Semangat semangat warga berbaur dengan hangatnya matahari di Desa Budaya Pampang gegap gempita pada Minggu (7/06).Udara terasa padat oleh antusiasme. Semua mata tertuju pada rombongan tamu yang baru saja mendarat dari Jakarta.

Di antara riuhnya sambutan, tampak Tiar Nabilla Karbala, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM berjalan mendekati sepetak tanah, menggulung lengan baju, lalu membungkuk untuk menanam sebuah bibit pohon secara simbolis.

Itu bukan sekadar ritual seremonial, melainkan ketukan pertama dari simfoni besar yakni gerakan menanam 2.000 pohon di tanah Kalimantan Timur yang digagas Enable Project Indonesia dan Konsorsium Gerbangtara.

Sembari menyeka peluh di sela-sela kegiatannya, Tiar menoleh, tersenyum lebar, dan tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.

“Ini agenda yang sangat keren dan sangat bagus. Yang membuat saya terkesan adalah kegiatan ini dimotori oleh anak-anak muda,” puji Tiar di sela kegiatan.

Di mata Tiar, anak-anak muda di Kalimantan Timur hari ini bukan lagi generasi yang cuma bisa protes di media sosial. Mereka telah menjelma menjadi inovator sekaligus katalisator yang turun langsung ke lumpur, menciptakan program lingkungan yang dampaknya langsung berdenyut di tengah masyarakat.

Tapi, aksi hijau zaman sekarang ternyata punya wajah baru. Di hadapan kerumunan pemuda dan pelaku usaha lokal yang menyimak dengan serius, Tiar melontarkan sebuah gagasan menarik: menyelamatkan bumi lewat jemari dan layar ponsel. Ya, lewat digitalisasi.

Teknologi modern, menurutnya, adalah senjata rahasia baru untuk melestarikan alam. Bagi para pelaku UMKM, beralih ke dunia digital bukan cuma soal biar kelihatan keren atau meraup untung lebih besar, tapi tentang memangkas habis potensi sampah.

Bayangkan saja, sekarang mereka bisa jualan ke mana pun secara daring tanpa perlu lagi mengotori jalanan dengan baliho, menyebar brosur kertas yang berakhir di selokan, atau memasang spanduk cetak yang bakal jadi rongsokan.

Ditambah lagi dengan gesekan nontunai lewat QRIS yang pelan-pelan bikin kertas struk belanjaan jadi sejarah masa lalu.

“Dengan adanya digitalisasi, UMKM menjadi lebih mudah berkembang dan pada saat yang sama dapat membantu mengurangi produksi sampah. Ini salah satu manfaat yang bisa dirasakan langsung,” ujarnya.

Melihat riak semangat yang begitu besar dari anak-anak muda di Pampang, Tiar seperti melihat masa depan yang cerah. Ia pun menitipkan sebuah pesan kuat, semacam “sentilan” hangat bagi para penentu kebijakan di Kalimantan Timur agar tidak menjaga jarak dengan generasi z dan milenial.

“Baik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi, saya harap membuka ruang dialog selebar-lebarnya karena mereka adalah kunci menuju Indonesia Emas,” ungkapnya.

Aksi nyata anak muda di Kalimantan Timur lewat penanaman 2.000 pohon & digitalisasi UMKM ramah lingkungan I WADAHKATA.ID
Aksi nyata anak muda di Kalimantan Timur lewat penanaman 2.000 pohon & digitalisasi UMKM ramah lingkungan I WADAHKATA.ID

Menariknya, apa yang menyala di Desa Pampang hari itu bukanlah kembang api yang langsung redup setelah acara bubar. Gerakan ini punya napas panjang yang ditiupkan oleh Konsorsium Gerbangtara (Gerakan Bangun Nusantara).

Ketua Konsorsium Gerbangtara, Aie Natasha, memasang badan untuk memastikan program ini punya kelanjutan. Baginya dan tim, aksi bertajuk ESG Climate Action ini adalah sebuah komitmen maraton selama satu tahun penuh.

Mereka tidak akan berhenti setelah bibit di Pampang tertanam. Estafet gerakan ini akan terus bergulir, mendatangi dan menghijaukan lima wilayah di Kalimantan Timur: mulai dari Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kota Balikpapan, hingga Kota Samarinda.

Hari itu di desa Pampang, menulis sebuah cerita baru: bahwa merawat bumi bisa dimulai dari ketukan jari di layar ponsel, dan masa depan itu ada di tangan anak muda.