EQ Kita Lemah? Yuk Sama-sama Kita Buktikan !

EQ dan IQ

Terkadang kita emosian dalam mempertahankan gelar kepintaran kita. Ya emosi itu macam-macam penafsirannya sih. Eh tapi mungkin ini!

IstilahIQ atau intellectual Quotation menurut definisinya tak lain, adalah sebuah istilah menjelaskan sifat fikir yang mencakup seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, daya tangkap dan belajar.

IQ selalu saja disandingkan dengan Dungu, istilah yang populer saat ini. Dungu selalu menjadi jurus kepepet dalam sengitnya perdebatan.

Orang yang meluncurkan sebutan Dungu, biasanya menganggap dirinya ber-IQ tinggi. Meskipun nilai IQ dalam tes juga masih rahasia untuk ia ungkap. Ya jangan-jangan dialah orang yang ber-EQ jongkok!

Baca Juga : BPJS, Dibully Ketika Sehat, Dipuji Ketika Sakit

Nah lain halnya dengan EQ atau emotional quotient yang tinggi-rendahnya bisa kita atur jika kita terus tempa melalui latihan sehari-hari. Karena EQ akan selalu dianggap sebagai cover keperibadian kita oleh orang lain.

Tentu saja, minimal kita tidak ingin dipandang sebagai seseorang yang ber-EQ rendah ya, meski tak ber-IQ tinggi.

Nah, bagaimana dengan EQ kita ya? Mari sama-sama kita periksa dengan ciri-ciri sebagai berikut, yang pernah dipublikasikan Huffington post. Siapa tau kita bukan golongan yang ber-EQ rendah!

1. Suka stress-an!

Si doi, jarang telpon, kita lantas baper, dan tidak nyaman, selalu cemas dan frustasi. Jangan-jangan diputusin, aih ini mah hal kecil guys. Tapi kalau kamu segitunya, baperan, ya artinya kamu itu ber-EQ rendah. Tempa EQ kamu dengan selalu bisa mengelola perasaan kalut itu, dengan aktivitas yang postif. Menulis artikel, di Wadai misalnya.

2. Ketegasan yang minim untuk diri sendiri

Baperan terhadap apa yang kita rasakan di sekitar kita, terkadang bisa membuat keseimbangan sikap, perilaku dan pikiran kita menjadi kacau. Sehingga plan pekerjaan dan visi hidup yang ditetapkan menjadi berbelok akibat keseimbangan sikap yang mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Wah, bersiap saja bisa jadi kita masuk golongan ber-EQ rendah ini. Mulailah tegas kepada diri sendiri ya!

3. Emosian dalam menyelesaikan masalah

Penelitian mengungkap 36% orang bisa mengenal dan mengendalikan emosinya. Bisa jadi kita satu diantaranya, hanya saja ketika kita sedang menjalankan ibadah puasa dengan khusuk ya? Setelahnya ya gak tau!

Emosi memang sangat penting dikelola untuk memutus kesalahpahaman dan menyebabkan konflik terhadap lingkungan sekitarmu.

4. Tersinggungan

Ini gawat! Jika kalian selalu mudah terbakar oleh sesuatu yang tidak penting dan bisa diredakan dengan bijak. Biasanya jika kita mudah tersinggungan, dalam diri kita bisa saja menyimpan dendam yang tidak baik dong.

Baca Juga : Ini Dia 6 Masalah dan Solusi Terjadinya Goplut Pada Millenial

Solusinya ya percaya diri sendiri saja, jangan mau diadu domba yang dapat meyebabkan kerugian material maupun non material. Kucinya ya sabar , iya sabar guys!

5. Suka menyalahkan orang lain terhadap masalah yang kita hadapi!

Ya, dalam keseharian meskipun kita tidak pernah melakukan hal ini, tapi ada saja lingkungan baik teman kita melakukan hal tadi ya? Cuci tangan dengan meyalahkan, dari masalah yang telah menjadi miliknya kepada kita.

Jika kita terpapar hal ini, ya banyak-banyak saja mengoreksi pribadi tentang apa yang telah dilakukan, baik tugas pekerjaan dan lainnya. Point kelima ini, biasanya adalah akumulasi dari keempat poin diatas yang tidak bisa kita tempa dalam kehidupan kita.

Dari ke ke-lima ciri tadi apakah kalian masuk dalam golongan ber-EQ rendah?

Jika iya, masih ada waktu untuk meng-up grade diri kamu ke tingkatan yang lebih baik. Apalagi berada di saat sekarang ini, dimana tensi tahun politik, bisa menjadi ujian untuk melatih EQ kamu lebih baik atau sebaliknya, minimal dalam merespon perbedaan politik kita.

Aal Arby Soekiman

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan