Jangan Menggantung Nasib Abang Ojol Dengan Bintang, Kaka’!

abang ojol

Dalam hati saya bilang “Tumben nih akhirnya abang Ojol (ojek online) senyum-senyum kepada saya hari ini. Ada apa bang? Abang sehat? Duh, sepatunya mengkilap lagi, sudah seperti direktur utama. Sudah itu wangi pula, kolaborasi mawar campur melati. Ya sudah nih bang, lima bintang buat abang, saya pencet ya. Tiit..5x”

Rasa-rasanya berbuat baik itu kok jadi mudah sekali dilakukan di zaman now, apa iya dengan memberi rating bintang kepada abang ojol saja, saya kok yakin pahalanya akan dicatat sama yang kuasa, sebagai amal jariyah nanti.

Karena apa? rating bintang bisa jadi sangat berarti, daripada setoran uang yang diterima abang ojol, terlebih bagi keluarganya di rumah. Ada hal yang jadi pertimbangannya itu. Mari saya tunjukkan, mas-mbak!

Sempitnya lapangan pekerjaan yang hanya selebar daun kelor, mau tidak mau memaksa kebanyakan dalam memilihkan pekerjaan apa saja buat kita dalam mengais rejeki-kan?

Yang dulunya bercita-cita jadi dokter, astronot, insinyur atau pak polisi, malah terjeda dan rela menjalani profesi ini. Iya profesi sebagai abang ojek online atau lebih keyen disapa Ojol.

Namun, dari sesaknya jumlah abang ojol yang beroperasi di jalan raya dan mangkal di perempatan jalan dan mall untuk menjemput orderan. Saya yakin pasti diantaranya masih saja memiliki cita-cita luhur yang segera akan ditunaikan.

Rupanya profesi ini bisa menjadi alternative pekerjaan sambilan atau malah juga pekerjaan tetap bisa dilakoni dengan sunguh-sunguh bagi keluarganya. Dan itu memnag bisa jadi pilihan!

Namun lagi, maraknya profesi ini tentu tanpa disadari juga memberikan persaingan yang dahsyat-kan, terutama antara sesama Ojol sendiri untuk memperebutkan kita –iya kamu dan aku—sebagai penumpangnya.

Dibalik itu lagi, dengan besarnya jumlah abang ojol dimana-mana tentu malah memberikan kemudahan coverage layanan antar-mengantar secara cepat dan murah bagi kita. Dari titik ini hal penting itu dimulai.

Mungkin, jika ada para abang Ojol yang masih percaya, jika rezeki itu di tangan Tuhan, itu memang tak salah. Namun percayalah, berkat senyuman saja, bisa menjadi gerbang dalam menjemput rejeki bagi para abang Ojol menjadi lebar.

Karena apa? Eh,  ternyata the power of senyuman adalah bagian dari pelayanan yang selalu dipantau perusahaan pengelola layanan ojek online macam Grab, Uber , Gojek lho sebagai penyedia jasa! Selain faktor pelayanan lainnya.

Pantauan itu akan tertuang ke dalam penilaian rating atau peringkat secara komulative, yang tentu dijadikan tolak ukur kepuasan pelanggan setelah menggunakan layanan-layanan Ojol.

Jika abang Ojol atau taksi online misalnya mendapat peringkat di bawah standar, bersiaplah kemitraan abng-abang ojol itu akan segera berakhir, secara otomatis.

Bussiness Insider dalam laporannnya menyebutkan jika rating rata-rata di bawah 4.6 point menjadi peringatan awal bagi para Ojol yang bermitra dengan Uber. Dan rating tersebut akan mengeluarkan abang Ojol dari sistem untuk memberikan orderan penumpang kepadanya.

Dan memberikannya kepada Abang Ojol yang mencapai rating yang ditetapkan tadi.

Dalam laporannya itu juga disebutkan jika sebanyak 2-3 persen pengemudi Uber telah mendapat rating 4.6 point, artinya bersiap untuk mengakhiri kemitraannya. Di akhir 2014 saja, menurut laporan yang berjudul The Number Behind Uber’s Exploding Driver Force yang dimuat Forbes.  

Laporan itu menerangkan ada sebanyak  160 ribu abang Ojol, yang sekitar 3200 hingga 4800 abang Ojol tidak bisa bermitra untuk memanfaatkan aplikasi Uber lagi, akibat pemeringkatan itu. Jadi poin yang harus didapat berkisar 4.8 hingga 5 poin bintang

Mengutip Rindu Ragillia, Public Relation Manager Go-Jek yang menjelaskan jika rating merupakan bentuk penilaian kepuasan pelanggan atas pelayanan yang diberikan. Hal itu sudah tertuang dalam lama resmi situs mereka soal jenis pelanggaran Go-Jek.

