Sunyi menyergap koridor Pesantren Madinatul Quran. Kaki mulai menapaki satu demi satu anak tangga dengan perlahan, membelah keheningan Kamis (30/4) pagi itu.
Di balik pintu-pintu kelas, para santri telah bersiap, menyambut pelajaran Bahasa Indonesia.
Di atas meja kayu mereka, tersaji “hidangan” yang beragam.
Tak hanya buku-buku agama yang lekat dengan citra pesantren, namun juga aneka bacaan yang menyegarkan pikiran.
Mulai dari lembaran komik, kumpulan berita terkini, hingga buku-buku praktis tentang tutorial bercocok tanam dan peternakan.
Pagi itu, literasi bukan sekadar jargon, melainkan asupan yang mereka harus lahap.
Hanya butuh waktu sekitar 15 menit bagi para santri untuk menuntaskan bacaan di tangan mereka.
Saat buku-buku itu tertutup, Ustaz Nahwan yang berdiri di depan kelas melempar tanya tentang pengalaman mereka pagi itu.
“Menyenangkan Ustaz!” seru para santri kompak, memecah kesunyian kelas dengan semangat yang membuncah.
Ustaz Nahwan tak berhenti di sana. Ia terus memupuk api rasa ingin tahu anak didiknya, menekankan bahwa budaya literasi adalah kunci.

Baginya, membaca buku apa saja dan di mana saja adalah modal utama bagi para santri untuk mulai menulis.
Di tengah sesi diskusi yang hangat, seorang remaja 15 tahun bernama Alfatah, Seorang Santri asal Maluku menarik perhatian.
Dengan mata berbinar, ia berbagi mimpi besarnya, untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Ia juga ingin menuliskan setiap jejak keberhasilannya kelak ke dalam sebuah buku agar menjadi inspirasi bagi banyak orang.
“Dengan baca buku bisa nambah ilmu baru, terus bantu jadi pengusaha biar juga bisa bantu-bantu orang tua di kampung, yang kerja supir kapal speed,” ujarnya dengan nada penuh semangat.
Semangat Alfatah seolah menjadi manifestasi nyata dari ruh UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang masih hangat itu, bukan?
Sebuah regulasi yang menegaskan rekognisi dan kesetaraan pendidikan pesantren dengan lembaga formal lainnya.
Pintu kini telah terbuka lebar, para santri tak lagi dibatasi oleh sekat-sekat tradisional untuk menggapai cita-cita setinggi langit, sama seperti peserta didik lainnya di seluruh penjuru negeri.
Lebih dari sekadar kesetaraan, undang-undang ini juga mendorong pesantren untuk meramu kemandirian dalam menjalankan fungsi utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Pesantren kini ditantang untuk lebih terbuka dan berdaya secara ekonomi. Dan pada akhirnya, output kemandirian pesantren itulah yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah yang lebih kencang di masa depan.
Laboratorium Alam di Balik Dinding Pesantren
Berada di Asrama Putera Madinatul Quran bukan sekadar menetap di sebuah pondok religi.
Para santri di sini seolah sedang hidup di dalam sebuah laboratorium alam.
Kawasan Simpang Pasir, Samarinda Seberang, memang telah lama dikenal sebagai lumbung pangan—sebuah oase hijau yang memasok kebutuhan sayur-mayur bagi warga Samarinda.
Aroma tanah basah dan pemandangan hijau menyambut siapa pun yang memasuki area asrama.
Di luar pagar pondok, aktivitas masyarakat sekitar berkelindan erat dengan usaha pertanian.
Pemandangan sehari-hari inilah yang tanpa disadari memantik nilai-nilai inklusivitas bagi para santri.
Mereka tidak hanya belajar agama mendalam, tetapi juga bisa menyerap ilmu bumi yang hadir secara organik di depan mata mereka, sebuah bekal yang berpotensi menopang ambisi masa depan.
Puncaknya, semangat agraris itu terwujud dalam program ketahanan pangan yang menjadi simbol kemandirian ekonomi pesantren.
Pada tahun 2024 lalu, gerilya pertanian mulai digencarkan langsung dari dalam kawasan asrama.
Hasilnya pun tak main-main, komoditas buah melon dan cabai tumbuh subur dan berhasil dipasarkan melalui media sosial.
Pembeli dari luar pondok berbondong-bondong datang, menciptakan interaksi ekonomi yang segar antara pesantren dan masyarakat luas.

