Suara Julia nyaris tak terdengar di ujung telepon.
“Saya sangat gugup, saat itu. Ini seperti menghadapi ujian akhir, karena jelas taruhannya adalah tabungan saya yang bisa terkuras habis,” Sebut Julia, bercerita kepada Wadai, (7/12).
Sejak lama, Julia ingin memiliki sebuah properti dengan jendela besar dan taman kecil di sudut kota yang tenang.
Namun, di balik rasa senang itu, terselip satu hal yang paling menegangkan untuk dibayangkan, apalagi kalau bukan mengeksekusi harga penawaran atas rumah incaran itu, bukan?
Menawar harga rumah terasa seperti mengadu nyali saja.
Namun Julia tahu, menemukan rumah yang tepat yang ia sedang kerjakan kini tenyata baru setengah perjuangan.
Perjuangan sesungguhnya yakni memastikan ia tidak membayar terlalu mahal. karena ia harus menyisihkan anggaran untuk merenovasi desain dapur impiannya.
Untungnya, nasib mujur sedang berpihak padanya.
Beberapa bulan terakhir, ia menemukan banyak papan yang bertuliskan “Dijual’ sedang tergantung di banyak depan rumah, di daerah Samarinda Seberang.
Artinya, dengan stok rumah melimpah pastilah akan menciptakan hal yang menguntungkan bagi setiap pembelinya? Ya bisa nego-nego harganya lebih dalam lagi.
Julia lantas mengambil napas panjang, dan mengingat panduan yang pernah ia pelajari, dan memutuskan untuk menjadi penawar ulung demi hanya ingin memiliki rumah sendiri.
1. Melakukan Riset Harga Pasar!
Langkah pertama Julia menggali informasi harga rumah sebanyak mungkin.
Julia tidak hanya melihat harga yang tertera di iklan, tetapi juga harga rumah-rumah serupa yang sudah resmi terjual, yang berada di kompleks dekat rumah incarannya tadi.
“Rumah di ujung jalan, dengan luas tanah yang mirip, terjual 5% lebih rendah dari harga yang diminta,” ceritanya lagi.
Pengetahuan itulah yang menjadi panduan pertamanya. Ketika agen properti pertama kali menyebutkan “harga pasar” Julia bisa tersenyum simpul, karena ia tahu angka itu hanyalah harapan penjual, bukan kenyataan?
Upss ternyata, Riset mendalam memberikan Julia keyakinan bahwa penawaran yang ia susun adalah penawaran yang masuk akal, bukan tebakan harga yang asal-asalan!
2. Membaca Pikiran Penjual dan History Property Incaran!
Julia tahu, setiap rumah yang dijual memiliki cerita khusus. Ia mulai mencari tahu, mengapa properti ini harus dilepas?
“Berapa lama rumah ini dipasarkan, Pak?” tanyanya santai pada agen pada saat itu.
“Sudah hampir enam bulan, Bu,” jawab agen itu sedikit ragu.
Enam bulan. Angka ini adalah inspirasi bagi Julia.
Artinya, rumah yang stagnan di pasar menunjukkan bahwa penjual mungkin mulai lelah dan lebih fleksibel, bukan?
Ia juga mendengar desas-desus bahwa keluarga penjual harus pindah karena urusan sekolah anak. Motivasi pribadi ini pastilah menjadi celah negosiasi yang tak ternilai harganya.
3. Menemukan Kekurangan Bangunan Properti
Saat melakukan kunjungan berikutnya, Julia mengubah fokusnya dari hal yang estetika ke hal yang fungsional saja.
Ia juga tak segan membawa daftar periksa ala kontraktor.
Ia mencatat retakan kecil di dekat jendela, usia unit AC yang tampaknya sudah tua, dan bahkan kondisi kamar mandi yang harus dirombak total. Ia bahkan sempat meminta estimasi kasar dari temannya, seorang kontraktor.
“Atap ini perlu perbaikan total dalam dua tahun ke depan. Itu bisa memakan biaya puluhan juta,” pikirnya.
Setiap kekurangan yang dicatat dan diperkirakan biayanya adalah amunisi.
Ini bukan tentang menjatuhkan rumah, tetapi tentang menjustifikasi penawarannya di bawah harga jual.
4. Penawaran harus Berani namun Rasional
Dengan data pasar saat ini, pemahaman motivasi penjual, dan daftar cacat bangunan di tangan, Julia siap!
Ia memutuskan untuk memberikan penawaran awal 8%di bawah harga jual.
“Penawaran saya 8% di bawah harga kepada penjual,” kenangnya lagi dengan nada percaya diri
“Dan ini alasannya yang ia tunjukkan kepada penjual, yakni biaya perbaikan atap, biaya penggantian AC, dan perbandingan harga dengan rumah [sebutkan alamat] yang baru terjual minggu lalu.” Ceritanya lagi
Ia hanya menyajikan fakta yang didukung data, lalu mengajukan penawaran rendah yang dilengkapi alasan kuat diaman akan terasa berbeda dari penawaran rendah yang asal-asalan, bukan?
5. Menjadi Pembeli yang Cerdas
Wajar dong, jika penjual memberikan tawaran balasan. Namun, dirinya sudah berada di posisi yang kuat.
Ia tahu, selain harga, ada satu hal yang disukai penjual yakni kepastian dan kecepatan.
“Saya siap menyelesaikan prosesnya dalam 45 hari. Proses cepat, tidak berbelit,” janji Julia kepada penjual saat itu.
Janji efisiensi ini menjadi penentu akhir! Karena menurutnya, banyak sekali penjual lebih memilih uang tunai sedikit yang bisa dia terima hari ini, daripada menunggu pembeli dengan proses yang rumit berbulan-bulan.
Dua hari kemudian, teleponnya berdering. Penjual menerima penawaran tandingannya, dengan sebuah harga yang 6% lebih rendah dari harga jual awal, dimana harga itu jauh lebih realistis bagi Julia.
Julia menarik napas lega. Ini bukan hanya tentang memenangkan negosiasi. Ini adalah tentang mengamankan rumah impian tanpa mengorbankan masa depannya.
Menurutnya, negosiasi yang berhasil adalah seni menggabungkan riset dengan timing yang tepat.
Dan akhirnya, Julia membuktikan bahwa dia berhasil mengeksekusi tips penawaran harga rumah impiannya, dengan kemauan rasional untuk bisa beli rumah sendiri dan tidak mengontrak lagi.

