perkiraan Jumlah Peserta:
Kira-kira 16000 orang

 

l-milo

Oleh sebab itu, jasa layanan waste4change akan menjamin hilangnya jejak sampah mulai dari pemilahan dan pengangkutan sampahnya setelah acara berlangsung. Dan meyakinkan sampahnya bisa didaur ulang kembali dengan layak dan benar.

Dengan manfaat ini, kemudahan dalam menjalankan semua event acara apa saja, yang mengikutsertakan orang banyak, akan lebih mudah dilaksankan. Utamanya ya hal yang berkaitan tanggung jawan akan jejak polusi sampah selama acara berlangsung.

3. Zero Waste to Landfill

waste4change, pastilah akan meyakinkan kita semua, jika seluruh sampah yang dijemput dan dipilah tidak akan dibebankan lagi kepada TPA lokasi sekitar.

Karena waste4change memiliki metode khusus untuk mampu mengurainya menjadi produk yang lebih bermanfaat. Dimana cara itu, pastilah membebaskan kita dari polusi lainnya, yang bisa menjadi masalah sosial dan lingkungan nanti.

PUPR

Jalan Pattimura No. 20, Jakarta Selatan

Durasi Layanan:
4 Bulan

Penandatanganan MoU:
2019

Jadwal Pengangkutan:
Setiap hari

Kemasan terkumpul dan terdaur ulang:
26,575 kg/ bulan

l-pupr

Nah dari ketiga manfaat yang dihadirkan waste4change tadi, tanpa sadar juga telah mampu memberikan banyak keuntungan positif kepada para pelanggan baik pemilik Korporasi, Gedung perkantoran, pelaku UMKM Kuliner, dan kita  masyarakat kan? Apa saja keuntungan itu!

1. Manajemen sampah yang kita hasilkan akan terjamin 100% terpilah
2. Dengan manajemen sampah itu, tentu akan berpengaruh pada citra bagi Koorporasi/harga diri kita yang benar-benar memang peduli terhdap masalah lingkungan
3. Usaha dan ihtiar kita mengurangi timbulan sampah di TPA
4.Tindakan patuh terhdap kebijakan Pemerintah PP No 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah Rumah Tangga dan sampah sejenis Rumah Tangga. Serta mendukung peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2017 (JAKTRANAS)
5.Mampu meningkatkan edukasi dan kepedulian kita tentnag masalah sampah yang lebih baik lagi

 

Dan yang perlu dicatat, tentu saja untuk mendapatkan layanan pengolahan sampah waste4change ini, kita para pelanggan akan dikenakan sejumlah biaya yang sangat terjangkau. Istilah terjangkau ini tentu akan relatif ditafsirkan kemudian. Baiklah saya akan tunjukkan!

Nah, jika dibreakdown presentasi biaya jasa pelayananwaste4change tadi, yakni 58% dialokasikan pada beban biaya angkut, 15% diberikan pada mitra olahan sampah, 10% untuk peralatan dan pemilahan sampah, dan sisanya hanya 17% ya untuk profit waste4change

Dengan kombinasi presentasi alokasi pembiayaan tadi tentu saja memberikan gambaran atas manfaat dari sisi ekonomi dan sosial, dimana manfaat layanan waste4change ini, juga dirasakan banyak sektor usaha lainnya kan? Bukan hanya waste4change semata.

Tanggung jawab apa yang bisa kita lakukan hanya dari rumah?

Nah, dari apa yang kita saksikan diatas, dimana hadirnya solusi atas masalah sampah dewasa ini, pastilah sudah memberikan rasa optimisme baru di kehidupan kita.

Yakni, kita akan merasa mampu menghadirkan manfaat atas semua produk sampah yang pasti kita hasilkan setiap saatnya. Dan selanjutnya akan menghadirkan sebuah kebudayaan baru yang benar-benar peduli dengan lingkungan sekitar.

Namun bagaimana dengan kita yang belum dapat merasakan kehadiran solusi yang dihantarkan oleh waste4change ini ya?

Terutama bagi saya dan kita semua, yang tidak terjangkau coverage layanan waste4change di banyak daerah di Indonesia lainnya.

Nah ada beberapa cara untuk tetap mendapatkan layanan waste4change ini ternyata, sekaligus menjadikan cara ini berguna menuntaskan tanggung jawab atas sampah kita. Dimana saja kita berada, terlebih hanya dari rumah saja!

1.Mulai mengompos sampah organik kita sendiri yuk!

Meski kita tinggal di daerah yang jauh dari coverage layanan waste4change. Kita sekarang jua bisa mulai mengolah sampah kita sendiri, dengan cara memesan berbagi alat pengomposan sampah organik di waste4change ini.

