Suatu sore, ponselku  bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari seorang sahabat lama, ya lama sekali. Isinya klasik: “Sis, boleh pinjam uang? Bulan depan pasti aku ganti.”

Aku termenung dan termenung lagi. Di satu sisi, ingin membantu. Di sisi lain, jujur aku sedang menabung ketat untuk biaya sekolah anak.

Ah, rasanya bukan aku saja, dan rasanya dilema ini sering kali membuat kita semua mudah terjebak dalam posisi sulit, jika mendapati masalh begini, bukan?

Ya antara ingin menjadi “pahlawan” atau menjaga keamanan dompet sendiri?

Fakta di balik “Bulan depan pasti diganti”

Diriku yakin sekali 99,9% kita merasa tidak enak hati kala mendapati hal ini, bukan?

Survei CreditCards.com yang dikutip American Association of Retired Persons (AARP) pernah menunjukkan sebuah realitas pahit, ternyata sebanyak 42% pinjaman ke orang terdekat berakhir menjadi piutang tak terbayar.

Bukan karena mereka jahat, tapi sering kali karena ada rasa “ah, sama teman ini” yang membuat komitmen melonggar.

Nate Towers, seorang praktisi keuangan juga pernah  mengingatkan, “Jika kamu meminjamkan uang, bersiaplah untuk menganggap uang itu hilang. Lalu ” Jika kamu tidak siap kehilangan uang itu, maka jangan pernah melepasnya”

Luka yang lebih dalam dari sekadar uang

Masalah utang bukan hanya soal angka saja. Masalah ini punya “tangan” yang bisa mencengkeram hubungan personal.

Terlebih, pernahkah mendapati rasa canggung saat bertemu orang yang berutang, padahal mereka baru saja memposting foto liburan di Instagram?

Inilah juga yang diingatkan oleh Matthew Argyle, salah seorang Perencana keuangan handal. Dia mengungkap lebih dari seperempat orang kehilangan persahabatan hanya karena urusan pinjam-meminjam.

Pertanyaannya jadi sederhana. Apakah uang sejuta atau dua juta rupiah sebanding dengan rusaknya persahabatan yang dibangun bertahun-tahun?

Belajar berkata “Tidak” tanpa rasa bersalah

Menolak permohonan bantuan memang berat, tapi bukan berarti jahat.

Inilah seni dan cara eleganku menjaga batasan tanpa harus memutus tali silaturahmi itu gegara masalah pinjaman itu. Ya antara tega dan tidak tega!

Gunakan jurus “tunda sejenak”

Aku tidak langsung menjawab iya atau tidak. Aku hanya katakan, “Aku cek anggaran bulanan dulu ya, nanti aku kabari.”

Menurutku ini akan memberi ruang bagi kita untuk berpikir jernih tanpa tekanan emosional, ya untuk meminjamkan uang kita.

Tanyakan “untuk apa?”

Ada perbedaan besar antara meminjam untuk biaya rumah sakit, dan meminjam untuk cicilan motor yang dipaksakan, bukan?

Inilah sebabnya kita harus menjadi kepo‘ atas hendak dipergunakan untuk pinjaman itu nantinya, sebagai pertimbangan untuk meminjamkannya/

Tegaskan prinsip pribadi

Jika ingin tegas, katakan saja, “Maaf ya, aku punya prinsip untuk tidak meminjamkan uang ke teman agar hubungan kita tetap enak dan nggak ada beban ke depannya.”

Kalimat ini justru menunjukkan bahwa kita menghargai pertemanan tersebut.

Bagaimana jika terlanjur dipinjamkan?

Jika hati terlalu lembut dan akhirnya meminjamkan uang, pastikan saja jangan gunakan dana darurat, pakailah “uang jajan” yang memang diikhlaskan.

Nah, jika jumlahnya besar tidak ada salahnya menggunakan “hitam di atas putih” ya membuat dokumen tertulis. Cara itu memang bukan berarti tidak percaya, tapi justru bentuk profesionalisme dalam hubungan.

Lalu, terakhir belajar soal kata ikhlas lebih dalam, menganggap utang itu pemberian! Artinya, jika dibayar, itu rezeki. Jika tidak, Anda sudah membuang ekspektasi sejak awal.

Ah, membantu orang lain adalah kebaikan, tapi menjaga stabilitas finansial sendiri adalah sama-sama kewajiban jua, bukan?

Jangan sampai niat membantu justru membuat kita yang malah harus mengemis untuk dikembalikan atau malah meminjam uang ke orang lain lagi di masa depan kala kesulitan keuangan.