MALAM itu, di sebuah warung kopi remang-remang tak jauh dari gerbang belakang kampus, asap rokok mengepul tebal, beradu dengan aroma pekat kopi hitam yang mulai dingin. Di sudut meja, seorang senior dengan jaket Pakaian Dinas Harian (PDH) berlogo besar di lengan, mencondongkan badannya. Matanya berbinar penuh ambisi.

“Di kelas itu kamu cuma dapat teori kosong,” bisiknya, menatap saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa baru (maba)—polos, berenergi, dan membawa kepala yang penuh dengan mimpi.

“Di organisasi kita langsung praktik. Kita punya jaringan, punya ‘orang dalam’. Kalau kamu cuma kuliah-pulang, kamu nggak bakal jadi apa-apa.”

Saya mengangguk takzim. Dada saya bergemuruh. Sebagai anak muda yang sadar betul bahwa bisa duduk di bangku universitas di Indonesia adalah sebuah kemewahan, saya tidak ingin menyia-nyiakan satu peluang pun.

Di kepala saya malam itu, senior di depan saya ini adalah juru selamat, dan organisasinya—sebuah Organisasi Eksternal Kampus (Ormek) bak tiket menuju kesuksesan.

Namun, itu cerita belasan tahun lalu. Sesuatu yang kini saya kenang dengan senyum kecut dan sedikit rasa sesa?

Ketika Idealisme Berubah Jadi Angka Pemilu

Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk menyadari bahwa kedatangan ribuan maba setiap tahunnya tak ubahnya musim panen bagi para aktivis kampus. Kami adalah sasaran empuk!

Suatu sore di ruang sekretariat yang pengap, riuh rendah obrolan para senior tiba-tiba senyap saat pintu diketuk.

Agenda malam itu bukan lagi diskusi buku atau membedah ketimpangan sosial seperti yang mereka janjikan di warung kopi dahulu. Agenda malam itu adalah menghitung kepala.

“Kita butuh minimal seratus suara maba dari fakultasmu untuk menangani pemilu raya bulan depan,” ujar salah satu ketua faksi dengan nada dingin, menunjuk papan tulis penuh coretan bagan koalisi.

Seketika itu, ada yang patah di dalam diri saya. Ormek yang katanya tempat “belajar langsung” itu, perlahan menampakkan wujud aslinya, ya sebuah partai politik skala mikro di negara-negaraan bernama universitas.

Kami, para kader baru, tidak sedang dididik untuk menjadi pemikir kritis.

Kami hanya sedang digiring untuk menjadi angka-angka di surat suara demi ambisi jabatan yang entah apa gunanya bagi masyarakat luas.

Argumen-argumen heroik di warung kopi itu mendadak terdengar seperti omong kosong yang dirancang rapi untuk menjebak anak-anak muda yang lapar akan validasi.

Pajangan Estetik di Etalase Rektorat

Kecewa dengan dinamika eksternal, saya sempat melirik ke dalam pagar kampus. Di sana, di atas panggung-panggung megah, berdiri kakak-kakak tingkat pelaksana Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP).

Mereka tampak begitu karismatis dengan jaket organisasi mereka yang rapi dan serasi.

Saya melihat kawan karib saya, sebut saja namanya Rian, tergiur masuk ke lingkaran itu. Dia berhasil memakai jaket kebanggaan tersebut. Namun, tiga bulan setelahnya, saya jarang melihat Rian tersenyum.

Setiap kali kami bertemu di kantin, kantung matanya menghitam. Layar ponselnya tak pernah berhenti bergetar, penuh dengan grup koordinasi Event Organizer (EO) kampus.

“Minggu ini harus bikin seminar nasional, minggu depan konser prodi, bulan depan pengabdian masyarakat,” curhat Rian suatu malam, suaranya parau karena kurang tidur. “Kalau ada yang kurang sempurna, birokrat kampus langsung nekan kita.”

Dari Rian saya belajar melihat realitas yang lebih getir: organisasi internal kampus hari ini sering kali mengalami pergeseran fungsi. Mereka kehilangan taji kritisnya karena sibuk menjadi brand ambassador tidak resmi—dan gratisan—bagi institusi mereka sendiri.

Mereka menjadi “sapi perah” yang estetik. Tugas utamanya adalah mempercantik citra universitas lewat acara-acara megah yang polanya berulang tanpa jeda, sementara suara-suara kritis mahasiswa yang mempermasalahkan UKT mahal atau fasilitas kampus yang rusak justru diredam demi menjaga “nama baik almamater.”

Rian akhirnya mengundurkan diri di tengah jalan, tepat sebelum depresi mengosongkan seluruh energinya untuk belajar.

Menemukan Detak Jantung yang Sebenarnya

“Mau ikut ke pesisir besok Sabtu?”

Ajakan itu datang dari seorang kawan di luar lingkaran kampus, ketika saya sedang berada di titik jenuh tertinggi sebagai mahasiswa. Tanpa ekspektasi apa pun, saya mengiyakan.

Keesokan harinya, saya mendapati diri saya berdiri di antara lumpur payau, menanam bibit bakau bersama sebuah komunitas lingkungan independen.

Tidak ada bendera organisasi yang dikibarkan tinggi-tinggi, tidak ada yang memakai jaket PDH mentereng, dan sama sekali tidak ada obrolan tentang siapa yang akan menjadi ketua umum berikutnya.

Di tempat lain, saya melihat teman-teman mahasiswa lain berkumpul di kolong jembatan, membuka kelas membaca untuk anak-anak jalanan dengan modal buku-buku bekas.

Mereka tertawa lepas, berdiskusi secara organik, dan bergerak murni karena dorongan kemanusiaan yang mengetuk dada mereka.

Di sanalah saya menemukan oasis. Sebuah ruang tumbuh yang jauh lebih sehat, yang tumbuh bukan dari syahwat politik praktis atau tuntutan visual rektorat, melainkan dari ketulusan untuk membawa perubahan nyata.

Untuk para mahasiswa baru yang saat ini mungkin sedang kebingungan di tengah kepungan brosur organisasi dan rayuan para senior. Ah ambillah jeda sejenak.

Tarik napas dalam-dalam. Jangan biarkan rasa takut tertinggal membuat kalian melompat ke dalam jebakan yang salah.

Lantas, analisis rekam jejak mereka, tanyakan pada dirimu sendiri apa yang benar-benar kamu cari, karena penyesalan di akhir masa studi adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar hanya demi sepotong jaket organisasi.