Kala bercermin, mata kiriku terlihat  berwarna merah pekat. Namun tenang, kata dokter itu wajar, nanti juga berangsur reda seiring berjalannya waktu. Haah?

Akhirnya, aku harus rawat jalan, karena jika harus terus dirawat di kamar ini,  billing Rumah sakit, pasti akan terus berjalan dan melesat kan?

Dan kuintip, biaya pengobatan sudah menyentuh angka dua digit. Aku ambil rawat jalan sajalah, namun tetap stay di kota ini, karena seminggu kemudian, aku harus kontrol kembali.

Aku diberikan semacam obat krim-salep pereda warna merah pada mata, obat anti nyeri, serta obat antibiotik sebagai bekal pengobatan rawat jalan.

Selama merawat mata kiri ku secara mandiri, aku berhasil membuktikan sebuah  pepatah yang menyebut  perjuangan memanglah butuh pengorbanan. Iya pengorbanan tenaga, biaya dan waktu yang tercurah mengobati mata strabismus ini.

Nah, selama seminggu itu, mata kiriku masih berwarna merah saja, dan harus masih diperban setelah menyekanya dEngan kain kering dan lembut.

Aku bertanya dalam hati, bagaimana jika warna merah di mata ini tak mereda ya? Dan rasanya, nyeri di mata kiriku tetap terasa, tatkala membuka mata untuk menyelipkan krim salep berwarna putih itu, membalurnya rata ke permukaan mata kiri hasil operasian.

Beruntung seminggu berlalu, hasil kontrol mata kiriku menunjukkan hasil baik. Namun aku harus kontrol lagi seminggu kemudian, agar memastikan semuanya lebih  baik-baik saja

Duh, semakin berat saja ya pengorbanan itu? Aku harus merogoh waktu, tenaga dan biaya menjamu akomodasi selama rawat jalan di sana. Kuanggap ya sekalian sajalah, berwisata, meski hanya ya di hotel saja, memperhatikan billing hotel jua terus berjalan.

Alhasil, pengorbanan menjalani operasi strabismus itu jua membuahkan hasil baik, kontrol keduaku berhasil, dan aku bisa pulang dengan catatan, untuk jangan ‘bermain mata’ lagi. Dan aku harus mengerti porsi memaksimalkan mata, untuk melayani rutinitas harian, ketika sembuh total nanti.

Dan terpenting –lagi– adalah aku harus sadar, jika aku memanglah tidak muda lagi, aku sudah berusia senja. itu berarti, segala potensi derita  penyakit mata lainnya akan jua mudah hinggap kapan saja, dan berpotensi menjadikan perjuangan baru lagi kan?  

Dan siapkah aku, kamu dan kita semua, untuk mau dan mampu berjuang lagi, menjalani pengorbanan itu? Kalau aku sih –maaf– cukup sajalah.

Strabismusku, sebuah refleksi nyata, jika mata adalah sebuah karunia yang berharga

Selama menjalani pengobatan Strabismusku ini, ya paska operasi strabismus aku kerap melihat dan merasakan jua harapan pasien dengan derita ragam penyakit mata lainnya yang  berada di rumah sakit mata. Artinya, ya ternyata bukan hanya aku saja, yang menderita satu dari ragam penyakit mata itu kan? Banyak sekali pasien dimari.

Dan bersyukurnya, aku diberi kelebihan lain, yakni sisi finansial, kesehatan serta  waktu luang,  untuk mengobatinya secara tuntas lewat tindakan operasi itu.

Lantas, bagaimana, jika aku tidak memiliki salah-satu faktor tadi? Tentu mata kiriku masih menyandang strabismus hingga kini kan? Dan itu jelas akan mampu merenggut kesejahteranku selamanya.

Belum lagi jika  aku juga merasakan derita anak-anak kecil, pasien lain yang –memang– terlahir strabismus atau derita mata juling, mengantri  untuk diperiksa jua di ruang dokter mata? 

Meski memang faktanya, jika mereka yang terlahir strabismus sejak masih kecil, cenderung  tidak banyak mengeluh akan adanya pandangan mata seperti yang kualami ini.

Namun kebahagiaan yang jua kurasakan, adalah masih banyaknya orang tua yang masih peduli, mau menemani anak-anak mereka, tatkala menemukan gejala fisik mata anaknya serupa dengan Strabismus ke dokter mata.

Ya tentu, hal itu harusnya dilakukan, demi memastikan  masa depan anak-anak mereka meraih cita-citanya.

Lantas, timbul kekhawatiran dalam benakku, jika kini aku sudah berhasil merekam riwayat strabismus di usia senja ini, mungkinkah akan menurun lagi derita itu ke anak-anakku dan keturunanku ya?

Meski bayi atau anak kecil, juga sering terlihat juling, yang kerap disebut dengan strabismus semu. Dan, strabismus semu itu, memang akan lenyap seiring pertumbuhan usianya.

Namun ya jangan khawatir, strabismus semu akan mudah sekali dibedakan dengan strabismus yang sebenarnya. Dengan cara apa? Iyes, melalui usaha pemeriksaan mata rutin ke dokter mata, dan lekas untuk mengobatinya.

Baca selanjutnya, klik nomor halaman ya!

Halaman:
1 2 3 4 5 6