Dimana dengan mudah di poin ke-7 disebut jika pengemudi memperoleh rating rata-rata yang rendah. Bersipalah, abang Ojol tentu akan mendapatkan sanksi pemblokiran akun secara otomatis dalam pelanggran point tadi.

Lalu Aulia Nastiti, Mahasisiwa doktoral Northwestern University, dalam tulisannya di The Conversation juga pernah menyebut bahwa rating, akan disertai rasio penerimaan order, merupakan syarat untuk mendapatkan bonus. Jadi nilai 4.5 bintang merupakan rata-rata bintang yang harus diraih oleh para Abang Ojol. Titik!

Saatnya Menukar Senyuman Dengan Bintang, Bang!

Jika saya atau kalian ditanya, pernah gak menggunakan jasa Ojol? Hari gini, kita pasti bisa jawab iya pernah. Apalagi pas lagi musim hujan seperti sekarang, dimana kita bisa menghindari banyak resiko berkendara, termasuk masalah resiko keuangan –penghematan–

Adakalanya nih, dari banyak Ojol di luar sana, kita sering mendapat abang Ojol yang dominan melayani kita ketika memesan jasa itu via aplikasi, alias itu-itu saja orangnya, padahal kalau dipikir, begitu melimpahnya abang Ojol di luar sana-kan?

Nah, beruntung sekali jika kamu mendapati kesempatan macam itu, artinya abang Ojol yang dikirimkan system dari layanan ojek online menilai baik kinerja bang Ojol itu kepada kita.

Pokoknya semua lagi-lagi kembali berdasar atas seberapa banyak bintang yang dikumpulkan dari pelayanan kepada para penumpangnya.

Nah paling tidak ada beberapa tips yang harus diperhatikan bagi abang Ojol yang menekuni profesi ini. Apa saja itu? Yuk mari sini bang, merapat!

Yang pertama, Senyuman. Ah senyuman tentu akan memberikan respon yang dalem bagi orang lain yang menerimanya. Jika abang Ojol, mau saja mengobral senyuman dengan ikhlas ketika melayani para penumpang.

Percayalah, hal itu akan membuka segala macam kebaikan terutama membuka rejeki abang Ojol.

Kedua, mengemudi dengan baik, ini juga sangat penting, dimana kelihaian abang Ojol dalam mengendarai kendaraan harus teruji. Terutama tentang kecepatan dan pengetahuan rambu-rambu lalu-lintas yang akan menuntun kepada keselamatan penumpang hingga samapi di tempat tujuan.

Ketiga, penguasaan Rute, Ini juga penting lagi, karena bagaimana ingin mengantar penumpang hingga ke tujuan jika rute jalanan belum dikuasai. Nah jika abang Ojol malah bertanya tentang rute jalan yang dimaksud. Hal tersbut bisa saja memberikan kekecewaan bagi penumpang, apalagi penumpangnya juga belum hafal rute jalan yang dilaluinya.

Keempat, penampilan, ini juga penting, kejar setoran penting bang! namun hal penting lainnya adalah penampilan. Bersepatu, berkacamata, berpakaian pantas dan memakai wewangian bisa membuat penumpang berkesan selama mendapatkan jasa pengantaran. Coba deh!

Saatnya memberi Bintang, Mas-Mbak!

Kerja keras tidak menghianati hasil? Begitulah prinsip yang bisa diterapkan dalam menjalankan pekerjaan apa saja. Terutama tentu para abang Ojol ini. Dengan cara di atas tadi bisa—pasti–memancing para penumpang meluangkan waktunya sebentar untuk memberikan penilaian berupa tanda bintang di akhir layanan ini lewat Hpnya.

Dan dengan mendapatkan kepuasan dari para Ojol, tentu saja, pertanyaan di akhir pelayanan yang akan tertera di layar hp pada aplikasi Ojol menanyakan pengalaman selama mendapatkan pelayanan dari abang Ojong. Sederet bintang akan tertera, untuk ditindak lanjuti.

Kelima bintang tadi, tentu menjadi hal penting bagi Ojol bagi keberlanjutannya. Sehingga hal yang mungkin kita anggap santai, dengan tidak memberikan rating bintang, mulai saat ini bisa lebih proporsional memberikan penilaian dari jasa yang abang Ojol berikan ya!

Nah, dengan tidak lagi menggantung nasib abang Ojek dengan bintang-bintang itu, lagi. Bisa-bisa saja, dari kebiasan ini akan membiasakan pada hal positive lainnya untuk tidak pula menggantung cinta orang lain. Lho kok? Aha, anggap saja sebagai latihan berbuat baik.

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.