Berprofesi Di Dunia Maya Susah Gak Sih?

Aih barusan saja kamu mem-follow aku, aku folback, eh malah tetiba kamu unfollow aku. Hemm… dasar kamu itu kucing, kelinci, belalang, kupu-kupu, marmut, panda dll deh –selain monyet  pokoknya- Sungguh terlaluh!

Pernah dengar lagu yang liriknya bilang gini, gak? ”Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, bla-bla…”

Jika setuju dengan liriknya itu, jangan sekali-kali malah meleng asik-asikan ke dunia maya. Kehidupannya-pun lebih keyas kak. Cobalah ambil saja gawai-mu dan hiruplah kehidupan maya ber-media sosial di sana sesaat.

Sapalah teman Dumay dengan update status palsu-mu, semisal ’Good morning, apa kabar sayang.” Sesaat ada saja yang mengirimkan paket jempol dengan komentar alay membalas status tadi dengan kata beragam.

Tapi apa iya, kamu yakin sekali mereka teman baikmu? Jangan-jangan ini jebakan Batman?

Dalam konteks umum, lha iya bisa saja kita anggap mereka teman. Saya itu kenal mereka kok, dia kan mantan saya –hallah—

Dumay sudah menjelma menjadi perantara, untuk saling berteman, bagi sapa saja yang ingin berteman dengan tujuan apa saja pulak.

Media sosial macam Facebook misalnya bisa saja kita anggap porsional. Karena bisa saja kedua belah pihak yang berteman memang saling kenal, akhirnya mau berteman dan melegetimasi pertemanan mereka itu untuk membuat referensi jumlah pertemanan dalam beranda halaman.

Terserah banyaknya jumlah pertemanan itu nanti berkualitas atau sebaliknya –urusan kalianlah

Berhenti sampai disini. Kita  bisa saja menghirup aroma lain dalam kuantitas pertemanan di dunia maya tadi.

Satu sisi, kita sering merasa mudah sekali ya berteman di dunia maya.

Di sisi kedua, ini jadi sangat berat, berteman dengan banyak orang di dunia maya, dengan pelbagai platform media sosial lain, macam instagram, Youtube ataupun twitter dll. Ya karena ada maksud tertentu dari pertemanan tadi?

Nah sisi kedua ini yang menarik untuk dibincangkan nih. Kita bisa saja bilang begini, ”Saya sih mau berteman dan memfollow kamu, tapi kamu kok tidak. Sebaliknya kamu mau, tapi sori ya saya ndak”

Dan sederhananya di dalam dunia maya, yang lagi hits kata pertemanan di kepala kita selalu saja disebut dengan panggilan sayang Follower –pengikut-

Jika di-Indonesiakan bahasa pengikut bisa jadi berada pada tingkatan ‘yang gimana gitu’ seolah-olah follower itu adalah orang yang butuh. Padahal lho, yang butuh siapa coba? Jangan-jangan yang difollow yang paling butuh!

Hah, jika ditarik ke belakang lagi. Kenapa juga kita mau jadi Follower dia, lawong dia ga maksa kita menjadi pengikutnya. Kita sajaa yang terlalu baik hati dan tidak sombong -tapi jarang menabung-

Dan pertanyaannya lagi adalah, kenapa kamu tidak mau Folback aku, aku kan juga mau mendapat Follower yang banyak seperti kamuh. Buat apa? Ya buat banyak teman! Itu aja… –massa’?—

Dunia Maya Dan Caranya  Mengkapitalisasi followers?

Dunia maya memang memberikan celah komersil berupa bonus kepada kita yang mengkoleksi pertemanan di beranda Media sosial kita.

Meskipun pada platform di berbagai media sosial, telah mendefinisikan arti pertemanan tadi dalam sebutan Follower.

Dan banyak dari kita mencoba-coba mengisi celah tadi, dengan tega mengakapitalisasi folllower yang dahulu kita anggap teman –apa bukan-

Dan tak heran saat ini anak muda sampai orang tua, kebelet menjadi Youtuber, selebgram lewat kanal-kanal media sosial dunia maya dengan cara apa saja.

