Seperti halnya, kelegaan yang dirasakan para donatur yang mampu mendonasikan sedikit harta mereka, membantu korban kebencanaan apa saja, meski hanya berdiam di rumah?
Analogi itu bisalah bernilai sama, bukan? Menyelaraskan kemanfaatan hadirnya Donatur dan juga Relawan pada momen-momen kebencanaan di tengah kita?
Ah, pikiran itu bisa saja menjadi penawar bagi diriku pribadi, untuk terus mampu menjadi donatur –saja- yang kini lebih mudah dilakukan lewat Gadget.
Dan kita bisa lekas menyandang predikat Relawan jua, yang tanpa pamrih mau menolong sesama dalam kondisi bencana.

High Value Costumer itu siapa?
Mereka adalah pelanggan setia IndiHome yang pantas mendapatkan reward, karena sudah berlangganan IndiHome selama 18 bulan dengan paket Rp300ribu-Rp700ribu. Atau mereka sudah berlangganan minimal 3 bulan dengan paket Rp700ribu serta pembayaran paket IndiHome lancar setiap bulannya.
Sekelebat bertanya lagi, bagaimana jika tidak ada para Relawan tadi yang mau menjemput kami di Bandara saat ini? Mungkin kami akan terlantar, dan menjadi korban banjir yang terdampak jua?
Ah, Terimakasih para Relawan banjir, untuk aksi tanggap bencana ini.
Dan akhirnya, sadar jika keberadaan para Relawan itu tentu akan mampu menyingkirkan ketakutan warga Samarinda, untuk ‘gagal terbang’ via Bandara APT Pranoto. Ketika bencana banjir Samarinda hadir kembali, kapan saja!
Mampukah kebencanaan merangsang proses peradaban baru, untuk saling peduli via digitalisasi?
Banjir sepertinya sudah menjadi bagian dalam keseharian kita ya? Belum lagi, hadirnya bencana lainnya, seperti tanah longsor, gunung meletus hingga ancaman tsunami yang juga berpotensi hadir, dan akan menjadi perhatian serius kita bersama.
Nah lebih terkini, hadirnya Pandemi, serta ancaman dampak perubahan iklim, sudah pula kita mulai rasakan, bukan?

Dan muaranya, semua potensi kebencanaan tadi, ikut menularkan tuntutan besar akan pembiayaan, yang berhasil menguras anggaran Pemerintah.
Dimana, sedianya dana itu mampu digunakan dalam agenda pembangunan-pembangunan di banyak daerah, menggapai arti kesejahteraan masyarakat?
Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani menyebut jika kebutuhan dana kebencanaan di Indonesia, mencapai Rp20 Triliun per-tahunnya.
Padahal jika berhitung, alokasi dana itu sangat strategis mendukung pembangunan infrastruktur modern, yang –sekali lagi- akan mampu menghantarkan masyarakat ke gerbang pintu kesejahteraan, di balik geliat ekonomi yang baik.
Namun, seiring waktu, Pooling-fund yang dihadirkan Pemerintah semenjak 2018 lalu, mampu memberikan banyak akses, untuk semua boleh ikut serta, menalangi dana kebencanaan bersama?
Pooling Fund, akan tanggap mengalirkan dana kebencanan lewat berbagai sumber anggaran selain dana APBN. Dana itu bersumber dari dana Pemerintah daerah, hasil investasi dana yang dikelola melalui BLU, CSR BUMN, hibah, hingga penerimaan klaim-klaim asuransi.
Nah, nampaknya akses dan semangat itulah, yang luput mencipta kreasi digitalisasi terkini, di tengah-tengah Pandemi ya?
Lanjut baca, klik nomor halaman ya!