Tempat sampah custom C4W
Tempat sampah custom C4W

Ada banyak peralatan mengompos yang kita bisa pilih dan pesan. Setalah itu, kita akan dimampukan untuk memperkaya keterampilan dalam hal pengelolaan sampah organik, lewat tutorialnya, yang kita bisa lakukan  di rumah saja!

Selain itu, bagi kita pemilik usaha UMKM kuliner atau apa saja, juga bisa memesan tempat sampah dengan karakter khusus.

Dimana tempat sampah khusus ini akan menjadi entitas dari nama usaha kita dalam menunjukkan komitmen kita kepada lingkungan, yang pastinya akan menjalar pada sisi komersil dan promosi.

Dan pastinya, tempat sampah yang bisa dipesan diwaste4change akan memberikan manfaat dalam proses pemilahan sampahnya sebelum dititipkan di TPS dan dibuang di TPA lokasi daerah kita.

Namun ya lebih baik lagi, jika kita mampu mengelola sampah organik kita sendiri kan?

Dengan memaksimalkan peralatan pengomposan dari waste4change ini, dan menghasilakn kompos dari sampah organik kita. Kita juga pastilah akan mampu –hanya- menyisakan sampah an-organik saja untuk dibuang ke TPA.

2. Kirimkan saja sampah An-organikmu ke waste4change sekarang!

Nah, selanjutnya mengirimkan sampah kita, juga bisa dengan mudah  kita lakukan ke waste4change

Namun ya sampah anorganik yang terkirim nanti adalah sampah produk tertentu yang mungkin adalah kemasan produk favorit kita yang telah bekerja sama dengan program send your waste zero4waste ini.

Selain itu, kita juga bisa mengirim sampah terpilah kita lewat layanan program Recyle With Us. Nah dalam program layanan waste4change ini, kita juga dipersilahkan mengirimkan sampah anorganik yang juga dipersayaratkan oleh waste4change.

    

Terutama produk sampah anorganik berupa kertas (HVS,karton, kardus) dan non kertas (plastik, kaca, logam, sachet, karet dan tekstil). Dan semua produk yang dikirim tentu selanjutnya akan didaur ulang melalui tahapan proses Extended Producer Responsibility Indonesia (EPR) menjadi produk dau ulang lainnya.

Nah, dengan manfaat ini, kini –malah- tanggung jawab kita terasa lengkap saja kan? Sampah organik bisa kita olah sendiri menjadi pupuk kompos bagi tanaman kita.

Dan sampah an-organik yang layak juga kita bisa kirimkan saja ke cabang waste4change yang telah ditunjuk, untuk didaur ulang kembali.

3.Kembangkan usaha hijau/mandiri di rumah sebagai dukungan posititf kita terhadap lingkungan

Peluang usaha tentu terus menganga, jika kita mampu memanfaatkannya. Kita bisa saja memulainya dengan memanfatkan pekarangan rumah sebagai usaha pemeliharaan ikan dan juga beternak unggas. Dan hal ini seakan menjawab apa yang sudah kita bahas di awal tulisan tadi kan? 

Nah dalam proses pengolahan sampah yang dilakukan waste4change ternyata menghasilkan produk ulat maggot yakni larva lalat BSF dalam bentuk kemasan produk keringnya. Dan kita hanya memesannya untuk dimaksimalkan untuk usaha lainnya.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Tentu saja pemilahan kita terhadap, hasil pakan alami larva BSF kering ala waste4change akan sangat mendukung keberlangsungan upaya waste4change, dalam mengurai permasalahan sampah di masa yang akan datang.

Dan yang paling pokok, adalah hasil daur ulang sampah organik waste4change berupa kemasan pakan alami larva BSF kering tadi, pastilah mendukung semua usaha mandiri kita selama di rumah saja.

Karena pakan alami larva lalat BSF, akan  memenuhi kebutuhan nutrisi unggas dan ikan yang kita pelihara dirumah. Bisa hanya sekedar hoby atau malah sifatnya komersil.

Dan sudah banyak pembuktian lewat pakan alami larva lalat BSF ini pastilah akan menekan biaya pemeliharaan ikan dan unggas, terutama dari sisi biaya pakannya.

Nah tiga hal di atas, pastilah sudah memampukan kita menuntaskan tanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan setiap saat kan? Dan pastilah tindakan itu akan mendukung semua hal dalam kehidupan kita sadar atau tanpa kita sadari.

Dalam hal ini, ya dukungan kita terhadap sisi ekonomi, dan yang paling penting lagi adalah keberlangsungan alam kita untuk membebaskan dari polusi sampah kita!

 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis Blog Waste4change sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021. (Alfian Arbi)

Sudah baca artikel ini, belum?