Pertanyaan-pertanyaan galau di atas memang selalu menjadi-jadi bagi para pelamar pekerjaan baru di dunia maya itu.

Misalnya para Youtuber, Selebgram, Blogger atau Pemilik Website bisa saja menggarap celah Adsense dalam meraup untung dari Follower mereka. Tapi tentu ada syarat dan ketentuan berlaku.

Eit tapi, kita yang kepincut menggarap lahan ini, harus memiliki minimal seribu pelanggan/pengikut dan 4000 jam tayang dalam 12 bulan terakhir.

Terus setelah akun Google tertaut dengan Adsense, setiap video yang ditonton selama 30 detik bisa langsung terkorversi menjadi rupiah.

Tapi kamu tau gak? Adsense di Indonesia itu nilainya kecil man. Apalagi memaksa follower kita untuk menontong konten kita selama 30 detik, itu berat, terlebih lagi mau mengklik iklan yang terpajang di sana.

Itu saja sulit, belum lagi merasakan fakta jika nilai Adsense/CPM (cost per milles) kita lebih rendah dibanding negara lain.

CPM itu adalah bayaran yang diberikan kepada Youtuber tiap kelipatan seribu views pada video mereka.

Australia termasuk paling besar. (Nilai CPM AdSense) kita itu seperlima dari mereka,” ujar Irwan, seorang YouTuber teknologi yang menggawangi kanal Sobat Hape dalam wawancara dengan KompasTekno.

Pendapatan AdSense yang diterima YouTuber bisa fluktuatif. Hal ini juga bergantung pada momen-momen tertentu saat para pengiklan memasang iklannya di YouTube.

Menurut kak Irwan, momentum biasanya datang ketika memasuki kuartal baru atau menjelang hari raya.

“Untuk kami yang memiliki 700.000 subscriber, pendapatan sekitar 17-20 juta per bulan,” aku Irwan. 

Menurut dia, angka tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan pemasukan lewat jalur lain. Irwan mengatakan, iklan AdSense hanya menyumbang sekitar seperdelapan dari pendapatan Sobat Hape per bulan.

“Kami menganggap AdSense itu bonus, enggak usah dipikirin,” katanya.

Subscriber/follower banyak bukan berarti kaya Seorang YouTuber tidak akan menghasilkan uang yang banyak jika hanya menyerahkan urusan monetisasi sepenuhnya pada AdSense.

Tim Schmoyer, YouTuber di kanal Viceo Creators, pernah bercerita tentang YouTuber lain yang memiliki 2 juta subscriber.

 Dengan jumlah subscriber sebesar itu, sang YouTuber hanya menghasilkan ratusan dollar AS per bulan dari AdSense. Jumlah subscriber memang menjadi modal kanal YouTube untuk menarik uang dari AdSense, namun bukan faktor utama.

Sebab, kanal dengan jumlah subscriber banyak belum tentu mendapat penonton yang banyak pula.

Adalagi menurut Mouldie Satria yang menjadi tandem Irwan di kanal Sobat Hape, mengatakan perhitungan AdSense juga ditentukan oleh kesesuaian iklan dengan demografi penonton kanal tersebut.

YouTube akan lebih mudah memasang iklan di kanal yang memiliki karakteristik penonton sesuai dengan target audience pengiklan. Misalnya saja, brand barang mewah tidak akan memasang iklan di kanal YouTube yang mayoritas ditonton remaja atau anak-anak.

Jika konten video tidak sesuai dengan target penonton, bisa saja video tidak akan mendapatkan iklan. Sekalipun ada iklan yang nangkring, nilai AdSense yang dihasilkan pun jauh lebih kecil dibanding dengan konten video yang sesuai target.

Sayangnya, sebagian besar kreator di YouTube tidak memiliki rencana ini. seperti dirangkum dari Forbes. Harapan mendapat uang dari AdSense memang menjadi salah satu alasan orang ingin menjadi YouTuber, meski persepsinya kurang tepat.

Uang yang dihasilkan para kreator adalah berkat rencana bisnis yang matang melalui konten yang ditampilkan di kanal YouTube, bukan semata-mata mengandalkan jumlah subscriber.

