Dewi (24), seorang Mahasiswi yang kini menjalani semester akhir di salah satu Kampus di Samarinda, bercerita kepada Wadai (11/12), jika dahulu dia terbiasa memeriksa saldo tabungannya menjelang tengah bulan.
Dia kerap mendapati saldo tabungannya hanya bersisa Rp 124.000 saja. Padahal, uang kiriman awal bulan baru masuk dari orangtuanya seminggu yang lalu.
Seperti jutaan Gen Z lainnya, Dewi sangat rentan hidup di bawah bayang-bayang media sosial?
Ya bayangkan saja, sejak pagi hingga malam, layarnya dipenuhi vlogger yang memamerkan kafe estetik, outfit terbaru, dan liburan mendadak.
Istilah “doom spending” membelanjakan uang tanpa berpikir karena tertekan dan stres seringkali menjadi dilema hidupnya.
Namun ada kalanya, hatinya tersentak ingin merubah hidupnya dengan menaklukan doom spending itu.
“Aku harus berubah. Kali ini sungguhan,” kata Dewi pada dirinya sendiri dulu.
Dia seketika mencoba enam strategi ala Brennan Thiergartner, perencana keuangan terkenal, yang sepertinya layak juga harus dicoba oleh Generasi Z, sepeti dirinya.
Awal baru di meja kost, dengan metode amplop
Dewi sekuat tenaga membiasakan diri untuk menjalankan apa yang disebut metode amplop ala Brennan Thiergartner itu!
Metode itu memintanya untuk mengeluarkan semua uang tunainya dari ATM. Memang ini bak, anomali hidup di zaman cashles seperti sekarang, bukan?
Lantas uang cash tadi dibaginya ke dalam 4 amplop yang ditulis jelas dengan spidol.
Di amplop pertama dia mengisi jumlah kebutuhan yang terkait dengan kebutuhan pokoknya, seperti sewa rumah dan listrik.
Lalu di amplop kedua, dia mengisi sejumlah unag untuk kebutuhan harian sepeti kebutuhan logisitk makanan, hingga layananan Gofood.
Nah di amplop ketiga sengaja khusus dialaokasikannya untuk keperluan transportasi. Dan di amplop terakhir yang ke-4, dia menyelipkan sejumlah uang untuk kebutuhan hiburan dan sosial.
Sensasinya dia pernah membayangkan seketika, kala memasukkan uang ke dalam Amplop kedua yakni makanan. Jika uang di amplop ini habis, maka tidak ada lagi latte macchiato favoritnya sampai kiriman uang bulan berikutnya.
Nah, sensasi memegang uang tunai dan melihatnya berkurang secara nyata ternyata jauh lebih efektif, daripada sekadar melihat angka di aplikasi, bukan?
“Ini bukan hanya budgeting, ini adalah tren gaya hidup baru,” gumamnya sambil tersenyum mulai bercerita lagi tentang kisahnya itu.
Tantangan kedua, menabung yang menyenangkan
Setelah urusan amplop beres, Dewi beralih ke strategi kedua yakni menggamifikasi tabungan.
Dewi mencoba tantangan “52 Weeks Saving Challenge” yang sedang viral, dan menambahkan tantangan pribadinya: “No Shopping Challenge” selama dua bulan ke depan, kecuali untuk barang bekas.
Setiap minggu, dia menyetor sejumlah uang yang terus bertambah ke rekening tabungan terpisah.
Rasa bangga muncul setiap kali Dewi berhasil melewati godaan diskon online atau ajakan teman untuk berbelanja baju baru.
Kegiatan menabung kini terasa seperti game yang harus ia menangkan, bukan lagi kewajiban yang memberatkan.
Tantangan ketiga, batasan yang tegas dan jujur
Dewi bercerita juga tantangan terbesarnya datang di setiap Jumat sore, ketika ia menerima pesan dari temannya, “Dinner di resto baru yuk, yang hits di TikTok itu!”
Dulu, Dewi akan langsung membalas, “Aduh, lagi banyak kerjaan nih.”
Namun kali ini, Dewi menarik napas dan mengingat strategi ketiga, budgeting yang tegas.
Generasi Z harus berani menetapkan batasan dan menormalkan pembicaraan tentang uang.
Dewi mengetik dengan jujur dan tegas, “Makan di sana mahal banget, Din. Aku lagi fokus ngumpulin dana darurat. Gimana kalau kita masak bareng di kost-ku aja? Aku yang siapkan bumbu!”
Sahabanya itu sempat terdiam, namun kemudian membalas dengan emoji hati. Kejujuran Dewi tidak hanya menyelamatkan dompetnya, tetapi juga memperkuat hubungannya.
Mereka berdua sama-sama tahu bahwa menabung bukanlah aib, melainkan ambisi yang harus didukung, bukan?
Tantangan keempat, jangan malu shopping di toko Thrifting
Selain mengatur pengeluaran, Dewi mulai mencari cara untuk berhemat tanpa mengorbankan gaya hidupnya. Ia mulai tidak malu menjelajahi toko barang bekas dan pasar loak.
Strategi belanja barang bekas yang bukan hanya soal uang? Tetapi juga tentang keberlanjutan dan keunikan.
Ia merasa bangga bisa menemukan blazer vintage unik dengan harga sepersepuluh dari harga di mal.
Faktanya, ia tahu ia termasuk dalam 63% Gen Z yang lebih memilih barang bekas, menjadikannya bagian dari gerakan yang lebih besar!
Tantangan kelima, menggali potensi penghasilan yang tak terbatas
Semua strategi di atas efektif? Namun seperti kata Brennan Thiergartner, lagi pernah mengatakan “Memotong pengeluaran ada batasnya. Potensi penghasilan Anda secara teknis tidak terbatas.”
Dewi lantas menyadari, jika ia punya bakat merangkai kata dan mengedit video.
Akhirnya, ia menggunakan waktu luangnya untuk membangun usaha sampingan kecil-kecilan, menjadi Copy-writer.
Awalnya hanya untuk mengisi amplop tambahan, tapi perlahan, proyek-proyek kecil itu mulai menghasilkan pendapatan signifikan yang langsung ia alokasikan ke investasi jangka panjang.
Kini, Dewi masih melihat layar ponselnya. Notifikasi bank yang muncul hari ini tidak lagi membuatnya cemas, melainkan tersenyum puas.
Amplop-amplopnya masih terisi, ia telah menyelesaikan tantangan menabung bulanan, dan ia memiliki proyek sampingan baru yang menjanjikan. Tadi.
Dewi bukan lagi Gen Z yang terjebak dalam arus doom spending. Ia adalah Gen Z yang cerdas, yang membuktikan bahwa dengan disiplin, kejujuran, dan sedikit kreativitas, jeratan di era digital bisa diubah menjadi peluang keuangan yang tak terbatas.

