Cerpen|Mengharap Bintang Kejora (1)

Nanar tetiba menerima surat cintah. Tapi kok sepertinya surat itu dari kekasihnya yang dahulu, yang telah menghilang bak ditelan bumi. Emmm.. terus bagaimana ya Nanar menyikapinya?

Nanar kok sumringah bener siang ini, ya ? Aihh.. Bibirnya mengembang. 

Malam ini, dia ingin melelapkan diri saja secepatnya. Dia sepertinya takut dan malu bertemu rembulan. Terlebih bertemu bintang kejora yang mungkin jatuh lagi dari langit malam ini. 

Ilustrasi | pexels.com

Nanar seperti ingin menghianati sang kejora saja. Langkah Nanar terlihat bergairah menuju rumahnya. Ada sesuatu ditangannya. Sebuah amplop merah muda yang baru saja diterimanya. 

Setengah mati dia mencoba menyembunyikannya dari mata sekitar. Hari itu masih pukul 17.00 Wita, sore semakin tenggelam saja namun mata lelahnya tetap saja bergairah.

Baru saja tiba di kamar, cepat-cepat dia membuka kembali amplop, yang sudah dibuka dan dibacanya tadi.

Dibukanya pelan-pelan amplop merah muda yang tersobek tadi. Sepucuk surat yang terlipat rapi terselip di dalamnya.

Wanginya semerbak mengisi kamar itu. Jantung Nanar gemetar membukanya. Lipatan demi lipatan dibuka. Dia berharap kata-kata yang tumpah di dalam surat itu akan berubah.

” Aku masih sayang kamu. Kau tetaplah di hatiku,” cieehh, isi kalimat terakhir surat itu. 

Di ujung surat itu, juga tersusun nama Satrio. Dia adalah mantan kekasih Nanar. Tak tau mengapa, Nanar menerima surat itu tiba-tiba, ya berdekatan dengan hari kelahirannya minggu ini. 

Padahal mereka berdua lama tak bersua, setelah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Nanar menjadi terdiam, khayalnya menjadi kosong.

“Kenapa, baru sekarang, kamu datang si,” pintanya lirih

Dilipatnya kembali kertas itu seperti semula. Dan didekapnya erat di dadanya. Jasad Nanar lantas rebah di pembaringan. Jiwanya kembali ke-lima tahun silam.
Ketika dirinya memutuskan Satrio sepihak. 

Sesal-pun menggunung. Pintu hati Satrio terluka, tiada maaf bagi Nanar. Hampir empat tahun, Nanar menunggu Satrio, semenjak mengakhiri hubungan mereka.

Namun kesetian Nanar bertepi, hingga suatu malam Nanar menyendiri. Dan seketika beruntung melihat bintang jatuh. Dia pejamkan mata dan berharap,”Tuhan berilah aku kekasih, seperti dia –Satrio–”. 

Bintang kejora itu tak berbohong, dia menepati janjinya untuk mewujudkan impian insan yang menjumpainya.
Nanar kini telah mendua. 

Satrio terlarang untuk Nanar saat ini. Namun surat Satrio membuat hati Nanar melompat tinggi. 

Nanar masih cinta. Nanar ternyata bermain hati lagi. Senyumnya mekar kembali.

Malam terus menyapanya. Terlena oleh masa lalu. Nanar tersentak melihat waktu jam dinding. Nanar menutup wajahnya dengan Bantal. 

Napasnya tersengal dalam. Dia menyembunyikan wajahnya dari rembulan malam.Dia tidak mau berjumpa dengan bintang jatuh itu.

Karena cahaya ekornya akan memotret suasana hati Nanar malam ini yang ingin mengharapkan cinta Satrio kembali.

Nanar mencoba lagi untuk menenangkan hati kecilnya. Hati kecilnya hanya terus memanggil nama Satrio. Bukan nama kekasihnya saat ini.

Bintang kejora tidak pernah ingkar. Sebenarnya Bintang Kejora telah mengirimkan Satrio yang baru buat Nanar.
Tetapi Nanar mencoba meragukan Bintang Kejora. Kesetian lagi lagi diuji dengan egoisme diri. Nanar menjerit. Suaranya kecil tertutup bantal.

 Ah.. dentuman waktu terus menghujam di dinding hati. Hatinya sulit menjatuhkan pilihan

Angin terus mengalir malam ini. Bulan mengintip wajahnya. Nanar mencoba jujur, menghadapi realistas itu. Tubuhnya berhasil menegak kembali. Ditariknya bangku ke arah jendela.

Ilustrasi | pexels.com

Wajahnya dipaksakan menghadap ke langit.
Dia harus menunggu bintang kejora itu datang. 

Dia ingin mengadu. Dia ingin meminta sesuatu lagi kepada Bintang kejora. Dia yakin Bintang kejora tidak akan pernah bohong.

Mulutnya siap berkata,”kalau boleh saya ingin menukar satrio-ku kini dengan satrio kiriman-mu yang dulu, hai bintang kejora”.

Kesetian itu apa coba? Nanar mencoba setia kepada Satrio yang jelas-jelas meninggalkannya  dulu, lalu tiba-tiba menginginkannya kembali. Dan dia juga memang mestinya harus setia pada Satrio barunya itu, ya kekasihnya kini.

Langit menghitam malam itu. Bintang berkilapan, menyaingi cahaya bulan. Nanar masih duduk mendanga, mengharap bintang kejora yang mau menyinggahinya.

Namun malam terus saja tergerus oleh waktu. Tidak ada harapan buat Nanar memanjatkan keinginannya itu.

