Kegundahan sedang berkelidan di hati Eko, setiap memasuki awal bulan.
Pengalaman menjadi anak kos dari hari ke hari, mengajarinya tambah gesit saja berhitung-hitung, agar tidak boncos lagi di tengah bulan.
Eko memang sadar betul, jika dia asli bukan anak pejabat daerah yang bergelimang hartah, dia hanya seorang Mahasiswa yang masih menempuh kuliah di salah satu kampus Samarinda.
Hal itulah yang membuat dia tidak berkutik menyandang status anak kos, selain hanya berusaha saja bagaimana bisa menguasai jurus berhemat tingkat dewa.
Ya apalagi kalau bukan sebisa mengelola pengeluaran penggunaan listrik, yang dibebankan kepadanya sebagai user sebuah kamar kos di sekitaran jalan Perjuangan Samarinda.
Pengalaman pakai token lisrik 50 ribu yang pahit!
Langit kamar kos Eko selalu terang menjelang Magrib saja. Lampu 7 Watt LED itu ampuh menerangi seisi ruangannya yang hanya berukuran 4×4 meter.
Kamarnya terlihat sesak dengan peralatan listrik yang wajib dimiliki anak kos.
Ada peralatan listrik yang default sepeti Dispenser, Rice Cooker, Kipas angin, dan juga lampu malam yang terpaksa harus digilir pemakaiannya setiap hari.
Jujur saja, sebagai pejuang daya listirk 900 VA, Eko terus dibayangi tekanan atas tagihan listrik prabayar itu.
Dan, dia mengaku pernah terus meramu cara mengakali token listrik prabayar biar bisa cukup dalam sebulan. Meski ya akhirnya gagal total!
Membayangkan jika tiap detak jam baginya adalah bom waktu, yang siap meledak, dengan suara beep yang panjang, yang suaranya mudah didengar se-antero kamar kos lainnya.
Memajang pengalaman lawas Eko itu, dia memang terbiasa mengisi ulang token listrik Rp 50 ribu saja, dengan jatah kuoata listrik 31,99 kWh yang biasa terpampang di layar kecil meteran listrik kamarnya itu.
Hal itu memang sekejap membuatnya merasa bahagia sejenak, bak baru menerima jatah ransum dua minggu.
Terlebih mengetahui kabar duka, jika uang kiriman Ortu nampaknya akan lambat diterima di awal bulan.
“Ini dia, operasi tahan hingga tanggal tua,” Gumamnya, menirukan ucapannya saat itu sambnil menarik napas dalam-dalam menekan satu demi satu angka token listrik dalam meteran listrik.
Eko memang lihai dengan aturan yang dibuatnya sendiri! Berdasarkan perhitungan rahasia yang ia susun rapi, konsumsi harian di kamarnya itu ternyata hanya 1,934 kWh.
Hal itu dia hitung dari pemakaian barang listriknya, dengan pengorbanan yang amat besar kala mengeksekusinya! Misalnya:
- Dispenser (175W): Hanya boleh menyala 4 jam. Cuma boleh dipakai menjelang subuh dan sesudah pulang kuliah. Sisanya? Minum air galon suhu ruangan.
- Rice Cooker (300W): Dua jam, maksimal. Setelah nasi matang, cabut. Nasi dingin lebih baik daripada pulsa listrik nol.
- Kipas Angin (40W): Ini adalah kemewahan. Empat jam di saat terpanas. Selebihnya, Eko harus pasrah pada udara pengap.
Namun sayang, kebiasaan pelit itu ternyata tak berbuah manis. Kala Eko menatap meteran di hari ke-15. Sisa kWh-nya teryata sudah menyentuh angka tunggal.
Jantungnya berdebar kencang setiap kali kipas angin berputar. “Tinggal sehari lagi” hitungnya. Artinya, Token Rp 50 ribu itu teryata hanya mampu memberinya 16,54 hari napas listrik.
Suara beep peringatan yang pendek dan tajam itu akhirnya datang di malam hari ke-17, tepat saat ia sedang mengetik tugas.
Ia tersentak, merasakan dinginnya kegelapan yang akan datang jika ia tidak segera bertindak. Rp 50 ribu hanyalah penunda, bukan solusi.
Dan dia mencatat dalam ingatannya, jika anak kos dengan peralatan listrik seadanya harus beli token lagi agar bisa bertahan dalam sebulan atau 30 hari dengan listrik.
Strategi Token listrik Rp 100 ribu rupiah!
Setelah insiden lampu mati, Eko mulai meramu dan belajar lagi mengelola keuanganya.
Ia menyadari, dalam perjuangan ini, keekonomisan jangka panjang mengalahkan penghematan awal yang menyiksa!
Bulan berikutnya, ia mengalokasikan uangnya untuk membeli token Rp 100.000. Angka di meteran kini melompat tinggi menjadi 65,27 kWh.
Senyum Eko mengembang. Ini bukan hanya dua kali lipat, ini adalah kemerdekaan baginya!
Meskipun rutinitas penggunaan alat elektroniknya tetap sama 1,934 kWh per hari, kini ia bisa bernapas lega.
Rumus baku 65,27 kWh jika dibagi dengan kebutujhan harian 1,934 kWh akhirnya bisa memberikan nafas listrik sebanyak 33,74 hari
“Tiga puluh tiga hari!” seru Eko dalam hati, ketika berhasil mencapai target mengelola kuota listriknya dengan tepat.
Ini berarti ia tidak hanya bertahan selama sebulan penuh (30 hari) tetapi juga memiliki “cadangan” listrik untuk hari-hari ekstra atau untuk situasi darurat—seperti malam-malam begadang di mana charger laptop (55W) dan lampu (12W) harus menyala lebih lama.
Eko menyadari bahwa bagi seorang anak kos pejuang 900 VA, token Rp 100.000 bukanlah pemborosan, melainkan sebuah investasi strategis yang menjamin kelancaran hidup, kesehatan mental.
Dan, yang paling penting, kepastian bahwa meteran tidak akan berbunyi di tengah malam buta saat ia sedang dikejar deadline.
Kini dengan Token Rp 100 ribu, peralatan listrik Eko kini terasa kurang mengancam! Eko tahu, dalam perang melawan tagihan, perencanaan adalah senjata utama.
“Token Rp 50.000 hanya membuatku berhemat uang, tapi boros pikiran. Rp 100.000 memberiku ketenangan, dan itu lebih berharga daripada beberapa puluh ribu rupiah” Tegas Eko.

