Karena apa? Ternyata  di penjuru Kalimantan ini, belum ada dokter mata spesialis yang khusus menangani kasus mataku. Disitu aku baru menyadari, ternyata lain penyakit mata, lain pula dokter yang menanganinya ya, meski mereka menyadang dokter spesialis mata sekalipun.

Lantas aku berhitung, kesiapan apa saja yang diperlukan untuk menjalani pengobatan strabismus di rumah sakit di pulau Jawa itu, termasuk ya langkah operasi yang mungkin  berpotensi diambil.

Itu artinya ya jelas, aku harus mencari tahu informasi berikutnya:

  1. Dimana terdapat RS mata andalan di pulau Jawa itu, yang mampu  menyediakan kebutuhan medis pengobatan mata dengan layak?
  2. Sekaligus  mampu menerangkan transparansi biaya pengobatannya hingga tuntas, bukan?

Pandemi yang memaksaku menikmati pengobatan Strabismus

Jujur, aku terlahir normal, tanpa adanya kecacatan di bagian mataku. Hal itulah yang membuatku menjadi bertanya-tanya, mengapa aku turut mengidap strabismus ini di usia senjaku kini?

Karena memang penyakit mata jenis Strabismus, atau orang sebut derita mata juling, akan dominan diderita oleh sesorang karena faktor genetis orang tuanya, bisa juga truma atau kelainan refraksi mata.

Mungkin hal itu jualah, alasan bagi sang dokter mata terdahulu, memerlukan waktu lebih lama dalam menentukan gejala strabismus di mata kiriku ini. Dan gejala awalnya terlihat sedikit mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh refraksi  mata  pada umumnya.

Lantas, jika saja mereview kembali aktivitasku dalam rentang 2016-2019 itu, memang sih aktivitasku extreem sekali?

Aku terlalu banyak bergaul dengan aktivitas Gadget, untuk sigap melayani pekerjaan yang rasanya tiada habisnya itu. Rasanya waktu 24 jam serasa kurang untuk dilahap, lantas asupan dari makanan pun juga dominan hanya berasal dari junk-food. Dan tidak pernah sempat “cuci-mata’ tuk berolahraga sejenak.

Meski aku jua mengerti, jika  penderita penyakit mata kini, dominan disebabkan oleh tatapan ke layar Gadget, dengan durasi lama, serta ugal-ugalan. Dan parahnya, aku sudah lupa jika aku ini sebenarnya jua sudah ‘senja’, yes tidak muda lagi.

Sehingga, ya tak dipungkiri, kebiasaan itu, pekerjaan itu-lah yang memaksa mata ku untuk terus menyala, menyebabkan ketidak-seimbangan tarikan ototnya mengendalikan pergerakan mata, atau juga hadirnya kelumpuhan otot mata dan/atau terjadinya  gangguan persyarafan matanya.

Hemm, selama merasakan gejala itu, mata kiriiku terasa menjadi kaku saja, beberapa saat bertatapan  dengan Gadget.

Dan aktivitas itu ternyata, yang gampang terlihat juling, tidak mau mengikuti mata yang kanan. Jika terus dipaksakan ya tentu saja aku mudah pusing, dan –bahkan– serasa mau muntah saja.

Derita itu lantas membuat menyerah sajalah, dan mau-tidak-mau aku harus melakukan pengobatan segera ke dokter spesialis mata, yang dianjurkan dokter mata di Samarinda itu.

Meski aku sadar, menjalani kunjungan pengobatan ke dokter mata, yang berpraktek di RS Jawa itu pasti merogoh biaya yang tidak sedikit bukan?

Namun, –sekali lagi– hal itu harus kulakukan, karena jujur derita strabismus, sudah memberikan efek negatif kepadaku?

Dimana aku tak mampu seproduktif seperti dahulu lagi, untuk mampu mengejar deadline, mengerjakan tugas design grafis dan juga menulis konten tulisan. Terlebih juga, aku harus menjalani pekerjaanku di lapangan, yang berinteraksi dengan matahari, dan langsung bertatapan dengan banyak orang.

Hal itu jelas ini sudah mengancam kesejahteraanku di masa depan, bukan?

Uh, jika merasakan derita strabismus di usia ‘senja’ ini, membuat aku sering memicingkan mata saja, kala bertatapan dengan orang lain.

Merasa malu? Kadang terselip rasa tidak percaya diri itu, meski aku sudah mengenakan kacamata yang –mungkin – bisa menjadi kamuflase meringankan derita itu.

Namun ternyata kacamata itu, tidak sama sekali membantu, untuk mengurangi rasa kesakitan strabismus itu, melayani hari-hari ku. Nyerah deh!

Baca selanjutnya, klik nomor halaman ya!

Halaman:
1 2 3 4 5 6