Kejora, seakan bersembunyi dari Nanar. Matanya mulai teduh, tak lama kemudian badannya rebah lunglai tertiup dinginya angin malam yang membuat raga Nanar tak terusik oleh suara merdu HP-nya.

Rupanya ada yang menelpon. Itu telpon dari si Arya kekasihnya kini.

Arya sengaja pulang lebih awal dari jadwal kedatangannya dari Malaysia mengisi liburan sebagai tenaga kerja Indonesia di Malaysaia.

Dia sengaja datang untuk memberikan surprise kepada Nanar di ulang tahunnya yang kebetulan jatuh pada hari ini. Ini tentu saja benar-benar akan menjadi kejutan buat Nanar.

Arya adalah seorang Duda. Istrinya telah meninggal akibat kecelakaan dua hari setelah mereka menikah. Jiwanya  gundah kala itu, dia sangat mencintai istrinya itu. Dua tahun berlalu akhirnya kesetian itu berujung juga.

Sama seperti Nanar. Dimana suatu malam, Arya menjumpai bintang Kejora, seketika. Dan meminta istrinya dikembalikan untuk menemani kesepian hidupnya.

Bintang Kejora tidak pernah bohong. Bintang kejora mengirim Nanar menjadi kekasihnya kini.

Hingga bertemulah keduanya, dan saling mengenal satu sama lain. Nanar pun kala itu bahagia. Terlepas dari ketidak pastian Satrio.

Arya sangat sayang pada Nanar, dan bulan depan berencana hendak menikahinya. Cincin berlian bermata ini, akan benar-benar menjadi kado terindah Nanar besok.

Namun Arya tidak pernah tahu kini hati Nanar gundah gulana. Nanar hendak berpaling, kepada Satrio yang tidak pernah jelas ada dimana saat ini.
Arya mulai meraih HP-nya, untuk menelpon Nanar pagi ini. Mulutnya ingin mengatakan bahwa dia rindu sekali dan ingin segera bertemu. 

Namun hanya suara kereta api, yang terdengar dari HP Arya. “Sayang, dimana si kamu,” sahutnya dalam hati.

Nanar tak jua mengangkat panggilan telpon darinya. Mungkin saja Nanar masih terbuai mimpi saat ini, atau entahlah.

Kecemasan Arya, semakin meraja. Ingin saja dia lekas, ke rumah Nanar untuk menumpahkan rasa kangennya itu. Namun hati kecilnya menahan untuk bertemu dengan Nanar hingga esok hari.

Air mata Nanar masih menggantung di langit-langit matanya. Dirinya masih lunglai di pembaringan. Amplop merah muda itu, tak jua beranjak dari dekapannya pagi itu. Suara langkah kaki mulai terdengar menyusur arah pintu. Nanar tetap saja terjaga dari tidurnya.

Tok..tok..tok,” seseorang mengetuk pintu rumahnya. Nanar langsung bangun berharap itu adalah Satrio, meskipun dalam surat itu, sebenarnya Satrio tidak pernah mengabarkan kapan kedatanganya kepada Nanar.
Tentu saja harapan Nanar yakni kedatangan Satrio  di hari ini, ya di hari ulang tahunnya saat ini. 

Terkejut ketika membuka pintu menyambut seseorang di balik pintu. Namun sayang, itu bukanlah Satrio.

“Happy birthday,” ucap lelaki itu. Kakinya mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Tangannya di sembunyikan dibelakang tubuhnya. “Happy birthday,” ucapnya kembali, sambil langsung menyorongkan kotak kecil yang berisi cincin berlian untuk Nanar.

Itu adalah Arya bukan Satrio. Bibir Nanar sedikit saja terbuka. Pelan-pelan dia menyambut kotak itu. Namun tanpa sadar amplop merah muda Satrio, masihlah di tangan kanannya. Telak, Arya melihat amplop itu. Tersadar-pun, Nanar langsung gagap. Langsung saja tangan Nanar diletakan di belakang pinggang.

“Maaf Ar, surat dari temen, baru mau kukasiin ke dia,” kilah Nanar.

“Thanks ya say,” sambungnya lagi.

Rasa sayang Arya terhadap Nanar membuang rasa kecurigaannya kepada surat itu.

Diberikannya kotak itu kepada Nanar dan berkata,” maaf hanya ini hadiah ultahnya ya”.

“Aku tunggu jam 10 pagi ini, ada yang mau kuomongin,” pintanya kepada Nanar.

Wajah Nanar mengangguk tanda setuju. Arya-pun kemudian pergi, diiringi senyuman Nanar pagi itu. Lantas Nanar segera duduk, dibukanya kotak kecil tadi. 

 “Mirip sekali dengan cincin yang diberikan Satrio dulu,” ujarnya pelan sambil mengamati cincin pemberiannya itu.

Ya, cincin itu memang mirip sekali dengan cincin yang diberikan Satrio. Nanar mengembalikan cincin itu kepada satrio ketika memutuskan cintanya  dulu.
Kala itu Nanar ingin meminta Satrio untuk segera menikahi Nanar. 

Namun Satrio belum siap dan terpaksa menolaknya. Nanar marah karena merasa dipermainkan Satrio.

Ilustrasi | pexels.com

Sebenernya Satrio tidaklah seperti itu. Satrio mempunyai alasan kuat untuk menunda keinginan Nanar itu.

Tetapi Satrio belum jua menceritakan hal itu. Dia takut Nanar meninggalkannya jika tau hal yang sebenarnya, terlebih bersedih.

Ahh, lalu dimanakah Satrio-nya kak ya? Ahh sabarrr… ceritanya bersambung deh ya… ! Check This Out Teyus Guyss !

Tinggalkan Balasan