wadahkata.ID- Setelah penantian panjangnya selama sembilan tahun, dimana terakhir kali Samarinda memperoleh penetapan WBTbI adalah pada tahun 2016 untuk Sarung Tenun Samarinda.
Akhirnya sebanyak 3 karya budaya kuliner khas Samarinda kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Penetapan ini diumumkan dalam kegiatan Apresiasi Warisan Budaya Tak benda (AWBTB) Indonesia 2025 yang digelar pada 15 Desember 2025 di Gedung A, Ruang Plasa Insan Berprestasi, dan dirangkaikan dengan lokakarya serta pameran WBTbI.
Dan Samarinda menjadi perwakilan kota satu-satunya yang berhasil memborong tiga sertifikat sekaligus.
Berikut adalah 3 kuliner legendaris Samarinda yang kini berstatus Warisan Budaya Nasional
1. Amplang Samarinda
Kerupuk ikan pipih dengan tekstur renyah dan cita rasa gurih yang khas, menjadi oleh-oleh wajib dari Samarinda.
Amplang mendapatkan perhatian khusus dalam Pameran Kuliner Nusantara di rangkaian acara Apresiasi WBTbI.
Booth Samarinda dikunjungi langsung oleh pejabat kementerian dan dinilai menjadi salah satu stan paling menarik dan ramai dikunjungi karena keunikan rasa dan teksturnya.
2. Amparan Tatak
Amparan Tatak adalah kue tradisional yang memadukan tepung beras, santan, dan pisang, dikukus hingga lembut. Kudapan ini terkenal sebagai salah satu kekhasan Suku Banjar dengan rasa manis dan tekstur lembutnya.

Namun, perlu dicatat, Amparan Tatak hadir dengan kekhasan tersendiri yakni perbedaan dalam cara memasak dan penggunaan bahan baku khas Kaltim yang diusulkan oleh Pemprov Kaltim telah diakui oleh tim ahli nasional.
3. Bubur Peca’
Berikutnya adalah Bubur Peca’, sajian yang melambangkan ketenangan dan kebersamaan. Bukan bubur biasa, ini adalah hasil perpaduan nasi yang dimasak dengan santan kaya dan kaldu ayam kampung.
Hasilnya? Tekstur yang begitu halus dengan rasa gurih yang mendalam.
Bagi masyarakat Kaltim, terutama di bulan Ramadan, Bubur Peca’ adalah simbol. Ia sering disajikan di masjid, menjadi tradisi yang merekatkan hubungan dan diyakini membawa berkah.
Lebih dari sekadar makanan, bubur ini dipercaya memiliki khasiat menyehatkan lambung.
Membuat bubur ini memerlukan dedikasi, prosesnya menuntut ketelatenan dan kesabaran, menjadikannya mahakarya yang tidak bisa dibuat oleh sembarang orang.
Raihan Status WBTbI Nasional, Proses Panjang!
Menurut Dr. Barlin Hadi Kesuma, Kabid Kebudayaan Disdikbud Samarinda, proses pengajuan 3 kuliner itu sebagai objek penilain membutuhkan waktu persiapan sekitar satu tahun penuh.
“Proses menuju penetapan ini sangat panjang, mulai dari inventarisasi karya budaya, penyusunan kajian akademik, hingga pembuatan video pendukung.” Ujar Barlin Hadi Kesuma, yang ditukil dari laman PPID Samarinda.
Lanjutnya, satu usulan lain, yaitu Kapal Tambangan, sayangnya masih tertunda dan akan diajukan kembali pada tahun berikutnya.
Pemkot Samarinda kini berkomitmen tidak hanya menambah pencatatan WBTbI, tetapi juga mendorong karya yang sudah berstatus nasional, seperti Sarung Tenun Samarinda, agar bisa diusulkan menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO, menyusul jejak batik dan pencak silat.
Prestasi ini membuktikan keseriusan Samarinda dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budayanya sebagai identitas yang membanggakan di tingkat nasional.