Namun, mengelola ladang bukanlah perkara mudah, bukan?
Sebagai sosok yang membidangi urusan ekonomi di Pesantren Madinatul Quran, Ustaz Mar’i tidak lantas menyerah.
Kegemilangan panen melon dan cabai tahun lalu justru menjadi bahan bakar untuk rencana yang lebih besar tahun ini.
“Tapi sekarang tidak dilanjutkan lagi, kita masih mencari petani yang akan fokus mengurusnya,” ujar Ustaz Mar’ie saat ditemui di pondok.
Di atas lahan luas sekitar 4 hektare yang masih “menganga” di kawasan asrama putera, mimpi-mimpi baru mulai disemai.
Rencananya, budidaya sayur-mayur akan kembali dihidupkan, bersanding dengan rencana pembukaan peternakan sapi untuk memaksimalkan potensi lahan.
“Sudah siap, sudah dibuat bedeng-bedeng lahan di sana untuk ditanami aneka sayur mayur,” ungkapnya sembari menunjuk hamparan lahan kosong itu.
Strategi kali ini pun lebih matang. Pihak pesantren kini tengah menyiapkan tenaga terampil yang direkrut dari petani sekitar.
Tujuannya jelas, agar ada tangan-tangan profesional yang fokus mengawal program ketahanan pangan ini, yang nantinya juga akan dibantu oleh para santri sebagai bagian dari pembelajaran lapangan.
“Tinggal nunggu petani, jika ada bisa langsung jalan programnya,” tambah Ustaz Mar’i mantap.
Optimisme itu bukan tanpa dasar. Selain telah mengantongi pengalaman model bisnis agribisnis dari panen tahun sebelumnya, mereka juga telah melewati proses mentoring yang ketat melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).
Dukungan alat mesin pertanian yang dibeli dari bantuan PSBI-pun masih terjaga dengan baik di sudut pondok.
“Traktor masih ada, yang kita dapatkan dari program PSBI lalu, dan siap digunakan membantu penyiapan lahannya nanti,” pungkasnya menutup perbincangan.

Belajar dari Bumi: Menyemai Telur Menjadi Asa
Perjalanan program ketahanan pangan di Madinatul Quran sejak 2024 bukan tanpa tantangan.
Keberhasilan panen melon dan cabai di masa lalu menyisakan catatan penting bagi pihak pondok.
Kegemilangan itu membawa serangkaian koreksi yang justru menjadi kompas untuk menyempurnakan langkah mereka tahun ini.
Bagi Ustaz Mar’i, kunci keberlanjutan program ini tidak lagi hanya soal lahan yang luas, melainkan soal kehadiran sumber daya manusia yang terampil dan aktif untuk mendampingi prosesnya.
Ia menyadari sepenuhnya batasan antara kurikulum pendidikan dan praktik lapangan bagi para anak didiknya.
“Jika mengharap santri untuk melaksanakannya sendiri tidak akan maksimal, mereka fokus belajar saja,” jelasnya dengan nada realistis.
Kesadaran itulah yang melahirkan inisiatif baru.
Alih-alih hanya terpaku pada tanaman yang butuh perawatan ekstra, kini sebuah model usaha peternakan ayam petelur mulai dikembangkan di atas lahan sederhana seluas 45 meter persegi.


Usaha ini dirancang sebagai variasi baru dalam strategi ketahanan pangan pesantren yang relatif lebih mudah dijalankan.
“Sudah ada belasan ayam Brahma, dan sudah ada kamar penetasan khusus di sana,” ujarnya seraya mengajak berkeliling, menunjukkan deretan kandang yang tertata rapi.
Saat ini, puluhan butir telur yang dipanen setiap hari memang masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan internal pondok utamanya memastikan gizi para santri tetap terjaga.
Namun, di balik dinding kandang itu, ada ambisi yang terus tumbuh.
Jika konsistensi ini membuahkan hasil, Madinatul Quran berencana melakukan ekspansi yang lebih masif agar hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Apalagi, secara ekonomi, nilai jual komoditas ini kian menjanjikan.
“Telur ayam Brahma kini sudah Rp 80 ribu per piring,” tutupnya dengan senyum optimis.
Tangan di Atas: Jalan Terjal Kemandirian dari Bilik Santri
“Jadi jumlah pondok pesantren kita itu 42.369, semuanya swasta. Madrasah pun hanya 5 persen yang negeri, selebihnya swasta. Ini berkebalikan dengan sekolah di bawah Kemendikdasmen, yang 95 persen negeri.”
—Nasaruddin Umar, Menteri Agama , dikutip dari nu.or.id
Secara kasat mata, bangunan Pondok Pesantren Madinatul Quran tampak bersahaja, bukan?
Sebuah konstruksi beton sederhana berdiri kokoh sebagai pondasi, menyangga bangunan kayu di atasnya—tempat para santri menghabiskan waktu sehari-hari untuk menyelami ilmu agama.
Namun, di balik tembok-tembok kayu yang tampak diam itu, ada gema yang lebih riuh dari sekadar hafalan kitab suci.


