Ini 3 Kemungkinan, Masalah Keuangan Yang Dihadapi Orang Baik! Sanggup?

Siapa sih tidak mau menjadi orang baik? Tapi ya gitu deh, perlu perjuangan ekstra untuk memulainya. Ini nah, yang ditemukan para peneliti, bisakah kamu melewatinya untuk jadi orang baik?

Wajar sih, jika ada orang –siapa saja—yang tiba-tiba ngajak kita makan gratisan, kita lantas mengalungkan predikat orang baik kepadanya.

Padahal kita sendiri lho, belum tahu apakah kita ini jenis orang baik di mata orang lain? –emang gepe’–

Kita lalu sembarangan menilai jika orang baik itu sebenarnya adalah orang tajir yang sudah berkecukupan.

Baca juga ; Bisakah Mengelola Tabungan BCA Dibikin Simple? Ini Dia Langkahnya! 

Lalu, dengan egois-nya kita lantas berfikir jua, orang yang baik itu tidak lagi mencari sisi dunia, mereka hanya mencari hal yang berkaitan akhirat saja –dewa kalee-

Padahal lho, kata guru ngaji saya, menjadi orang baik itu mudah hanya modal dengkul saja bisa. Ya yang pasti adanya kemauan untuk mau berbagi dan berbuat baik menyenangkan orang lain dengan banyak cara.

Meski tidak melulu meneraktir makan saja. Aih, pokoknya menjadi orang baik memang selalu banyak pengorbanan.

Nah, mengungkap anggapan menjadi orang baik selalu saja bermodalkan materi, akan menjadi menarik nih, jika disandingkan dengan temuan studi Sandra Matz.

Matz, seorang peneliti dari Columbia Bussines School ini mengungkap hubungan orang baik dengan sisi pengelolaan keuangannya. Hasil penelitiannya itu lalu dipublis dalam jurnal of personality and Social Physcology.

Pada intinya, hasil penelitian mas Matz mengungkap jika menjadi orang baik itu cenderung mengabaikan sisi pengelolaan keuangan mereka, alias susah menabung.

Baca juga : Pilpres, Lebaran, dan Efektivitas Kebijakan Makroprudensial 

Nah, para peneliti tadi mempelajari dan mengambil sample tiga juta orang lewat panel online, jajak pendapat dan data akun bank-nya. Dan juga data-data yang mudah diakses umum di negara Inggris dan Amerika Serikat.

Nah, apa sih yang akan disimpulkan dari hasil riset tadi, mau tau?

1.Orang baik itu, tidak mau ribut memikirkan pendapatannya, seperti meminta gaji tinggi misalnya.

Ini menarik-kan? hasil itu didasarkan atas adanya kaitan  antara tingginya tingkat keramahan dengan pendapatan dan skor kredit yang rendah.

Skor rendah tadi didapatkan, karena orang baik memang suka menolong orang lain, ketimbang membelanjakan uangnya untuk diri mereka sendiri.

2. Orang baik cenderung jarang untuk menabung uang

Poin kedua ini memang beyaat sih untuk diikuti! Kesimpulan itu didasarkan atas amatan peneliti dari tingkat tabungan, utang dan kecenderungan orang baik menunggak hutangnya.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa orang baik cenderung lebih jarang menabung dibandingkan mereka yang memiliki kepribadian dominan lainnya seperti conscientiousness (sifat berhati-hati) , extraversion (suka bersosialisasi) , neuroticism (terpengaruh oleh emosi), dan openness to experience (kemauan mencoba hal-hal baru)

3. Orang Baik Jarang Terjerat Hutang

Ah, kalau poin ini, orang yang nggak baik juga mau! Intinya sih kata Matz, orang-orang baik dengan pendapatan yang tinggi lebih sedikit berpeluang terjerat utang dibandingkan mereka yang memiliki pendapatan rendah.

Kenapa? Tingkat kepribadian (agreeableness) orang baik yang tinggi lebih punya kaitan kuat dengan tingkat kebangkrutan di area berpendapatan menengah ke bawah, dibanding kawasan berpendapatan dengan penduduk tinggi.

Nah, apa masih mau jadi orang baik? Ya mau dong! Kalau gitu besok traktir saya yak!

Baca Juga Artikel Terbaru Wadai

Sudah baca artikel ini, belum?

Tinggalkan Balasan