Merindu Energi Baru Terbarukan Biomassa Kulit Kayu dan Limbah Pulp Menggeliatkan Kaltim

Suatu saat jika SDA Kaltim sudah habis, apa lagi yang kita harapkan buat sumber energi kita?


Guyuran hujan sore itu, tak menyurutkan gairah anak-anak Mangkajang bermain bola. Mengenakan kaus merah, bertuliskan Evan Dimas di punggung,

Adi salah seorang anak desa Mengkajang lincah kali memanja bola.

Luapan kegembiraan Adi dan kelima temannya bermain bola beralasan, karena mereka akhirnya dapat menyaksikan secara langsung siaran televisi pertandingan antara Timnas Indonesia yang berisi pemain idola mereka versus Malaysia dalam perhelatan Sea Games (26/8).

Untung saja, waktu penayangannya malam hari, maklum wilayah ini cuman dapat menikmati aliran listriik di malam hari.

Kabupaten Berau yang merupakan beranda Provinsi Kaltim yang memang belum sepenuhnya teraliri listrik. Setidaknya Kecamatan Kelay, Bidukbiduk dan Kecamatan Pulau Derawan (Tanjung Batu) yang juga hanya menikmati listrik PLN selama 12 jam sehari, belakangan ini.

Rentang wilayah Kaltim yang luas nan buas dan hanya mengandalkan BBM solar untuk membangkitkan pembangkit listrik berbahan bakar Diesel (PLTD), dirasa masih belum efektive dan efesien bagi Pertamina bagi pendistribusian daerah pelosoknya

Ada Apa Sih Di-sini?

Bersyukur Agustus lalu, saya sempat mampir kemari. Menyaksikan kehidupan masyarakat Mangkajang secara dekat.

Geregetan rasanya untuk segera memamerkan kegembiraan masyarakat di sana akan elektrifikasi, walaupun sekejap.

Mangkajang sebuah desa biasa yang letaknya 60 Km dari timur ibukota Kabupaten Berau.  Membutuhkan waktu sekira 60 menit untuk datang kemari dari Berau.

Tepatnya berada di kecamatan Sambiliung, yang terkenal memiliki potensi hijau SDA hutannya yang mempesona. Kekayaan hutannya meliputi jenis pohon Acacia mangium, eucalyptus, gmelina, meranti, trembesi, jati, cemara, kelapa, bambu, nipah, rotan, anggrek, ulin, bengkirai serta berbagai vegetasi lainnya.

Dengan kekayaan flora itu, mengundang sebuah perusahaan pulp PT Kertas Nusantara yang menempati area seluas 3.400 Ha.  

Mimpi indah untuk mengeliatkan potensi-potensi Berau dengan elektrifikasi, mulai sedikit bersinar. Dengan mencoba melakukan peralihan Energi Tak Terbaharukan (BBM) dengan Energi Baru Terbaharukan (EBT) yang melimpah, memanfaatkan energi Biomassa kulit kayu dan buangan pulp kertas dari operasional perusahaan PT KN, menjawab kebutuhan listrik masyarakat.

Kulit Kayu dan Limbah Pulp, Bisa Apa?

Kayu satu diantara energi biomassa yang melimpah di sini. Limbah yang dihasilkan kayu yang terbakar dan digunakan sebagai bahan bakar merupakan bentuk bahan bakar sederhana.

Energi panas yang dilepaskan kayu digunakan menghasilkan panas, untuk keperluan memasak misalnya. Dalam jumlah besar, kayu dapat digunakan untuk produksi listrik, lho.

Energi alternative tersebut juga memiliki kekurangan, pembakaran kayu dengan emisi karbon dioksida menyebabkan efek rumah-kaca.

Namun dengan program penanaman pohon lebih banyak lagi, yang digalakkan perusahaan dan pemerintah kepada masyarakat, bisa memberikan solusi dalam penyerapan karbondioksida berlebih akibat proses itu dari atmosfer.

Peranan pembaruan lahan sebagai energi biomassa akan menjadi pekerjaan rumah nantinya. Karena beberapa sumber energi biomassa ini tentu akan diperlukan dalam jumlah besar dalam menghasilkan energi bahan bakar yang besar pula.

Pasti kita sepakat jika penggunaan energi biomasa dari bahan alami memang harus dilakukan segera untuk melepas ketergantungan pada energi yang tidak dapat diperbaharui, bukan?

Energi biomassa merupakan penghasil energi dari unsur biologis akan terus diperhatikan untuk kelangsungan energi kedepannya. Karena keterbatasan bahan energi tidak terbaharukan suatu saat akan punah.

Selanjutnya, klik nomor halaman ya!

Sudah baca artikel ini, belum?

error: Content is protected !!