Status “swasta” yang melekat pada ribuan pondok pesantren di negeri ini, termasuk Madinatul Quran, bukanlah sekadar label administratif.
Label itu adalah sebuah “jalan terjal” jalan pilihan untuk tetap berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Karena selama ini, nafas dari banyak pesantren bergantung pada ritme dana swadaya.
Namun, realitas kerap melukiskan wajah yang kontras.
Di satu sisi, pesantren besar mungkin masih bisa menyandarkan harapan pada iuran wali santri yang mapan.
Namun di sisi lainnya, di pesantren-pesantren kecil yang tersembunyi, para kiai sering kali merasa sungkan untuk sekadar mengetuk pintu hati orang tua santri yang hidupnya pun pas-pasan.
Di sana, operasional lembaga sering kali hanyalah untaian doa yang mewujud dalam infak, jariah, dan bantuan sporadis dermawan yang datang dan pergi layaknya hujan di musim kemarau.
Kesenjangan inilah yang memicu sebuah kesadaran baru, bahwa tangan di atas selamanya lebih mulia.
Kini, unit usaha di pondok pesantren bukan lagi sekadar sampingan. Pesantren tengah bersalin rupa menjadi entitas ekonomi yang berdaulat.
Di sela-sela waktu mengaji, para santri mulai menyapa bumi melalui pertanian, merawat nyawa lewat peternakan, hingga melahirkan keindahan melalui industri kreatif.
Semua dijalankan dalam koridor yang lurus, menjauhi riba, dan menjunjung tinggi prinsip Islam.
Dan pada akhirnya, pesantren bukan lagi sekadar oase bagi pencari ilmu agama. Ia telah bermetamorfosis menjadi motor penggerak ekonomi yang sunyi namun pasti.
Dari bilik-bilik santri, kesejahteraan itu mulai merambat keluar, memberi hangat pada masyarakat luas, dan membuktikan bahwa dari doa-doa yang dipanjatkan, kemandirian ekonomi bisa diwujudkan.
Dan tak boleh dilupakan, di tengah ikhtiar meretas jalan mandiri itulah, hadir sebuah oase bernama Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).
Kehadirannya bukan sekadar bantuan formalitas, melainkan wujud kepedulian yang tulus.
PSBI menjadi saksi bagaimana institusi negara turut hadir, membasuh peluh para pejuang ekonomi di akar rumput, dan memastikan bahwa mimpi-mimpi kecil di pelosok negeri tak dibiarkan layu sendirian.
Melalui langkah-langkah strategisnya, PSBI menjadi jembatan bagi pemberdayaan ekonomi yang lebih bermartabat.
PSBI tak hanya memberikan bantuan yang sekali habis, tetapi menyemai keberlanjutan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Di sana, para santri dan pengelola UMKM tak sekadar diberi “ikan”, melainkan diajari bagaimana cara merajut “jaring” yang kuat melalui pendidikan dan pelatihan yang mumpuni.


Inilah bentuk nyata dari penguatan ekonomi syariah.
Ketika bantuan sosial bertemu dengan visi pengembangan yang terukur, yang tercipta adalah ketahanan yang kokoh.dan barokah.
PSBI hadir untuk memastikan bahwa roda ekonomi tidak hanya berputar di menara gading, tetapi juga mengalir hingga ke bilik-bilik pesantren dan gang-gang sempit pelaku usaha kecil.
Sebuah pesan kuat bahwa dalam setiap kemajuan bangsa, tak boleh ada satu pun tangan yang tertinggal untuk digandeng.

