Dan dalam perjalanannya hingga kini, bisa saja makna murah –mungkin—akan menjadi jawaban banyak Paklik bakso untuk mengoleksinya, sebagai wadah menyajikan kuliner Baksonya ya? Masuk akal?
3. Mangkuk Ayam Jago, menyemburkan hoki penggunanya
Nah sebenarnya, pada abad 20 barulah mangkuk ayam jago menyebar ke seantoro dunia, termasuk Indonesia, yang dibawa para perantau asal Guangdong Cina.
Mangkuk ayam jago semakin banyak dibuat, dengan teknik gambar tangan hingga mesin. Dan terpenting gambar ayam jago itu ternyata sudah memegang hak cipta lho, yang dipegang oleh PT Lucky Indah Keramik.
Sehingga, kualitas mangkuk ayam jago yang kita bisa rasakan dan sudah teruji sebagai wadah yang kuat, ketika sajian kuliner berkuah Bakso terkepung di dalam permukaannya, untuk segera kita santap.
Dan meraskan kuliner Bkaso dalam mangkuk ayam jago, sepertinya akan menghipnotis kita pada mitologi lambang ayam jago itu, yang dipercaya petani Cina.
Dimana ayam jago melambangkan kemakmuran, lihat saja ayam jago yang rajin bangun pagi, dan –malah—suka membangunkan kita untuk bersiap-siap bekerja pada pagi hari.

Bisa saja itu filosofi itu yang menjadi alasan Paklik Bakso menggunakan mangkuk ayam jago ya? Biar semua hoki, yang jual hoki yang makan jua Hoki, ketika selesai menyantapnya.
Nah dari ketiga alternatif jawaban itu, mana sih yang logis menjadi jawaban logis menjawab judul pada tulisan ini?
Iya pertanyaan mengenai alasan Paklik Bakso memilih mangkuk ayam Jago, kala menyajikan Baksonya yang seksi itu?

