Nah cobalah sejenak membayangkan! Dan membandingkannya sendiri jika kita membeli BBM Pertamax Di SPBU resmi yang hanya Rp 9,200 saja per/liternya. Perbandingannnya nanti pastilah logis kita terima.

Jenis BBM Ramah lingkungan yang kian mudah dijamah di SPBU kota Samarinda I Dokumentasi Pribadi
Jenis BBM Ramah lingkungan yang kian mudah dijamah di SPBU kota Samarinda I Dokumentasi Pribadi

Dan akhirnya kita akan mampu menemukan jawaban sendiri. Jawaban soal mengapa kita –memang- harus memilih BBM jenis Pertamax daripada BBM jenis Premium dan Pertalite? Karena dengan harga Pertamax RON 92 di SPBU, kita sudah akan mendapatkan bonus tri in one.

Pertama, soal kualitas dan takaran BBM Pertamax yang prima dan jelas. Kedua, BBM nya bebas dari subsidi-negara, dan ketiga, kita tanpa sadar sudah aktif mengurai masalah lingkungan, yakni pencemaran polusi udara.

Dan bonus tambahan lainnya adalah kita tidak perlu mengantre lama, karena stok Pertamax di SPBU selalu saja diproritaskan ketersediannya.

Namun, ya jika kita masih tetap mencinta Premium RON 88 dan Pertalite RON 90, dengan bersembunyi pada alibi dukungan kita kepada kebijakan populis Pemerintah atas keharusan ketersediaan barang-barang murah. Serta membenci Pertamax RON 92 dengan alasan harganya kemahalan.

Ya itu artinya, kita semua harus terus membaca dan menuntaskan tulisan ini sampai akhir ya! Biar kita sama-sama mampu mencintai BBM ramah lingkungan yakni Pertamax ini, ya demi terwujudnya langit biru kita!

Program langit biru, menyatukan cinta dan benci, dan membirukan kehidupan kita!

Cinta dan benci memang selalu hadir di kehidupan kita kan? Ngaku ah, kita pastilah pernah merasakannya.

Apalagi, dalam konteks politik saat ini. Rasa cinta itu mudah sekali menyapa, jika mengandung hal apa saja, dan terasa menguntungkan. Dan sebaliknya, benci mudah menyala, tatkala mengandung hal-hal yang merugikan kita. Namun pada akhirnya ya benci tadi mudah saja kembali untuk mencinta kok, tapi..? Ya ada tapinya.

Nah analogi itu bisalah digunakan juga untuk mencerna peranan BBM ramah lingkungan saat ini dalam kehidupan kita.

Seperti yang kita ketahui polusi udara akan memberikan dampak negatif, terutama hadirnya penyakit saluran pernafasan, dewasa ini. Sebut saja penyakit ISPA, Asma, Paru-paru basah, Bronchopneumonia, serta serangan jantung.

Dan ongkos biaya kesehatan akibat hadirnya penyakit ini, sangat besar sekali. Radio KBR mengabarkan, di tahun 2020 saja tercatat kasus penyakit pernafasan menyedot biaya dengan total Rp 60.8 Triliun. Dan KLHK jua meyebut sumbangan polusi udara akibat residu kendaraan transportasi menyumbang 75 % kasus penyakit pernafasan itu.

Dan saya yakin sekali, sampai di titik ini, ketika kita sudah meyakini solusi dari masalah lingkungan kita terkini, pastilah mampu menggantarkan sedikit rasa cinta itu dalam hati kita kan?

Dimana, pada saat ini, kita mulai mampu meraba dan merasakan manfaat kesehatan yang akan kita petik lewat pemanfaatan BBM ramah lingkungan itu. Dalam mengurangi dampak ancaman kesehatan yang lebih luas lagi kan?

Nah, Webinar yang digagas Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama radio KBR dengan tema Penggunaan BBM Ramah Lingkungan pada Rabu (10/03), akhirnya sudah mengajak saya pribadi untuk  ikut mewujudkan langit biru yang terpendam sejak 2016. Dan pastilah, saya yakin hal ini juga sangat menarik untuk kita semua kan?

Program Langit biru yakni gerakan atau program positif bersama yang bertujuan mengurangi emisi karbon, dari residu BBM kendaraan kita.

Dan Program itu, bisalah menjadi jawaban pula terhadap ancaman laju perubahan iklim, yang rentan menulari kita pada masalah kesehatan dan mengundang bencana, yang sudah dan sedang kita rasakan saat ini.

Langit biru bagi YLKI dirasa sangat penting untuk terwujud, dimana -memang- menjadi bagian dari tugas YLKI dalam menghantarkan hak-hak konsumen secara layak. Yakni, menghantarkan manfaat dan akses positif barang-barang yang dibeli konsumen, dalam hal ini produk BBM ramah lingkungan untuk kendaraannya.

Namun, YLKI pastilah sadar jika membangkitkan gerakan langit biru seorang diri sangatlah sulit sekali. Karena program langit biru, menuntut semua konsumen yakni pengguna kendaraan, untuk segera beralih mengkonsumsi BBM ramah lingkungan.

Nah dalam Webinar itu juga, Ketua YLKI, Tulus Abadi sudah menagih konsistensi Pemerintah yang terendap lama atas gerakan langit Biru itu agar segera terwujud. Pastinya lewat pengawalan regulasi efektif dan tegas Pemerintah kepada masyarakat.

Selanjutnya, Klik halaman selanjutnya ya!

Halaman:
1 2 3 4 5 6