Koridor Fakultas Teknik terasa lengang. Andra, dengan ransel lusuh di punggung, berjalan gontai melewati papan pengumuman yang mencantumkan nama-nama mahasiswa yang telah diwisuda saat itu.

Ia berhenti sejenak, menghitung tahun, ah tidak terasa sudah semester ke-9! Dua semester melebihi batas “normal” sarjana empat tahunnya.

Bukan karena ia bodoh, atau tidak mampu. Andra adalah seorang visioner, ya —ehm— seorang organisator ulung.

Tapi ia tersadar jua, jika ia adalah korban dari lima jebakan yang umum dialami oleh mahasiswa yang gagal lulus tepat waktu?

Memang dia kini sudah berumur, ya sudah 43 tahun! Mengenang masa lalu Andra yang nyaris Drop Out alias DO di kampus ya tak ada salahnya, bukan?

Ya syukur-syukur dia sudah mau berbaik hati, ya mau bercerita kepada wadai pada Kamis (1/01) lalu, bagaimana akhirnya dia mampu juga menaklukan batasan waktu untuk selesai kuliah segera!

Dan, ilmu yang berharga itu mengajarkannya terlepas dari 5 jebakan yang pernah menahannya lama-lama di kampus tercintanya dulu!

Jebakan pertama, manajemen waktu yang buruk

Mulutnya tertahan lama saat bercerita. Saat di tahun-tahun awal, —bukan sombong– dia adalah bintang.

Ia aktif di BEM, menjadi ketua tim debat, dan bahkan mengambil pekerjaan freelance desain grafis. Ia merasa bisa menyeimbangkan semuanya.

“Aku bisa. Aku kuat,” selalu ia yakinkan dirinya soal hal itu di awal kuliah.

Namun, di semester akhir, janji-janji itu berbalik menyerang.

Ia teringat malam ketika seharusnya ia mengerjakan bab dua skripsinya, tetapi malah harus rapat organisasi hingga larut, dilanjutkan dengan menyelesaikan deadline desain klien.

Ketika akhirnya ia menyentuh laptop di pagi buta, matanya sudah terlalu lelah, otaknya terlalu kosong.

Multitasking yang awalnya memberinya nilai tambah, kini hanya menyisakan kelelahan kronis. Waktu untuk Skripsi, selalu yang pertama dikorbankan.

Jebakan kedua, selalu menunda skripsi

Andra menyadari, kelelahan fisik hanya sebagian kecil dari masalah. Masalah terbesarnya adalah kebiasaan menunda skripsi atau tugas akhir!

Di mejanya, berkas skripsi Bab I terasa seperti beban 100 kilogram. Prosesnya terasa panjang, misalkan mencari referensi, konsultasi dengan dosen yang jadwalnya sulit ditemui, perbaikan, perbaikan, dan perbaikan lagi.

Ah, tidak seperti tugas makalah biasa yang bisa diselesaikan dalam semalam, skripsi adalah maraton panjang yang menuntut konsistensi.

Setiap kali ia membuka file-nya, rasa malas dan cemas bercampur. “Nanti saja, setelah deadline organisasi ini selesai,” atau, “Besok saja, setelah aku merasa lebih termotivasi.”

Besok itu terus bergeser, hingga akhirnya ia sadar bahwa ia telah kehilangan satu semester penuh hanya untuk menunda permulaan.

Jebakan ketiga, tetiba tersadar salah arah ambil jurusan?

Di tengah perjuangan menunda itu, muncul pertanyaan fundamental, yakni “Apakah aku benar-benar mencintai jurusan ini?”

Andra mengambil jurusan Teknik atas saran orang tua, padahal passion-nya selalu ada di bidang seni dan komunikasi.

Ketika ia menghadapi kesulitan akademik, ia kehilangan motivasi untuk berjuang. Kehilangan minat membuat proses belajar terasa hampa.

Ketidaksesuaian ini mengubah kesulitan kecil menjadi tembok besar. Ketika skripsi terasa sulit, ia tidak memiliki dorongan lahir-batin untuk melawannya.

Jebakan keempat, uang dan prioritas yang berlawanan

Tak lama setelah ia mulai mencoba fokus, masalah baru muncul yakni masalah finansial.

Untuk mengurangi beban orang tua, ia sengaja mengambil lebih banyak pekerjaan paruh waktu. Uang yang ia dapatkan memang membantu membayar biaya hidup, tetapi setiap jam yang ia habiskan di luar kampus adalah jam yang hilang untuk penelitian atau revisi.

Dilema itu menghimpit, fokus pada skripsi berarti risiko kehabisan uang, fokus pada uang berarti risiko kehilangan waktu kelulusan.

Aktivitas kerja paruh waktu itu, tanpa ia sadari, telah memotong habis energi dan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan kewajiban akademiknya.

Jebakan kelima, menimba pengalaman non-Akademik yang berlebihan

Bukan berarti semua kegiatan non-akademik itu buruk. Keterampilan kepemimpinan yang ia dapatkan di organisasi sangat berharga.

Namun, Andra terlalu tenggelam. Aktivitas non-akademik yang berlebihan telah menjadi pelarian dan bahkan pembenaran.

“Aku memang belum lulus, tapi aku punya pengalaman organisasi yang hebat,” kalimat yang selalu dia agungkan kepada dirinya sendiri untuk menguatkan.

Ia menggunakan kesibukan di luar kampus untuk menutupi rasa takutnya menghadapi skripsi. Sayangnya, ijazah tidak diberikan berdasarkan jumlah kegiatan, melainkan berdasarkan selesainya tugas akademik.

Andra duduk di anak tangga koridor, menunduk. Ia menyadari, kelulusan terlambat ini bukan disebabkan oleh satu kegagalan, melainkan kombinasi dari lima jebakan yang saling menguatkan.

Namun, pengakuan itu adalah langkah pertamanya?

Ia lantas mengeluarkan laptopnya, menghapus semua daftar tugas organisasi yang tidak esensial, dan membuat satu jadwal baru, yang isinya hanya fokus pada penyelesaian Bab II.

Ia tahu, jam pasir yang bernama Skripsi itu pasti akan terus berjalan. Waktunya untuk berhenti menunda, mengurangi beban, dan akhirnya, menaklukkan skripsi itu.

Akhirnya dia tersadar, bagaimana harus belajar membagi waktu dengan bijak, tidak hanya untuk kegiatan, tetapi untuk tujuan utama berkuliah, bukan? Ya apalagi kalaU bukan harus menyelesaikan studinya dan lulus tepat waktu, atau paling tidak segera!