Endorsement dan jualan merchandise Irwan mengaku bahwa endorsement dan kegiatan acara offline menjadi sumber pendapatan lain Sobat Hape di luar AdSense.

Endorsement adalah promosi produk pengiklan oleh sang pemilik kanal. Sementara, kegiatan offline contohnya menjadi pembicara di sebuah event.

Endorsement yang dipilih tentunya juga yang berkaitan dengan konten video kanalnya. Misalnya, kanal kencantikan mempromosikan produk make-up.

Keduanya bisa dilakukan apabila sang YouTuber sudah dikenal luas dan memiliki jumlah pengikut yang signifikan sehingga dipandang sebagai influencer. Dengah kata lain, mereka bisa memanfaatkan pengaruh sebagai influencer untuk mendatangkan uang. 

Endorsement semacam ini memang lazim dilakukan di media sosial dan platform konten seperti YouTube. YouTuber lain memiliki cara berbeda untuk memperoleh pendapatan di luar sekadar iklan AdSense.

Di Indonesia, beberapa YouTuber juga menjual produk buatan mereka, seperti T-Shirt atau make up, meski tanpa memanfaatkan layanan merchandise YouTube.

Selain mendapatkan pendapatan dari penjualan merchandise, YouTuber juga bisa menerima merchandise gratis dari vendor. Merchandise ini memang tidak berwujud uang, tapi nilai barang yang diterima biasanya cukup berharga.

Peter McKinnon, sinematografer yang terjun ke dunia YouTuber, juga seringkali menampilkan video yang mengulas produk gratisan dari para vendor.

Konten berbayar Para YouTuber juga sering mendapatkan pesanan untuk membuat konten berbayar.

Biasanya, mereka diminta untuk membuat review atau ulasan sambil memperkenalkan fitur-fitur atau keunggulan dari produk yang mereka ulas. Produk yang ditawarkan bisa jadi berbeda dengan audiens kanal YouTube tersebut.

Ini berbeda dengan ketentuan AdSense yang membutuhkan kesesuaian antara konten dan penonton. Apakah akan menerima tawaran konten berbayar atau tidak, keputusan itu tentu terserah sang pemilik kanal. 

Misalnya, kanal YouTuber Minority Mindset pernah ditawari 150.000 dollar AS (Rp 2,1 miliar) untuk konten berbayar soal cryptocurrency, tetapi mereka tolak lantaran merasa tak cocok untuk disajikan ke pentontonnya.

Honor untuk konten berbayar memang bisa bernilai cukup besar. Menurut The Economist, YouTuber dengan subscriber  di kisaran 100.000 rata-rata menghasilkan 12.500 dollar AS (Rp 177 juta) dari konten berbayar.

Nilai ini tentu lebih besar dibanding pendapatan YouTuber pemilik 2 juta subscriber, tapi hanya mengandalkan AdSense, seperti diceritakan Shcmoyer tadi. 

Masih belum mau Follback saya ya?

Aha cerita kaka’ kaka’ barusan di atas mungkin bisa membuat kita menjadi sadar kan? jika ingin berprofesi moncer di dunia maya tidak perlu pelit untuk mengklik pertemanan di media sosial apa saja. Follback aja man!

Konten menjadi sarat mutlak untuk membuat pekerjaan kita di dunia maya semakin mudah dengan tujuan komersil malah. Berteman sajalah dengan positif, semakin banyak teman kan semakin asik, asal tujuan utamanya diperkuat mau apa?

Mau komersil atau cuman senang-senang semata? Dan itu semua pilihan dan bisa  sajaberjalan bersama-sama. Komersilnya dapet seneng-senengnya juga dapet. Dengan begitu bisa menjadi Kaya-lah kita kan?

Ya sudah, mari kita Folback pertemanan dari siapa saja yak! Karena sejatinya media sosial-kan bertujuan memperkuat pondasi pertemanan diantara kitah semua di mana saja lewat dunia maya—cieh-

Photo Pexels

Baca Juga Artikel Terbaru WADAI

Tinggalkan Balasan